|
Dugaan
Injak Kaki Akuisisi Bayan Bagja Hidayat : Wakil Pemimpin Redaksi Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026
|
ADA
persepsi yang kurang pas mengenai cara orang Indonesia memakai kata
“oligarki” dalam percakapan. Di media sosial, warganet cenderung merujuk
oligark pada orang kaya, konglomerat yang menguasai sumber daya alam. Dalam
kajian politik, oligark bukan semata orang-orang dengan banyak harta. Orang
kaya menjadi bagian oligark jika dengan uang dan pengaruhnya mengendalikan
kekuasaan dalam pembuatan kebijakan publik. Dalam konteks Indonesia, mereka
yang memiliki akses ke sumber daya alam biasanya punya akses juga ke
kekuasaan. Tapi
menyamakan oligark semata orang kaya hanya mempersempit maknanya. Istilah ini
berasal dari Yunani kuno, oligos yang berarti sedikit dan arkhein yang
mengacu pada pemerintahan. Jadi oligarki adalah kekuasaan yang berpusat pada
segelintir orang. Aristoteles membedakan pemerintahan yang mengatur
kepentingan bersama dengan pemerintahan yang dijalankan untuk kepentingan
penguasa. Pengertian
yang kedua juga mengandung dimensi ekonomi: pengusaha mengendalikan penguasa
untuk kepentingan bisnisnya. Dalam perkembangan politik modern, orang kaya
ataupun penguasa bisa saling memanfaatkan. Penguasa bisa juga memakai
pengusaha sebagai kedok dalam mengakumulasikan kekayaan melalui penguasaan
sumber daya alam. Selain
oligarki, istilah “state-capture corruption”, pembajakan kebijakan publik
untuk kepentingan sekelompok orang, sering kita dengar hari-hari ini. Korupsi
di sini adalah penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan orang banyak. Jadi
oligark adalah pelakunya, state-capture corruption adalah skemanya.
Celakanya, keduanya menguat di era demokrasi modern. Untuk
memahami lebih jauh keduanya, kita bisa menonton kembali film Chinatown yang
dirilis pada 1974. Dalam film karya Roman Polanski ini, Jack Nicholson
berperan sebagai Jake Gittes, detektif yang berpengalaman mengusut
perselingkuhan orang-orang kaya. Suatu kali ia mendapat order menyelidiki
dugaan perselingkuhan Hollis Mulwray, Kepala Departemen Urusan Air Los
Angeles. Orang yang memintanya tak lain istri Mulwray sendiri, Evelyn. Gittes
mendapatkan bukti-bukti perselingkuhan Mulwray dan fotonya menyebar di koran
lokal. Reputasi Mulwray pun jatuh. Tapi film ini tak berhenti di situ. Evelyn
ternyata palsu. Ia perempuan yang mengaku-aku sebagai Evelyn untuk
menjatuhkan reputasi Mulwray. Ketika Gittes bertemu dengan Evelyn yang asli,
Mulwray sudah meninggal karena dibunuh. Gittes
mencium perkara lebih besar, yakni skandal politik-ekonomi mengendalikan Los
Angeles. Kota di Amerika Serikat ini tengah mengalami kekeringan karena
sumber air dibuang ke laut secara diam-diam. Lahan-lahan pertanian pun
meranggas. Para petani yang kehabisan modal menjual tanah mereka dengan harga
murah. Pembelinya adalah konglomerat Noah Cross. Cross
rupanya yang merancang semua ini. Gittes menyimpulkan ia membunuh Mulwray
karena mencium ulahnya sebagai dalang pembuang air. Mulwray juga menolak
membuat bendungan karena menilainya tidak aman. Tapi pengganti Mulwray
agaknya menyetujui skema itu. Bendungan akan dibangun dan airnya diarahkan ke
area yang sudah dikuasai Cross. Dalam
film berlatar 1937 itu, state-capture corruption dijalankan dengan skema
modern: orang kaya mengendalikan penguasa, penguasa juga memakai pengusaha
dalam memenuhi kepentingan orang banyak. Seperti kata Cross kepada Gittes, ia
tengah menyelamatkan masa depan rakyat Los Angeles dari kelaparan akibat
gagal panen. Dalih populis ini biasanya menjadi latar—atau diciptakan untuk
menopang—state-capture corruption. Konsep
kejahatan politik terselubung yang sudah tua ini kita temukan dalam banyak
rezim pemerintahan. Kekuasaan, seperti kata sejarawan Lord Acton, memang
cenderung korup. Para pemegangnya acap tergoda menyelewengkan mandat besar
itu untuk keuntungan diri sendiri, para pendukung, atau kelompoknya. Jika apa
yang diceritakan film Chinatown itu terasa relevan, barangkali karena kita
sudah lama dan masih terus mengalaminya. Apakah pembelian saham Bayan
Resources yang menjadi laporan utama pekan ini menyerupai cara kerja Noah
Cross dan pemerintahan Los Angeles? Para ahli ekonomi-politik mesti
menyelisiknya lebih dalam. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-injak-kaki-akuisisi-bayan-2301969 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar