Minggu, 09 Agustus 2026

 

Menjaga Mimpi Anak Indonesia Lolos Piala Dunia Lewat Kisah Uzbekistan

Lia Najib : Aktivis perempuan dan Direktur Digital Momi Indonesia.

REPUBLIKA, 05 Juli 2026

 

 

 

Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bukan sekadar turnamen empat tahunan yang biasa digelar oleh induk sepak bola dunia, FIFA.

 

Dalam edisi tahun ini, terdapat banyak perubahan yang dilakukan oleh FIFA salah satunya bertambahnya jumlah peserta turnamen sepak bola paling bergengsi di kolong langit itu.

 

Mulai pertama kali digelar di tiga negara, peserta Piala Dunia 2026 juga penambahan yang tadinya hanya berjumlah 32 negara, kini bertambah menjadi 48 negara peserta.

 

Presiden FIFA Gianni Infantino dalam keterangannya di forum World Economic Forum di Davos, Swiss pada Januari 2026 lalu mengatakan, keputusan pihaknya memperluas jumlah peserta ini karena menganggap sepak bola seharusnya milik semua orang.

 

Sebab menurut dia, dari total 211 negara yang menjadi anggota resmi FIFA, sebagian besar di antaranya hanya bisa menonton dari layar kaca ajang Piala Dunia tersebut.

 

"Ada 211 negara yang menjadi anggota FIFA. Kami ingin memberi mereka momen kegembiraan dan kebahagiaan. Ketika seorang anak menendang bola, mereka tidak memikirkan masalah dalam hidup mereka," ujar Infantino dinukil dari situs resmi FIFA.com.

 

Penambahan peserta Piala Dunia ini otomatis banyak negara-negara debutan bermunculan dari berbagai konfederasi, tak terkecuali Asia.

 

Salah satu yang cukup menuai sorotan, hadirnya Uzbekistan yang sedari ajang Kualifikasi memang sudah menunjukan taji-nya bahwa mereka memang layak untuk lolos ke putaran final.

 

Dengan menggandeng aplikasi layanan streaming seperti Fola Play, TVRI menyatakan bahwa masyarakat dapat mengakses 104 pertandingan Piala Dunia 2026.

 

Siaran ini pun bisa dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia termasuk yang berada di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

 

Hal ini agaknya sejalan dengan potensi pemain sepak bola Indonesia yang tak jarang bisa muncul dari daerah tersebut.

 

Bukan tak mungkin, mimpi mentas di ajang Piala Dunia itu dimulai dari menonton para pemain dan negara favorit mereka berlaga di turnamen paling digilai masyarakat seantero jagat itu melalui siaran televisi.

 

Dan untuk masyarakat awam pecinta sepak bola tanah air, rasanya juga ingin melihat Marselino Ferdinan atau Rizky Ridho adu skil dengan pemain-pemain seterkenal Kylian Mbappe atau Bruno Fernandes.

 

Kesuksesan terus berlanjut hingga muaranya lolos Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi zona Asia.

 

Pelecut bagi Indonesia

 

Melihat kesuksesan Uzbekistan mampu lolos ke Piala Dunia 2026 tentu memantik negara-negara lain yang sejatinya memiliki gairah besar terhadap dunia sepak bola, tak terkecuali Indonesia.

 

Indonesia sejatinya telah berada di jalur yang tepat untuk meraih kesuksesan yang sama seperti halnya yang diraih Uzbekistan.

 

PSSI dibawah komando Erick Thohir terus mematangkan pengembangan sepak bola usia dini salah satunya dengan menggelar liga kelompok umur bertajuk turnamen Elite Pro Academy (EPA).

 

Pengembangan EPA ini salah satunya untuk melahirkan tulang punggung Timnas Indonesia di masa depan yang tak lain ujungnya untuk mentas di ajang paling bergengsi di dunia tersebut.

 

Selain mengembangkan bibit muda lewat turnamen kelompok umur, PSSI juga sedang gencar memulangkan pemain diaspora yang tersebar di berbagai negara.

 

Langkah itu disebut untuk memperkuat serta menciptakan kolaborasi antara pemain yang berlaga di kompetisi lokal dengan pengalaman pemain yang bermain di kompetisi elite dunia.

 

Upaya ini sejurus dengan target PSSI yang bertekad meloloskan Indonesia ke Piala Dunia mendatang.

 

Bahkan dilansir dari berbagai sumber, Erick juga mengemukakan bahwa PSSI telah memiliki blueprint untuk meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2034 mendatang.

 

Indonesia yang kini berada di peringkat 118 dunia pun terus menjaga asa dengan melakukan serangkaian perubahan baik di internal maupun eksternal.

 

Memang tak bisa dimungkiri, keselarasan antara 'gocekan si kulit bundar' di lapangan dengan mematangkan proses perencanaan regulasi penting untuk segera di lakukan.

 

Pasalnya menjadi barang tentu, anak-anak muda berbakat di tanah air bukan hanya sekadar ingin menjadi penonton Piala Dunia hingga masa uzurnya.

 

Tentu mereka juga mempunyai mimpi bisa berpartisipasi langsung melawan jagoan-jagoan sepak bola di seluruh dunia.

 

Nama-nama debutan di Piala Dunia 2026 seperti pemain Timnas Meksiko berusia 17 tahun Gilberto Mora dan Hugo Sochurek misalnya, mereka seakan menjadi pemantik bagi atlet-atlet muda tanah air untuk meraih kesuksesan yang sama.

 

Bangun gairah lewat tayangan televisi

 

Kendati demikian belum bisa merumput bersama dengan nama-nama diatas, paling tidak pemain-pemain kita masih bisa terus memupuk mimpi dengan menyaksikan mereka berlaga melalui layar kaca.

 

TVRI selaku pemegang hak siar Piala Dunia 2026 ini, nampaknya juga ingin berpartisipasi untuk menanam mimpi bagi anak-anak Indonesia hingga ke daerah terluar.

 

Tentu banyak orang menyadari bahwa lolosnya White Wolves (julukan Timnas Uzbekistan) ke Piala Dunia 2026 ini tak dibangun dalam waktu semalam.

 

Lolosnya Uzbekistan untuk pertama kalinya ke Piala Dunia ini tak terlepas dari kerja panjang seluruh stakeholder negara yang berada di Asia Tengah itu.

 

Mulai dari pengembangan sepak bola akar rumput hingga ke level profesional serta pembuatan regulasi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah mereka.

 

Bahkan pada 2018 lalu, Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev mengesahkan program nasional untuk membangun sepak bola di negaranya.

 

Regulasi itu membuat sepak bola Uzbekistan mulai dipupuk dari usai dini hingga ke level profesional.

 

Hingga pada April 2023, Presiden Shavkat mengeluarkan dekrit dengan mengubah nomenklatur Sekolah Sepak Bola (SSB) menjadi Akademi Sepak Bola.

 

Langkah itu seakan untuk menunjukan keseriusan negara itu untuk membangun sepak bola ke arah yang lebih serius.

 

Hasilnya mereka pun selangkah demi selangkah mampu berbicara banyak di turnamen-turnamen kelompok umur bertaraf internasional, salah satunya mampu menjuarai Piala Asia U-23 tahun 2018 yang kala itu digelar di China.

 

Bahkan dilansir dari berbagai sumber, Erick juga mengemukakan bahwa PSSI telah memiliki blueprint untuk meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2034 mendatang.

 

Indonesia yang kini berada di peringkat 118 dunia pun terus menjaga asa dengan melakukan serangkaian perubahan baik di internal maupun eksternal.

 

Memang tak bisa dimungkiri, keselarasan antara 'gocekan si kulit bundar' di lapangan dengan mematangkan proses perencanaan regulasi penting untuk segera di lakukan.

 

Pasalnya menjadi barang tentu, anak-anak muda berbakat di tanah air bukan hanya sekadar ingin menjadi penonton Piala Dunia hingga masa uzurnya.

 

Tentu mereka juga mempunyai mimpi bisa berpartisipasi langsung melawan jagoan-jagoan sepak bola di seluruh dunia.

 

Nama-nama debutan di Piala Dunia 2026 seperti pemain Timnas Meksiko berusia 17 tahun Gilberto Mora dan Hugo Sochurek misalnya, mereka seakan menjadi pemantik bagi atlet-atlet muda tanah air untuk meraih kesuksesan yang sama.

 

Bangun gairah lewat tayangan televisi

 

Kendati demikian belum bisa merumput bersama dengan nama-nama diatas, paling tidak pemain-pemain kita masih bisa terus memupuk mimpi dengan menyaksikan mereka berlaga melalui layar kaca.

 

TVRI selaku pemegang hak siar Piala Dunia 2026 ini, nampaknya juga ingin berpartisipasi untuk menanam mimpi bagi anak-anak Indonesia hingga ke daerah terluar.

 

Kesuksesan terus berlanjut hingga muaranya lolos Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi zona Asia.

 

Pelecut bagi Indonesia

 

Melihat kesuksesan Uzbekistan mampu lolos ke Piala Dunia 2026 tentu memantik negara-negara lain yang sejatinya memiliki gairah besar terhadap dunia sepak bola, tak terkecuali Indonesia.

 

Indonesia sejatinya telah berada di jalur yang tepat untuk meraih kesuksesan yang sama seperti halnya yang diraih Uzbekistan.

 

PSSI dibawah komando Erick Thohir terus mematangkan pengembangan sepak bola usia dini salah satunya dengan menggelar liga kelompok umur bertajuk turnamen Elite Pro Academy (EPA).

 

Pengembangan EPA ini salah satunya untuk melahirkan tulang punggung Timnas Indonesia di masa depan yang tak lain ujungnya untuk mentas di ajang paling bergengsi di dunia tersebut.

 

Selain mengembangkan bibit muda lewat turnamen kelompok umur, PSSI juga sedang gencar memulangkan pemain diaspora yang tersebar di berbagai negara.

 

Langkah itu disebut untuk memperkuat serta menciptakan kolaborasi antara pemain yang berlaga di kompetisi lokal dengan pengalaman pemain yang bermain di kompetisi elite dunia.

 

Upaya ini sejurus dengan target PSSI yang bertekad meloloskan Indonesia ke Piala Dunia mendatang.

 

Dengan menggandeng aplikasi layanan streaming seperti Fola Play, TVRI menyatakan bahwa masyarakat dapat mengakses 104 pertandingan Piala Dunia 2026.

 

Siaran ini pun bisa dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia termasuk yang berada di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

 

Hal ini agaknya sejalan dengan potensi pemain sepak bola Indonesia yang tak jarang bisa muncul dari daerah tersebut.

 

Bukan tak mungkin, mimpi mentas di ajang Piala Dunia itu dimulai dari menonton para pemain dan negara favorit mereka berlaga di turnamen paling digilai masyarakat seantero jagat itu melalui siaran televisi.

 

Dan untuk masyarakat awam pecinta sepak bola tanah air, rasanya juga ingin melihat Marselino Ferdinan atau Rizky Ridho adu skil dengan pemain-pemain seterkenal Kylian Mbappe atau Bruno Fernandes.

 

Sumber :  https://analisis.republika.co.id/berita/thnr9n320/menjaga-mimpi-anak-indonesia-lolos-piala-dunia-lewat-kisah-uzbekistan-part8

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar