|
Riset dan Teknologi Pacu Pengembangan
Industrialisasi Indonesia Maria
Adelina Puspaningrum : Jurnalis
Kompas |
KOMPAS, 26 Oktober 2026
|
Inovasi teknologi Indonesia harus didukung riset dan pengembangan
berkelanjutan di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan akal
imitasi. Upaya tersebut dinilai penting untuk mendorong industrialisasi dan
membantu Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah. Hal ini mengemuka dalam Danantara Technology Innovation
Investment Forum (DTIIF) pada hari pertama penyelenggaraannya di Hotel
Fairmont Jakarta, pada Senin (26/10/2026). Dean and Chief Executive Officer Asian Development Bank Institute
(ABDI) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyatakan, model pertumbuhan
ekonomi di negara-negara ASEAN harus didasarkan pada adaptasi teknologi,
terutama dengan akal imitasi (AI) untuk menghasilkan nilai tambah lebih
tinggi. Menurut Bambang, perubahan geopolitik dan geoekonomi telah
mengubah tata perdagangan, investasi, dan rantai pasok global. Di tengah
situasi ini, Indonesia menghadapi tantangan berbeda untuk mengembangkan
industri dan meningkatkan daya saing ekonomi. Bambang menilai, adaptasi teknologi perlu dilakukan tidak hanya
di sektor manufaktur. Lebih jauh, adaptasi teknologi perlu dilakukan pada
sektor pertanian dan jasa. Upaya itu harus didukung oleh riset dan
pengembangan (research and development) dan inovasi untuk menambah nilai produk dan layanan. Untuk itu, forum tersebut berupaya menghubungkan berbagai pihak
Universitas, pengembang teknologi, dan investor untuk bersinergi bersama.
Tujuan utamanya adalah agar terjadi hilirisasi riset dan pengembangan
teknologi. ”Meski kita jauh tertinggal dari negara-negara lain di Asia, saat
ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk mendongkrak inovasi
teknologi melalui riset dan pengembangan (research and development),” ujar
Bambang. Managing Director Chief Economist Danantara Indonesia Reza Yamora
Siregar yang juga hadir dalam forum itu menekankan pentingnya pertumbuhan teknologi
berkelanjutan. Energi dan sumber daya di Indonesia merupakan kelebihan negara
Indonesia yang dapat menjadi sumber pertumbuhan berkelanjutan. Upaya ini terutama didorong oleh komitmen pemerintah terhadap
energi terbarukan yang pertumbuhannya sangat pesat. Sebagai contoh,
pertumbuhan cepat ini dapat dilihat dengan meningkatnya kendaraan listrik di
Indonesia. Perkembangan digital perangkat keras di Indonesia berupa pusat
data, komputasi awan, dan e-commerce juga memainkan peran besar di Asia
Tenggara dan Asia. Karena itu, posisi pusat data amat penting sebagai bagian
dari infrastruktur. Lebih lanjut, ia menekankan, untuk mengembangkan inovasi,
perlu adanya kolaborasi lintas sektor. Manfaat kecerdasan buatan Bambang juga menekankan memanfaatkan kecerdasan buatan atau akal
imitasi (AI) dalam memudahkan pengembangan teknologi dan industri.
Berdasarkan laporan Bank Dunia, dampak nyata dari kehadiran teknologi
internet dan komputer membutuhkan waktu sekitar satu hingga dekade. Sebaliknya, kehadiran AI membawa dampak yang lebih pesat dalam
waktu kurang dari satu dekade. Oleh karena itu, Bambang menekankan,
masyarakat perlu bersiap untuk hidup berdampingan dengan teknologi tersebut. Namun, tantangan yang kita hadapi bukan sekadar kehadiran
kecerdasan buatan. Lebih dari itu, Indonesia kerap mengalami kegagalan
inovasi teknologi akibat terjebak pada pendapatan menengah. Untuk itu, mereka
menekankan perlu ada revitalisasi industri menuju produksi lebih bernilai
tambah, salah satunya adalah industrialisasi teknologi. Bambang kembali menekankan bahwa deindustrialisasi di Indonesia
masih prematur. Indonesia sering kali mengalami kegagalan inovasi akibat
masih terjebak pada pendapatan menengah. Padahal sebelumnya Indonesia telah mengalami infusi ekonomi, di
mana negara kita mampu melakukan transformasi struktural dari sektor primer
pertanian dan pertambangan ke sektor manufaktur. Keberhasilan ini dicapai
Indonesia pada tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Saat itu Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi
sebesar 8 persen pada tahun 1994-1995 karena transformasi ke sektor
manufaktur. Namun, saat itu yang terjadi adalah transformasi manufaktur padat
karya. Setelah terjadi krisis keuangan di negara-negara Asia, Indonesia
turut mengalami industrialisasi prematur. Krisis ini telah menghancurkan
sebagian sektor manufaktur. Selain itu, deindustrialisasi terjadi karena
adanya booming komoditas sumber daya alam. ”Kita tiba-tiba mengalami semacam amnesia singkat bahwa kita adalah
negara industri, karena Indonesia tiba-tiba beralih ke sektor minyak dan gas,
terutama minyak sawit dan batubara,” ujar Bambang. Berikutnya, pada tahun 2001, terjadi guncangan global di mana
China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade
Organization/WTO). Hal ini berdampak pada persaingan industri manufaktur global,
termasuk bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Rantai industri
menjadi terdampak, tidak hanya pada produk, tetapi juga pada rantai pasokan. ”Jadi, itulah periode yang membuat Indonesia tidak pernah
benar-benar menyadari sektor manufaktur setelah krisis keuangan Asia.
Bagaimana kita dapat mendukung Indonesia sebagai negara yang lebih
terindustrialisasi?” ungkapnya. Bambang menekankan, peningkatan produktivitas melalui teknologi
harus berjalan beriringan dengan transisi menuju energi bersih, tanpa
mengabaikan keterjangkauan dan keandalan pasokan listrik bagi industri. Ia juga menyoroti langkah Jepang yang kembali mendorong
investasi, khususnya di bidang pusat data dan kecerdasan buatan (AI), di
tengah perubahan rantai pasok global. Bambang menyatakan, keberhasilan negara-negara menghindari
jebakan pendapatan menurut laporan pembangunan Bank Dunia pada tahun 2024
didasarkan pada tiga hal, yaitu investasi, suntikan dana, dan inovasi. Investasi akan sangat membantu ketika negara kita masih
berpenghasilan rendah dan mencoba untuk meningkatkan ke level ekonomi
menengah bawah. Selanjutnya, ketika ekonomi negara bergerak dari tingkat
menengah ke pendapatan tinggi, yang perlu ditekankan, yakni inovasi. Di balik pentingnya pengembangan industri dan manufaktur, Menteri
Keuangan Suahasil Nazara yang juga turut hadir dalam forum, menekankan
pentingnya pembangunan sumber daya manusia. Suahasil menyatakan, Indonesia memiliki dua kekuatan utama, yaitu
manusia dan kekayaan alam. Ada lima hal yang harus secara konsisten negara
kita lakukan, pertama adalah pengembangan sumber daya manusia. ”Semua yang kita lakukan, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) maupun non-APBN, adalah menggalang dana untuk masyarakat dalam
sektor pendidikan dan kesehatan,” ujarnya. Suahasil menyatakan, belanja Kementerian Keuangan yang terbesar
adalah memberi makan kepada masyarakat dan pendidikan. Sebab, infrastruktur
sosial berupa pembangunan SDM merupakan hal dasar yang harus dipenuhi. Jika
warga terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, serta terbebas dari stunting
atau tengkes, itu menunjang pembangunan lainnya. Selain itu, Suahasil menekankan pentingnya pembangunan
infrastruktur. Pembangunan infrastruktur tak sepenuhnya harus dibiayai
negara, tetapi negara berperan penting dalam penyediaannya. Selain itu,
penguatan institusi penting untuk mewujudkan tata kelola negara yang baik,
dinamis, dan berkeadilan. ”Reformasi struktural adalah soal bagaimana cara kita bekerja dan
bagaimana keterkaitan antara satu institusi dengan institusi lain,” ujar
Suahasil menegaskan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas sebagai
bagian dari keberlanjutan pembangunan ekonomi. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/riset-dan-teknologi-pacu-pengembangan-industrialisasi-indonesia?open_from=Sains_&_Teknologi_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar