|
Mengikuti TKA dengan Jujur Gembira Biyanto : Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antarlembaga
Kemendikdasmen, Guru Besar UIN Sunan Ampel. |
MEDIA INDONESIA, 27 Oktober 2026
|
SECARA bertahap Tes Kemampuan Akademik (TKA)
jenjang SMA dan yang sederajat akan dimulai pada 26 Oktober-8 November 2026.
Mulai tahun ini Asesmen Nasional (AN) yang biasanya dilaksanakan terpisah
juga diintegrasikan dalam TKA. Dengan begitu, murid yang mengikuti TKA
otomatis menjadi sampel peserta AN. Jika suatu sekolah tidak memiliki peserta
TKA, sekolah secara otomatis juga tidak memiliki data AN yang menjadi dasar
rapor capaian mutu pendidikan. Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan
Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengintegrasikan AN dalam TKA penting agar
murid tidak jenuh karena berulang kali mengikuti tes. Integrasi AN dalam TKA
juga bertujuan untuk efisiensi waktu, biaya, dan infrastruktur. Murid cukup
mengikuti satu sesi tes untuk TKA sekaligus AN. Hasil TKA penting untuk
memotret kemampuan akademik setiap murid. Adapun hasil AN bermanfaat untuk
mengukur mutu satuan pendidikan. Seperti halnya TKA SD/sederajat dan
SMP/sederajat, penyelenggaraan TKA SMA/sederajat juga menggelorakan spirit:
jujur gembira. Komitmen bersama semua pihak untuk melaksanakan ujian atau tes
dengan penuh kejujuran sangat penting. Rasanya sudah tidak rahasia lagi jika
praktik ketakjujuran akademik (academic dishonesty) senantiasa menghantui
setiap pelaksanaan ujian apa pun namanya. Karena itulah sebagian kalangan menyebut
ketakjujuran layaknya ‘anak kandung’ dalam sejarah penyelenggaraan ujian.
Pertanyaannya, mengapa kasus ketakjujuran senantiasa mewarnai penyelenggaraan
ujian? Jawabnya, banyak faktor yang memicu praktik ketakjujuran dalam ujian.
Pertama, nilai hasil ujian nasional menjadi penentu kelulusan. Faktor ini
menjadikan peserta ujian melakukan beragam cara agar lulus. Kedua, persentase
kelulusan dapat menjadi alat kampanye sekolah, dinas pendidikan, dan
pemerintah daerah. Dua faktor tersebut mendorong pihak-pihak yang
berkepentingan dengan hasil ujian untuk membentuk tim sukses. Pada masa
penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), pembentukan tim sukses tampak begitu
masif. Tujuannya tentu anak-anak sukses UN dengan nilai membanggakan. Bagi
sekolah, kesuksesan murid menjalani UN sangat penting untuk membangun
persepsi publik bahwa sekolahnya bermutu. Dengan citra sekolah bermutu maka
kepercayaan masyarakat akan semakin besar. Di sisi lain, dinas pendidikan dan
pemerintah daerah juga berkepentingan terhadap hasil UN. Hal itu karena hasil
UN yang baik sangat penting untuk membangun citra sebagai kepala dinas dan
kepala daerah yang terdidik sekaligus sukses memajukan pendidikan (well
educated). Bermula dari sinilah praktik ketakjujuran dalam setiap pelaksanaan
UN terjadi. Dampaknya, berbagai cara dilakukan untuk meraih hasil terbaik
dalam UN. MANFAAT HASIL TKA Sejauh ini nilai rapor merupakan data pokok untuk
melihat kemampuan akademik setiap murid. Sementara itu, banyak kalangan
telanjur memahami bahwa nilai rapor belum mencerminkan kemampuan akademik
yang sesungguhnya. Sebagian nilai rapor yang dijadikan dokumen lampiran
pendaftaran ke jenjang pendidikan lanjutan sudah mengalami inflasi nilai.
Dengan kata lain, nilai rapor sudah banyak berubah dari nilai aslinya. Hal
itu dilakukan pihak sekolah agar murid diterima di lembaga pendidikan
pilihan. Fenomena inflasi nilai akademik murid yang ada di rapor sejatinya
juga mengandung praktik ketakjujuran. Meski guru berniat baik dengan
memberikan nilai tinggi untuk membantu murid, dampaknya sangat serius bagi
perkembangan belajar. Anak-anak dengan nilai tinggi karena hasil rekayasa
pasti akan mengalami kesulitan di jenjang pendidikan lanjutan. Dalam kondisi seperti itulah hasil TKA sangat
penting karena dapat menjadi validator nilai rapor. Bagi murid SMA dan yang
sederajat, hasil TKA juga penting untuk memastikan bahwa pilihan program
studi di perguruan tinggi sesuai dengan kemampuan akademiknya. Harus diakui
bahwa sejak kebijakan penjurusan dihapuskan di SMA, perguruan tinggi tidak
memiliki data yang akurat mengenai kesesuaian pilihan program studi dengan
potensi akademik murid. Murid dengan potensi akademik yang baik dalam rumpun
ilmu pengetahuan sosial sangat mungkin masuk ke program studi ilmu
pengetahuan alam, dan begitu juga sebaliknya. Perguruan tinggi tentu tidak
memiliki pilihan lain. Apalagi pilihan murid itu didukung nilai rapor yang
sudah berubah dari nilai aslinya. Akibatnya, angka kegagalan studi (dropout)
di perguruan tinggi sangat besar. Pada konteks itulah hasil TKA dengan mata
pelajaran pilihan yang mencerminkan minat setiap murid sangat penting bagi
perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat menjadikan hasil TKA dari mata
pelajaran pilihan sebagai pertimbangan untuk memastikan bahwa pilihan program
studi murid berdasarkan kemampuan akademiknya. Selain menjadi validator nilai rapor, hasil TKA
SMA juga dapat digunakan murid untuk mendaftarkan diri ke perguruan tinggi
melalui jalur prestasi. Hal itu sejalan dengan Keputusan Majelis Rektor
Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Keputusan pentingnya ialah hasil
TKA menjadi syarat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Hasil TKA SD
juga dapat dijadikan untuk mendaftar sistem penerimaan murid baru (SPMB)
melalui jalur prestasi ke jenjang SMP. Demikian juga, hasil TKA SMP dapat
dijadikan untuk mendaftar SPMB melalui jalur prestasi ke tingkat SMA.
Beberapa manfaat ini akan diperoleh jika murid mendaftar dan mengikuti TKA. SPIRIT JUJUR GEMBIRA Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor 9 Tahun 2025 menegaskan bahwa TKA bersifat opsional. TKA juga tidak
menentukan kelulusan murid. Kelulusan murid sepenuhnya ditentukan dewan guru
di setiap satuan pendidikan. Penegasan bahwa TKA bersifat opsional dan tidak
menentukan kelulusan penting agar murid mengikuti tes dengan jujur dan
gembira. Karena itu, seharusnya tidak boleh ada beban yang
dirasakan murid tatkala mengikuti TKA. Hal ini penting agar murid menjalani
TKA dengan tanpa tekanan. TKA layaknya ujian yang sudah biasa dijalani murid.
Soal TKA juga dikirim melalui sistem digital. Tidak seperti soal UN yang
dikirim dengan pengawal superketat aparat kepolisian. Harus diakui,
keterlibatan aparat kepolisian pada saat penyelenggaran UN di masa lalu
terasa menakutkan. Tekanan itulah yang harus dihindari dalam TKA. Karena itu,
tidak seharusnya TKA disakralkan atau dipahami seperti pertaruhan hidup-mati.
Jika TKA diposisikan sama seperti ujian sebagaimana pada umumnya, maka
diharapkan setiap murid akan menjalani tes dengan penuh kejujuran dan
kegembiraan. Sekolah juga tidak perlu melakukan pengondisian
yang mengesankan TKA sama keramatnya dengan UN. Apalagi sering kali masih
ditemukan beberapa tulisan bernada seram di sekolah, seperti ‘Dilarang
berisik’, ‘Jaga ketenangan’, ‘Jangan membuat kegaduhan’, ‘Ujian sedang
berlangsung’. Substansi pesan dalam tulisan itu tentu baik, tetapi juga dapat
menambah kesan seram selama TKA. Karena itulah kepala sekolah, guru,
orangtua, dinas pendidikan, dan kepala daerah penting bersinergi untuk
menyiapkan mental murid mengikuti TKA SMA dan yang sederajat. Dorongan yang
membesarkan hati (encouragement) sangat penting agar murid mengikuti TKA
dengan spirit: jujur gembira. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar