|
Berebut Yayasan dan Gudang Senjata di Sekolah
Jaksel Ahmad Thovan Sugandi : Jurnalis Detik.com |
DETIK-X, 10 Agustus 2026
|
Konflik kepengurusan Yayasan Harapan Ibu berujung penemuan 995 pucuk
senjata, narkoba, hingga VCD porno dalam kotak peluru di lingkungan sekolah. Pengacara Yayasan Sekolah
Islam Harapan Ibu, Hermawanto, mengatakan konflik kepengurusan yang terjadi
saat ini berkaitan dengan persoalan yang telah berlangsung sejak 2011.
Menurutnya, pada 2011 Indra Wargadalem (IWD) masuk ke dalam yayasan dan
menjadi ketua. Menurut dia, istri dan kerabat IWD juga menempati posisi
sebagai dewan pembina. "Jadi itulah perkara
tahun 2011 tadi. Jadi huru-hara itu ada hubungannya dengan perkara itu. Dia
bisa balik lagi, masuk, kemudian dia menguasai sekolah, menjadi ketua,
istrinya masuk jadi pembina, kakaknya juga masuk jadi pembina," kata
Hermawanto kepada detikX. Persoalan, kata
Hermawanto, mulai mengemuka ketika Endang Suryantini menjadi ketua dewan
pembina yayasan yang menaungi Sekolah Islam Harapan Ibu, Pondok Pinang,
Jakarta Selatan, itu. Menurut dia, Endang jarang dilibatkan dalam rapat-rapat
dewan pembina. Hermawanto mengklaim rapat lebih banyak dilakukan oleh dua
anggota dewan pembina, yang merupakan istri dan kakak IWD. Keputusan ketua
pengurus, yakni IWD, hampir selalu disetujui oleh kedua anggota dewan pembina
tersebut. Menurut Hermawanto, hal
tersebut membuat pihaknya mencurigai adanya upaya penguasaan sekolah oleh
keluarga IWD. Terlebih aset tanah dan bangunan di sekitar area yayasan
disebut secara perlahan telah menjadi milik IWD. Kecurigaan itu mendorong
pihak yayasan memeriksa dokumen hukum dan transaksi keuangan sekolah sejak
2013. Pemeriksaan tersebut menemukan dugaan pengambilan dana yayasan melalui
suatu mekanisme keuangan yang akhirnya digunakan untuk membeli tanah. Menurut
Hermawanto, muncul sertifikat tanah pada 2017, yang disebutnya tercatat atas
nama istri IWD, yang juga merupakan anggota dewan pembina yayasan. "Ternyata sertifikat
tanah yang dibilang di awal mau dibeli itu tertulis atas nama istrinya, yang
juga merupakan anggota dewan pembina. Nah, pintu masuk dari situlah kami
memberhentikan sementara ketua pengurus ini, IWD," ucapnya. IWD kemudian
diberhentikan sementara pada April 2026. Pada waktu yang sama, ketua dewan
pembina menonaktifkan anggota dewan pembina yang merupakan istri IWD.
Penonaktifan tersebut, kata Hermawanto, dilakukan karena adanya dugaan
keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan dugaan penyalahgunaan dana atau
tata kelola yayasan. Setelah IWD dan istrinya
dinonaktifkan, pihak yayasan mulai mengambil alih pengelolaan sekolah secara
fisik. Mereka mengklaim memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan,
walaupun sementara beberapa ruangan masih tidak bisa dibuka. Hal itu karena
kunci ruangan tersebut masih dalam penguasaan pihak IWD. Menurut dia, ruangan
yang terkunci antara lain ruangan ketua, sarana dan prasarana, sekretaris
yayasan, serta bendahara yayasan. Persoalan bertambah
ketika pihak yayasan hendak mengakses rekening untuk membayar gaji karyawan dan
guru. Hermawanto mengatakan data perbankan dan token masih dikuasai pihak
IWD. Saat mengajukan perubahan spesimen bank, yayasan mengetahui saldo
rekening ternyata hampir kosong, padahal sebelumnya terdapat dana miliaran
rupiah. "Begitu kami masuk
permohonan spesimen bank, di situ ketahuan rekening kita sudah kosong.
Mungkin paling tinggal sejuta, dua juta. Padahal uangnya itu miliaran. Itu
untuk uang menggaji karyawan dan guru. Padahal tanggal 25 harus bayar gaji,”
ujarnya. Pembayaran gaji kemudian,
menurut Hermawanto, ditalangi menggunakan dana pribadi ketua dewan pembina
yayasan. Pihak yayasan juga memeriksa rekening sekolah. Hermawanto mengatakan
pihak keuangan sebelumnya mengetahui enam rekening di bank salah satu bank
Himbara. Tetapi, setelah dimintakan konfirmasi ke bank, disebut terdapat 11
rekening. "Dari situ kami cek,
ternyata dana-dana itu banyak masuk ke rekening pribadi," ungkap
Hermawanto. Namun sejauh ini pihak
yayasan baru memperoleh data transaksi sekitar 10 bulan terakhir karena akses
perbankan kemudian diblokir akibat sengketa. Dari data tersebut, Hermawanto
menyebut ditemukan aliran dana yayasan ke rekening pribadi dalam jumlah
besar, termasuk sekitar Rp 1,8 miliar yang keluar dalam tiga hari setelah IWD
diberhentikan. Hermawanto mengatakan dugaan tersebut telah dilaporkan kepada
polisi. "Kalau pada saat
tanggal 20 setelah diberhentikan saja itu sekitar Rp 1,8 itu pada saat
setelah diberhentikan. Miliar Itu, setelah diberhentikan, tanggal 18 kan.
Jadi 19, 20, 21, tiga hari itu ada keluar dana Rp 1,8 miliar dana dari
sekolah yayasan itu keluar," terangnya. Selain persoalan
keuangan, Hermawanto mengatakan server yayasan juga hilang dan sejumlah data
sekolah tidak dapat diakses. Data CCTV lama juga disebut tidak dapat diakses
oleh pihak yayasan. Penemuan Senapan Ketika jumlah siswa
meningkat, pihak yayasan meminta agar sejumlah ruangan yang masih terkunci
dibuka. Hermawanto mengatakan pihaknya mengirimkan surat permintaan pembukaan
ruangan sebanyak tiga kali. Setelah surat terakhir, pihak yayasan memberikan
batas waktu hingga 10 Juli 2026. Pada tanggal tersebut,
kedua pihak sepakat membuka ruangan setelah kegiatan sekolah selesai. Saat
ruangan dibuka, pihak yayasan masuk bersama pihak lainnya. Awalnya mereka
tidak melihat senjata. Namun, ketika sebuah karung diangkat, terdapat benda
yang mencurigakan. "Begitu mengangkat
karung, terasa ada barang aneh. Begitu ceritanya. Dilihatlah, dibuka sedikit,
ternyata senjata," ungkap Hermawanto. Setelah mengetahui isi
karung, semua orang diminta keluar dan ruangan kembali ditutup. Pihak sekolah
kemudian menghubungi aparat sekitar pukul 17.00 WIB. Menurut Hermawanto,
aparat datang sekitar pukul 19.00 WIB. Penghitungan awal dilakukan dengan
membuka kotak-kotak yang ada di ruangan tersebut. Hermawanto mengatakan saat
itu ditemukan sekitar 60 kotak dengan masing-masing kotak berisi 10 senjata. Dari sejumlah ruangan
yang terkunci, Hermawanto mengatakan tiga ruangan telah dibuka. Namun masih
terdapat satu ruangan bagian keuangan yang belum dibuka karena kuncinya masih
dibawa pihak IWD. "Masih ada ruangan
bagian keuangan sih sebenarnya. Itu yang kunci dibawa oleh mereka juga,"
tuturnya. Pada Rabu, 5 Agustus
2026, malam, pihak sekolah kembali menemukan sejumlah barang yang berkaitan
dengan senjata. Barang yang disebut ditemukan antara lain empat senjata laras
panjang, dua senjata laras pendek, peredam, tujuh magasin berbagai jenis,
sejumlah amunisi, beberapa airsoft gun yang menyerupai FN P90, AK-47, dan M4
Carbine, taser gun, alat pembuat peluru, serta buku panduan pembuatan peluru. Selain itu, ada satu
ruangan yang disebut bunker. Ruangan tersebut berada di bawah ruangan ketua
yayasan dan tidak dapat diakses dari tempat lain selain melalui ruangan IWD.
Ruangan itu juga terhubung dengan basement parkir. Menurut keterangannya, di
ruangan itu ditemukan senjata laras panjang dan narkoba. "Itu yang ditemukan
senjata laras panjang dan narkoba," ungkapnya. "Ganja dan
sabu," sambung Hermawanto. Hermawanto mengatakan
tidak mengetahui secara persis jumlah senjata api yang ditemukan. Namun dia
memastikan terdapat senjata api di antara barang-barang yang ditemukan. "Ada. Pokoknya di
dalam proses kita penemuannya ada senjata apinya. Dan jadi, kalau disebut
airsoft gun, nggak. Ada senjata api, kok," ucap Hermawanto. Hermawanto juga
mengatakan terdapat CD video porno di dalam sebuah kotak peluru. Menurut dia,
jumlahnya sekitar 25-30 keping dan isinya campuran. Sementara itu, kuasa IWD
sekaligus Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin, Alhadid Endar Putra,
menyatakan 995 senjata itu merupakan milik perusahaan. Menurut dia, senjata
tersebut disimpan di gudang sekolah berkaitan dengan rencana kerja sama
ekstrakurikuler menembak antara PT Lokta Karya Perbakin dan pengurus yayasan
sekolah sebelumnya pada 2020. "Benar, itu milik
Lokta Karya Perbakin. Itu sudah jelas, ada izinnya yang 995 pucuk itu berupa
airsoft gun," ujar Direktur Utama PT Lokta Karya Persatuan Menembak
Indonesia (Perbakin), Alhadid Endar Putra, saat dihubungi detikcom, Jumat, 7
Agustus 2026. Alhadid menyatakan
senjata-senjata tersebut resmi dan berizin. Dia juga mengaku telah
memperlihatkan surat izin kepada polisi. Dalam keterangannya, dia menyebut
nomor surat izin kepemilikan ratusan pucuk airsoft gun tersebut adalah
SI/5483-XII/2008. Namun keterangan tersebut
dibantah pihak yayasan sekolah. Kuasa hukum pihak sekolah menyatakan tidak
ada kegiatan ekstrakurikuler menembak di sekolah tersebut. Kabid Humas Polda Metro
Jaya Kombes Budi Hermanto memerinci 995 senjata angin tersebut terdiri atas
empat pucuk senapan angin kaliber 4,5 mm, 215 pucuk pistol angin kaliber 4,5
mm, dan 776 pucuk revolver angin kaliber 4,5 mm. Senjata-senjata tersebut
disebut diimpor dari luar negeri. Satu pucuk senjata api
yang ditemukan merupakan jenis Franchi SPA, SPAS-15 kaliber 12 GA. Polisi
menyebut senjata tersebut tercatat atas nama pria berinisial DS. DS diketahui merupakan
direktur PT Lokta Karya Perbakin, perusahaan yang berkaitan dengan impor
senjata angin atau airsoft gun. Namun polisi menemukan bahwa DS telah
meninggal dunia pada 2020. "Untuk mengetahui
impor dari negara mana, kami lagi mengatur untuk menjadwalkan pemanggilan
terhadap Saudara IWD di minggu depan," kata Budi Hermanto kepada
wartawan, Minggu, 9 Agustus 2026. Di tempat terpisah.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta aparat penegak hukum mengusut
tuntas temuan ratusan senjata, narkoba, hingga film dewasa di bangunan
sekolah tersebut. Pramono menegaskan kasus tersebut harus diproses hukum. "Yang pertama, apa
yang terjadi di sekolah swasta di Kebayoran Lama yang ditemukan sangat
mengejutkan, senjata jumlahnya kurang lebih 995, kemudian ada narkoba, dan
juga ada hal-hal lain. Pertanyaannya, apakah itu boleh? Jawabannya singkat
saja, sangat tidak boleh," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat,
7 Agustus 2026, dikutip dari detikNews. Pramono menekankan dunia
pendidikan harus menjadi tempat yang aman bagi peserta didik. Dia menegaskan
penyimpanan senjata dan barang terlarang di lingkungan sekolah tidak
dibolehkan. "Karena apa pun di dunia pendidikan
yang seperti ini tidak boleh terjadi," ucapnya. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar