|
Beautiful Beast Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 09 Agustus 2026
"Kamu
pakai baju sebaik apa pun akan ada orang lain yang memakai baju lebih baik.
Kamu pakai baju paling buruk yang kamu miliki pun masih ada orang yang memakai
baju lebih buruk dari kamu".
Itu bukan
nasihat. Itu komentar ayah saat melihat kakak perempuan saya bingung cari
pinjaman baju: untuk pergi ke acara kawinan. Saya masih kecil. Saya perhatikan
ucapan Pak Iskan itu. Sangat membekas di hati. Kata-kata itulah yang berpengaruh
pada sikap saya berpakaian: biasa-biasa saja. Yang penting pantas.
Mungkin saya
salah. Begitu banyak perusuh Disway yang risi melihat foto saya di berbagai
acara: dianggap kurang pantas. Saya pun mengakui penilaian itu. Benar. Dan saya
berusaha berubah. Tapi tidak bisa bertahan lama. Kumat lagi.
Salah satu
perubahan itu saya coba hari Sabtu kemarin.
Saya ke Malang
--menghadiri undangan dari Ari Sufiati. Saya tidak sempat ngecek undangan apa
itu. Saya berangkat dengan hoody hitam sederhana. Tapi saya membawa baju koko
warna putih sebagai cadangan.
Di tengah jalan
saya cari-cari undangan lewat WA itu. Ketemu. Ternyata bukan kawinan. Itu
undangan ulang tahun. Saya lega: tidak perlu ganti baju. Hoody ini cukup untuk
sebuah acara ultah.
Begitu turun di
depan Omah Kendedes di Shanaya Resort saya kaget: kok undangan yang lain pakai
dress. Yang berkebaya pakai kebaya keren. Berarti ini pesta. Hoody ini tidak
cocok. Mobil sudah telanjur pergi ke tempat parkir. Tapi baju yang di mobil
rasanya juga tidak cocok untuk pesta: kecuali di pesta itu saya ditunjuk
sebagai pembaca doa.
Apalagi ketika
melihat tampilan Ari Sufiati yang menyambut kedatangan saya: beautiful and
the beast. Lalu saya ingat ayah: akan ada orang lain yang berbaju.....!
Ya sudah. Apa
adanya saja.
Rasanya hanya
sekali saya dapat pujian: saat tampil sebagai pembicara di seminar ahli jantung
di Jakarta bulan lalu. Saya pakai jas. Serasi dengan celana. Tapi pujian itu
segera diikuti sisi negatifnya: pakai jas kok sepatunya kets!
Semoga di acara
kemarin itu tidak ada foto saya yang masuk medsos.
Ketika
bersalaman dengan Ari saya langsung puji penampilannyi yang begitu cantik.
"Saya harus pakai baju begini," katanyi. Justru Ari yang seperti
minta maaf. Memang saya belum pernah melihat Ari tampil secantik itu. Yang
selalu saya lihat adalah Ari yang kasual --cenderung tomboy.
Pernah saya
lima hari runtang-runtung bersamanyi. Di California. Ari selalu berpakaian yang
cocok untuk keperluan gerak cepat. Ari orang yang amat cekatan. Kerja keras dan
kerja cerdas.
Kala itu saya
tinggal di rumahnyi. Di San Francisco Bay Area. Di jantungnya Silicon Valley.
Dekat dengan gedung Apple yang terkenal itu. Ari memang bekerja di Apple. Di
salah satu tim penting di Apple Inc.
Kemarin adalah
ulang tahunnyi yang ke-50. Karena itu istimewa --termasuk caranyi bergaun. Itu
sudah dia cita-citakan lama: ketika ultah ke-50 akan dirayakan dengan tema
”homecoming”: dirayakan di Indonesia. Termasuk dalam pengertian ”homecoming”
adalah yang diundang: teman-teman SMAN 16-nyi (Surabaya), teman kuliah
komunikasi Unairnyi, dosen-dosennyi, teman sesama pertukaran pelajar, mereka
yang pernah tinggal di rumahnyi, dan tentu orang tua dan tiga anaknyi.
Di samping
sering mengajak orang tua ke Amerika, Ari juga selalu mengajak anak-anaknyi ke
Indonesia. Sejak Covid, 3 kali anak-anaknyi diajak pulang kampung --meski
mereka sudah menjadi warga negara Amerika.
Sebagai
aktivis, Ari sering menampung calon mahasiswa dari Indonesia tinggal sementara
di rumahnyi. Terutama sebelum calon mahasiswa tersebut mendapat tempat yang
tepat.
Salah satu
calon mahasiswa itu: cucu saya. Kemarin berangkat ke Amerika. Dalam perjalanan
masuk kuliah di Kansas University, Ayrton, anak Azrul itu akan mendarat di San
Francisco. Ia akan dua hari dulu di California. Ari minta tinggal saja di
rumahnyi. Sekalian bisa ke Apple.
"Lho, Anda
dan semua anak kan di Indonesia?" tanya saya.
"Saya
sudah kirim password kepada Azrul untuk buka pintu rumah," jawab Ari.
Begitulah
umumnya rumah di Amerika. Kuncinya bisa dibuka oleh siapa saja yang punya
password-nya. Juga bisa dikunci dari mana saja. Termasuk dari luar negeri.
Di ultah
kemarin saya bisa berkenalan dengan ayah-ibu Ari. Juga dengan dua adiknyi: yang
akuntan jadi pembaca doa, yang wanita bekerja di BRIN.
Tiga teman Ari
sengaja datang dari Amerika. Dian Widhi datang dari Houston. Dia punya
perusahaan konsultan di sana. Lalu Irma Miller datang dari Lexington, Kentucky.
Irma datang bersama dua anak perempuannyi --berwajah bule dan berambut pirang
seperti ayah mereka. Yang ketiga, Victor Augusteo asal Pontianak. Victor
sebagai CTO di perusahaan startup: 70 karyawannya bekerja dari Indonesia.
Ari dan Dian
aktif di satu yayasan yang mereka dirikan: Indonesia Lighthouse. Victor dan
Irma juga aktif sebagai mendukung mereka. Tahun lalu yayasan itu menampilkan
angklung di Amerika. Juga membantu mahasiswa Indonesia di berbagai program
peningkatan bakat.
Sambil
mengikuti pesta ultah itu saya menyapukan pandangan ke sekeliling: adakah yang
pakai baju lebih sederhana dari saya. Ada. Tiga orang.
Benarlah ayah
dengan segala perkataannya dulu. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/961820/beautiful-beast
Tidak ada komentar:
Posting Komentar