Selasa, 27 Oktober 2026

 

Dugaan Injak Kaki Akuisisi Bayan

Bagja Hidayat :  Wakil Pemimpin Redaksi Tempo

TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026

 

 

                                                           

ADA persepsi yang kurang pas mengenai cara orang Indonesia memakai kata “oligarki” dalam percakapan. Di media sosial, warganet cenderung merujuk oligark pada orang kaya, konglomerat yang menguasai sumber daya alam.

 

Dalam kajian politik, oligark bukan semata orang-orang dengan banyak harta. Orang kaya menjadi bagian oligark jika dengan uang dan pengaruhnya mengendalikan kekuasaan dalam pembuatan kebijakan publik. Dalam konteks Indonesia, mereka yang memiliki akses ke sumber daya alam biasanya punya akses juga ke kekuasaan.

 

Tapi menyamakan oligark semata orang kaya hanya mempersempit maknanya. Istilah ini berasal dari Yunani kuno, oligos yang berarti sedikit dan arkhein yang mengacu pada pemerintahan. Jadi oligarki adalah kekuasaan yang berpusat pada segelintir orang. Aristoteles membedakan pemerintahan yang mengatur kepentingan bersama dengan pemerintahan yang dijalankan untuk kepentingan penguasa.

 

Pengertian yang kedua juga mengandung dimensi ekonomi: pengusaha mengendalikan penguasa untuk kepentingan bisnisnya. Dalam perkembangan politik modern, orang kaya ataupun penguasa bisa saling memanfaatkan. Penguasa bisa juga memakai pengusaha sebagai kedok dalam mengakumulasikan kekayaan melalui penguasaan sumber daya alam.

 

Selain oligarki, istilah “state-capture corruption”, pembajakan kebijakan publik untuk kepentingan sekelompok orang, sering kita dengar hari-hari ini. Korupsi di sini adalah penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan orang banyak. Jadi oligark adalah pelakunya, state-capture corruption adalah skemanya. Celakanya, keduanya menguat di era demokrasi modern.

 

Untuk memahami lebih jauh keduanya, kita bisa menonton kembali film Chinatown yang dirilis pada 1974. Dalam film karya Roman Polanski ini, Jack Nicholson berperan sebagai Jake Gittes, detektif yang berpengalaman mengusut perselingkuhan orang-orang kaya. Suatu kali ia mendapat order menyelidiki dugaan perselingkuhan Hollis Mulwray, Kepala Departemen Urusan Air Los Angeles. Orang yang memintanya tak lain istri Mulwray sendiri, Evelyn.

 

Gittes mendapatkan bukti-bukti perselingkuhan Mulwray dan fotonya menyebar di koran lokal. Reputasi Mulwray pun jatuh. Tapi film ini tak berhenti di situ. Evelyn ternyata palsu. Ia perempuan yang mengaku-aku sebagai Evelyn untuk menjatuhkan reputasi Mulwray. Ketika Gittes bertemu dengan Evelyn yang asli, Mulwray sudah meninggal karena dibunuh.

 

Gittes mencium perkara lebih besar, yakni skandal politik-ekonomi mengendalikan Los Angeles. Kota di Amerika Serikat ini tengah mengalami kekeringan karena sumber air dibuang ke laut secara diam-diam. Lahan-lahan pertanian pun meranggas. Para petani yang kehabisan modal menjual tanah mereka dengan harga murah. Pembelinya adalah konglomerat Noah Cross.

 

Cross rupanya yang merancang semua ini. Gittes menyimpulkan ia membunuh Mulwray karena mencium ulahnya sebagai dalang pembuang air. Mulwray juga menolak membuat bendungan karena menilainya tidak aman. Tapi pengganti Mulwray agaknya menyetujui skema itu. Bendungan akan dibangun dan airnya diarahkan ke area yang sudah dikuasai Cross.

 

Dalam film berlatar 1937 itu, state-capture corruption dijalankan dengan skema modern: orang kaya mengendalikan penguasa, penguasa juga memakai pengusaha dalam memenuhi kepentingan orang banyak. Seperti kata Cross kepada Gittes, ia tengah menyelamatkan masa depan rakyat Los Angeles dari kelaparan akibat gagal panen. Dalih populis ini biasanya menjadi latar—atau diciptakan untuk menopang—state-capture corruption.

 

Konsep kejahatan politik terselubung yang sudah tua ini kita temukan dalam banyak rezim pemerintahan. Kekuasaan, seperti kata sejarawan Lord Acton, memang cenderung korup. Para pemegangnya acap tergoda menyelewengkan mandat besar itu untuk keuntungan diri sendiri, para pendukung, atau kelompoknya.

 

Jika apa yang diceritakan film Chinatown itu terasa relevan, barangkali karena kita sudah lama dan masih terus mengalaminya. Apakah pembelian saham Bayan Resources yang menjadi laporan utama pekan ini menyerupai cara kerja Noah Cross dan pemerintahan Los Angeles? Para ahli ekonomi-politik mesti menyelisiknya lebih dalam. ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-injak-kaki-akuisisi-bayan-2301969

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar