Selasa, 27 Oktober 2026

 

Bagaimana Demonstrasi Prancis Meluas ke Eropa

Savero Aristia Wienanto :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  26 Oktober 2026

 

 

 

·      Demonstrasi yang berlangsung secara bergelombang di Prancis menular ke negara-negara tetangganya.

 

·      Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi-aksi terpisah di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal.

 

·      Demo di Prancis dapat meluas ke negara-negara Eropa lain karena masyarakat menghadapi persoalan serupa.

 

DDEMONSTRASI yang bermula dari ruang-ruang kelas di Prancis menjalar ke jalanan sejumlah negara Eropa. Pada 17 Oktober 2026, ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi-aksi terpisah di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal. Tuntutan mereka beragam, tapi bertemu pada satu persoalan: biaya hidup yang makin sulit dijangkau.

 

Al Jazeera mencatat demonstrasi di negara-negara tersebut berlangsung secara terpisah dan tidak terkoordinasi sebagai satu gerakan. Meski begitu, kesamaan tuntutan memperlihatkan bagaimana ketidakpuasan di satu negara dapat bergaung di negara tetangganya.

 

Di Prancis, demonstrasi bermula pada pertengahan September 2026 ketika para pelajar sekolah menengah memprotes ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, serta buruknya fasilitas pendidikan. Menurut laporan Reuters, lebih dari 330 sekolah menengah terkena dampak aksi pemblokiran sekolah ketika itu.

 

Tuntutan para pelajar kemudian melampaui persoalan pendidikan. Aksi mereka bertemu dengan keresahan pekerja, petani, orang tua, dan kelompok masyarakat lain yang menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari serta kekhawatiran terhadap berkurangnya layanan publik. Pada 17 Oktober 2026, gerakan Yellow Vests—yang sebelumnya mengguncang Prancis pada 2018 akibat kenaikan harga bahan bakar—ikut bergabung dalam mobilisasi massa.

 

Pemerintah Prancis, menurut laporan Al Jazeera, memperkirakan sekitar 550 ribu orang mengikuti demonstrasi di seluruh negeri pada hari itu. Sebagian aksi berujung bentrokan, pembakaran, dan penjarahan.

 

Keluhan yang Melampaui Batas Negara

 

Meluasnya aksi di Prancis tak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi yang juga dirasakan masyarakat Eropa lain.

 

Kenaikan harga energi dan bahan bakar memperberat pengeluaran rumah tangga. Sementara itu, upah, akses perumahan, serta mutu layanan publik menjadi sumber ketidakpuasan.

 

Dalam laporan Reuters disebutkan kenaikan harga energi akibat perang Amerika Serikat-Iran disebut menambah tekanan terhadap pemerintah negara-negara Eropa yang telah berupaya mengendalikan inflasi dan pengeluaran negara. Dampaknya tidak seragam di setiap negara, tapi keresahan terhadap daya beli muncul sebagai persoalan bersama.

 

Kondisi itu menjelaskan mengapa demonstrasi Prancis dapat menjadi rujukan bagi kelompok masyarakat di negara lain. Ketika pelajar Prancis mempersoalkan kualitas pendidikan dan masa depan mereka, pelajar di negara tetangga menghadapi persoalan yang mirip. Ketika pekerja Prancis menuntut upah yang memadai, pekerja di tempat lain pun bergulat dengan biaya hidup yang meningkat.

 

Bukti pengaruh langsung terlihat di Belgia. Pada 7 Oktober 2026, ratusan pelajar turun ke jalan di Liège untuk memprotes biaya pendidikan dan persoalan akses terhadap universitas. Sebagian dari mereka mengaku terinspirasi oleh aksi pelajar di Prancis dan tetap berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka di seberang perbatasan. Salah satu pemicu aksi adalah rencana kenaikan biaya kuliah bagi sebagian mahasiswa di komunitas berbahasa Prancis di Belgia, dari 835 euro menjadi 1.194 euro.

 

Media sosial ikut mempercepat pergerakan informasi. Foto, rekaman bentrokan, seruan demonstrasi, dan liputan media internasional membuat aksi di sebuah kota mudah diketahui oleh anak muda di negara lain.

 

Satu Gelombang, Beda Pemicu

 

Di Italia dan Portugal, demonstrasi besar juga berlangsung pada 17 Oktober, tapi tuntutan utamanya berkaitan dengan persoalan domestik. Di Milan, aksi yang mulanya berlangsung menentang perang dan kenaikan biaya hidup berubah menjadi bentrokan dengan polisi. Sementara itu, puluhan ribu orang di Lisbon memprotes upah rendah, mahalnya perumahan, dan tekanan biaya hidup.

 

Di Spanyol, keresahan terhadap perumahan juga memicu mobilisasi massa. Menurut laporan Guardian, ribuan orang berunjuk rasa di Madrid setelah pengusiran seorang perempuan 87 tahun dari rumahnya yang mengobarkan kemarahan terkait dengan kelangkaan tempat tinggal dan kenaikan harga sewa.

 

Alberto Alemanno, profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, mengatakan sejumlah aksi di Eropa memperlihatkan tanda-tanda meluasnya ketidakpuasan di luar Prancis. Namun, menurut dia, aksi-aksi itu bukan satu gerakan tunggal.

 

Ada tuntutan bersama, antara lain pendidikan yang kekurangan pendanaan, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian masa depan anak muda. “Prancis adalah pusat dari gerakan ini… dan sekarang ada tanda-tanda bahwa gerakan ini menyebar ke luar Prancis,” tutur Alemanno seperti dikutip dari Al Jazeera.

 

Pemicu Demonstrasi di Eropa

 

Farhan Abdul Majiid, dosen hubungan internasional Universitas Islam Indonesia, menilai demonstrasi di Prancis dapat meluas ke negara-negara Eropa lain karena masyarakat menghadapi persoalan serupa. Menurut dia, penyebaran gerakan tersebut dipengaruhi oleh dua hal: kesamaan ketidakpuasan terhadap pemerintah dan inspirasi dari aksi yang berlangsung lebih dulu di negara lain.

 

Menurut Farhan, demonstrasi besar di negara-negara Eropa dipicu oleh berbagai faktor. “Mereka juga merasakan kenaikan harga BBM yang makin mencekik sehingga harga-harga kebutuhan lain pun makin meroket. Selain itu, karena terinspirasi dari gerakan di Prancis, akhirnya juga ikut melebar ke mana-mana,” kata pakar politik Eropa itu saat dihubungi Tempo pada Jumat, 23 Oktober 2026.

 

Kenaikan harga bahan bakar, Farhan meneruskan, menjadi salah satu faktor yang mempertemukan ketidakpuasan masyarakat di berbagai negara. Kenaikan biaya energi dapat merembet ke harga barang dan jasa karena bahan bakar digunakan dalam kegiatan produksi serta distribusi.

 

Kelompok masyarakat yang berbeda juga merasakan dampak yang beragam. Nelayan dan petani, misalnya, menghadapi kenaikan biaya operasional. Buruh dan pekerja perkotaan lebih langsung merasakan tekanan biaya transportasi, kebutuhan pokok, serta perumahan. Sementara itu, pelajar mempersoalkan keterbatasan sumber daya sekolah dan biaya pendidikan.

 

Menurut Farhan, kesamaan pengalaman tersebut membuat ketidakpuasan di suatu negara dapat menemukan gaung di negara lain. Demonstrasi yang berlangsung di Prancis menjadi contoh bahwa aksi warga dapat berkembang dari tuntutan sektoral menuju kritik yang lebih luas terhadap pemerintah.

 

Farhan mengatakan tradisi demonstrasi di Eropa juga membantu menjelaskan mengapa gerakan protes dapat muncul dan berlanjut di berbagai negara. Masyarakat, menurut dia, memandang demonstrasi sebagai salah satu cara untuk menekan pemerintah agar memperhatikan tuntutan mereka.

 

“Karena memprotes itu adalah bagian dari hak mereka. Dan mereka sadar bahwa mereka punya hak tersebut sebagai warga negara,” ujar peraih gelar magister dari Florence School of Transnational Governance, European University Institute, Italia, tersebut. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/internasional/demonstrasi-prancis-meluas-ke-eropa-2302059

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar