|
Jejak Kematian Sutrimo di Klinik Kecantikan Ani Mardatila : Jurnalis Detik.com |
DETIK-X, 05 Agustus 2026
|
Spanduk sewa di Klinik Mordent mengarah ke Nurman Herin. Rekaman CCTV
rumah sakit memperlihatkan empat pria yang mengantar jasad Sutrimo, termasuk
Febrio Adiono. Keduanya memiliki keterkaitan dengan eks Jampidsus Febrie
Adriansyah. Mulut dan hidung Sutrimo
keluar busa. Ia ditemukan tergeletak tak bergerak di halaman Mordent
Aesthetic Clinic yang lampunya masih menyala, sekitar pukul 07.20 WIB pada Kamis,
23 Juli 2026. Klinik kecantikan itu sudah lebih dari dua tahun tak
beroperasi. Pada 2017 dan 2018, melalui Google Street View, terlihat spanduk
penawaran sewa gedung klinik tersebut mencantumkan dua nomor: 081285505XXX
dan 087872222XXX. Kedua nomor itu diduga berkaitan dengan Nurman Herin dan PT
Kantor Omzet Indonesia. Nomor pertama berkaitan
dengan Koin Money Changer. Nomor WhatsApp yang sama juga tercantum logo dan
tautan Instagram PT Kantor Omzet Indonesia, perusahaan yang menaungi Koin
Money Changer. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
(AHU) Kementerian Hukum, perusahaan tersebut memiliki alamat yang sama dengan
de'Clan Signature Cipete atau PT Declan Kulinari Nusantara, yaitu di Jalan
Cipete Raya Nomor 63, Jakarta Selatan. Sedangkan nomor kedua
diduga berkaitan dengan Nurman Herin. Sejumlah tag di GetContact dan
Truecaller menamainya sebagai Nurman. Informasi lain yang didapatkan detikX,
nomor tersebut didaftarkan atas nama Nurman. Nurman merupakan
tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Sejak Kamis, 30
Juli 2026, ia mendekam di Rutan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Kasus ini
juga melibatkan eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah. Koin Money Changer
digeledah penyidik pada Rabu, 8 Juli 2026, karena diduga menjadi sarana
pencucian uang. Dalam rangkaian penyidikan yang sama, polisi juga menggeledah
Kafe de'Clan Signature Cipete dan menemukan uang tunai dalam jumlah besar
berupa dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat, beserta sejumlah dokumen
dari sebuah brankas. Selanjutnya, pada Senin,
3 Agustus 2026, Tim 9 Kejaksaan Agung kemudian menggeledah salah satu rumah
Nurman Herin di wilayah Depok. Rangkaian penggeledahan itu dilakukan untuk
melengkapi alat bukti sekaligus menelusuri dugaan aliran dana hasil tindak
pidana pencucian uang. Saat dimintai konfirmasi,
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, belum bisa
memastikan apakah bangunan yang pernah dipakai sebagai Mordent Aesthetic
Clinic merupakan milik Nurman Herin. Meskipun nomor ponsel Norman sempat
tercantum sebagai penyedia jasa yang menawarkan sewa tanah dan bangunan di
Jalan Kramat Pela Nomor 208, RT 11 RW 1, Kota Jakarta Selatan, itu.
"Wah, saya sebelum tahu," kata Anang kepada detikX. Sedangkan pengacara
Febrie Adriansyah, Febri Diansyah, berharap agar peristiwa kematian Sutrimo
tak dikaitkan dengan kliennya. Pihaknya juga masih menunggu keterangan resmi
dari kepolisian yang menyelidiki terkait hal ini. "Jadi mungkin memang
lebih baik agar isunya nggak campur aduk, ya, lebih baik kami tunggu saja
bersama-sama," kata Febri Diansyah, Kamis, 23 Juli 2026. Orang-orang Dekat Febrie Lokasi ditemukannya
kematian janggal Sutrimo terletak di sekitar 500 meter dari kediaman Febrie
Adriansyah di Jalan Radio I Nomor 15, Kramat Pela, Jakarta Selatan. Setelah
Sutrimo ditemukan tergeletak dengan mulut berbusa, sebuah ambulans disewa
dari PT Bintang Medika Indonesia membawanya ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman
Puring. detikX sempat menghubungi
seorang driver bernama Adit, yang mengonfirmasi bahwa dirinya turut
mengantarkan jasad tersebut ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring. Rekaman CCTV Rumah Sakit
Muhammadiyah Taman Puring memperlihatkan sedikitnya empat orang yang
mengantar jasad Sutrimo menggunakan ambulans. Divisi Hukum Rumah Sakit
Muhammadiyah Taman Puring, Ahmad, membenarkan keberadaan empat orang
tersebut. "Yang pasien diantar
memang terlihat ya dalam petugas di lapangan maupun CCTV kita itu ada empat
orang," ujarnya kepada detikX pada Kamis, 30 Juli lalu. "Empat orang ini
tidak mau memberikan identitas,” imbuh Ahmad. Seorang pria turun lebih
dulu dan menunggu di depan pintu Unit Gawat Darurat. Tubuhnya tegap dan
berisi. Rambutnya dipangkas cepak. Ia mengenakan kaus gelap yang membalut
badan, celana panjang, serta masker yang menutupi wajah. Beberapa saat
kemudian, ambulans yang membawa Sutrimo tiba. Tak lama berselang, tiga
pria lain keluar dari arah yang sama. Dua di antaranya mengenakan topi.
Rekaman CCTV rumah sakit juga memperlihatkan keempat laki-laki itu mengiringi
kedatangan jasad Sutrimo. Rumah Sakit Muhammadiyah
Taman Puring membenarkan rekaman CCTV dan dokumen kronologi yang belakangan
beredar di media sosial merupakan dokumen asli. Namun Divisi Hukum rumah
sakit menegaskan pihaknya tidak pernah menyebarkannya. Dokumen itu, menurut
rumah sakit, hanya diserahkan kepada penyelidik sebagai bagian dari proses
penyelidikan. Salah satu dari empat
pria itu kemudian meninggalkan identitas di meja pendaftaran. Dalam formulir
administrasi rumah sakit, ia menuliskan nama Febrio Adiono sebagai penanggung
jawab sekaligus mengisi kronologi kedatangan Sutrimo. Febrio mencantumkan
Kramat Pela sebagai alamatnya. "Ketika dilakukan
penulisan berita acara atau kronologi yang sesuai standar kita, disebutkan di
situ tertulis nama Febrio Adiono," terang Ahmad. Tak hanya menolak
menunjukkan identitas, keempat pria itu juga datang tanpa ekspresi yang
mencolok. Ahmad mengatakan, berdasarkan keterangan petugas rumah sakit,
mereka tampak tenang sejak jenazah tiba hingga proses administrasi selesai. "Kalau kami lihat di
lapangan dan informasi dari petugas, ya biasa saja. Yang nganter jenazah
dorong, ya, biasa saja," katanya. detikX kemudian
menelusuri nomor telepon yang tercantum dalam berkas kronologi tersebut.
Hasil penelusuran melalui aplikasi Truecaller memperlihatkan salah satu
pengguna menyimpan nomor itu dengan nama "ADC Jampidsus Febrio". Febrio berprofesi sebagai
pegawai Kejaksaan Agung berusia 37 tahun. Ia tinggal di wilayah Jakarta
Timur. Dia diduga merupakan ajudan Febrie Adriansyah. Dia kerap berhubungan
dengan Sutrimo, yang merupakan kepala rumah tangga (karumga) Febrie
Adriansyah. Namun, hingga laporan ini disusun, Kepala Pusat Penerangan Hukum
Kejaksaan Agung Anang Supriatna belum merespons pesan singkat maupun
panggilan telepon detikX untuk mengonfirmasi identitas Febrio maupun
menjelaskan keterkaitannya dengan Sutrimo. Empat pria itu tak lama
berada di rumah sakit. Mereka mengurus proses administrasi, lalu membayar
seluruh biaya penanganan secara tunai. Menurut keterangan pihak rumah sakit,
pembayaran dilakukan tanpa menggunakan identitas lembaga ataupun perusahaan. “Iya, bayar secara cash.
Tunai,” tegas Ahmad. Setelah dari Rumah Sakit
Muhammadiyah Taman Puring, orang-orang yang berbeda mengantar jenazah Sutrimo
hingga ke rumah duka di Desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah. Sekretaris Desa
Wlahar, Abas, mengatakan rombongan tiba sekitar pukul 22.10 WIB. "Yang
saya lihat itu ada empat orang. Katanya dari pihak ambulans dua orang, terus
dari keamanan dua orang," kata Abas kepada detikX. Rombongan itu tak
berlama-lama di rumah duka. Setelah menyerahkan santunan kepada keluarga,
mereka berpamitan. "Paling cuma
setengah jam. Bilangnya mau kerja lagi, jadi nggak bisa lama-lama," kata
Abas. Abas mengaku tidak sempat
menanyakan identitas mereka. Selain karena suasana sudah larut malam, seluruh
proses berlangsung singkat. "Nggak tanya
kebetulan. Posisinya sudah malam larut," ujarnya. Kepala Desa Wlahar,
Narsim, mengatakan para pengantar jenazah itu tak memberikan barang-barang
pribadi Sutrimo, seperti ponsel, dompet, dan lainnya, kepada pihak keluarga. “Itu dipulangkan cuma KTP
saja, yang lain nggak ada yang dipulangkan,” kata Narsim kepada detikX. Selama bertahun-tahun,
Sutrimo disebut bekerja sebagai kepala rumah tangga dan orang dekat mantan
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah. Sejumlah kerabat
dan warga desa menyebut Sutrimo telah bekerja di Jakarta sejak sekitar 2008.
Sosoknya dikenal pendiam dan tertutup. Bahkan perangkat desa mengaku hampir
tak pernah berinteraksi dengannya karena sebagian besar waktunya dihabiskan
di ibu kota. Hingga kini, keluarga
memilih menerima kematian Sutrimo sebagai takdir. Menurut Narsim, pihak
keluarga mereka meyakini Sutrimo memiliki riwayat diabetes dan hipertensi.
Karena itu, sejauh ini keluarga tidak berencana melaporkan kematiannya ke
kepolisian. "Sudah mengikhlaskan
anaknya meninggal. Dianggap karena sakit," ujarnya. Narsim juga menjelaskan,
pusara Sutrimo hingga kini belum diberi nama bukan karena alasan khusus. Di
Desa Wlahar, makam yang baru biasanya hanya diberi penanda berupa dua patok
kayu. Kijing atau nisan permanen baru dipasang setelah sekitar setahun.
"Kalau masih kayu biasanya nggak dikasih nama," ujarnya. Sekitar sepekan sebelum
meninggal dunia, Sutrimo sempat pulang ke rumah keluarganya di Desa Wlahar.
Namun ada seseorang yang memintanya kembali ke Jakarta sekaligus memberinya
uang. “Ditelepon, ditransfer
uang Rp 5 juta, disuruh pulang ke Jakarta. Nah, terus, tahu-tahu pulangnya
sudah jadi jenazah,” ungkap kerabat Sutrimo tersebut. Narsim mendapatkan
informasi serupa terkait ini dari ibunda Sutrimo. Sedangkan narasumber detikX
lainnya yang mengetahui proses penyelidikan kasus ini mengatakan, orang yang
menghubungi Sutrimo tersebut diduga adalah orang dekat Febrie Adriansyah. Sore itu, pusara Sutrimo
masih tampak dengan tanah basah kemerahan di bawah rindangnya pepohonan TPU
Desa Wlahar. Dua patok kayu berdiri mengapit gundukan tanah merah yang masih
baru. Kelopak-kelopak bunga masih berserakan di atas makam, sementara dua
obor bambu yang mulai menghitam tertancap di sisinya. Hingga kini pihak
kepolisian masih menyelidiki kematian janggal Sutrimo ini. Polda Metro Jaya
menggandeng Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) dan memeriksa sejumlah
saksi untuk mengusut kematian Sutrimo. "Kami juga memahami kekhawatiran serta
pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat. Untuk memastikan penyebab
meninggalnya Saudara S, kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara
dengan melibatkan Puslabfor dan serangkaian tindakan penyelidikan
lainnya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, Rabu,
29 Juli 2026. ● Sumber : https://news.detik.com/x/detail/spotlight/20260805/Jejak-Kematian-Sutrimo-di-Klinik-Kecantikan/ |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar