|
Main
Kuasa Pembelian Bayan Redaktur Editorial 1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026
|
· Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad
membeli lebih dari 30 persen saham perusahaan batu bara Bayan Resources. · Uangnya memakai kredit Bank Mandiri
yang hampir melampaui batas maksimal pemberian kredit untuk satu korporasi. · Pemakaian bank negara untuk aksi
korporasi yang direstui kekuasaan mengingatkan pada tata kelola buruk bank
yang memicu krisis ekonomi. PEMBELIAN
saham PT Bayan Resources Tbk oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad adalah
contoh praktik kerja oligarki. Didukung kekuasaan, bisnis para oligark
dilakukan termasuk dengan aksi injak kaki. Andi Syamsuddin, yang populer
dengan panggilan Haji Isam, diduga mendapat sokongan Presiden Prabowo
Subianto dalam mengakuisisi perusahaan lain dengan bantuan negara melalui
pembiayaan Bank Mandiri. Pembelian
saham Bayan Resources sebanyak 30,25 persen membuat konglomerasi batu bara
Isam makin besar. Tahun ini, PT Jhonlin Baratama, perusahaan batu bara Isam
yang membeli saham Bayan, mengeruk batu bara sebanyak 60 juta ton. Jika
digabung dengan produksi batu bara Bayan sebesar 58 juta ton, skala bisnisnya
melampaui Bumi Resources dan Adaro Andalan Indonesia, dua raksasa batu bara
Indonesia. Nilai
pembelian saham Bayan sebesar Rp 26,1 triliun. Saat transaksi selesai pada 7
Oktober 2026, harga per saham Bayan Rp 12.550. Dengan demikian, harga wajar
10,1 miliar saham yang dibeli Isam itu sesungguhnya adalah Rp 126,5 triliun.
Low Tuck Kwong, pengendali Bayan kelahiran Singapura, setuju menjualnya hanya
dengan harga Rp 2.588 per saham. Penelusuran
majalah ini mengungkap sisi gelap akuisisi perusahaan yang terlihat mulus di
permukaan. Low Tuck Kwong sedang kesulitan mengoperasikan Bayan karena
produksinya diperkirakan turun dari 68 juta ton pada tahun lalu menjadi 38
juta ton, seiring dengan pemangkasan kuota oleh Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral. Dengan
pemangkasan itu, lembaga pemeringkat investasi menurunkan prospek bisnis
Bayan dari stabil menjadi negatif. Datuk Low membutuhkan partner yang bisa
mendorong Kementerian Energi meloloskan rencana kerja dan anggaran biaya
Bayan. Di sini masuk penawaran Isam. Namun uang Isam ditengarai tak cukup
untuk membeli saham Bayan yang sedang melambung di tengah gairah industri
batu bara. Presiden
Prabowo Subianto pun diduga turun tangan. Informasi yang diperoleh majalah
ini menyebutkan Prabowo menggelar pertemuan di rumah pribadinya dengan
Purnomo Yusgiantoro, mantan Menteri Energi dan eks komisaris Bayan yang kini
menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi. Keduanya membahas prospek
bisnis Bayan. Seusai
pertemuan, rencana akuisisi berlanjut. Belakangan, ada opsi pembiayaan dari
Bank Mandiri, bank terbesar milik negara saat ini, melalui kredit Rp 40
triliun: Rp 26,1 triliun untuk membeli saham Bayan dan sisanya buat modal
kerja Jhonlin. Di Bank
Mandiri, kredit jumbo itu mendekati batas pemberian pinjaman bagi satu
korporasi. Apalagi jaminan yang diberikan kurang sepadan dengan besarnya
kredit. Isam menjaminkan dua perusahaan, PT Pradiksi Gunatama Tbk dan PT
Jhonlin Agro Raya Tbk, yang valuasinya cenderung naik-turun karena fluktuasi
harga saham di pasar. Untuk menjaga risiko, Bank Mandiri sampai harus
menerbitkan surat utang abadi (perpetual bond) di bursa Singapura senilai US$
750 juta dengan imbal hasil 7,35 persen guna menambah cadangan modal. Kredibilitas
bank negara sedang dipertaruhkan. Prabowo tengah memutar lagu lama Orde Baru
ketika dana publik di bank dipakai membiayai proyek-proyek bisnis terafiliasi
kroni pejabat pemerintah. Ketika bisnis itu gagal, negara menalangi ratusan
triliun rupiah melalui Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Krisis moneter
merembet menjadi krisis ekonomi dan sosial akibat runtuhnya kepercayaan investor
pada pengelolaan dana publik. Kini,
ketika bank-bank besar dimiliki negara, pemerintah yang menjadi pemegang
saham kembali mengacak-acak tata kelola. Permainan kekuasaan di balik
pembelian saham Bayan itu makin kentara setelah Kementerian Energi menyetujui
pemberian tambahan kuota produksi batu bara kepada Bayan sebanyak 20 juta
ton. Keputusan itu diambil tak lama setelah Low Tuck Kwong menandatangani
pelepasan saham Bayan pada 16 September 2026. Tidak
mengherankan jika Morgan Stanley Capital International memperingatkan akan
menurunkan pasar modal Indonesia ke kategori pasar berdikari (standalone
market), kasta paling rendah dalam pemeringkatan pasar saham dunia. Mereka
beralasan, selain pasar keuangan dipenuhi praktik goreng-menggoreng saham, permainan
gelap kekuasaan mengambil untung dari investasi, seperti dalam pembelian
Bayan, membuat kepercayaan investor rontok. State-capture
corruption semacam ini hanya membuat ekonomi Indonesia tidak kredibel dan
makin kehilangan integritasnya di mata dunia. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/main-kuasa-pembelian-saham-bayan-haji-isam-2301874 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar