|
Tujuh Puluh Kali Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 14 Agustus 2026
|
Saya
berhenti pada angka 70 dalam Al-Qur’an. Angka itu ternyata membawa saya
kepada kebiasaan Nabi ﷺ
beristighfar lebih dari 70 kali sehari. Saya memelihara satu kebiasaan kecil
saat shalat malam. Selesai tahajud, saya membaca Al-Qur’an satu juz. Juz yang
dibaca mengikuti tanggal. Tanggal 9 saya membaca Juz 9. Hari ini tanggal 14
Juz 14. Dan begitu seterusnya. Dengan cara sederhana itu, setiap bulan saya
mengitari seluruh Al-Qur’an, juz demi juz. Tapi saya tak sekadar mengejar target
halaman. Kadang mata tertahan pada satu kalimat, satu kata, atau bahkan satu
angka. Jika ada yang mengetuk perhatian, saya tak buru-buru menutup mushaf.
Saya duduk lebih lama, mencoba memahami, mengapa angka itu disebut? Apa kata
para mufasir dan apa penjelasan Nabi? Beberapa hari lalu, mata saya tertahan
pada sebuah angka: 70. Angka itu terdapat dalam Surah At-Taubah ayat 80: > اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ
لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ "Mohonkanlah ampunan bagi mereka
atau jangan engkau mohonkan ampunan bagi mereka. Jika engkau memohonkan
ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni
mereka." Angka itu terasa dekat karena seusai
tahajud saya juga selalu membaca istighfar sekurang-kurangnya 70 kali:
Astaghfirullah wa atubu ilaih. Hanya beberapa menit. Tapi saya berusaha
merawatnya sebagai kebiasaan yang saya ikuti dari teladan Nabi. Maka ketika membaca ayat itu, saya
seperti menemukan cermin kecil di halaman Al-Qur’an. Allah menyebut angka
yang sama dengan jumlah istighfar yang biasa saya baca, sementara ayat itu
berbicara tentang Nabi yang memohonkan ampunan bagi orang-orang tertentu. Tentu saya tidak sedang menyamakan
diri dengan Nabi. Jauh sekali. Saya hanya bertanya: mengapa angka 70?
Pertanyaan ini membawa saya kepada hadis. Abu Hurairah meriwayatkan dalam
Shahih al-Bukhari di hadits no. 6307 bahwa Nabi ﷺ bersabda: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً "Demi Allah, sungguh aku memohon
ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam
sehari." Dalam Shahih Muslim hadits no. 2702,
jumlah itu bahkan disebut 100 kali sehari. Jadi, kesimpulan saya, istighfar
bukan pekerjaan sambilan Nabi. Ia bagian dari kehidupan spiritual beliau. Lalu saya kembali kepada ayat tadi.
Ayat ini bukan perintah kepada kita untuk membaca istighfar 70 kali. Allah
sedang berbicara kepada Nabi tentang kaum munafik. Mereka orang-orang yang
secara lahiriah berada di tengah masyarakat Muslim, tapi menyembunyikan
kekafiran dan permusuhan. Di sinilah muncul dugaan yang menarik.
"Mungkin saja" angka 70 dalam ayat itu terasa begitu dekat dengan
kebiasaan istighfar Nabi. Tapi saya tidak menemukan riwayat sahih yang secara
tegas mengatakan bahwa kebiasaan Nabi beristighfar lebih dari 70 kali itu
sudah berlangsung sebelum ayat ini turun. Karena itu, saya tidak ingin
menjadikannya sebagai kepastian tafsir. Namun, kemungkinan itu tetap menarik
untuk direnungkan. Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat bagi semesta alam. Beliau
tidak mudah menutup pintu harapan bagi manusia. Bahkan terhadap orang-orang
yang menyakiti beliau, pintu maaf tidak segera ditutup. Kepada kaum munafik
pun beliau tetap memperlakukan mereka berdasarkan apa yang tampak, bukan
membongkar isi hati mereka sesuka hati. Maka ketika Allah berfirman,
"Jika engkau memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak
akan mengampuni mereka," seakan memuat penegasan. Yaitu bahwa
"sebanyak apa pun istighfarmu, Muhammad, ada keadaan ketika istighfar
tidak lagi dapat mengubah keputusan Allah." Menariknya, dalam riwayat yang dikutip
At-Thabari dan Ibnu Katsir, Nabi justru mengatakan akan menambah istighfar
lebih dari 70 kali. Seolah-olah beliau menangkap masih ada celah harapan
dalam angka itu. Di sini terlihat sesuatu yang sangat indah dari pribadi
Nabi. Beliau memilih jalan yang paling dekat dengan rahmat sebelum pintu itu
benar-benar ditutup. Kemudian turun Surah Al-Munafiqun ayat
6: > سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ
لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ "Sama saja bagi mereka, engkau
memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka.
Allah tidak akan mengampuni mereka." Ayat ini tak menyebut angka. Sesudah
ayat ini, persoalannya menjadi terang. Bukan lagi soal 70, 71, 700, atau
7.000. Masalahnya bukan jumlah istighfar, melainkan kekufuran yang mereka
pertahankan. Para mufasir memang berbeda dalam
menjelaskan angka 70. Ibnu Katsir menyebut pendapat yang memahaminya sebagai
bentuk penegasan tentang banyaknya istighfar. Dalam bahasa Arab, angka
tertentu dapat digunakan sebagai mubalaghah, untuk menunjukkan jumlah yang
sangat banyak, bukan batas matematis yang membuat 70 berbeda secara ajaib
dari 71. Ibnu 'Asyur juga memberi perhatian
pada fungsi bahasa semacam itu. Dengan demikian, kita tidak perlu
membayangkan seolah-olah ampunan Allah bekerja seperti kalkulator. Misalnya,
70 kali tidak berhasil, lalu pada angka 71 mungkin berhasil. Tidak. Saya melihat kisah ini mempunyai
lapisan lain. Dalam riwayat tentang Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh utama
kaum munafik Madinah, Nabi bahkan tetap menunjukkan perhatian ketika ia
meninggal. Putranya datang meminta agar Nabi mengurus dan menyalatkan jenazah
ayahnya. Nabi memenuhi permintaan itu. Dalam riwayat yang dikutip Ibnu
Katsir, beliau bahkan memberikan bajunya untuk kafan. Sikap Nabi itu menunjukkan betapa
luasnya rahmat beliau. Tapi ketika Allah kemudian menetapkan batasnya, Nabi
pun tunduk. Rahmat tidak berarti melawan ketetapan Allah. Dari sini saya kembali kepada
kebiasaan saya sendiri. Saya membaca Astaghfirullah wa atubu ilaih 70 kali
seusai tahajud. Nabi ﷺ beristighfar lebih dari 70 kali sehari, bahkan dalam
riwayat lain 100 kali. Tapi juga bertanya, untuk apa sebenarnya saya
mengulang bacaan itu? Kalau hanya untuk menyelesaikan
hitungan, istighfar bisa berubah menjadi olahraga jari. Begitu angka 70
selesai, pekerjaan spiritual dianggap lunas. Padahal lafaz Nabi sangat
sederhana: > أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ "Aku memohon ampun kepada Allah
dan bertobat kepada-Nya." Ada dua gerakan di sana. Yaitu,
memohon ampun dan kembali. Istighfar bukan sekadar meminta dosa dihapus.
Taubat berarti kembali. Karena itu seseorang bisa mengucapkan istighfar
seratus kali, tapi hatinya tidak bergerak sedikit pun. Bibirnya memohon ampun,
perilakunya tetap berjalan menuju kesalahan yang sama. Sebaliknya, satu istighfar yang
membuat seseorang malu kepada Allah, meninggalkan keburukan, dan
sungguh-sungguh memperbaiki diri, mungkin jauh lebih bermakna dari seribu
ucapan yang hanya berhenti di bibir. Tapi ini bukan berarti angka tak
penting. Angka justru bisa menjadi disiplin. Ia membuat niat yang abstrak
menjadi kebiasaan yang konkret. Saya membaca 70 kali bukan karena 71
dilarang, dan bukan pula karena Allah baru mendengar setelah hitungan
tertentu. Saya membacanya agar setiap malam ada saat ketika saya berhenti
dari kesibukan dunia dan mengingat kekurangan diri. Ada paradoks yang lebih besar.
Bayangan, Nabi ﷺ—yang telah
mendapat jaminan ampunan Allah sebagaimana disebut dalam Surah Al-Fath ayat
2— justru banyak beristighfar. Kita yang belum tahu bagaimana akhir
perjalanan kita sering merasa tidak terlalu membutuhkannya. Nabi yang paling dekat kepada Allah
rajin memohon ampun. Kita yang batinnya penuh lubang justru kadang merasa
cukup dengan beberapa ucapan yang bahkan tidak kita resapi. Mungkin karena itu istighfar bukan
tanda bahwa seseorang adalah manusia buruk. Istighfar justru tanda bahwa
seseorang sadar dirinya manusia. QS At-Taubah ayat 80 juga mengajarkan
bahwa istighfar bukan tombol untuk membatalkan keputusan Allah. Surah
At-Taubah ayat 113 mempertegas bahwa setelah jelas seseorang mati dalam
kemusyrikan, Nabi dan orang-orang beriman tidak boleh memohonkan ampun bagi
mereka. Jadi agama bukan mesin transaksi. Doa
sekian kali, hasil sekian. Sedekah sekian rupiah, pahala sekian. Istighfar
sekian kali, dosa otomatis hilang. Istighfar adalah ibadah, bukan alat untuk
mengendalikan Allah. Semakin sering seseorang mengucap
Astaghfirullah, semestinya semakin sulit baginya merasa paling benar. Semakin
sering ia mengatakan wa atubu ilaih, semestinya semakin kuat keinginannya
untuk benar-benar kembali kepada-Nya. Kalau setelah 70 kali istighfar saya
masih gampang menyalahkan orang lain dan merasa paling benar, mungkin yang
bertambah baru hitungannya, belum istighfarnya. Karena itu saya tidak ingin berhenti
pada angka 70. Bukan karena 70 kurang, melainkan karena yang perlu bertambah
bukan hanya jumlah istighfar, tapi kesadaran di dalamnya. Kini, setiap kali hitungan zikir saya
menyentuh angka 70, saya teringat ayat itu. Dalam At-Taubah, ia menjadi
penegasan bahwa sebanyak apa pun istighfar Nabi tak dapat menyelamatkan orang
yang memilih kekufuran. Dalam hadis, angka yang sama menjadi gambaran betapa
sering Nabi ﷺ memohon ampun kepada Allah. Yang satu menjadi batas bagi orang
yang menolak kebenaran. Yang lain menjadi jalan pulang bagi orang yang sadar
akan kekurangan dirinya. Di antara keduanya, barangkali kita berada. Bukan manusia yang merasa sudah bersih
sehingga tidak perlu beristighfar. Bukan pula manusia yang mengira hitungan
istighfar dapat membeli ampunan Allah. Kita hanya manusia yang setiap hari
perlu pulang. Dan mungkin, itulah makna paling
sederhana dari tujuh puluh kali. Ia bukan titik akhir sebuah hitungan,
melainkan pengingat untuk terus kembali. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar