|
Planet yang Ditemukan di Ujung Pena (Bagian I) Dimitri
Mahayana : Dosen Filsafat Sains S3 di STEI
ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT
Sharing Vision, Bandung. |
KUMPARAN, 26 Oktober 2026
|
Anatomi Program Riset
Lakatos Berlin, 23 September
1846. Johann Galle, astronom di Observatorium Berlin, menerima sepucuk surat
dari Paris. Pengirimnya Urbain Le Verrier, matematikawan Prancis yang belum
pernah ia temui. Isinya sederhana. Arahkan teleskop ke titik tertentu di rasi
Aquarius. Di sana ada planet yang belum pernah dilihat manusia. Malam itu juga Galle
mengarahkan teleskopnya. Asistennya, Heinrich d’Arrest, mencocokkan setiap
bintang dengan peta langit terbaru. Tak lama kemudian d’Arrest berseru. Ada
satu titik cahaya yang tidak tercatat di peta. Itulah Neptunus. Letaknya
hanya sekitar satu derajat dari titik yang dihitung Le Verrier. Le Verrier
tidak pernah mengintip teleskop untuk mencarinya. Ia menemukannya dengan
kertas, tinta, dan hukum Newton. Bagaimana itu mungkin?
Jawabannya membawa kita ke gagasan paling terkenal dari Imre Lakatos. Teka-teki Uranus Tahun 1781, William
Herschel menemukan Uranus. Para astronom lalu menghitung orbitnya dengan
mekanika Newton. Hasilnya meleset. Uranus kadang bergerak lebih cepat, kadang
lebih lambat dari perkiraan. Para ilmuwan menghadapi
dua pilihan. Pertama, menyatakan persamaan Newton salah. Kedua, menduga ada
benda lain di luar sana yang menarik Uranus. Mereka memilih yang
kedua. Mengapa? Lakatos punya jawaban yang rapi. Program Riset: Inti Keras
dan Sabuk Pelindung Lakatos mengajak kita
mundur selangkah. Yang dinilai jangan teori tunggal. Yang dinilai adalah
rangkaian teori yang saling bersambung. Rangkaian ini ia sebut program riset
ilmiah. Setiap program riset
punya dua lapis. Inti keras dan sabuk
pelindung bersama-sama membentuk sebuah teori. Mengapa inti keras boleh
dijaga? Lakatos meminjam pelajaran dari Pierre Duhem. Sebuah eksperimen tidak
pernah menguji satu hipotesis sendirian. Ia selalu menguji satu paket
hipotesis. Jika hasilnya meleset, logika tidak memberi tahu bagian mana yang
salah. Ilmuwan harus memilih. Program riset adalah cara memilih yang terarah.
(Bersambung) ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar