|
Menakar Geopolitik Indonesia di Timur Tengah Dr. CA.
Jamaluddin, LC, Ms.J : Pemerhati Hubungan Indonesia – Timur
Tengah dan Global. |
REPUBLIKA, 15 Juli 2026
|
Hubungan Indonesia dengan
anegara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North
Africa/MENA) dibangun di atas fondasi yang membentang selama berabad-abad.
Dari jalur perdagangan yang menghubungkan sejumlah kepulauan Indonesia dengan
Semenanjung Arab (Jazirah Arabiyah) hingga penyebaran Islam dan pertukaran
ide, seperti pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Indonesia dan
negara-negara MENA telah lama memiliki ikatan ekonomi, budaya, dan agama. Di
era modern saat ini, hubungan ini telah berkembang melampaui koneksi
historis, berevolusi menjadi kemitraan strategis dengan kolaborasi yang
semakin meningkat di bidang diplomasi, perdagangan, investasi, pendidikan,
dan energi dan juga forum-forum regional (OKI) dan forum internasional (PBB). Selanjutnya dalam
beberapa tahun terakhir, negara-negara MENA telah menjadi pemain kunci dalam
keterlibatan internasional Indonesia. Dari investasi yang dilakukan
negara-negara Teluk (GCC) dalam infrastruktur dan transisi energi di
Indonesia hingga kerja sama pendidikan dan keagamaan dengan negara-negara,
seperti Kerajaan Arab Saudi, Republik Arab Mesir, Uni Emirat Arab (UAE),
Qatar, Maroko, Al-Jazair dan Tunisia di mana negara-negara ini menawarkan
kepada Indonesia, tidak hanya peluang ekonomi tetapi juga platform geopolitik
yang lebih luas. Seiring dengan perluasan
peran global Indonesia, keterlibatannya dengan negara-negara di kawasan
mengharuskan Indonesia harus siap secara genuine dalam membentuk kebijakan
luar negeri, strategi ekonomi, dan kemitraan regional dalam beberapa dekade
mendatang. Terlepas dari semakin
meningkatnya peran yang dimainkan negara-negara di kawasan MENA tersebut,
persepsi publik tentang MENA di Indonesia masih kurang dieksplorasi. Maka
pertanyaan yang nampaknya cukup krusial adalah, Bagaimana masyarakat
Indonesia memandang kawasan ini, memahami perannya dalam urusan global, dan
bagaimana hubungan geopolitik Indonesia - MENA saat ini? Geopolitik
Indonesia di Timur Tengah saat ini ditentukan oleh keseimbangan yang rumit
antara doktrin polugri bebas-aktif, kebutuhan ekonomi yang berkembang, dan
pengawasan publik domestik yang intens terkait konflik Israel-Gaza. Jakarta
semakin memandang kawasan ini sebagai mitra strategis untuk investasi,
politik energi, dan solidaritas dalam konteks kerjasama Selatan-Selatan
(Global South-South), dimana pada saat ini, Indonesia terus melancarkan
diplomasinya di bidang ekonomi dan keamanan energi. Secara
historis hubungan Indonesia dengan negara-negara MENA berfokus pada ikatan
budaya dan agama, namun minat kontemporernya di Timur Tengah sangat didorong
oleh keamanan sumber daya dan investasi modal. Dan akibat kerentanan energi
yang dialaminya , Indonesia sangat bergantung pada impor minyak mentah dari
negara-negara Timur Tengah, sebesar 20 persen hingga 25 persen. Ketegangan
geopolitik di kawasan ini—terutama di sekitar titik-titik penting seperti
Selat Hormuz—memiliki dampak langsung pada neraca perdagangan Jakarta dan
inflasi domestik, seiring dengan melambungnya harga bahan-bahan pokok dan BBM
di dalam negeri dan melemhanya nilai rupiah terhadap dollar AS. Selain itu,
penangguhan partisipasi Indonesia dalam OPEC telah membatasi daya tawar dan
aksesnya terhadap tata kelola energi global yang strategis. Selanjutnya,
investasi yang dilakukan negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, UAE dan
Qatar diharapkan dapat memberikan suntikan modal bagi pembangunan
infrastruktur dan proyek transisi energi di Indonesia di tengah kondisi
kawasan dan global yang tidak menentu. Dalam
isu Palestina, konstitusi Indonesia mewajibkan dukungan untuk kemerdekaan
Palestina, dan menempatkan idealisme geopolitik di garis depan kebijakan
Timur Tengah-nya. Sementara sikap diplomatik yang dianutnya, Jakarta adalah
pendukung vokal solusi dua negara (two states solution) yang adil dan
komprehensif. Secara
historis, Indonesia menentang normalisasi hubungan Arab-Israel secara sepihak
tanpa membahas hak-hak Palestina. Upaya Indonesia untuk memposisikan diri
sebagai mediator baru-baru ini menghadapi gesekan domestik. Inisiatif seperti
keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian internasional (BoP), telah
menghadapi kritik keras dari pengamat politik domestik yang berpendapat
platform tersebut kurang netral dan meminggirkan kepentingan Palestina. Indonesia
sering berupaya bertindak sebagai jembatan penghubung dalam perselisihan
dunia Islam karena statusnya sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di
dunia. Sementara itu, publik di Indonesia sering memandang Timur Tengah
melalui lensa solidaritas agama dan sejarah, yang menghasilkan harapan akan
sikap yang sangat vokal terhadap konflik regional (isu Palestina). Namun
kebutuhan pemerintah untuk memproyeksikan kepemimpinan moral ini terkadang
bertentangan dengan kepentingan nasional yang realistis, seperti
mempertahankan hubungan perdagangan yang kuat dengan Barat dan mengamankan
investasi asing langsung dari Teluk. Pada
saat ini, strategi Timur Tengah Indonesia semakin rumit oleh persaingan
geopolitik AS-Tiongkok dan AS-Iran yang lebih luas. Ketika kekuatan global
bersaing untuk mendapatkan pengaruh di Timur Tengah, Indonesia berupaya
mempertahankan otonomi strategis. Indonesia berupaya menyeimbangkan hubungan
ekonomi yang mendalam dengan Tiongkok dan perluasan kemitraan pertahanan
dengan Amerika Serikat, Jakarta terpaksa berhati-hati agar tidak terjebak
dalam baku tembak konflik yang meningkat yang melibatkan Iran dan AS. Sehubungan
dengan hal tersebut, nampaknya Indonesia harus memanfaatkan kebijakan luar
negerinya yang "bebas dan aktif" untuk menengahi de-eskalasi
regional, mendiversifikasi pasokan energinya untuk mengurangi guncangan
ekonomi global, dan menyeimbangkan tradisi non-bloknya dengan manuver
diplomatik strategis terkait kedaulatan Palestina dan persaingan kekuatan
besar. Untuk
menavigasi lanskap geopolitik Timur Tengah yang kompleks, kiranya Indonesia
dapat menjalankan strategi spesifik berikut, yaitu a.l.: bertindak sebagai
mediator netral, dengan memanfaatkan statusnya sebagai demokrasi mayoritas
Muslim terbesar di dunia, Indonesia harus menjaga dialog terbuka dengan semua
aktor negara—termasuk Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat—untuk
memfasilitasi komunikasi jalur belakang dan mencegah eskalasi konflik lebih
lanjut. Hal
lainnya, yaitu dengan memprioritaskan keamanan energi dengan mendiversifikasi
impor minyak dan gasnya dari Timur Tengah. Kemudian memperluas sumber pasokan
dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Nigeria, dan Brasil diharapkan
dapat melindungi APBN nya dari volatilitas harga minyak yang ekstrem. Berkaitan
dengan isu Palestina, kiranya Indonesia terus memimpin advokasi internasional
untuk solusi dua negara. Jakarta harus secara aktif melibatkan para mediator
regional utama seperti Saudi Arabia, Qatar dan Mesir untuk mendorong resolusi
kemanusiaan, memastikan kebijakan luar negerinya tetap selaras dengan mandat
konstitusional untuk menghapus kolonialisme. Selanjutnya
menavigasi persaingan kekuatan besar, karena dinamika keamanan Indo-Pasifik
dan Timur Tengah semakin saling terkait, Indonesia harus melakukan upayanya
untuk tidak terjebak dalam persaingan AS-Tiongkok. Jakarta harus
mempertahankan otonomi strategisnya sambil memanfaatkan perjanjian pertahanan
dan perdagangan dengan kekuatan besar semata-mata untuk meningkatkan
ketahanan nasionalnya sendiri. Terakhir,
memperluas diplomasi ekonomi, Indonesia harus menjajaki hubungan ekonomi yang
saling melengkapi dengan negara-negara Timur Tengah, seperti mengekspor
minyak sawit, karet, dan produk pertanian ke Iran sebagai imbalan atas
petrokimia, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip non-blok yang dianutnya.
Wallahu’alam. ● Sumber : https://analisis.republika.co.id/berita/ti7i38282/menakar-geopolitik-indonesia-di-timur-tengah-part3 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar