Kamis, 29 Oktober 2026

 

Elegi Bagi Bumi

Elkata Agustinus Batistuta Atua :  Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional.

KUMPARAN, 27 Oktober 2026

 

 

 

Kini cakrawala pemikiran saya terbentur pada krisis biosfer yang kian akseleratif. Hal ini diperparah dengan wacana publik yang acap kali terjerat dalam pendangkalan diskursif.

 

Diskusi-diskusi kontemporer terkait perubahan iklim, ambruknya kriosfer di Kutub Utara, bahkan pengaturan kuota emisi karbon, pada hakikatnya hanyalah artikulasi prosedural yang dangkal, yang sarat akan perdebatan teknokratis yang beroperasi di permukaan materialitas.

 

Kita disibukkan oleh kalkulasi saintifik dan rekayasa kebijakan. Berapa gigaton karbon yang harus dikurangi, bagaimana formulasi protokol internasional, atau mekanisme teknologis apa yang mampu menahan laju kenaikan suhu global.

 

Akan tetapi, dalam seluruh kesibukan managerial itu, terdapat lubang hitam epistemologis yang sengaja atau tidak sengaja dialihkan.

 

Kita kehilangan keberanian intelektual untuk mengajukan salah satu kuriositas yang paling radikal, paling murni, dan paling disruptif secara ontologis, Mengapa kehidupan itu sendiri harus memiliki nilai? Mengapa pelestarian terhadap alam bukan hanya pilihan pragmatis, tapi sebuah imperatif moral yang absolut?

 

Perdebatan filosofis yang mendasari kebudayaan manusia dalam merespons krisis ekologis sebenarnya merupakan pencarian tanpa akhir atas fondasi etis eksistensi kita.

 

Di balik semua formulasi hukum lingkungan dan konvensi internasional, bertengger premis-premis metafisika yang saya lihat jarang sekali didekonstrukai secara mendalam.

 

Pembicaraan mengenai "tatanan yang seharusnya" (das Sollen) supaya lingkungan hidup terhindar dari kepunahan massal selalu mengandaikan bahwa ada suatu kebaikan mutlak yang melekat pada keberlangsungan biosfer.

 

Tetapi dari mana kebaikan itu berasal? Apakah nilai intrinsik itu memancar dari struktur objektif alam semesta, ataukah ia proyeksi subjektif dari ketakutan eksistensial manusia akan kepunahannya sendiri?

 

Guna mendekomposisi susunan diskursif ini, kita mesti menyingkap bagaimana filsafat lingkungan hidup konvensional mencoba mengartikulasikan jawaban standar atas misteri kebernilaian tersebut.

 

Dalam tradisi filsafat ekologi yang paling ortodoks, keberadaan alam tidak pernah dipahami secara otonom. Alam, dalam lanskap pemikiran ini, selalu disaring melalui kacamata utility. Ia bernilai semata-mata karena ia memiliki nilai bagi manusia.

 

Pelestarian ekosistem tidak dijustifikasi atas dasar penghormatan terhadap entitas itu sendiri, ia diabsahkan sebagai syarat mutlak bagi kelangsungan hidup spesies Homo sapiens.

 

Di titik inilah saya melihat filsafat ekologi konvensional memantulkan wajah aslinya. Ada indikasi kehadiran bentuk egotisme eksistensial yang disamarkan dalam bahasa kepedulian kosmologis.

 

Satu di antara tokoh utama yang merumuskan dan membedah dikotomi cara pandang ini adalah John Passmore. Dalam pemikiran sistematisnya, Passmore mengidentifikasi dua modus operandi fundamental dalam cara manusia menghadap-ada terhadap alam sekitar.

 

Modus pertama yang amat problematis dan menjadi akar destruksi ekologis modern adalah apa yang ia istilahkan sebagai Despotic View (pandangan tiranis).

 

Dalam doktrin tiranis ini, manusia memposisikan dirinya sebagai penguasa absolut, seorang diktator yang berdiri di luar dan di atas tatanan alamiah.

 

Alam semesta beserta seluruh entitas yang ada di dalamnya, mulai dari vegetasi, fauna, hingga deposit mineral, direduksi secara radikal menjadi sekadar instrumentum, kumpulan bahan mentah (raw materials) yang siap dieksploitasi demi pemenuhan hasrat dan ekspansi peradaban manusia.

 

Alam tidak memiliki hak ontologis, ia tidak lebih dari panggung pasif yang eksistensinya sepenuhnya bersimpuh pada kehendak untuk berkuasa (Wille zur Macht) dari sang tiran manusia.

 

Alam dibantai, digunduli, dan dikuras tanpa ada penyesalan etis, sebab dalam kalkulasi tiranis, eksploitasi merupakan hak mutlak sang penguasa.

 

Sebagai alternatif dari kediktatoran eksplosif tersebut, Passmore menawarkan modus kedua, yakni Responsible Dominion View (pandangan penguasaan atau pengelolaan yang bertanggung jawab).

 

Dalam paradigma ini, pretensi manusia sebagai pusat penguasa tidak sepenuhnya ditanggalkan, merek dilunakkan lewat injeksi tanggung jawab moral dan kesadaran paternalistik.

 

Manusia tidak lagi memosisikan diri sebagai pembantai yang brutal, melainkan sebagai seorang steward, seorang manajer ekosistem yang bijaksana.

 

Manusia tetap menggenggam kendali atas alam, tapi penguasaan itu dieksekusi dengan menunjukan prinsip kelestarian dan keberlanjutan.

 

Hutan tidak lagi dihabiskan secara serta-merta dalam satu siklus ketakberhinggaan ketakutan akan kehabisan sumber daya. Sebaliknya, skema reboisasi, penanaman kembali, dan manajemen eksploitasi yang terukur mulai diperkenalkan.

 

Alam dikelola sedemikian rupa supaya pasokan sumber dayanya tidak habis hari ini, sehingga dapat terus menopang keturunan manusia di masa depan.

 

Namun, bila kita menelisik lebih jauh dengan pisau dekonstruksi yang lebih tajam, apakah responsible dominion view ini sungguh-sungguh menjadi lompatan kualitatif yang membebaskan? Ataukah ia hanya bentuk penghalusan atas dominasi yang sama?

 

Di balik topeng kebajikan benevolent dan retorika pemeliharaan, responsible dominion view sebenarnya tidak pernah menggeser landasan ontologisnya.

 

Alam tetap dilihat sebagai objek, sebagai cadangan (resource), dan sebagai sarana demi tujuan-tujuan ekstrensik yang dipatok oleh manusia.

 

Diferensiasinya hanya terletak pada efisiensi kalkulasinya. Despotic view menjadi eksploitasi yang pendek akal dan destruktif secara seketika, sementara responsible dominion view adalah eksploitasi yang terencana, rasional, dan berjangka panjang.

 

Kedua pandangan yang dibedakan oleh Passmore tersebut pada hakikatnya bernapas dalam paru-paru metafisika yang sama, yakni Antroposentrisme Instrumental.

 

Kegagapan filsafat ekologi konvensional dalam menanggalkan diri dari cengkeraman instrumentalisme antroposentris inilah yang memicu dentuman pemikiran baru pada dekade 1970-an.

 

Suatu gerakan pemikiran intelektual mulai merebak, mencoba mendekonstruksi seluruh arsitektur etika lingkungan ortodoks hingga ke akar-akarnya.

 

Gerakan ini mengambil nama Ekologi Dalam (Deep Ecology). Pelopor utama dari arus pemikiran yang merombak secara radikal peta filsafat lingkungan ini adalah Arne Næss, seorang filsuf dan pendaki gunung berkebangsaan Skandinavia (Norwegia), bersama dengan filsuf ekofeminis radikal asal Australia, Val Plumwood.

 

Keduanya melontarkan kritik pemikiran yang menohok tepat di jantung pemikiran Passmorean. Val Plumwood, secara khusus, mendekomposisi ilusi oposisi biner yang dikonstruksikan oleh Passmore antara despotic view dan responsible dominion view.

 

Menurut Plumwood, dikotomi yang diejawantahkan oleh Passmore hanyalah sebuah semantik yang mengelirukan. Baik cara pandang tiranis yang mengeksploitasi alam secara semena-mena, ataupun cara pandang pengelolaan bertanggung jawab yang mengkhotbahkan kontinuitas demi masa depan spesies manusia, pada dasarnya adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama.

 

Keduanya dilandasi oleh cara pandang manusia yang murni instrumentalis pada alam. Alam semesta, dalam kedua skema tersebut, diposisikan dan ditakar sebatas instrumen pemenuh kebutuhan eksistensial manusia.

 

Orientasi dasarnya tetaplah antroposentrik, atau pemikiran yang secara keras kepala menempatkan manusia sebagai titik pusat (center of gravity) dari seluruh jagat raya, sementara entitas non-manusia tak lebih dari semacam satelit-satelit periferal yang mengelilinginya.

 

Penyakit struktural inilah, yakni antroposentrisme yang menyusup dalam setiap pori-pori diskursus ekologi konvensional, yang hendak dihancurkan dan dilampaui oleh Deep Ecology.

 

Para filsuf ekologi dalam memproklamasikan perlunya sebuah transisi paradigma yang mutlak dan tanpa kompromi, pergeseran epistemologis dan etis dari Antroposentrisme menuju Ekosentrisme.

 

Untuk memahami betapa radikalnya artikulasi pergeseran ini, kita mesti membedahkan secara rinci tiga Tesis Metafisika Lingkungan yang bertautan namun secara mendasar kontradiktif satu sama lain.

 

Pertama adalah Antroposentrisme. Secara filosofis, antroposentrisme merupakan sebuah tesis etis yang menetapkan bahwa seluruh prinsip-prinsip moral, ukuran nilai, dan norma keberoperasian hidup manusia diturunkan secara eksklusif dari dan demi kepentingan manusia.

 

Sehingga tidak memiliki nilai intrinsik, dan hanya memiliki nilai instrumental. Sebuah entitas alamiah dipandang "baik" atau "berharga" sejauh dan hanya sejauh entitas tersebut memajukan, memuaskan, atau mengamankan kepentingan eksistensial, ekonomi, estetis, atau psikologis manusia.

 

Bila suatu spesies atau lanskap tidak menyediakan kontribusi nyata bagi kelangsungan hidup manusia, maka menurut logika antroposentrik, entitas tersebut kehilangan dasar kewajaran moralnya untuk dilestarikan.

 

Sebagai bentuk koreksi awal terhadap antroposentrisme, muncullah esensi kedua, yakni biosentrisme. Tesis ini memproklamasikan bahwa nilai moral tidak boleh dimonopoli oleh satu spesies tunggal (Homo sapiens), tapi wajib diturunkan dari perspektif dan kepentingan seluruh organisme hidup yang menghuni planet bumi.

 

Biosentrisme memperluas jangkauan komunitas moral hingga mencakup flora dan fauna. Setiap entitas yang punya dorongan untuk hidup, yang mengalami proses biologis, memiliki hak moral untuk tidak disakiti atau dimusnahkan.

 

Kriteria kebernilaian dalam biosentrisme adalah sentience (kemampuan merasakan) atau setidaknya kesadaran biologis sebagai teleological center of life (pusat kehidupan yang memiliki tujuan biologis mandiri).

 

Namun, bagi penganut Deep Ecology, biosentrisme masih terpenjara dalam keterbatasan yang kekanak-kanakan. Biosentrisme dianggap masih terlalu sempit karena ia berhenti pada organisme individual atau sekumpulan makhluk hidup, sembari mengabaikan matriks penopang kehidupan itu sendiri.

 

Oleh karena itu, Deep Ecology menegaskan perlunya prinsip ketiga yang jauh lebih komprehensif, yakni Ekosentrisme.

 

Ekosentrisme melompati demarkasi biologis murni dengan mengajukan gagasan bahwa prinsip-prinsip etis mesti diturunkan tidak hanya dari organisme bersel tunggal hingga mamalia kompleks, tetapi juga dari lingkungan tak-hidup (anorganik) yang menunjang keberadaan seluruh organisme itu.

 

Kepentingan etis dalam kerangka ekosentris tidak lagi terbatas pada nasib harimau yang terancam punah atau vegetasi hutan hujan tropis, ia juga meluas hingga mencakup lanskap-lanskap geografis yang megah.

 

Baik itu gunung-gunung batu, danau-danau purba, lautan dalam, sistem sungai, hingga gua-gua subterranean. Entitas anorganik ini, entah itu gunung, batu, sungai, dan sistem atmosfer, secara biologis tentu saja bukan merupakan "makhluk hidup".

 

Mereka tidak memiliki sel, tidak bernapas, dan tidak melakukan reproduksi. Akan tetapi, dalam perspektif ekologi dalam, entitas-entitas non-organik ini adalah fondasi ontologis, sebuah kerangka pendukung (enabling conditions) tanpa mana keberadaan organisme hidup menjadi sepenuhnya mustahil.

 

Oleh sebab itu, bila kita berhadapan dengan dilemma moral ekologis, misalnya, apakah etis untuk menghancurkan sebuah gunung secara total demi mengeruk deposit mineral di perutnya, pendekatan ekosentris menyediakan jawaban yang tegas.

 

Kita tidak bisa membatasi pertimbangan moral hanya pada kuriositas apakah perusakan gunung tersebut akan membunuh spesies kera tertentu yang tinggal di puncaknya.

 

Kita mesti melangkah lebih jauh untuk mempertanyakan, Apakah etis menghancurkan gunung itu sendiri sebagai sebuah entitas lanskap yang utuh?

 

Dalam pandangan Deep Ecology, gunung itu sendiri merupakan moral subject. Ia memiliki hak untuk tidak dihancurkan, tidak diinvasi, dan tidak diratakan oleh kehendak ketakberhinggaan kapitalisme eksploitatif manusia.

 

Ekologi Dalam menghela kita menuju sebuah horizon epistemologis yang jauh lebih holistik. Ia merajut sebuah jaringan kosmik di mana batasan antara yang hidup (biotic) dan yang tak-hidup (abiotic) dileburkan ke dalam satu kesatuan ekosistem yang terinterkoneksi secara erat.

 

Dalam kaitan inilah, para eksponen Deep Ecology mengusung sebuah doktrin etis yang sangat radikal, sebuah konsep yang dikenal sebagai Egalitarianisme Biosfer (Biospheric Egalitarianism).

 

Egalitarianisme, dalam filsafat politik klasik, merujuk pada prinsip kesetaraan derajat dan hak antar-sesama manusia.

 

Namun, di tangan Arne Næss dan kawan-kawan, subjek dari egalitarianisme ini mengalami demutasi yang dahsyat.

 

Egalitarianisme Biosfer tidak lagi berbicara mengenai kesetaraan hak politik antar-warganegara, tapi memproklamasikan bahwa seluruh unsur yang membentuk biosfer memiliki derajat kesetaraan ontologis dan etis yang setara satu sama lain.

 

Dalam bingkai Egalitarianisme Biosfer, manusia tidak memiliki superioritas moral atas seekor kucing. Seekor elang tidak lebih mulia daripada sekumpulan rumput-rumputan liar.

 

Dan keberadaan manusia tidak berada pada hierarki yang lebih tinggi daripada batuan-batuan purba yang menyusun sebuah pegunungan.

 

Semua entitas, entah yang bernapas maupun yang tampaknya bisu dalam kebingkai anorganiknya, adalah bagian tak terpisahkan dari jaring-jaring kehidupan (web of life).

 

Dengan memproklamasikan Egalitarianisme Biosfer ini, Ekologi Dalam secara tegas mengakui keberadaan hak intrinsik atas hidup (intrinsic right to live).

 

Kehidupan dan keberadaan itu sendiri, pada dirinya sendiri, bernilai secara mutlak, terlepas dari apakah ia memiliki kegunaan, keindahan, atau kemanfaatan bagi spesies manusia.

 

Akan tetapi, tepat di puncak kemegahan teoritisnya, dikala Deep Ecology mengklaim telah berjaya meluluhlantakkan antroposentrisme dan mendudukkan manusia sejajar dengan batu dan bakteri, timbul sebuah keraguan mendasar.

 

Apakah Konsep ini sungguh-sungguh telah berhasil membebaskan dirinya dari gravitasi antroposentrisme? Ataukah ia hanya terbelenggu dalam sebuah ilusi pembebasan yang sangat canggih?

 

Kalau kita bersedia meluncurkan pemikiran kita ke dalam jurang dekonstruksi yang lebih dalam, kita akan bersua pada sebuah aporia ontologis yang mengejutkan.

 

Di balik retorika pembebasan ekosentrisnya, Deep Ecology ternyata masih menggendong bias terselubung yang sangat fatal.

 

Saya ingin agar kita ajukan gugatan yang mengusik, pertanyaan-pertanyaan yang jarang sekali dilontarkan oleh para pemikir ekologi dalam itu sendiri.

 

Ketika Deep Ecology mengkhotbahkan pelestarian kehidupan dan menuntut pengakuan atas nilai intrinsik dari alam, kehidupan jenis apakah yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan?

 

Tatanan lingkungan hidup seperti apakah yang ingin dipelihara agar tidak terperosok ke dalam jurang kepunahan?

 

Kala kita mengejar definisi dari Egalitarianisme Biosfer, yang mengklaim hendak mengukuhkan seluruh organisme beserta penopang anorganiknya, akan segera terlihat fakta yang tak terelakkan.

 

Keseluruhan argumentasi pelestarian yang dibangun oleh Deep Ecology beroperasi di atas asumsi implisit bahwa 'kehidupan' yang bernilai itu adalah kehidupan yang berbasis pada daur oksigen (O2).

 

Hampir seluruh diskursus terkait krisis ekologis, pemanasan global, ancaman metana, dan kerusakan atmosfer dipatok pada kekhawatiran akan terganggunya ketersediaan oksigen dan kestabilan iklim yang ramah bagi organisme yang menghirup oksigen.

 

Kita meratap bilamana hutan Amazon terbakar karena kita menganggapnya sebagai "paru-paru dunia" yang memasok oksigen. Kita panik ketika kadar karbon dioksida dan metana meningkat karena gas-gas tersebut mengancam tatanan biosfer berbasis oksigen yang menopang eksistensi kita.

 

Bagi saya, di sinilah letak bias yang tidak diperhitungkan oleh Arne Næss maupun Val Plumwood.

 

Konsepsi tentang "nilai intrinsik kehidupan" yang mereka agung-agungkan ternyata tidak bersifat universal maupun netral secara kosmologis.

 

Konsepsi itu hanya berlaku pada satu segmen khusus dan limitatif dari spektrum posibilitas lingkungan hidup, yaitu yang berbasis pada daur oksigen.

 

Mengapa pemilahan dan penelusuran batas ini menjadi begitu krusial secara filosofis dan historis?

 

Sebab jika kita bersedia menoleh ke belakang, membuka lembaran-lembaran sejarah geologi dan evolusi Planet Bumi dari sejak pembentukannya hingga hari ini, kita akan disuguhi realita sains yang membuyarkan seluruh dogma ekosentrisme dangkal tersebut.

 

Daur hidup berbasis oksigen sama sekali bukan satu-satunya mode keberadaan kehidupan yang pernah dan dapat berlaku di bumi ini. Jauh sebelum spesies manusia memproklamirkan dirinya sebagai sang pemikir, jauh sebelum dinosaurus menguasai daratan, kehidupan di planet ini sudah berdenyut deras dalam mode yang sama sekali asing bagi kita.

 

Antara 4 hingga 3 miliar tahun yang lalu, atmosfer bumi purba dipenuhi oleh konsentrasi tinggi karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan uap air yang disemburkan oleh aktivitas vulkanis yang ekstrem.

 

Pada era primordial tersebut, organisme-organisme awal bumi, yakni mikroorganisme purba, tumbuh dan berkembang membiak bukan dengan menghirup oksigen, tapi melalui sistem metabolisme dan respirasi yang sepenuhnya anaerob.

 

Bagi makhluk-makhluk primordial ini, molekul oksigen bukanlah sumber kehidupan, ia adalah zat racun yang sangat destruktif.

 

Sekitar 3 miliar tahun yang lalu, kelompok bakteri purba memproduksi gas metana dalam jumlah masif, mendesak gas hidrogen keluar dari atmosfer bumi, dan secara perlahan memberikan ruang bagi penumpukan gas oksigen sebagai produk sampingan dari proses fotosintesis primitif yang dilakukan oleh sianobakteri.

 

Klimaks dari pergeseran kimiawi ini terjadi sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu, dimana peristiwa monumental yang ditandai oleh para ahli geologi sebagai Great Oxidation Event (GOE) atau Peristiwa Oksidasi Besar.

 

Fenomena ini tidak lain adalah sebuah overproduksi oksigen skala planet yang dipicu oleh aktivitas metabolisme sianobakteri anaerob.

 

Akibat dari kejenuhan oksigen di atmosfer ini sangat mengerikan: terjadi bencana ekologis dan kepunahan massal terbesar dalam sejarah bumi.

 

Oksigen meracuni dan memusnahkan sebagian besar populasi organisme anaerob yang telah menguasai bumi selama ratusan juta tahun.

 

Bagi kehidupan anaerob purba, hadirnya oksigen merupakan sebuah malapetaka apokaliptik, atau genosida biologis yang disebabkan oleh polusi gas toksik bernama oksigen.

 

Akan tetapi, dari puing-puing kepunahan anaerobik itulah, arah evolusi biologis berbelok secara drastis.

 

Organisme-organisme yang mampu beradaptasi mulai mengadopsi sistem respirasi aerob, mekanisme biologis yang memanfaatkan potensi oksidasi oksigen untuk menghasilkan energi secara jauh lebih efisien.

 

Dari garis evolusi aerobik inilah lalu muncul kepelbagaian hayati yang kita kenal hari ini, dari tumbuhan berbunga, reptil, mamalia, hingga akhirnya bermuara pada manusia.

 

Kendati begitu, sejarah tersebut tidak berarti bahwa kehidupan anaerobik telah lenyap secara total dari muka bumi. Hingga detik ini, di celah-celah terdalam kerak bumi, di ventilasi hidrotermal dasar laut yang gelap gulita, hingga di dalam usus organisme vertebrata, masih berkembang biak miliaran organisme anaerob.

 

Ketika saya berbincang dengan salah satu kenalan yang juga mendalami hidang Aquatic Biology, serta Mikroorganisme, terbukalah cakrawala kesadaran saya ketika dieksplanasikan terkait mikroorganisme dari kelas Clostridia.

 

Organisme ini tidak hanya tidak membutuhkan oksigen untuk menjalankan roda fungsinya, tetapi mereka akan seketika mati mendadak jika terpapar oleh molekul oksigen (O2).

 

Bagi Clostridia, oksigen adalah kematian. Dari pelacakan histori geologis ini, terbuka sebuah fakta ontologis yang amat krusial, bahwa Keanekaragaman hayati itu sendiri ternyata beranekaragam dalam tingkat fondasi kimiawinya.

 

Kita tidak hanya berpapasan dengan variasi bentuk fisik spesies, apa yang lazim didefinisikan secara dangkal sebagai keragaman flora dan fauna, tapi kita berhadapan dengan Keanekaragaman Paradigma Kehidupan.

 

Terdapat keanekaragaman hayati yang berbasis pada daur oksigen, dan ada pula keanekaragaman hayati yang berbasis pada gas metana, sulfur, nitrogen, bahkan arsenik. Setiap tatanan kehidupan ini eksis di atas prasyarat kimiawi yang saling bertentangan secara radikal.

 

Bagi organisme aerob wajib (obligate aerobes) seperti manusia, ketersediaan oksigen merupakan harga mati bagi eksistensi.

 

Sebaliknya, bagi organisme anaerob wajib (obligate anaerobes), atmosfer yang penuh oksigen menjadi neraka toksik yang melenyapkan keberadaan mereka.

 

Di sinilah letak kerapuhan teoritis dari Deep Ecology yang saya jumpai. Saat para pemikir ekologi dalam menolak antroposentrisme dan menyerukan perlunya perlindungan terhadap "ekosistem" dan "biosfer", mereka secara tidak sadar sedang melakukan subsumsi universal atas nama paradigma oksigen.

 

Apa yang mereka labeli sebagai "ekosentris" ternyata sama sekali tidak bersikap netral secara kosmologis. Gagasan bahwa kehidupan yang harus dilestarikan merupakan kehidupan yang berbasis oksigen merupakan sebuah gagasan yang sangat khas manusia.

 

Manusia memproyeksikan struktur biologisnya sendiri, sebagai makhluk yang berevolusi dari cabang pohon kehidupan berbasis oksigen, ke seluruh penjuru alam semesta.

 

Manusia melihat dan menilai entitas di sekitarnya berdasarkan kesamaan syarat eksistensial dengan dirinya sendiri. Betapa egoisnya kita.

 

Saya ingin menggandeng anda melakukan thought experiment untuk menguji konsistensi internal dari etika Deep Ecology ini. Coba proyeksikan dalam imaninasi anda, sebuah skenario masa depan di mana spesies manusia telah punah secara total, mungkin akibat perang nuklir atau epidemi fiktif yang tidak merusak struktur kimia planet.

 

Ribuan tahun setelah kepunahan manusia, terjadi sebuah pergeseran geologis dan vulkanis yang dahsyat, mirip dengan yang terjadi pada era primordial.

 

Atmosfer bumi mengalami metamorfosis radikal, dimana kadar oksigen merosot drastis hingga mendekati nol, sementara gas metana dan sulfur mendominasi atmosfer.

 

Dalam lanskap pasca-manusia itu, seluruh spesies aerob, mamalia, burung, dan pepohonan, mengalami kepunahan total. Namun, dari balik kegelapan dan kejenuhan metana tersebut, organisme anaerobik bangkit dan mengalami radiasi adaptif yang luar biasa.

 

Selama jutaan tahun, evolusi berbasis metana menghasilkan biosfer baru yang tak kalah kompleksnya dengan biosfer hari ini.

 

Merekah keanekaragaman hayati anaerobik yang megah, lanskap yang dihiasi oleh struktur-struktur makro berbaur sulfur, sistem ekologis metanogenik yang rumit, dan entitas-entitas bernyawa yang metabolismenya sepenuhnya asing bagi persepsi manusia.

 

Sekarang, coba kita tarik kembali diri kita ke masa kini dan mengajukan pertanyaan etis dari sudut pandang Deep Ecology:

 

1.    Secara etis, biosfer manakah yang bernilai lebih tinggi? Biosfer berbasis oksigen hari ini yang menopang manusia, ataukah biosfer berbasis metana di masa depan yang menolak oksigen?

 

2.    Atas dasar etis apa kita dapat mengklaim bahwa tatanan biosfer berbasis oksigen memiliki "hak intrinsik" yang lebih unggul untuk dilestarikan ketimbang potensi biosfer berbasis metana?

 

Bila kita konsisten dengan kriteria Deep Ecology yang mengagungkan Egalitarianisme Biosfer, kita tidak memiliki alasan logis objektif sedikit pun untuk mendeklarasikan bahwa biosfer berbasis oksigen lebih mulia daripada biosfer berbasis metana atau arsenik.

 

Kedua biosfer tersebut merupakan susunan materialitas yang setara secara kosmologis. Keduanya adalah manifestasi dari penataan ulang atom-atom di permukaan sebuah planet.

 

Tapi, dalam praktiknya, bila hari ini terjadi sebuah proses alamiah yang memicu peningkatan metana secara masif yang akan mengubah bumi kembali menjadi planet anaerobik, sebuah proses yang bagi organisme anaerob merupakan sebuah "pemberkatan" dan perluasan ruang hidup, maka seluruh penganut Deep Ecology akan berteriak histeris.

 

Mereka akan mengutuk proses tersebut sebagai "kerusakan lingkungan" dan "bencana ekologis" yang harus dihentikan dengan segala cara. Di sinilah topeng Deep Ecology tersingkap sepenuhnya.

 

Kecemasan para penganut paham ini terhadap perubahan atmosfer tersebut membuktikan bahwa mereka tidak sedang membela "alam pada dirinya sendiri" (An sich).

 

Mereka sementara membela kondisi alamiah khusus yang membuka posibitas spesies manusia (dan kerabat biologis berbasis oksigennya) untuk tetap bertahan hidup.

 

Oleh srbab itu, saya sampai pada sebuah konklusi dekonstruktif yang amat tajam. Deep Ecology sejatinya tidak pernah sungguh-sungguh 'dalam'.

 

Dalam arti tertentu, ia menjadi sebuah Ekologi Dangkal yang Memperluas Diri (Expanded Shallow Ecology). Ia mengklaim telah menumbangkan antroposentrisme, padahal yang sebenarnya ia lakukan hanyalah memperluas batas-batas subjektivitas manusia ke dalam sebuah entitas kolektif yang bernama "Biosfer Berbasis Oksigen".

 

Manusia terus memakai jubah sebagai universal valuator, hanya saja kali ini manusia menyublimasi kepentingan eksistensialnya di dalam bungkus kepedulian terhadap seluruh tatanan makhluk hidup yang berparu-paru dan berfotosintesis oksigenik.

 

Seluruh kerangka etika lingkungan hidup kontemporer, termasuk Deep Ecology, pada hakikatnya adalah sebuah Etika Berbasis Oksigen (Oxygen-Based Ethics). Ia merupakan sistem moralitas yang terikat secara mutlak pada batasan-batasan partisipatif dari daur kimiawi tertentu.

 

Apakah dengan mwnyingkap kontradiksi internal dan bias antroposentrik yang terselubung dalam Deep Ecology ini, kita harus menyimpulkan bahwa seluruh usaha pelestarian lingkungan hidup menjadi sia-sia dan harus dicampakkan?

 

Apakah kita harus kembali pada Despotic View yang destruktif dan mengeksploitasi alam secara semena-mena? Jawabannya adalah sama sekali tidak.

 

Tujuan dari dekonstruksi ini adalah untuk membebaskan kesadaran ekologis dari ilusi hipokrisi metafisikal.

 

Kebutuhan untuk mengkritik timbul dari sebuah kejujuran intelektual, bahwa kita tidak boleh membangun gerakan penyelamatan planet di atas fondasi mitologi filosofis yang rapuh dan penuh kontradiksi.

 

Sebagai penulis dan penyusun risalah ini, saya bersimpati pada artikulasi awal Deep Ecology. Usaha Arne Næss, Val Plumwood, dan para pemikir ekosentris untuk menggeser fokus peradaban kita dari keserakahan antroposentrik yang destruktif merupakan imperatif sejarah yang amat bernilai.

 

Kita memang wajib berjuang keras melawan kegilaan industri ekstrakurif yang merusak lanskap bumi tanpa penyesalan.

 

Kita harus mempertahankan keasrian hutan, kebersihan sungai, dan kestabilan iklim demi menjamin keberlanjutan biosfer.

 

Akan tetapi, kita harus melakukan tugas mulia itu dengan kesadaran penuh akan limitasi epistemologis kita. Kita harus berani mengakui secara jujur bahwa dalam usaha kita melestarikan alam, kita tidak pernah bisa sepenuhnya meanggalkan diri dari kepentingan eksistensial kita sendiri sebagai manusia.

 

Saat kita berjuang menyelamatkan hutan hujan tropis dari penggundulan, kita tidak sedang bertindak sebagai dewa imparsial yang berdiri di luar ruang dan waktu.

 

Kita sedang bertindak sebagai spesies Homo sapiens, spesies spesifik berbasis oksigen, yang berupaya menjaga kontinuitas ekosistem yang menjadi syarat mutlak bagi keberlanjutan hidup kita dan generasi penerus kita.

 

Alam yang kita lestarikan merupakan ekosistem kita, rumah biologis yang di dalamnya keberadaan kita dimungkinkan.

 

Mengartikulasikan bahwa kita melestarikan alam "murni demi alam itu sendiri" sembari mengingkari bahwa kita membutuhkan alam tersebut merupakan ketidakjujuran eksistensial (bad faith / mauvaise foi dalam istilah Jean-Paul Sartre).

 

Pembelaan terhadap lingkungan hidup tidak menjadi kurang bermoral hanya karena ia mengakui keterlibatannya dengan kepentingan manusia.

 

Justru sebaliknya, sebuah etika lingkungan yang mengakui keterikatannya pada kepentingan manusia yang tertata secara bijaksana (enlightened self-interest) akan jauh lebih realistis, jujur, dan berdaya guna ketimbang etika ekosentris rasionalis yang mengandaikan posisi absolut yang tak ber-Antropos.

 

Sebagai penutup dari risalah filosofis ini, argumen bagi pelestarian lingkungan hidup memang pada akhirnya tidak akan pernah bisa diseparasikan secara mutlak dari semacam kepentingan manusia.

 

Tetapi, kepentingan manusia yang dimaksud di sini bukanlah kepentingan tiranis yang serakah, tapi kepentingan yang telah ditata, disublimasi, dan diperluas sedemikian rupa sehingga ia terintegrasi dengan kemaslahatan seluruh tatanan organisme yang berbagi ruang hidup dengan kita di atas bumi berbasis oksigen ini.

 

Kita tidak perlu berpura-pura menjadi batu atau menjadi bakteri anaerob agar dapat mencintai dan merawat planet ini. Cukuplah kita menjadi manusia yang berpikir secara rasional, bersikap jujur secara metafisik, dan menyadari kebertautan ontologisnya pada jaring-jaring kehidupan.

 

Hanya dengan menanggalkan ilusi radikalitas yang palsu dan merangkul kejujuran eksistensial inilah, kita dapat mengonstruksikan tatanan ekologis yang sungguh-sungguh berkelanjutan.

 

Tatanan di mana manusia tidak lagi bertindak sebagai diktator destruktif maupun juru selamat yang hipokrit, tapi sebagai penikmat dan pemelihara kehidupan yang sadar akan batas-batas eksistensinya. ●

 

Sumber :   https://kumparan.com/elkata-a-b-atua/elegi-bagi-bumi-28QB5vSz6tT    

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar