|
Sarmuji: Kami Harus Ngomong Impor
Tidak Dibuka Lebar-lebar Friski Riana : Jurnalis Tempo |
TEMPO HARIAN, 25 Oktober 2026
|
· Sarmuji menyatakan akan memproteksi
secara selektif produk-produk dalam negeri. · Ia menilai industri pertembakauan sulit
tumbuh karena banyaknya rokok ilegal. · Sarmuji mengatakan BUMN tekstil bisa
menyelamatkan tenaga kerja yang terkena PHK. SETELAH
dilantik menjadi Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji tak meninggalkan
hobi memasak. Bersama istrinya, Luluk Maqnuniah, ia masih berbelanja di Pasar
Bukit Duri, Jakarta Selatan, tak jauh dari rumahnya di kawasan Manggarai.
Aktivitas itu biasanya mereka lakukan setelah menunaikan salat subuh. Sekretaris
Jenderal Partai Golkar itu bercerita, ia terbiasa memilih sendiri bahan
makanan yang akan dimasaknya. Termasuk untuk memasak makanan kesukaannya,
rawon. “Saya masih suka cari daging di pasar,” kata pria yang lahir di
Surabaya, Jawa Timur, 52 tahun lalu itu di kantornya di Jakarta pada Jumat, 9
Oktober 2026. Pada
Kamis, 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Sarmuji sebagai
Menteri Perindustrian, menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita yang hampir
tujuh tahun menjabat. Penggantian itu diumumkan mendadak saat Agus Gumiwang
berada di Amerika Serikat. Sejumlah petinggi Golkar menyebutkan penggantian
itu disebabkan oleh perselisihan di partai beringin. Kepada
jurnalis Tempo, Adil Al Hasan, Yosea Arga, Friski Riana, Hussein Abri
Dongoran, dan Erwan Hermawan, serta fotografer Tony Hartawan, Sarmuji
bercerita soal penunjukannya sebagai pengganti Agus Gumiwang. Ia membantah
kabar bahwa penggantian posisi itu disebabkan oleh perselisihan di partai
beringin. Dalam
wawancara selama sekitar satu jam, mantan Ketua Fraksi Golkar di Dewan
Perwakilan Rakyat itu juga menjelaskan masalah yang dihadapi industri
tekstil. Termasuk soal rencana pembatasan impor tekstil dari luar negeri. Ia
pun membeberkan rencana pembentukan badan usaha milik negara yang mengurus
tekstil dan menjelaskan soal kolapsnya sejumlah smelter di dalam negeri. Bagaimana
Anda menjadi Menteri Perindustrian? Saya
tidak tahu persis dinamika yang terjadi. Tapi, pada Rabu malam (30 September
2026), Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya hanya menanyakan posisi saya.
Saya jawab di Jakarta. Kamis siang, saya dikabari akan dilantik sebagai
Menteri Perindustrian. Sebelumnya
nama Anda kan memang sudah santer disebut bakal jadi menteri.... Ya,
mungkin ada bocor halus kali. Dalam rapat paripurna DPR sudah ada rumor-rumor
itu. Dalam politik, banyak rumor. Anda
menghubungi Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia sebelum dilantik? Kami
berangkat bareng dari kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ke
Istana. Pak Bahlil kan dilantik juga sebagai Menteri Koordinator Hilirisasi. Menurut
Presiden Prabowo Subianto, Anda dipilih menggantikan Agus Gumiwang karena
apa? Saya
enggak tahu. Kepercayaan ini dari Presiden. Tapi komunikasi sangat penting
karena kinerja Kementerian Perindustrian melibatkan banyak sektor. Misalnya,
kalau mau menarik investasi sektor industri dalam negeri, kami butuh insentif
dari Kementerian Keuangan. Kalau mau buat industri di luar Jawa, kami harus
ngobrol sama Kementerian Pekerjaan Umum supaya infrastrukturnya disiapkan.
Untuk impor yang selektif, kami berdiskusi dengan Kementerian Perdagangan. Artinya,
Menteri Perindustrian sebelumnya kurang dalam hal komunikasi? Wallahualam
kalau itu. Kan, saya bukan orang Istana. Saya menerima jalan takdir saja. Penggantian
Menteri Perindustrian terasa mendadak. Bahkan, saat dicopot, Agus Gumiwang
sedang berada di luar negeri.... Kalau
bagi saya dan kita semua mungkin mendadak. Tapi kita kan tidak tahu alam
pikir Presiden, apakah benar-benar mendadak atau sudah dipikirkan sebelumnya. Apakah
kinerja Agus Gumiwang dianggap kurang? Kalaupun
ada hubungannya sama kinerja, saya tidak tahu bagaimana perspektif Presiden.
Tapi yang jelas beliau ingin sektor industri tumbuh lebih besar. Mungkin ada
hal yang sudah baik dikerjakan Pak Agus Gumiwang. Tapi ada ekspektasi yang
juga tinggi terhadap Kementerian Perindustrian untuk menjadi backbone
perekonomian nasional. Bisa jadi itu. Kami
mendapat informasi penggantian ini dilakukan karena ada perselisihan di
Golkar. Benarkah? Saya
tidak tahu. Faksi di Golkar itu cair. Tidak ada faksi yang dibatasi dinding
tebal. Kalau ada hubungan, misalnya sekarang baik, besok bisa kurang baik.
Sekarang kurang, besok jadi baik. Saya pikir itu tak menjadi faktor.
Pertimbangan persisnya, yang tahu hanya Presiden dan Allah. Kabarnya
terkait dengan perombakan struktur Dewan Pimpinan Daerah Golkar Jawa Barat
tahun lalu. Agus Gumiwang berselisih dengan pengurus pusat Golkar.... Itu
alasan yang tidak terlalu signifikan. Kejadiannya sudah lama. Ada
pesan khusus dari Presiden Prabowo kepada Anda? Tanpa
ada pesan pun, kami tahu bahwa industri sektor yang sangat penting untuk
pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Kami pasti berusaha supaya
sektor ini menjadi leverage bagi perekonomian. Presiden menargetkan
pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 dan kalau bisa 8 persen pada 2029.
Maka yang pertama harus ditengok adalah sektor industri. Mengapa
sektor industri menjadi tumpuan? Karena
kemampuan daya ungkitnya lebih besar dibanding sektor lain. Apalagi kalau
berbicara tentang tenaga kerja. Penyerapannya paling besar di sektor
industri. Kami bisa membaca arah Presiden supaya sektor industri lebih kuat. Bagaimana
cara Anda memperkuat sektor industri? Kami
akan menggenjot kontribusi industri terhadap produk domestik bruto.
Syukur-syukur tahun depan bisa 20-21 persen lebih (sekarang masih 19,2
persen). Kami berharap lima atau tujuh tahun lagi bisa 25 persen. Tentu itu
bukan hal yang mudah. Yang harus kami letakkan dasarnya adalah penciptaan
ekosistem industri yang lebih baik. Pada
masa Prabowo, industri manufaktur yang selama ini menjadi andalan
tertatih-tatih.... Jujur,
harus diakui ada keluhan-keluhan ke nomor WhatsApp saya tentang perizinan
yang lama. Padahal sudah berjalan secara digital. Tentu harus kami benahi.
Kami tidak cukup hanya menjadi regulator dan fasilitator. Kami akan
menjadikan Kementerian Perindustrian sebagai akselerator supaya sektor
industri tumbuh lebih tinggi. Industri
tekstil juga banyak yang tutup lantaran banjir barang dari Cina hingga daya
beli masyarakat yang turun. Apa mitigasi Anda? Pertumbuhan
tekstil sebenarnya positif, bahkan masih baik. Cuma, kalau berbicara
trademark tekstil, kami ingin mengembalikan kejayaan tekstil ke masa lalu.
Dulu kita jagoan tekstil. Pertama, kami harus ngomong supaya impor tidak
dibuka lebar-lebar, terutama untuk produk jadi. Dengan kondisi saat ini, mungkin
kami masih perlu melakukan proteksi selektif terhadap produk-produk kita. Produk
apa yang akan Anda batasi? Akan
kami cek lagi satu per satu. Yang jelas, barang yang sudah bisa diproduksi di
dalam negeri jangan diimpor ugal-ugalan. Impor saja seharusnya enggak boleh,
apalagi yang tanpa batas. Kalau kita sudah bisa produksi sendiri, apalagi
industri itu menyerap tenaga kerja dan berkaitan dengan hajat hidup orang
banyak, sudah layak kami proteksi. Apa
cukup hanya dengan membatasi impor? Kita
juga harus berinvestasi pada teknologi, dimulai dari mesin tekstil. Dengan
persaingan yang kian ketat, kita tidak bisa lagi mengandalkan mesin baheula.
Faktor lain adalah soal desain, warna, komposisi, jenis bahan, dan
sebagainya. Tentu perlu ada riset yang memadai kalau mau membangkitkan
kejayaan tekstil. Kami juga harus memperkuat sumber daya manusia. Kalau ada
teknologi baru dan bagus tapi yang memakainya tidak bisa, ya tidak akan maju
juga. Pemerintah
berniat membuat badan usaha milik negara tekstil. Perkembangannya seperti
apa? Kemarin
saya kirim pesan kepada Pak Dony Oskaria (Kepala Badan Pengaturan BUMN) agar
kami, yang mengampu secara teknis, diajak berbicara dalam masalah tekstil.
Kami mendukung kalau pemerintah mau membuat BUMN tekstil, terutama
menyelamatkan tenaga kerja yang kena layoff, dari Sritex dan lain-lain. Semua
industri tekstil juga harus dibina. Bukan hanya BUMN. Akan ada
skema penggabungan Sritex dengan perusahaan tekstil lain? Tidak
ada masalah. Kalau masing-masing punya keunggulan yang bisa disatukan menjadi
keunggulan bersama, bagus-bagus saja. Malah bisa menjadi satu kekuatan baru. Kenapa
belum berjalan sampai sekarang? Persiapannya
tidak mudah. Kalaupun kami memesan mesin, enggak langsung jadi. Tidak mungkin
kami membeli mesin yang dijual bebas. Kalau mesinnya besar, pasti kami pesan.
Itu saja sudah butuh waktu lama. Belum lagi tata kelolanya, suntikan modalnya
pakai bank atau duit hasil dividen. Apa
urgensi pembentukan BUMN tekstil? Ada
beberapa hal yang memang harus dikerjakan BUMN. Barangkali ada pandangan
bahwa industri tekstil termasuk strategis, banyak kepentingannya. Peran BUMN
jadi strategis supaya market ini tidak dikuasai segelintir pihak. Negara
punya instrumen untuk mengintervensi dan membenahi market failure. Pertumbuhan
industri tembakau melambat. Apa sebabnya? Industri
pertembakauan tidak tumbuh karena mungkin banyak rokok ilegal. Salah
satu faktor peredaran rokok ilegal adalah mesin pelinting yang mudah diimpor.
Bagaimana pembatasannya? Mesin
pelinting itu satu hal. Asalkan ada penegakan aturan yang jelas, peredaran
rokok ilegal pasti akan mengecil. Selanjutnya, bisa dilakukan pembinaan, yang
ilegal menjadi legal. Mereka harus diyakinkan bahwa produksi rokok, meskipun
kecil, bisa juga bersaing dengan industri besar. Kan, ada perbedaan tarif
cukainya juga. Kalau ada cukai, kan jadi rokok legal. Bagaimana
sikap Anda terhadap polemik sertifikasi halal untuk rokok? Halal
dan haram bukan urusan perindustrian, melainkan fatwa ahli agama. Saya belum
bisa membayangkan label halal rokok. Perdebatan soal hukum fikih rokok
spektrumnya lebar. Ada yang bilang makruh. Ada yang mengharamkan juga.
Mungkin ada yang menyebut halal meskipun minoritas. Mengkonsolidasikan fatwa
yang haram, makruh, dan halal saja sudah susah. Belum bisa saya bayangkan
bagaimana membuat petunjuk teknis label rokok halal. Soal
penghiliran, beberapa smelter kolaps. Apa problemnya? Saya
belum mendapat data mengenai berapa yang kolaps. Kalaupun ada, perlu dicari
tahu faktornya apa. Apakah bahan bakunya atau teknologinya yang tidak mampu
bersaing. Kalau kami enggak teliti, jangan-jangan yang diharapkan sebagai
solusi justru menjadi tambahan masalah. Lantas
apa yang perlu diperbaiki? Yang
perlu ditanyakan bukan apakah menciptakan satu produk baru, melainkan apakah
ada produk-produk lanjutan. Penghiliran pasti akan mengubah bahan mentah
minimal menjadi bahan baku. Tapi kan enggak cukup. Harus diteruskan menjadi
barang jadi. Akan lebih bermanfaat kalau produk jadi juga menumbuhkan
industri baru. Value added-nya akan lebih tinggi. Rantai
produksinya jadi lebih panjang, ya…. Kita
juga mungkin perlu berpikir dengan cara pikir ekonomi sirkular. Satu bahan
bisa menjadi bahan selanjutnya dan terus-menerus menjadi bahan sehingga
rantainya lebih panjang. Dengan rantai produksi lebih panjang, otomatis nilai
tambahnya juga makin panjang dan besar. Bicara
soal penghiliran, Anda tahu bagaimana awalnya Bahlil ditunjuk sebagai Menteri
Koordinator Hilirisasi? Saya
tidak tahu persis. Saya pernah guyon sedikit pada waktu itu sama dia.
Konteksnya tentang hilirisasi. “Jangan-jangan nanti nambah judul
kementeriannya.” Dia ketawa. Tapi sebenarnya saya hanya menebak, bukan Pak
Bahlil kasih info kepada saya. Apa
karena semua ketua umum partai menjadi menteri koordinator? Enggak
tahu juga. Yang jelas, Golkar mendapat kehormatan dengan Pak Bahlil diangkat
sebagai menko. Kami berterima kasih kepada Presiden. Bahlil
akan melepas jabatan di Kementerian Energi? Kalau
Presiden mengamanatkan untuk merangkap, ya dijalankan dengan baik. Ketua umum
bisa menjalankan, insyaallah. ● Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/sarmuji-menteri-perindustrian-stop-barang-impor-2301508 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar