|
Menyatukan Langkah, Menjaga Rumah Indonesia Muhammad
Tito Karnavian :
Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia. |
KOMPAS, 27 Oktober 2026
|
Ada bangsa yang diwariskan dalam bentuk tanah dan batas wilayah.
Ada yang diwariskan melalui sejarah, bahasa, dan ingatan. Namun, Indonesia
diwariskan kepada kita dalam bentuk yang lebih besar: sebuah cita-cita, yang
diucapkan anak-anak muda pada 28 Oktober 1928. Mereka dengan latar belakang
berbeda, memilih satu jalan bersama: bertanah air satu, berbangsa satu, dan
menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah. Sumpah Pemuda
adalah kesadaran kebangsaan bahwa Indonesia hanya akan menjadi besar apabila
perbedaan ditempatkan dalam satu tujuan bersama. Hari ini, hampir satu abad
kemudian, pertanyaan kita berubah. Bukan lagi: Indonesia macam apa yang ingin
kita merdekakan? Pertanyaannya: Indonesia macam apa yang akan kita wariskan?
Indonesia besok yang kita bangun hari ini adalah Indonesia menuju satu abad
kemerdekaan pada 2045: Indonesia yang maju, adil, inklusif, dan memberi
kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa. Pertanyaan itu terutama tertuju kepada generasi muda. Sebab
Indonesia besok tidak lahir dengan sendirinya. Ia dibentuk oleh keputusan
hari ini: keberanian memperbaiki yang belum baik, kesediaan merawat yang
telah dibangun, dan kemampuan menempatkan kepentingan bangsa di atas
kepentingan diri sendiri. Indonesia terlalu luas untuk dibangun dengan satu cara, tetapi
terlalu penting untuk bergerak tanpa arah bersama. Dari kota besar hingga
desa terpencil, dari kawasan industri hingga pulau terluar, kita hidup dalam
keragaman geografis, sosial, ekonomi, dan budaya. Karena itu, Indonesia
membutuhkan pusat yang mampu memberikan arah, sekaligus daerah yang mampu
menemukan jalan sesuai karakter dan kebutuhannya. Relasi pusat dan daerah tidak semestinya dipahami sebagai
hubungan yang terpisah seperti pada sistem negara federal. Keduanya adalah
bagian dari satu rumah besar bernama Republik Indonesia. Pemerintah pusat
bertanggung jawab menjaga arah nasional, keadilan, pemerataan, dan standar
pelayanan. Pemerintah daerah memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat
dan memahami persoalan di lapangan. Indonesia yang kuat bukan Indonesia yang seluruh daerahnya
seragam. Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang mampu mengubah keragaman
daerah menjadi kekuatan nasional. Kemiskinan di kota metropolitan tidak
selalu sama dengan kemiskinan di pulau kecil. Transportasi di kota besar
berbeda dengan konektivitas di perbatasan. Pembangunan kawasan industri tidak
dapat menggunakan pendekatan yang sama dengan wilayah pertanian, kelautan,
atau pariwisata. Karena itu, Indonesia membutuhkan satu tujuan, tetapi tidak harus
selalu pada satu jalan. Dalam perspektif itu, desentralisasi bukan sekadar
pembagian kewenangan. Ia adalah cara negara memberi ruang kepada masyarakat
di berbagai penjuru negeri untuk ikut menentukan masa depannya yang lebih
sejahtera. Namun, konsep otonomi tanpa kapasitas dapat melahirkan
ketergantungan. Daerah membutuhkan birokrasi profesional, kepemimpinan
adaptif, perencanaan berbasis data, anggaran yang menghasilkan manfaat, dan
keberanian berinovasi. Ukuran pembangunan tidak berhenti pada banyaknya program atau
anggaran yang dibelanjakan. Ukurannya adalah perubahan yang dirasakan warga:
pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang lebih mudah,
infrastruktur yang membuka kesempatan ekonomi, kemiskinan yang berkurang, dan
hadirnya negara dalam kehidupan sehari-hari. Pembangunan daerah adalah pekerjaan
kebangsaan. Karena itu, hubungan pusat dan daerah harus bergerak dari
koordinasi administratif menuju kolaborasi pembangunan. Pusat tidak cukup
menerbitkan kebijakan dan daerah tidak cukup melaksanakannya. Keduanya perlu
berdialog mengenai masalah, target, kapasitas, sumber daya, dan hasil. Daerah
bukan sekadar pelaksana kebijakan pusat, melainkan bagian dari proses
menemukan solusi nasional. Di daerah-daerahlah energi generasi muda menemukan
ruang pengabdian yang nyata, melalui inovasi pelayanan publik, pengembangan
ekonomi lokal, penguatan desa, dan transformasi digital. Pada saat yang sama, pusat harus tetap menjadi penjaga standar,
pemerataan, dan integrasi nasional. Pusat juga tentu bukan hanya pengambil
kebijakan, melainkan pelaku eksekusi skala nasional. Tidak boleh ada warga
kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan yang layak hanya karena tempat
tinggalnya berbeda. Standar nasional menjamin keadilan, sementara
fleksibilitas daerah memungkinkan penerapannya sesuai konteks lokal. Relasi pusat
dan daerah bukan pilihan antara sentralisasi atau desentralisasi, melainkan
integrasi dalam kerangka konsep desentralisasi atau semidesentralisasi. Indonesia besok juga ditentukan oleh kemampuan kita memastikan
bahwa kemajuan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Desa, kawasan
perbatasan, pulau-pulau kecil, dan wilayah tertinggal harus menjadi bagian
dari arus kemajuan nasional. Ketika kesempatan pendidikan, kesehatan,
ekonomi, dan teknologi dapat diakses lebih merata, setiap anak muda Indonesia
memiliki peluang yang sama untuk meraih masa depannya. Generasi muda harus berada di tengah perubahan itu. Mereka tumbuh
bersama teknologi digital, membangun jejaring lintas daerah dan negara, dan
menciptakan solusi. Namun, teknologi saja tidak cukup. Indonesia membutuhkan
generasi muda yang cerdas sekaligus peduli, terampil sekaligus berintegritas,
kompetitif, sekaligus mampu berkolaborasi. Di era digital, persatuan juga
diuji oleh kemampuan menjaga ruang publik yang sehat. Karena itu, generasi
muda perlu memiliki literasi digital, etika publik, dan komitmen kebangsaan
agar teknologi menjadi alat pemersatu, bukan sumber perpecahan. Tantangan masa depan semakin kompleks. Perubahan iklim,
kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan ekonomi, mobilitas
penduduk, ketahanan pangan, dan persaingan antarwilayah menghadirkan
persoalan yang tidak mengenal batas administrasi. Karena itu, cara kita
membangun Indonesia harus berubah. Pusat dan daerah perlu lebih banyak
bekerja bersama. Pemerintah harus terbuka terhadap perguruan tinggi, dunia
usaha, komunitas, dan masyarakat sipil. Anak-anak muda harus diberi ruang,
tidak hanya untuk didengar, tetapi juga untuk merancang dan menjalankan
solusi. Tugas negara adalah memastikan ruang partisipasi tersebut tersedia. Indonesia besok membutuhkan pemerintahan yang mampu membuka pintu
bagi energi generasi mudanya untuk menjadi tenaga kerja yang produktif,
sehat, unggul, inovatif, kreatif, terdidik, dan terlatih. Pemuda bukan
sekadar ahli waris masa depan. Mereka adalah bagian dari masa kini yang
sedang menentukan bentuk masa depan itu sendiri. Kita menginginkan Indonesia
yang maju, tetapi kemajuan tidak boleh diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi.
Indonesia yang kita cita-citakan adalah Indonesia yang adil, makmur, bersatu,
dan bermartabat. Itulah pekerjaan besar generasi muda: menyambungkan kemajuan
dengan keadilan, teknologi dengan kemanusiaan, pertumbuhan dengan pemerataan,
identitas lokal dengan kebangsaan, dan kebebasan dengan tanggung jawab.
Sumpah Pemuda lahir dari keberanian membayangkan Indonesia yang belum ada.
Hari ini kita membutuhkan keberanian yang sama: membayangkan Indonesia yang
belum sepenuhnya terwujud, lalu bekerja untuk mewujudkannya. Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak memiliki masalah.
Bangsa yang besar ialah bangsa yang tidak kehilangan keberanian untuk
memperbaiki dirinya. Karena itu, jangan hanya bertanya apa yang akan
diberikan Indonesia kepada generasi muda. Tanyakan pula: apa yang akan
diberikan generasi muda kepada Indonesia? Jawabannya dapat hadir dalam
tindakan sederhana: anak muda yang kembali membangun desanya; peneliti yang
menemukan solusi; birokrat muda yang menolak korupsi; guru yang menyalakan
harapan; atau wirausaha yang membuka lapangan pekerjaan. Dari tindakan-tindakan itulah Indonesia dibangun. Indonesia besok
sedang dibentuk hari ini, dan generasi muda adalah tangan yang membentuknya.
Jika pemuda 1928 mewariskan keberanian untuk menyatukan Indonesia, maka
generasi muda hari ini mewarisi tanggung jawab untuk memajukannya. Indonesia
bukan sekadar tanah tempat kita dilahirkan. Indonesia adalah rumah yang harus
kita jaga, cita-cita yang harus kita teruskan, dan masa depan yang kita
bangun bersama. Satu tanah air untuk kita jaga, satu bangsa untuk kita perjuangkan,
dan satu masa depan untuk kita wujudkan. Selamat Hari Sumpah Pemuda. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/menyatukan-langkah-menjaga-rumah-indonesia?open_from=Artikel_Opini_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar