Senin, 17 Agustus 2026

 

Bagaimana Keluarga Menempa Masa Kecil Oei Tjoe Tat di Solo

Rina Widiastuti :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Oei Tjoe Tat tumbuh di kawasan Pecinan Lama Surakarta.

 

·      Hidup dalam budaya Tionghoa dan Jawa serta mengenyam pendidikan Barat pada masa kecil membentuk cara pandangnya tentang Indonesia.

 

·      Pengalaman masa muda ikut membentuk cara pandang yang mengantarkan Oei Tjoe Tat ke panggung politik nasional dan menjadi salah satu orang terdekat Bung Karno.

 

PERJALANAN hidup Oei Tjoe Tat berawal dari Jalan Mesen Nomor 201, Solo. Ia lahir pada 26 April 1922 dan tumbuh besar di sana. Dia anak keenam dari delapan bersaudara pasangan Oei Ing Wie dan Ong Tin Nio. Keluarganya cukup terpandang di kalangan masyarakat Solo kala itu. Ing Wie adalah pemilik usaha grosir tekstil Toko Ong Swie Giok Solo di perempatan Coyudan Kidul. Saudara-saudaranya memegang jabatan di bidang keuangan di beberapa perusahaan. “Masa kanak-kanak saya tergolong cerah,” kata Oei, seperti dikutip dari buku Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno.

 

Ing Wie hijrah dari Yogyakarta ke Solo pada 1907. Awalnya dia berdagang sekaligus tinggal di toko. Namun KRT Radjiman Wedyoningrat—dokter keluarga, dokter Keraton Surakarta, dan belakangan menjadi Ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia—menyarankan Ing Wie memboyong keluarganya tinggal di rumah yang terpisah dari tempat usaha demi kesehatan. Mereka pun pindah ke Jalan Mesen.

 

Anak-anak Oei Tjoe Tat masih ingat bagaimana rumah masa kecil ayah mereka. Hingga awal 1960-an, Oei dan istrinya, Kwee Loan Nio, sering membawa anak-anak mereka berlibur ke Solo. Mereka berangkat dari Jakarta dengan mobil dan biasanya sekalian sowan ke keluarga ibu Oei di Salatiga, Jawa Tengah.

 

“Rumahnya besar, bergaya Belanda, perabot di dalamnya khas Jawa Chinese,” ujar Fransiska Oei, anak ketiga Oei Tjoe Tat, dalam wawancara di Graha CIMB, Jakarta, pada Rabu, 1 Juli 2026. Dia terakhir kali mengunjungi rumah di Jalan Mesen sebelum ayahnya menjadi menteri negara pada 1963. Setiap kali ke Solo, dia menyempatkan diri mampir, tapi semua sudah berubah bentuk. “Patokannya tuh dekat pasar,” tutur Fransiska.

 

Tempo menelusuri lingkungan tempat Oei Tjoe Tat menghabiskan masa kecilnya. Nama jalannya berubah menjadi Jalan Urip Sumoharjo. Meski daerah itu masuk Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, warga lokal lebih suka menyebutnya Mesen.

 

Warisan kawasan pecinan pada awal abad ke-20 itu di antaranya terlihat di Rumah Sakit Dr Oen Kandang Sapi Solo. Fasilitas kesehatan ini berawal dari klinik Tsi Sheng Yuan di Jalan Mesen 106 sebelum ditingkatkan fungsinya pada 29 Januari 1933.

 

Sayangnya, jejak rumah Jalan Mesen 201 lenyap tak bersisa. Sumartono Hadinoto, Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta, cuma bisa mengira-ngira titiknya dari cerita orang-orang tua sesama keturunan Tionghoa, yaitu di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 191A. “Sekarang menjadi restoran Rocket Chicken Jebres,” kata Sumartono saat ditemui Tempo di Surakarta pada Kamis, 23 Juli 2026.

 

Dani Saptoni, pegiat sejarah Kota Surakarta sekaligus Ketua Komunitas Solo Societeit, mengatakan kawasan itu berkembang sebagai permukiman masyarakat Tionghoa karena lokasinya dekat dengan pusat perdagangan Pasar Gede dan Kali Pepe. “Pecinan Lama bukan hanya satu titik, melainkan terdiri atas beberapa kawasan. Mesen salah satunya,” ujar Dani pada Rabu, 15 Juli 2026.

 

Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko, memperkuat keterangan itu. Dia mengatakan interaksi antarkelompok masyarakat di Mesen lebih erat karena permukiman itu tumbuh alami lewat pengaruh perdagangan, bukan hasil aturan hunian pemerintah kolonial. “Di utara Pasar Gede, relasi sosialnya sangat cair,” tutur Heri pada Kamis, 23 Juli 2026.

 

Pengaruh budaya Jawa melekat dalam diri Oei Tjoe Tat sejak kecil. Ia dan tujuh saudaranya masing-masing didampingi satu pengasuh perempuan Jawa. “Dengan sehelai selendang, ia memomong saya. Bila saya merajuk atau tak mau tidur, dia selalu menembang 'Lelo-lelo Ledung',” kata Oei dalam memoarnya. Tembang pengantar tidur itu berisi doa agar anak tumbuh mulia.

 

Pengasuh itu pun kerap menyanyikan “Pok Ame-ame”. Kadang liriknya diubah untuk menakut-nakuti Oei kecil supaya membuatnya bisa lebih diatur. “Bila nakal nanti dibawa wewe,” ujar Oei dalam memoarnya. Sebutan itu mengacu pada wewe gombel, sosok hantu perempuan dalam mitologi Jawa.

 

Sehari-hari Oei berbahasa Jawa ngoko, termasuk dengan orang tua dan teman-temannya. Hanya ayahnya yang bisa berkomunikasi dalam Hokkian, bahasa yang digunakan orang-orang di Fukien, Cina bagian selatan. Oei Ing Wie kadang berbahasa Melayu diselingi Hokkian saat berinteraksi dengan sesama pedagang keturunan Tionghoa. Sementara itu, Ong Tin Nio biasa menyambut pembeli dengan Jawa kromo.

 

Ayah dan ibu Oei mempertahankan budaya Tionghoa, tapi diberi sentuhan lokal. Soal makanan, misalnya. Capcai, bakmi, dan bihun dimasak ala Jawa dengan rasa manis yang dominan seperti umumnya hidangan Yogyakarta dan Solo. Soal berpakaian, Oei Ing Wie selalu mengenakan kemeja congsam pria putih yang dipadukan dengan celana batik. Sementara itu, Ong Tin Nio memilih kebaya encim saban keluar dari rumah.

 

Imlek menjadi momen bagi orang tua Oei mendekatkan anak-anaknya dengan budaya Tionghoa. Mereka menjalani ritual pai kui atau penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dalam memoarnya, Oei menggambarkan ia dan saudara-saudaranya memakai baju baru pada hari itu. Setelah menjalani pai kui di Solo, mereka ke Yogyakarta dengan mobil sewaan. “Pertama-tama kami akan ke Gandekan, rumah kakek dari garis ayah,” tutur Oei. Keluarganya juga akan menyambangi keluarga Ong dan berkumpul bersama sanak saudara yang datang dari Magelang, Purworejo, Kutoarjo, dan Kebumen.

 

Sejarawan dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Nopriyasman, menyatakan ayah Oei adalah penganut konfusianisme yang mengajarkan ihwal pentingnya menghormati leluhur kepada anak-anaknya. Lewat tesisnya, “Oei Tjoe Tat: Dilema Peranakan di Pentas Politik Indonesia (1946-1966)” di Universitas Indonesia pada 1995, Nopriyasman mengatakan ajaran itu tertoreh mendalam bagi Oei. “Mungkin ini ikut mempengaruhi kenapa Oei begitu percaya kepada Sukarno. Dia menganggap Sukarno sebagai orang yang dituakan,” ujarnya pada Jumat, 24 Juli 2026.

 

Latar belakang ayahnya sebagai pengusaha menjadikan Oei Tjoe Tat juga berpikiran rasional dan terbuka. Oei Ing Wie tergolong pembelajar otodidaktik. Ia gemar membaca sastra dan filosofi. Ing Wie menyekolahkan anak-anaknya di Hollandsch-Chineesche School (HCS) di Solo—kini Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Surakarta—bukan sekolah Tionghoa tradisional. Sekolah dasar ini menjalankan pendidikan ala Barat dan lulusannya bisa berlanjut ke sekolah menengah atau hoogere burgerschool (HBS).

 

Hindia Belanda menerapkan strata sosial yang menempatkan kaum Tionghoa di lapis kedua, di bawah masyarakat Eropa dan di atas pribumi. Namun, Nopriyasman melanjutkan, tidak semua keluarga Cina bisa menyekolahkan anak-anak mereka di HCS. “Yang bisa masuk hanya orang-orang yang punya kerekatan dengan pemerintah kolonial, anak orang kaya, atau anak pejabat. Nah, Oei ini termasuk keluarga menengah yang cukup punya duit,” katanya.

 

Masuk HCS Surakarta pada 1928, Oei mulai bergaul dengan sesama anak Tionghoa. Berbekal pelajaran bahasa Belanda, bocah yang gemar membaca itu memperluas wawasannya dengan buku-buku dari Eropa. Dia lalu melanjutkan pendidikan ke HBS. “Tidak semua orang bisa masuk HBS, cuma yang pintar,” tutur Nopriyasman.

 

Oei masuk Hoogere Burgerschool Semarang pada 1935 di usia 13 tahun. Ini adalah pertama kalinya dia meninggalkan rumah Mesen. Awalnya ia indekos di rumah keluarga Tiang Ing Liang, pemilik perusahaan susu sapi, tapi hanya setahun. Setelah itu, Oei pindah-pindah tempat kos.

 

Ketika mondok di rumah keluarga Khouw Bian Tjeng, Oei mendapat kebebasan karena pemilik rumah yang seorang seniman dan musikus lebih banyak tinggal di Shanghai, Cina. Di sana dia berkenalan dengan wartawan Siauw Giok Tjhan. Di kemudian hari, pada 1954, Siauw mendirikan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki yang memperjuangkan hak-hak warga keturunan Tionghoa.

 

Bersekolah di HBS Semarang membuat pergaulan Oei makin luas. Kegemaran berorganisasi dalam lingkup komunitas Tionghoa yang ia mulai di sekolah dasar berlanjut di sekolah menengah itu. Begitu juga dengan kebiasaannya membaca. Salah satu asupan harian favoritnya adalah Sin Po, surat kabar progresif yang ikut mempopulerkan nama “Indonesia” dan menerbitkan lirik serta partitur “Indonesia Raya” pada edisi 10 November 1928.

 

Dari koran-koran pula Oei mengenal tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan, termasuk Sukarno. Namun, kata Nopriyasman, Bung Karno belum menjadi pusat perhatian Oei.

 

Pada masa sekolah menengah itu, Oei lebih banyak membaca seputar revolusi Cina setelah tumbangnya Dinasti Qing pada 1911. Dia sampai memajang potret Sun Yat-sen, bapak Tiongkok modern, di kamarnya. Oei turut mengagumi Jenderal Chiang Kai-shek, pemimpin militer Cina dari kelompok nasionalis yang belakangan terusir oleh kelompok komunis dan mendirikan pemerintahan di Pulau Formosa—kini Taiwan.

 

Menurut Nopriyasman, kegemaran Oei melahap berita-berita soal pergerakan kebangsaan di surat kabar pada masa HBS sedikit-banyak membentuk jiwa nasionalismenya. Karakter itu menguat ketika anak Tionghoa asal Solo tersebut melanjutkan pendidikan di Rechtshoogeschool te Batavia—cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang kini menjadi gedung Kementerian Pertahanan di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/masa-kecil-oei-tjoe-tat-2282169

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar