Rabu, 28 Oktober 2026

 

Narasi dan Orkestrasi Menuju Indonesia 2045

Bima Arya Sugianto :  Wakil Menteri Dalam Negeri; Ketua Asosiasi Pemerintahan Kota Indonesia 2021-2024.

KOMPAS, 27 Oktober 2026

 

 

                                                           

Bagaimana wajah Indonesia 20 tahun lagi? Apakah saat itu bangsa ini betul-betul tengah menikmati masa keemasannya menjadi salah satu negara dengan ekonomi terkuat di dunia? Apakah saat ini kita berada dalam jalur yang benar menuju cita-cita para pendiri bangsa? Apa hal paling mendesak yang harus dikerjakan para pemimpin di pusat dan daerah hari ini? Dan bagaimana kita semestinya menyiapkan anak muda, khususnya gen Z, untuk memimpin negara ini pada saatnya nanti?

 

Ketika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, ingatan saya kemudian melayang ke peristiwa 18 tahun yang lalu di Singapura. Saat itu, Rajaratnam School of International Studies Nanyang Technological University mengundang 18 sosok muda Indonesia yang dianggap memiliki potensi untuk menjadi pemimpin masa depan. Para peserta antara lain Anies Baswedan, Usman Hamid, Zainal Arifin Mochtar, Budiman Sudjatmiko, Andi Widjajanto, Yuddy Chrisnandi, Purbaya Sadewa, Ray Rangkuti, Robertus Robert, Zuhairi Misrawi, dan saya sendiri yang kala itu memimpin The Lead Institute Paramadina.

 

Usia kami saat itu 30 sampai awal 40 tahun. Selama sekitar satu minggu kami tidak saja bertukar gagasan tentang Indonesia masa depan, tetapi juga dikenalkan konsep-konsep mendasar dari studi masa depan (future studies) dengan dipandu oleh Profesor Leonard Sebastian dan Profesor Sohail Inayatullah, seorang pakar studi masa depan dari Tamkang University, Taiwan.

 

Hari-hari yang sangat menarik. Pemikiran-pemikiran ideal kami tentang masa depan Indonesia dibenturkan dengan teori-teori studi masa depan. Satu hal yang sangat mengguncangkan adalah ketika kami disadarkan bahwa masa depan yang kita cita-citakan bisa jadi sesungguhnya adalah tipe masa depan yang justru harus dihindari. Ada masa depan yang kedaluwarsa (used future), artinya masa depan yang pernah dialami oleh negara lain, tetapi kemudian terbukti sudah usang.

 

Itu terjadi ketika suatu bangsa secara tragis meniru trajektori kegagalan negara lain. Ada masa depan bawaan (default future) atau masa depan yang otomatis akan terjadi apabila suatu negara terjebak pada kebiasaan lama dan gagal melakukan perubahan yang dibutuhkan. Ada juga disowned future atau masa depan yang diabaikan, ketika suatu negara ternyata salah mengejar prioritas dan mengabaikan hal yang lebih penting dan berujung pada kehancuran.

 

Prof Sohail mengenalkan kepada kami kerangka teoretis untuk membebaskan kita dari jebakan perulangan masa lalu dan cara berpikir linier untuk kemudian mampu membangun narasi bersama dan memetakan berbagai skenario alternatif masa depan. Kami diminta dengan jeli untuk melakukan pemetaan kondisi saat itu. Mulai dari membaca tren dunia, menganalisis pola perubahan yang pernah terjadi, sampai kemudian menyusun beberapa alternatif skenario masa depan untuk menentukan mana yang paling diinginkan.

 

Kemudian kami diminta bergerak mundur dari visi masa depan itu untuk merancang langkah yang harus dilakukan hari ini. Bagian yang juga sangat penting adalah merancang orkestrasi dan mengatur peran kita dalam skenario masa depan tersebut. Bagaimana sejarah kemudian mencatat peran kita masing-masing dalam narasi besar menjemput masa depan yang diinginkan.

 

Apa yang terjadi kemudian?

 

Ternyata saat itu kami cenderung untuk lebih mudah sepakat atas narasi besar skenario yang diinginkan, tetapi kesulitan untuk merancang orkestrasi yang harus dimainkan. Cepat untuk menyebut tujuan, tetapi alot dalam membagi peran. Padahal, setelah menentukan titik yang dituju di masa depan, para pemimpin masa depan harus mampu untuk menarik mundur dan menyelaraskan strategi yang dipilih dengan peran yang diambil. Hampir semua peserta berpikir dengan lebih keras untuk memutuskan peran yang masing-masing ambil dalam rancangan skenario masa depan tersebut. Menentukan dan berbagi peran adalah juga kunci sukses membangun orkestrasi skenario masa depan.

 

Singkatnya, dalam studi masa depan, dua hal menjadi variabel utama untuk menentukan arah masa depan, yaitu narasi dan orkestrasi. Narasi adalah skenario untuk menggambarkan berbagai kemungkinan masa depan untuk membentuk masa depan yang diinginkan, sedangkan orkestrasi adalah keselarasan dari peran yang dimainkan.

 

Di masa Orde Baru, narasi yang sangat lekat kepada publik adalah ”era tinggal landas”, fase ketika Indonesia diperkirakan mulai meninggalkan status negara berkembang menuju kemandirian industri. Narasi ini terhenti akibat krisis moneter 1997 yang diiringi dengan jatuhnya pemerintahan Orde Baru.

 

Hari ini kita memiliki narasi kuat yang menggambarkan tujuan dan peluang masa depan, yaitu Indonesia Emas 2045. Narasi ini adalah kombinasi dari momentum 100 tahun kemerdekaan Indonesia dan proyeksi perkembangan ekonomi Indonesia dari beberapa lembaga dunia yang kredibel, seperti McKinsey Global Institute dan Goldman Sachs. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan ekonomi Indonesia dapat mencapai 8,89 triliun dolar AS dan masuk dalam jajaran empat ekonomi terbesar di dunia pada 2045.

 

Narasi ini menemukan kekuatannya ketika dipadankan dengan momentum bonus demografi yang dinikmati Indonesia saat ini dan absen dari diskusi 18 tahun lalu di Singapura. Hari ini, sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada di usia produktif. Apabila kemudian kita gagal mengolah bonus demografi ini, maka kita akan terjebak dalam status negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Bank Dunia mencatat bahwa sejak 1990-an hanya 34 negara yang lolos menjadi negara berpenghasilan tinggi. Sebanyak 108 negara gagal naik kelas.

 

Negara dengan pendapatan per kapita 23.000 dolar AS-30.300 dolar AS dengan tingkat kemiskinan 0,5-0,8 persen dan emisi nol bersih dalam waktu 20 tahun adalah masa depan yang diinginkan. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kehancuran ekologis adalah masa depan yang terabaikan. Negara dengan kemegahan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di berbagai sudut kota pada saatnya nanti mungkin hanya akan menjelma menjadi masa depan kedaluwarsa ketika moda produksi bergeser mengikuti digitalisasi dan akal imitasi.

 

Astacita adalah strategi yang dirancang pemerintahan Prabowo-Gibran untuk menuntun bangsa ini menuju masa depan yang diinginkan dengan menyandingkan pertumbuhan ekonomi inklusif dan keseimbangan ekologi. Ini berarti strategi pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan pemerataan pendapatan dan perluasan akses serta kesempatan.

 

Menciptakan lapangan kerja di sektor formal menjadi sangat penting. Saat ini 60 persen pekerja di Indonesia berada di sektor informal. Hal ini adalah cerminan kerentanan kemiskinan yang tinggi karena kurangnya penyerapan dan ketersediaan lapangan kerja formal yang layak. Pengecualian terjadi di Kota Batam, di mana hampir 70 persen pekerja ada di sektor formal, di bidang industri manufaktur, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,28 pada semester I tahun 2026. Namun, tentu pesatnya laju sektor formal di bidang industri berpotensi untuk mengarah pada masa depan yang terabaikan karena potensi kerusakan lingkungan di masa depan.

 

Untuk itu, pemerintah telah mengidentifikasi transisi menuju ekonomi hijau dengan membuka peluang bagi lapangan kerja yang dibutuhkan. Data dari Bappenas menunjukkan prospek kesempatan kerja bagi pekerjaan hijau (green job) atau pekerjaan ramah lingkungan, yaitu pekerjaan yang secara langsung atau tidak langsung berkontribusi terhadap perlindungan atau pemulihan lingkungan serta mendorong penggunaan sumber daya yang ramah lingkungan.

 

Ada 8 juta-13 juta potensi pekerjaan hijau dan akan berkembang menjadi 72 juta menuju tahun 2029 dan akan berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi 7 persen per tahun pada 2030. Pekerjaan di bidang pengelolaan limbah, pertanian organik, transportasi dan pariwisata berkelanjutan, dan yang berkaitan dengan energi terbarukan akan sangat dibutuhkan ke depan.

 

Sejumlah survei juga menunjukkan tingginya minat gen Z terhadap isu perubahan iklim dan pekerjaan hijau. Namun, saat ini ketersediaan pekerjaan hijau tidak merata. Keselarasan antara skenario pusat dan daerah menjadi amat penting. Para gubernur, bupati, dan wali kota dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah untuk merancang tiga hal sekaligus, yaitu membangun ekosistem pertumbuhan ekonomi inklusif dalam keseimbangan ekologi, mengolah bonus demografi, dan menciptakan lapangan kerja hijau di daerahnya masing-masing.

 

Data menunjukkan bahwa periode bonus demografi berbeda-beda di setiap daerah. Di provinsi seperti Aceh, Riau, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara, bonus demografi akan berakhir di atas tahun 2040. Sementara di provinsi seperti Sumatera Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, dan Sulawesi Barat, menyusutnya usia produktif akan terjadi sebelum tahun 2030.

 

Semua kepala daerah berpacu dengan waktu untuk menjemput momentum bonus demografi ini dengan menyiapkan anak-anak muda untuk memasuki lapangan pekerjaan yang diciptakan dengan keahlian yang dibutuhkan di lapangan kerja hijau. Kepala daerah harus cekatan membangun kolaborasi antara lembaga pendidikan, dunia industri, dan korporasi.

 

Diperlukan orkestrasi Indonesia Incorporated—istilah yang digaungkan oleh Presiden Prabowo—yaitu orkestrasi semua lini untuk menyelaraskan skenario strategi lintas sektor, regulasi, pembiayaan, dan sumber daya untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Saat ini, Kementerian Dalam Negeri bersama dengan Bappenas dan Badan Pusat Statistik berkolaborasi untuk mendorong pemerintah daerah lebih fokus membangun ekosistem pertumbuhan ekonomi inklusif. Daerah ditargetkan untuk bisa mengidentifikasi potensi sumber pertumbuhan serta regulasi yang perlu diselaraskan serta menyiapkan sumber daya yang dibutuhkan.

 

Negara ini tidak kekurangan anak muda hebat. Namun, diperlukan orkestrasi yang memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh. Kepala daerah semestinya tidak lagi melibatkan anak muda sebatas seremoni formal, tapi beralih menjadi partisipasi bermakna. Sebagai digital native yang memiliki kepekaan tinggi terhadap isu global, gen Z harus diberi ruang untuk ikut merancang masa depan daerahnya dan menapaki jalur karier yang sesuai dengan visi Indonesia 2045.

 

Dimulai pada tahun 2022, Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) meluncurkan Youth City Changer. Program ini mempertemukan anak-anak muda kreatif di semua kota di Indonesia dengan kepala daerah. Mereka melakukan simulasi skenario masa depan, merancang program perubahan, dan mengidentifikasi kendala birokratis di kota masing-masing.

 

Banyak talenta di daerah yang memiliki kemampuan teknologi, desain, dan industri kreatif, tapi terhambat akses pada jaringan mentor dan infrastruktur digital. Ada inovator digital yang piawai membuat aplikasi pelayanan publik atau solusi pengelolaan sampah, ada yang menekuni pengolahan limbah dan daur ulang, tetapi semua terbentur dengan kerumitan birokrasi dan akses pendanaan.

 

Sejarah mencatat bahwa pemuda selalu menjadi aktor utama dalam setiap babak yang menentukan perjalanan bangsa. Gen Z hari ini akan menempati posisi kunci dan pembuat keputusan di usia matang mereka pada tahun 2045. Orkestrasi pemimpin hari ini untuk memberikan ruang dan jalan bagi pemimpin masa depan akan sangat menentukan format masa depan yang diinginkan bersama. Orkestrasi yang tentu dibangun di atas tatanan pemerintahan yang inklusif dan kolaboratif. ●

 

Sumber : https://www.kompas.id/artikel/narasi-dan-orkestrasi-menuju-indonesia-2045?open_from=Artikel_Opini_Page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar