|
Menjaga Mimpi Anak Indonesia Lolos Piala Dunia Lewat Kisah Uzbekistan Lia Najib : Aktivis perempuan dan Direktur Digital Momi
Indonesia. |
REPUBLIKA, 05 Juli 2026
|
Piala Dunia 2026 yang
digelar di tiga negara yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bukan
sekadar turnamen empat tahunan yang biasa digelar oleh induk sepak bola
dunia, FIFA. Dalam edisi tahun ini,
terdapat banyak perubahan yang dilakukan oleh FIFA salah satunya bertambahnya
jumlah peserta turnamen sepak bola paling bergengsi di kolong langit itu. Mulai pertama kali
digelar di tiga negara, peserta Piala Dunia 2026 juga penambahan yang tadinya
hanya berjumlah 32 negara, kini bertambah menjadi 48 negara peserta. Presiden FIFA Gianni
Infantino dalam keterangannya di forum World Economic Forum di Davos, Swiss
pada Januari 2026 lalu mengatakan, keputusan pihaknya memperluas jumlah
peserta ini karena menganggap sepak bola seharusnya milik semua orang. Sebab menurut dia, dari
total 211 negara yang menjadi anggota resmi FIFA, sebagian besar di antaranya
hanya bisa menonton dari layar kaca ajang Piala Dunia tersebut. "Ada 211 negara yang
menjadi anggota FIFA. Kami ingin memberi mereka momen kegembiraan dan
kebahagiaan. Ketika seorang anak menendang bola, mereka tidak memikirkan
masalah dalam hidup mereka," ujar Infantino dinukil dari situs resmi
FIFA.com. Penambahan peserta Piala
Dunia ini otomatis banyak negara-negara debutan bermunculan dari berbagai
konfederasi, tak terkecuali Asia. Salah satu yang cukup
menuai sorotan, hadirnya Uzbekistan yang sedari ajang Kualifikasi memang
sudah menunjukan taji-nya bahwa mereka memang layak untuk lolos ke putaran
final. Dengan menggandeng
aplikasi layanan streaming seperti Fola Play, TVRI menyatakan bahwa
masyarakat dapat mengakses 104 pertandingan Piala Dunia 2026. Siaran ini pun bisa
dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia termasuk yang berada di daerah
terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Hal ini agaknya sejalan
dengan potensi pemain sepak bola Indonesia yang tak jarang bisa muncul dari
daerah tersebut. Bukan tak mungkin, mimpi
mentas di ajang Piala Dunia itu dimulai dari menonton para pemain dan negara
favorit mereka berlaga di turnamen paling digilai masyarakat seantero jagat
itu melalui siaran televisi. Dan untuk masyarakat awam
pecinta sepak bola tanah air, rasanya juga ingin melihat Marselino Ferdinan
atau Rizky Ridho adu skil dengan pemain-pemain seterkenal Kylian Mbappe atau
Bruno Fernandes. Kesuksesan terus
berlanjut hingga muaranya lolos Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi
zona Asia. Pelecut bagi Indonesia Melihat kesuksesan
Uzbekistan mampu lolos ke Piala Dunia 2026 tentu memantik negara-negara lain
yang sejatinya memiliki gairah besar terhadap dunia sepak bola, tak
terkecuali Indonesia. Indonesia sejatinya telah
berada di jalur yang tepat untuk meraih kesuksesan yang sama seperti halnya
yang diraih Uzbekistan. PSSI dibawah komando
Erick Thohir terus mematangkan pengembangan sepak bola usia dini salah
satunya dengan menggelar liga kelompok umur bertajuk turnamen Elite Pro
Academy (EPA). Pengembangan EPA ini
salah satunya untuk melahirkan tulang punggung Timnas Indonesia di masa depan
yang tak lain ujungnya untuk mentas di ajang paling bergengsi di dunia
tersebut. Selain mengembangkan
bibit muda lewat turnamen kelompok umur, PSSI juga sedang gencar memulangkan
pemain diaspora yang tersebar di berbagai negara. Langkah itu disebut untuk
memperkuat serta menciptakan kolaborasi antara pemain yang berlaga di
kompetisi lokal dengan pengalaman pemain yang bermain di kompetisi elite
dunia. Upaya ini sejurus dengan
target PSSI yang bertekad meloloskan Indonesia ke Piala Dunia mendatang. Bahkan dilansir dari
berbagai sumber, Erick juga mengemukakan bahwa PSSI telah memiliki blueprint
untuk meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2034 mendatang. Indonesia yang kini
berada di peringkat 118 dunia pun terus menjaga asa dengan melakukan
serangkaian perubahan baik di internal maupun eksternal. Memang tak bisa
dimungkiri, keselarasan antara 'gocekan si kulit bundar' di lapangan dengan
mematangkan proses perencanaan regulasi penting untuk segera di lakukan. Pasalnya menjadi barang
tentu, anak-anak muda berbakat di tanah air bukan hanya sekadar ingin menjadi
penonton Piala Dunia hingga masa uzurnya. Tentu mereka juga
mempunyai mimpi bisa berpartisipasi langsung melawan jagoan-jagoan sepak bola
di seluruh dunia. Nama-nama debutan di
Piala Dunia 2026 seperti pemain Timnas Meksiko berusia 17 tahun Gilberto Mora
dan Hugo Sochurek misalnya, mereka seakan menjadi pemantik bagi atlet-atlet
muda tanah air untuk meraih kesuksesan yang sama. Bangun gairah lewat
tayangan televisi Kendati demikian belum
bisa merumput bersama dengan nama-nama diatas, paling tidak pemain-pemain
kita masih bisa terus memupuk mimpi dengan menyaksikan mereka berlaga melalui
layar kaca. TVRI selaku pemegang hak
siar Piala Dunia 2026 ini, nampaknya juga ingin berpartisipasi untuk menanam
mimpi bagi anak-anak Indonesia hingga ke daerah terluar. Tentu banyak orang
menyadari bahwa lolosnya White Wolves (julukan Timnas Uzbekistan) ke Piala
Dunia 2026 ini tak dibangun dalam waktu semalam. Lolosnya Uzbekistan untuk
pertama kalinya ke Piala Dunia ini tak terlepas dari kerja panjang seluruh
stakeholder negara yang berada di Asia Tengah itu. Mulai dari pengembangan
sepak bola akar rumput hingga ke level profesional serta pembuatan regulasi
resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah mereka. Bahkan pada 2018 lalu,
Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev mengesahkan program nasional untuk
membangun sepak bola di negaranya. Regulasi itu membuat
sepak bola Uzbekistan mulai dipupuk dari usai dini hingga ke level
profesional. Hingga pada April 2023,
Presiden Shavkat mengeluarkan dekrit dengan mengubah nomenklatur Sekolah
Sepak Bola (SSB) menjadi Akademi Sepak Bola. Langkah itu seakan untuk
menunjukan keseriusan negara itu untuk membangun sepak bola ke arah yang
lebih serius. Hasilnya mereka pun
selangkah demi selangkah mampu berbicara banyak di turnamen-turnamen kelompok
umur bertaraf internasional, salah satunya mampu menjuarai Piala Asia U-23
tahun 2018 yang kala itu digelar di China. Bahkan dilansir dari
berbagai sumber, Erick juga mengemukakan bahwa PSSI telah memiliki blueprint
untuk meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2034 mendatang. Indonesia yang kini
berada di peringkat 118 dunia pun terus menjaga asa dengan melakukan
serangkaian perubahan baik di internal maupun eksternal. Memang tak bisa
dimungkiri, keselarasan antara 'gocekan si kulit bundar' di lapangan dengan
mematangkan proses perencanaan regulasi penting untuk segera di lakukan. Pasalnya menjadi barang
tentu, anak-anak muda berbakat di tanah air bukan hanya sekadar ingin menjadi
penonton Piala Dunia hingga masa uzurnya. Tentu mereka juga
mempunyai mimpi bisa berpartisipasi langsung melawan jagoan-jagoan sepak bola
di seluruh dunia. Nama-nama debutan di
Piala Dunia 2026 seperti pemain Timnas Meksiko berusia 17 tahun Gilberto Mora
dan Hugo Sochurek misalnya, mereka seakan menjadi pemantik bagi atlet-atlet
muda tanah air untuk meraih kesuksesan yang sama. Bangun gairah lewat
tayangan televisi Kendati demikian belum
bisa merumput bersama dengan nama-nama diatas, paling tidak pemain-pemain
kita masih bisa terus memupuk mimpi dengan menyaksikan mereka berlaga melalui
layar kaca. TVRI selaku pemegang hak
siar Piala Dunia 2026 ini, nampaknya juga ingin berpartisipasi untuk menanam
mimpi bagi anak-anak Indonesia hingga ke daerah terluar. Kesuksesan terus
berlanjut hingga muaranya lolos Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi
zona Asia. Pelecut bagi Indonesia Melihat kesuksesan
Uzbekistan mampu lolos ke Piala Dunia 2026 tentu memantik negara-negara lain
yang sejatinya memiliki gairah besar terhadap dunia sepak bola, tak
terkecuali Indonesia. Indonesia sejatinya telah
berada di jalur yang tepat untuk meraih kesuksesan yang sama seperti halnya
yang diraih Uzbekistan. PSSI dibawah komando
Erick Thohir terus mematangkan pengembangan sepak bola usia dini salah
satunya dengan menggelar liga kelompok umur bertajuk turnamen Elite Pro
Academy (EPA). Pengembangan EPA ini
salah satunya untuk melahirkan tulang punggung Timnas Indonesia di masa depan
yang tak lain ujungnya untuk mentas di ajang paling bergengsi di dunia
tersebut. Selain mengembangkan
bibit muda lewat turnamen kelompok umur, PSSI juga sedang gencar memulangkan
pemain diaspora yang tersebar di berbagai negara. Langkah itu disebut untuk
memperkuat serta menciptakan kolaborasi antara pemain yang berlaga di
kompetisi lokal dengan pengalaman pemain yang bermain di kompetisi elite
dunia. Upaya ini sejurus dengan
target PSSI yang bertekad meloloskan Indonesia ke Piala Dunia mendatang. Dengan menggandeng
aplikasi layanan streaming seperti Fola Play, TVRI menyatakan bahwa
masyarakat dapat mengakses 104 pertandingan Piala Dunia 2026. Siaran ini pun bisa
dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia termasuk yang berada di daerah
terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Hal ini agaknya sejalan
dengan potensi pemain sepak bola Indonesia yang tak jarang bisa muncul dari
daerah tersebut. Bukan tak mungkin, mimpi
mentas di ajang Piala Dunia itu dimulai dari menonton para pemain dan negara
favorit mereka berlaga di turnamen paling digilai masyarakat seantero jagat
itu melalui siaran televisi. Dan untuk masyarakat awam
pecinta sepak bola tanah air, rasanya juga ingin melihat Marselino Ferdinan
atau Rizky Ridho adu skil dengan pemain-pemain seterkenal Kylian Mbappe atau
Bruno Fernandes. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar