|
Belajar Menjadi Indonesia dari Seberang Batas Agustinus
Wibowo :
Penulis buku Indonesia dari Seberang
Batas. |
KOMPAS, 27 Oktober 2026
|
”I’m from China. Ulangi!” Di tahun 2014, Papa Leo mengantar saya ke Kuem, sebuah kampung
rawa di Papua Niugini dekat perbatasan Indonesia. Di Kuem, katanya, jangan
sekali-sekali bilang saya dari Indonesia, karena banyak orang tidak suka
Indonesia di sana. Saya mengulang kalimat itu, perlahan, nyaris tak terdengar. Waktu kecil, menjadi Tionghoa adalah bagian dari diri yang paling
ingin saya sembunyikan. Saya pernah menangis di pelukan ibu saya setelah
anak-anak di gang mengolok-olok saya sebagai singkek. Bertahun-tahun
kemudian, saya masih belajar mengubur nama Tionghoa saya demi menjadi
se-Indonesia mungkin. Sementara kini, di Papua Niugini, karena alasan keselamatan, saya
harus menampilkan identitas yang dulu saya pendam dan menyembunyikan
identitas keindonesiaan yang sepanjang hidup berusaha saya buktikan. Namun, tubuh saya punya ingatannya sendiri. Setiap kali
bersalaman, tangan kanan saya menempel di dada, refleks yang saya bawa dari
Jawa. Identitas saya langsung ketahuan. Seorang warga desa menyapa dalam bahasa Indonesia yang fasih,
”Mas, selamat pagi.” Papa Leo menoleh cepat. Saya tersentak. Akan tetapi, tidak
terjadi apa-apa seperti yang dikhawatirkannya. Di sekolah, saya mengenal Indonesia sebagai peta yang harus
dihafal, dengan garis-garis batas yang terasa wajar. Di pinggiran negeri,
negara bisa terdengar lain. Negara bisa hadir sebagai aparat, izin, larangan,
dan garis. Nama Indonesia kadang terdengar sebagai rindu, kadang curiga,
kadang harapan, dan kadang keluhan. Dua minggu sebelum tiba di Kuem, saya singgah di desa Papua
Niugini bernama Sapuka. Seorang pemuda berbisik kepada saya, ”Hati-hati. Di
desa ini ada orang West Papua.” ”Dia orang OPM?” tanya saya. ”Mungkin,” jawabnya. ”Tak ada yang tahu pasti.” Ketakutan langsung menjalari saya. Malam itu, seorang lelaki tua dari Merauke duduk di hadapan saya.
Dia berbicara bahasa Indonesia dengan fasih. ”Saya bukan OPM,” katanya tanpa ditanya. ”Tapi, semua orang
bilang saya OPM.” Menurut ceritanya, beberapa oknum tentara memukulinya di depan
warga kampungnya dan mencapnya OPM karena dia menolak menyerahkan arwana
peliharaannya. Dia lari ke negara tetangga, dan sudah empat belas tahun tidak
pulang. ”Saya tidak marah dengan Indonesia. Saya tidak marah dengan
pemerintah,” katanya. ”Tapi, saya masih ingat satu oknum itu. Kalau saya
pulang, saya bisa dipukul lagi.” Seketika saya malu dengan diri saya sendiri. Saya yang tumbuh
dengan rasa dicurigai ternyata begitu cepat mencurigai orang lain sebelum
mengenalnya. Di bawah berbagai larangan pada masa Orde Baru, identitas saya
sebagai Tionghoa Indonesia hadir sebagai satu wajah untuk bertahan dan satu
wajah untuk disimpan. Pada Januari 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut
instruksi presiden tahun 1967 yang membatasi agama, kepercayaan, dan adat
istiadat Tionghoa. Aturan-aturan diskriminatif lain kemudian menyusul
dicabut. Saya belum memikirkan apa artinya semua itu bagi nasionalisme
saya. Saya hanya tahu ada sesuatu yang berubah, menjadi diri sendiri tidak
lagi terasa seperti sebuah pelanggaran. Barangkali rasa menjadi Indonesia
bagi saya memang bermula dari sana, ketika negara berhenti membuat saya
merasa dicurigai dan dipertanyakan. Tidak menjadi orang lain Belasan tahun kemudian, di Belanda, saya menemui Francisca
Pattipilohy, pustakawan yang lahir sebelum Republik Indonesia. Orang
memanggilnya Tante Sisca. ”Hidup ditentukan oleh kategori,” katanya tentang masa kecilnya
di Hindia Belanda tahun 1930-an. Keluarganya berstatus gelijkgesteld, dipersamakan dengan orang
Eropa, sehingga dia bisa bersekolah. ”Kau bukan inlander. Kau orang Ambon,”
kata ayahnya. Namun, di ruang publik, mereka tetap diarahkan ke jalur
inlander, dari gerbong trem sampai pintu pasar malam. Pada umur 10 tahun, dia dilarang masuk ke kolam renang karena
kulitnya dianggap terlalu gelap. Baru di sekolah menengah dia membaca tulisan
yang tergantung di atas kolam itu: verboden voor honden en inlanders,
terlarang bagi anjing dan inlander. Status bisa menyebutnya setara, tetapi perlakuan tetap berbeda. Tatanan rasial kolonial itu runtuh ketika Jepang datang. Tante
Sisca tidak mengingat masa Jepang sebagai masa yang ringan. Tapi, untuk
pertama kalinya dia duduk di bangku sekolah yang sama dengan murid-murid yang
lain. ”Setelah Jepang datang,” katanya pelan, ”barulah pertama kali
saya benar-benar merasa menjadi orang Indonesia.” Mendengar Tante Sisca, saya teringat pada perubahan yang saya
alami hampir enam puluh tahun kemudian. Kami hidup di zaman yang berbeda, di
bawah pemerintahan yang berbeda, tetapi rasa menjadi Indonesia datang kepada
kami dengan cara yang anehnya mirip, ketika kami tidak lagi diminta menjadi
orang lain lebih dulu. Sumpah Pemuda lahir di tengah tatanan yang memilah orang seperti
itu. Pada 28 Oktober 1928, anak-anak muda dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong
Celebes, dan perkumpulan lain mengaku bertumpah darah yang satu dan berbangsa
yang satu, ketika negara bernama Indonesia belum ada. Yang menarik bagi saya, mereka datang dengan identitas daerah
masing-masing. Indonesia tidak lahir karena semua perbedaan itu dihapus.
Mereka justru membayangkan sebuah ”kami” yang lebih luas, yang memberi tempat
bagi perbedaan itu. Persatuan bukan berarti menjadi seragam, melainkan
sepakat bahwa perbedaan tidak membuat seseorang menjadi kurang Indonesia. Ikrar itu tidak membuka pintu kolam renang tempat Tante Sisca
ditolak beberapa tahun kemudian. Janji itu baru terasa nyata ketika orang
berhenti diperlakukan sebagai golongan yang lebih rendah. Republik yang lahir
sesudahnya pun tidak selalu menepati janji itu. Namun, pemilahan tidak hanya dilakukan oleh negara. Di kepala
kita sendiri, batas-batas semacam itu lebih lambat hilang dan sering bekerja
tanpa kita sadari. Belum selesai Saya membawa dua refleks ke Papua Niugini. Yang pertama, tangan
kanan yang menempel ke dada setelah bersalaman. Yang kedua, ketakutan kepada
orang yang disebut berbahaya sebelum saya mengenalnya. Refleks pertama membocorkan siapa diri saya. Refleks kedua
membuat saya sadar betapa mudahnya saya melakukan kepada orang lain apa yang
sepanjang hidup paling saya takutkan, yakni menilai seseorang sebelum
mendengarkan ceritanya. Barangkali di situlah pekerjaan Sumpah Pemuda belum selesai.
Menjadi satu bangsa, bagi saya, bukan berarti mempunyai cerita yang sama,
melainkan tetap mau mendengar cerita yang berbeda, termasuk yang membuat kita
tidak nyaman, tanpa menjadikan perbedaan itu alasan untuk mengeluarkan
seseorang dari kata ”kami”. Tugas itu kini ada di tangan anak muda, untuk memastikan semakin
sedikit orang merasa harus menyembunyikan bagian dari dirinya supaya diterima
sebagai orang Indonesia. Saya tahu perubahan seperti itu mungkin terjadi. Dunia yang
membentuk Tante Sisca dan masa kecil saya belum sepenuhnya hilang, tetapi
sebagian aturan yang dulu menopangnya sudah dicabut. Di tepi Kuem, saya mengulang sebuah kalimat supaya selamat: I’m
from China. Setiap 28 Oktober, kita mengulang kalimat yang lain, kami putra
dan putri Indonesia. Saya berharap anak-anak muda mengucapkannya sambil terus
bertanya, siapa yang masih harus menyembunyikan diri supaya bisa terhitung
dalam kata ”kami”? ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/belajar-menjadi-indonesia-dari-seberang-batas?open_from=Artikel_Opini_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar