Kamis, 29 Oktober 2026

 

Mengikuti TKA dengan Jujur Gembira

Biyanto :   Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antarlembaga Kemendikdasmen, Guru Besar UIN Sunan Ampel.

MEDIA INDONESIA, 27 Oktober 2026

 

                                                

 

SECARA bertahap Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA dan yang sederajat akan dimulai pada 26 Oktober-8 November 2026. Mulai tahun ini Asesmen Nasional (AN) yang biasanya dilaksanakan terpisah juga diintegrasikan dalam TKA. Dengan begitu, murid yang mengikuti TKA otomatis menjadi sampel peserta AN. Jika suatu sekolah tidak memiliki peserta TKA, sekolah secara otomatis juga tidak memiliki data AN yang menjadi dasar rapor capaian mutu pendidikan.

 

Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengintegrasikan AN dalam TKA penting agar murid tidak jenuh karena berulang kali mengikuti tes. Integrasi AN dalam TKA juga bertujuan untuk efisiensi waktu, biaya, dan infrastruktur. Murid cukup mengikuti satu sesi tes untuk TKA sekaligus AN. Hasil TKA penting untuk memotret kemampuan akademik setiap murid. Adapun hasil AN bermanfaat untuk mengukur mutu satuan pendidikan.

 

Seperti halnya TKA SD/sederajat dan SMP/sederajat, penyelenggaraan TKA SMA/sederajat juga menggelorakan spirit: jujur gembira. Komitmen bersama semua pihak untuk melaksanakan ujian atau tes dengan penuh kejujuran sangat penting. Rasanya sudah tidak rahasia lagi jika praktik ketakjujuran akademik (academic dishonesty) senantiasa menghantui setiap pelaksanaan ujian apa pun namanya.

 

Karena itulah sebagian kalangan menyebut ketakjujuran layaknya ‘anak kandung’ dalam sejarah penyelenggaraan ujian. Pertanyaannya, mengapa kasus ketakjujuran senantiasa mewarnai penyelenggaraan ujian? Jawabnya, banyak faktor yang memicu praktik ketakjujuran dalam ujian. Pertama, nilai hasil ujian nasional menjadi penentu kelulusan. Faktor ini menjadikan peserta ujian melakukan beragam cara agar lulus. Kedua, persentase kelulusan dapat menjadi alat kampanye sekolah, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah.

 

Dua faktor tersebut mendorong pihak-pihak yang berkepentingan dengan hasil ujian untuk membentuk tim sukses. Pada masa penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), pembentukan tim sukses tampak begitu masif. Tujuannya tentu anak-anak sukses UN dengan nilai membanggakan. Bagi sekolah, kesuksesan murid menjalani UN sangat penting untuk membangun persepsi publik bahwa sekolahnya bermutu. Dengan citra sekolah bermutu maka kepercayaan masyarakat akan semakin besar. Di sisi lain, dinas pendidikan dan pemerintah daerah juga berkepentingan terhadap hasil UN. Hal itu karena hasil UN yang baik sangat penting untuk membangun citra sebagai kepala dinas dan kepala daerah yang terdidik sekaligus sukses memajukan pendidikan (well educated). Bermula dari sinilah praktik ketakjujuran dalam setiap pelaksanaan UN terjadi. Dampaknya, berbagai cara dilakukan untuk meraih hasil terbaik dalam UN.

 

MANFAAT HASIL TKA

 

Sejauh ini nilai rapor merupakan data pokok untuk melihat kemampuan akademik setiap murid. Sementara itu, banyak kalangan telanjur memahami bahwa nilai rapor belum mencerminkan kemampuan akademik yang sesungguhnya. Sebagian nilai rapor yang dijadikan dokumen lampiran pendaftaran ke jenjang pendidikan lanjutan sudah mengalami inflasi nilai. Dengan kata lain, nilai rapor sudah banyak berubah dari nilai aslinya. Hal itu dilakukan pihak sekolah agar murid diterima di lembaga pendidikan pilihan. Fenomena inflasi nilai akademik murid yang ada di rapor sejatinya juga mengandung praktik ketakjujuran. Meski guru berniat baik dengan memberikan nilai tinggi untuk membantu murid, dampaknya sangat serius bagi perkembangan belajar. Anak-anak dengan nilai tinggi karena hasil rekayasa pasti akan mengalami kesulitan di jenjang pendidikan lanjutan.

 

Dalam kondisi seperti itulah hasil TKA sangat penting karena dapat menjadi validator nilai rapor. Bagi murid SMA dan yang sederajat, hasil TKA juga penting untuk memastikan bahwa pilihan program studi di perguruan tinggi sesuai dengan kemampuan akademiknya. Harus diakui bahwa sejak kebijakan penjurusan dihapuskan di SMA, perguruan tinggi tidak memiliki data yang akurat mengenai kesesuaian pilihan program studi dengan potensi akademik murid. Murid dengan potensi akademik yang baik dalam rumpun ilmu pengetahuan sosial sangat mungkin masuk ke program studi ilmu pengetahuan alam, dan begitu juga sebaliknya. Perguruan tinggi tentu tidak memiliki pilihan lain. Apalagi pilihan murid itu didukung nilai rapor yang sudah berubah dari nilai aslinya. Akibatnya, angka kegagalan studi (dropout) di perguruan tinggi sangat besar.

 

Pada konteks itulah hasil TKA dengan mata pelajaran pilihan yang mencerminkan minat setiap murid sangat penting bagi perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat menjadikan hasil TKA dari mata pelajaran pilihan sebagai pertimbangan untuk memastikan bahwa pilihan program studi murid berdasarkan kemampuan akademiknya.

 

Selain menjadi validator nilai rapor, hasil TKA SMA juga dapat digunakan murid untuk mendaftarkan diri ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Hal itu sejalan dengan Keputusan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Keputusan pentingnya ialah hasil TKA menjadi syarat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Hasil TKA SD juga dapat dijadikan untuk mendaftar sistem penerimaan murid baru (SPMB) melalui jalur prestasi ke jenjang SMP. Demikian juga, hasil TKA SMP dapat dijadikan untuk mendaftar SPMB melalui jalur prestasi ke tingkat SMA. Beberapa manfaat ini akan diperoleh jika murid mendaftar dan mengikuti TKA.

 

SPIRIT JUJUR GEMBIRA

 

Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 9 Tahun 2025 menegaskan bahwa TKA bersifat opsional. TKA juga tidak menentukan kelulusan murid. Kelulusan murid sepenuhnya ditentukan dewan guru di setiap satuan pendidikan. Penegasan bahwa TKA bersifat opsional dan tidak menentukan kelulusan penting agar murid mengikuti tes dengan jujur dan gembira.

 

Karena itu, seharusnya tidak boleh ada beban yang dirasakan murid tatkala mengikuti TKA. Hal ini penting agar murid menjalani TKA dengan tanpa tekanan. TKA layaknya ujian yang sudah biasa dijalani murid. Soal TKA juga dikirim melalui sistem digital. Tidak seperti soal UN yang dikirim dengan pengawal superketat aparat kepolisian. Harus diakui, keterlibatan aparat kepolisian pada saat penyelenggaran UN di masa lalu terasa menakutkan. Tekanan itulah yang harus dihindari dalam TKA. Karena itu, tidak seharusnya TKA disakralkan atau dipahami seperti pertaruhan hidup-mati. Jika TKA diposisikan sama seperti ujian sebagaimana pada umumnya, maka diharapkan setiap murid akan menjalani tes dengan penuh kejujuran dan kegembiraan.

 

Sekolah juga tidak perlu melakukan pengondisian yang mengesankan TKA sama keramatnya dengan UN. Apalagi sering kali masih ditemukan beberapa tulisan bernada seram di sekolah, seperti ‘Dilarang berisik’, ‘Jaga ketenangan’, ‘Jangan membuat kegaduhan’, ‘Ujian sedang berlangsung’. Substansi pesan dalam tulisan itu tentu baik, tetapi juga dapat menambah kesan seram selama TKA. Karena itulah kepala sekolah, guru, orangtua, dinas pendidikan, dan kepala daerah penting bersinergi untuk menyiapkan mental murid mengikuti TKA SMA dan yang sederajat. Dorongan yang membesarkan hati (encouragement) sangat penting agar murid mengikuti TKA dengan spirit: jujur gembira. ●

Sumber :   https://mediaindonesia.com/opini/948951/bahasa-inggris-wajib-di-sdmi-saatnya-guru-disiapkahttps://mediaindonesia.com/opini/948936/mengikuti-tka-dengan-jujur-gembira  

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar