Selasa, 27 Oktober 2026

 

Main Kuasa Pembelian Bayan

Redaktur Editorial 1 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad membeli lebih dari 30 persen saham perusahaan batu bara Bayan Resources.

 

·      Uangnya memakai kredit Bank Mandiri yang hampir melampaui batas maksimal pemberian kredit untuk satu korporasi.

 

·      Pemakaian bank negara untuk aksi korporasi yang direstui kekuasaan mengingatkan pada tata kelola buruk bank yang memicu krisis ekonomi.

 

PEMBELIAN saham PT Bayan Resources Tbk oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad adalah contoh praktik kerja oligarki. Didukung kekuasaan, bisnis para oligark dilakukan termasuk dengan aksi injak kaki. Andi Syamsuddin, yang populer dengan panggilan Haji Isam, diduga mendapat sokongan Presiden Prabowo Subianto dalam mengakuisisi perusahaan lain dengan bantuan negara melalui pembiayaan Bank Mandiri.

 

Pembelian saham Bayan Resources sebanyak 30,25 persen membuat konglomerasi batu bara Isam makin besar. Tahun ini, PT Jhonlin Baratama, perusahaan batu bara Isam yang membeli saham Bayan, mengeruk batu bara sebanyak 60 juta ton. Jika digabung dengan produksi batu bara Bayan sebesar 58 juta ton, skala bisnisnya melampaui Bumi Resources dan Adaro Andalan Indonesia, dua raksasa batu bara Indonesia.

 

Nilai pembelian saham Bayan sebesar Rp 26,1 triliun. Saat transaksi selesai pada 7 Oktober 2026, harga per saham Bayan Rp 12.550. Dengan demikian, harga wajar 10,1 miliar saham yang dibeli Isam itu sesungguhnya adalah Rp 126,5 triliun. Low Tuck Kwong, pengendali Bayan kelahiran Singapura, setuju menjualnya hanya dengan harga Rp 2.588 per saham.

 

Penelusuran majalah ini mengungkap sisi gelap akuisisi perusahaan yang terlihat mulus di permukaan. Low Tuck Kwong sedang kesulitan mengoperasikan Bayan karena produksinya diperkirakan turun dari 68 juta ton pada tahun lalu menjadi 38 juta ton, seiring dengan pemangkasan kuota oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

 

Dengan pemangkasan itu, lembaga pemeringkat investasi menurunkan prospek bisnis Bayan dari stabil menjadi negatif. Datuk Low membutuhkan partner yang bisa mendorong Kementerian Energi meloloskan rencana kerja dan anggaran biaya Bayan. Di sini masuk penawaran Isam. Namun uang Isam ditengarai tak cukup untuk membeli saham Bayan yang sedang melambung di tengah gairah industri batu bara.

 

Presiden Prabowo Subianto pun diduga turun tangan. Informasi yang diperoleh majalah ini menyebutkan Prabowo menggelar pertemuan di rumah pribadinya dengan Purnomo Yusgiantoro, mantan Menteri Energi dan eks komisaris Bayan yang kini menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi. Keduanya membahas prospek bisnis Bayan.

 

Seusai pertemuan, rencana akuisisi berlanjut. Belakangan, ada opsi pembiayaan dari Bank Mandiri, bank terbesar milik negara saat ini, melalui kredit Rp 40 triliun: Rp 26,1 triliun untuk membeli saham Bayan dan sisanya buat modal kerja Jhonlin.

 

Di Bank Mandiri, kredit jumbo itu mendekati batas pemberian pinjaman bagi satu korporasi. Apalagi jaminan yang diberikan kurang sepadan dengan besarnya kredit. Isam menjaminkan dua perusahaan, PT Pradiksi Gunatama Tbk dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk, yang valuasinya cenderung naik-turun karena fluktuasi harga saham di pasar. Untuk menjaga risiko, Bank Mandiri sampai harus menerbitkan surat utang abadi (perpetual bond) di bursa Singapura senilai US$ 750 juta dengan imbal hasil 7,35 persen guna menambah cadangan modal.

 

Kredibilitas bank negara sedang dipertaruhkan. Prabowo tengah memutar lagu lama Orde Baru ketika dana publik di bank dipakai membiayai proyek-proyek bisnis terafiliasi kroni pejabat pemerintah. Ketika bisnis itu gagal, negara menalangi ratusan triliun rupiah melalui Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Krisis moneter merembet menjadi krisis ekonomi dan sosial akibat runtuhnya kepercayaan investor pada pengelolaan dana publik.

 

Kini, ketika bank-bank besar dimiliki negara, pemerintah yang menjadi pemegang saham kembali mengacak-acak tata kelola. Permainan kekuasaan di balik pembelian saham Bayan itu makin kentara setelah Kementerian Energi menyetujui pemberian tambahan kuota produksi batu bara kepada Bayan sebanyak 20 juta ton. Keputusan itu diambil tak lama setelah Low Tuck Kwong menandatangani pelepasan saham Bayan pada 16 September 2026.

 

Tidak mengherankan jika Morgan Stanley Capital International memperingatkan akan menurunkan pasar modal Indonesia ke kategori pasar berdikari (standalone market), kasta paling rendah dalam pemeringkatan pasar saham dunia. Mereka beralasan, selain pasar keuangan dipenuhi praktik goreng-menggoreng saham, permainan gelap kekuasaan mengambil untung dari investasi, seperti dalam pembelian Bayan, membuat kepercayaan investor rontok.

 

State-capture corruption semacam ini hanya membuat ekonomi Indonesia tidak kredibel dan makin kehilangan integritasnya di mata dunia. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/main-kuasa-pembelian-saham-bayan-haji-isam-2301874

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar