|
Narasi dan Orkestrasi Menuju Indonesia 2045 Bima
Arya Sugianto :
Wakil Menteri Dalam Negeri; Ketua
Asosiasi Pemerintahan Kota Indonesia 2021-2024. |
KOMPAS, 27 Oktober 2026
|
Bagaimana wajah Indonesia 20 tahun lagi? Apakah saat itu bangsa
ini betul-betul tengah menikmati masa keemasannya menjadi salah satu negara
dengan ekonomi terkuat di dunia? Apakah saat ini kita berada dalam jalur yang
benar menuju cita-cita para pendiri bangsa? Apa hal paling mendesak yang
harus dikerjakan para pemimpin di pusat dan daerah hari ini? Dan bagaimana
kita semestinya menyiapkan anak muda, khususnya gen Z, untuk memimpin negara
ini pada saatnya nanti? Ketika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, ingatan saya
kemudian melayang ke peristiwa 18 tahun yang lalu di Singapura. Saat itu,
Rajaratnam School of International Studies Nanyang Technological University
mengundang 18 sosok muda Indonesia yang dianggap memiliki potensi untuk
menjadi pemimpin masa depan. Para peserta antara lain Anies Baswedan, Usman
Hamid, Zainal Arifin Mochtar, Budiman Sudjatmiko, Andi Widjajanto, Yuddy
Chrisnandi, Purbaya Sadewa, Ray Rangkuti, Robertus Robert, Zuhairi Misrawi, dan
saya sendiri yang kala itu memimpin The Lead Institute Paramadina. Usia kami saat itu 30 sampai awal 40 tahun. Selama sekitar satu
minggu kami tidak saja bertukar gagasan tentang Indonesia masa depan, tetapi
juga dikenalkan konsep-konsep mendasar dari studi masa depan (future studies)
dengan dipandu oleh Profesor Leonard Sebastian dan Profesor Sohail
Inayatullah, seorang pakar studi masa depan dari Tamkang University, Taiwan. Hari-hari yang sangat menarik. Pemikiran-pemikiran ideal kami
tentang masa depan Indonesia dibenturkan dengan teori-teori studi masa depan.
Satu hal yang sangat mengguncangkan adalah ketika kami disadarkan bahwa masa
depan yang kita cita-citakan bisa jadi sesungguhnya adalah tipe masa depan
yang justru harus dihindari. Ada masa depan yang kedaluwarsa (used future),
artinya masa depan yang pernah dialami oleh negara lain, tetapi kemudian
terbukti sudah usang. Itu terjadi ketika suatu bangsa secara tragis meniru trajektori
kegagalan negara lain. Ada masa depan bawaan (default future) atau masa depan
yang otomatis akan terjadi apabila suatu negara terjebak pada kebiasaan lama
dan gagal melakukan perubahan yang dibutuhkan. Ada juga disowned future atau
masa depan yang diabaikan, ketika suatu negara ternyata salah mengejar
prioritas dan mengabaikan hal yang lebih penting dan berujung pada
kehancuran. Prof Sohail mengenalkan kepada kami kerangka teoretis untuk
membebaskan kita dari jebakan perulangan masa lalu dan cara berpikir linier
untuk kemudian mampu membangun narasi bersama dan memetakan berbagai skenario
alternatif masa depan. Kami diminta dengan jeli untuk melakukan pemetaan
kondisi saat itu. Mulai dari membaca tren dunia, menganalisis pola perubahan
yang pernah terjadi, sampai kemudian menyusun beberapa alternatif skenario
masa depan untuk menentukan mana yang paling diinginkan. Kemudian kami diminta bergerak mundur dari visi masa depan itu
untuk merancang langkah yang harus dilakukan hari ini. Bagian yang juga
sangat penting adalah merancang orkestrasi dan mengatur peran kita dalam
skenario masa depan tersebut. Bagaimana sejarah kemudian mencatat peran kita
masing-masing dalam narasi besar menjemput masa depan yang diinginkan. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata saat itu kami cenderung untuk lebih mudah sepakat atas
narasi besar skenario yang diinginkan, tetapi kesulitan untuk merancang
orkestrasi yang harus dimainkan. Cepat untuk menyebut tujuan, tetapi alot
dalam membagi peran. Padahal, setelah menentukan titik yang dituju di masa
depan, para pemimpin masa depan harus mampu untuk menarik mundur dan
menyelaraskan strategi yang dipilih dengan peran yang diambil. Hampir semua
peserta berpikir dengan lebih keras untuk memutuskan peran yang masing-masing
ambil dalam rancangan skenario masa depan tersebut. Menentukan dan berbagi
peran adalah juga kunci sukses membangun orkestrasi skenario masa depan. Singkatnya, dalam studi masa depan, dua hal menjadi variabel
utama untuk menentukan arah masa depan, yaitu narasi dan orkestrasi. Narasi
adalah skenario untuk menggambarkan berbagai kemungkinan masa depan untuk
membentuk masa depan yang diinginkan, sedangkan orkestrasi adalah keselarasan
dari peran yang dimainkan. Di masa Orde Baru, narasi yang sangat lekat kepada publik adalah
”era tinggal landas”, fase ketika Indonesia diperkirakan mulai meninggalkan
status negara berkembang menuju kemandirian industri. Narasi ini terhenti
akibat krisis moneter 1997 yang diiringi dengan jatuhnya pemerintahan Orde
Baru. Hari ini kita memiliki narasi kuat yang menggambarkan tujuan dan
peluang masa depan, yaitu Indonesia Emas 2045. Narasi ini adalah kombinasi
dari momentum 100 tahun kemerdekaan Indonesia dan proyeksi perkembangan
ekonomi Indonesia dari beberapa lembaga dunia yang kredibel, seperti McKinsey
Global Institute dan Goldman Sachs. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan
Ekonomi (OECD) memperkirakan ekonomi Indonesia dapat mencapai 8,89 triliun
dolar AS dan masuk dalam jajaran empat ekonomi terbesar di dunia pada 2045. Narasi ini menemukan kekuatannya ketika dipadankan dengan
momentum bonus demografi yang dinikmati Indonesia saat ini dan absen dari
diskusi 18 tahun lalu di Singapura. Hari ini, sekitar 70 persen penduduk
Indonesia berada di usia produktif. Apabila kemudian kita gagal mengolah
bonus demografi ini, maka kita akan terjebak dalam status negara
berpendapatan menengah (middle-income trap). Bank Dunia mencatat bahwa sejak
1990-an hanya 34 negara yang lolos menjadi negara berpenghasilan tinggi.
Sebanyak 108 negara gagal naik kelas. Negara dengan pendapatan per kapita 23.000 dolar AS-30.300 dolar
AS dengan tingkat kemiskinan 0,5-0,8 persen dan emisi nol bersih dalam waktu
20 tahun adalah masa depan yang diinginkan. Namun, pertumbuhan ekonomi yang
tinggi dengan kehancuran ekologis adalah masa depan yang terabaikan. Negara
dengan kemegahan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di berbagai sudut
kota pada saatnya nanti mungkin hanya akan menjelma menjadi masa depan
kedaluwarsa ketika moda produksi bergeser mengikuti digitalisasi dan akal
imitasi. Astacita adalah strategi yang dirancang pemerintahan
Prabowo-Gibran untuk menuntun bangsa ini menuju masa depan yang diinginkan
dengan menyandingkan pertumbuhan ekonomi inklusif dan keseimbangan ekologi.
Ini berarti strategi pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan pemerataan
pendapatan dan perluasan akses serta kesempatan. Menciptakan lapangan kerja di sektor formal menjadi sangat
penting. Saat ini 60 persen pekerja di Indonesia berada di sektor informal.
Hal ini adalah cerminan kerentanan kemiskinan yang tinggi karena kurangnya
penyerapan dan ketersediaan lapangan kerja formal yang layak. Pengecualian
terjadi di Kota Batam, di mana hampir 70 persen pekerja ada di sektor formal,
di bidang industri manufaktur, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,28 pada
semester I tahun 2026. Namun, tentu pesatnya laju sektor formal di bidang
industri berpotensi untuk mengarah pada masa depan yang terabaikan karena
potensi kerusakan lingkungan di masa depan. Untuk itu, pemerintah telah mengidentifikasi transisi menuju
ekonomi hijau dengan membuka peluang bagi lapangan kerja yang dibutuhkan.
Data dari Bappenas menunjukkan prospek kesempatan kerja bagi pekerjaan hijau
(green job) atau pekerjaan ramah lingkungan, yaitu pekerjaan yang secara
langsung atau tidak langsung berkontribusi terhadap perlindungan atau
pemulihan lingkungan serta mendorong penggunaan sumber daya yang ramah
lingkungan. Ada 8 juta-13 juta potensi pekerjaan hijau dan akan berkembang
menjadi 72 juta menuju tahun 2029 dan akan berkontribusi untuk pertumbuhan
ekonomi 7 persen per tahun pada 2030. Pekerjaan di bidang pengelolaan limbah,
pertanian organik, transportasi dan pariwisata berkelanjutan, dan yang
berkaitan dengan energi terbarukan akan sangat dibutuhkan ke depan. Sejumlah survei juga menunjukkan tingginya minat gen Z terhadap
isu perubahan iklim dan pekerjaan hijau. Namun, saat ini ketersediaan
pekerjaan hijau tidak merata. Keselarasan antara skenario pusat dan daerah
menjadi amat penting. Para gubernur, bupati, dan wali kota dihadapkan pada
tantangan yang tidak mudah untuk merancang tiga hal sekaligus, yaitu
membangun ekosistem pertumbuhan ekonomi inklusif dalam keseimbangan ekologi,
mengolah bonus demografi, dan menciptakan lapangan kerja hijau di daerahnya
masing-masing. Data menunjukkan bahwa periode bonus demografi berbeda-beda di
setiap daerah. Di provinsi seperti Aceh, Riau, Jawa Barat, Banten, Kalimantan
Barat, dan Sulawesi Tenggara, bonus demografi akan berakhir di atas tahun
2040. Sementara di provinsi seperti Sumatera Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, Bali, dan Sulawesi Barat, menyusutnya usia produktif akan terjadi
sebelum tahun 2030. Semua kepala daerah berpacu dengan waktu untuk menjemput momentum
bonus demografi ini dengan menyiapkan anak-anak muda untuk memasuki lapangan
pekerjaan yang diciptakan dengan keahlian yang dibutuhkan di lapangan kerja
hijau. Kepala daerah harus cekatan membangun kolaborasi antara lembaga
pendidikan, dunia industri, dan korporasi. Diperlukan orkestrasi Indonesia Incorporated—istilah yang
digaungkan oleh Presiden Prabowo—yaitu orkestrasi semua lini untuk
menyelaraskan skenario strategi lintas sektor, regulasi, pembiayaan, dan
sumber daya untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.
Saat ini, Kementerian Dalam Negeri bersama dengan Bappenas dan Badan Pusat
Statistik berkolaborasi untuk mendorong pemerintah daerah lebih fokus
membangun ekosistem pertumbuhan ekonomi inklusif. Daerah ditargetkan untuk
bisa mengidentifikasi potensi sumber pertumbuhan serta regulasi yang perlu
diselaraskan serta menyiapkan sumber daya yang dibutuhkan. Negara ini tidak kekurangan anak muda hebat. Namun, diperlukan
orkestrasi yang memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh. Kepala daerah
semestinya tidak lagi melibatkan anak muda sebatas seremoni formal, tapi
beralih menjadi partisipasi bermakna. Sebagai digital native yang memiliki
kepekaan tinggi terhadap isu global, gen Z harus diberi ruang untuk ikut
merancang masa depan daerahnya dan menapaki jalur karier yang sesuai dengan
visi Indonesia 2045. Dimulai pada tahun 2022, Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh
Indonesia (Apeksi) meluncurkan Youth City Changer. Program ini mempertemukan
anak-anak muda kreatif di semua kota di Indonesia dengan kepala daerah.
Mereka melakukan simulasi skenario masa depan, merancang program perubahan,
dan mengidentifikasi kendala birokratis di kota masing-masing. Banyak talenta di daerah yang memiliki kemampuan teknologi,
desain, dan industri kreatif, tapi terhambat akses pada jaringan mentor dan
infrastruktur digital. Ada inovator digital yang piawai membuat aplikasi
pelayanan publik atau solusi pengelolaan sampah, ada yang menekuni pengolahan
limbah dan daur ulang, tetapi semua terbentur dengan kerumitan birokrasi dan
akses pendanaan. Sejarah mencatat bahwa pemuda selalu menjadi aktor utama dalam
setiap babak yang menentukan perjalanan bangsa. Gen Z hari ini akan menempati
posisi kunci dan pembuat keputusan di usia matang mereka pada tahun 2045.
Orkestrasi pemimpin hari ini untuk memberikan ruang dan jalan bagi pemimpin
masa depan akan sangat menentukan format masa depan yang diinginkan bersama.
Orkestrasi yang tentu dibangun di atas tatanan pemerintahan yang inklusif dan
kolaboratif. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/narasi-dan-orkestrasi-menuju-indonesia-2045?open_from=Artikel_Opini_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar