|
Bagaimana Demonstrasi Prancis
Meluas ke Eropa Savero Aristia Wienanto : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 26 Oktober 2026
|
· Demonstrasi yang berlangsung secara
bergelombang di Prancis menular ke negara-negara tetangganya. · Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam
aksi-aksi terpisah di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal. · Demo di Prancis dapat meluas ke
negara-negara Eropa lain karena masyarakat menghadapi persoalan serupa. DDEMONSTRASI
yang bermula dari ruang-ruang kelas di Prancis menjalar ke jalanan sejumlah
negara Eropa. Pada 17 Oktober 2026, ratusan ribu orang turun ke jalan dalam
aksi-aksi terpisah di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal. Tuntutan mereka
beragam, tapi bertemu pada satu persoalan: biaya hidup yang makin sulit
dijangkau. Al
Jazeera mencatat demonstrasi di negara-negara tersebut berlangsung secara
terpisah dan tidak terkoordinasi sebagai satu gerakan. Meski begitu, kesamaan
tuntutan memperlihatkan bagaimana ketidakpuasan di satu negara dapat bergaung
di negara tetangganya. Di
Prancis, demonstrasi bermula pada pertengahan September 2026 ketika para
pelajar sekolah menengah memprotes ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan
guru, serta buruknya fasilitas pendidikan. Menurut laporan Reuters, lebih
dari 330 sekolah menengah terkena dampak aksi pemblokiran sekolah ketika itu. Tuntutan
para pelajar kemudian melampaui persoalan pendidikan. Aksi mereka bertemu
dengan keresahan pekerja, petani, orang tua, dan kelompok masyarakat lain
yang menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari serta kekhawatiran
terhadap berkurangnya layanan publik. Pada 17 Oktober 2026, gerakan Yellow
Vests—yang sebelumnya mengguncang Prancis pada 2018 akibat kenaikan harga
bahan bakar—ikut bergabung dalam mobilisasi massa. Pemerintah
Prancis, menurut laporan Al Jazeera, memperkirakan sekitar 550 ribu orang
mengikuti demonstrasi di seluruh negeri pada hari itu. Sebagian aksi berujung
bentrokan, pembakaran, dan penjarahan. Keluhan
yang Melampaui Batas Negara Meluasnya
aksi di Prancis tak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi yang juga dirasakan
masyarakat Eropa lain. Kenaikan
harga energi dan bahan bakar memperberat pengeluaran rumah tangga. Sementara
itu, upah, akses perumahan, serta mutu layanan publik menjadi sumber
ketidakpuasan. Dalam
laporan Reuters disebutkan kenaikan harga energi akibat perang Amerika
Serikat-Iran disebut menambah tekanan terhadap pemerintah negara-negara Eropa
yang telah berupaya mengendalikan inflasi dan pengeluaran negara. Dampaknya
tidak seragam di setiap negara, tapi keresahan terhadap daya beli muncul
sebagai persoalan bersama. Kondisi
itu menjelaskan mengapa demonstrasi Prancis dapat menjadi rujukan bagi
kelompok masyarakat di negara lain. Ketika pelajar Prancis mempersoalkan
kualitas pendidikan dan masa depan mereka, pelajar di negara tetangga
menghadapi persoalan yang mirip. Ketika pekerja Prancis menuntut upah yang
memadai, pekerja di tempat lain pun bergulat dengan biaya hidup yang
meningkat. Bukti
pengaruh langsung terlihat di Belgia. Pada 7 Oktober 2026, ratusan pelajar
turun ke jalan di Liège untuk memprotes biaya pendidikan dan persoalan akses
terhadap universitas. Sebagian dari mereka mengaku terinspirasi oleh aksi
pelajar di Prancis dan tetap berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka di
seberang perbatasan. Salah satu pemicu aksi adalah rencana kenaikan biaya
kuliah bagi sebagian mahasiswa di komunitas berbahasa Prancis di Belgia, dari
835 euro menjadi 1.194 euro. Media
sosial ikut mempercepat pergerakan informasi. Foto, rekaman bentrokan, seruan
demonstrasi, dan liputan media internasional membuat aksi di sebuah kota
mudah diketahui oleh anak muda di negara lain. Satu
Gelombang, Beda Pemicu Di
Italia dan Portugal, demonstrasi besar juga berlangsung pada 17 Oktober, tapi
tuntutan utamanya berkaitan dengan persoalan domestik. Di Milan, aksi yang
mulanya berlangsung menentang perang dan kenaikan biaya hidup berubah menjadi
bentrokan dengan polisi. Sementara itu, puluhan ribu orang di Lisbon
memprotes upah rendah, mahalnya perumahan, dan tekanan biaya hidup. Di
Spanyol, keresahan terhadap perumahan juga memicu mobilisasi massa. Menurut
laporan Guardian, ribuan orang berunjuk rasa di Madrid setelah pengusiran
seorang perempuan 87 tahun dari rumahnya yang mengobarkan kemarahan terkait
dengan kelangkaan tempat tinggal dan kenaikan harga sewa. Alberto
Alemanno, profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business
School, mengatakan sejumlah aksi di Eropa memperlihatkan tanda-tanda
meluasnya ketidakpuasan di luar Prancis. Namun, menurut dia, aksi-aksi itu
bukan satu gerakan tunggal. Ada
tuntutan bersama, antara lain pendidikan yang kekurangan pendanaan, kenaikan
biaya hidup, dan ketidakpastian masa depan anak muda. “Prancis adalah pusat
dari gerakan ini… dan sekarang ada tanda-tanda bahwa gerakan ini menyebar ke
luar Prancis,” tutur Alemanno seperti dikutip dari Al Jazeera. Pemicu
Demonstrasi di Eropa Farhan
Abdul Majiid, dosen hubungan internasional Universitas Islam Indonesia,
menilai demonstrasi di Prancis dapat meluas ke negara-negara Eropa lain
karena masyarakat menghadapi persoalan serupa. Menurut dia, penyebaran
gerakan tersebut dipengaruhi oleh dua hal: kesamaan ketidakpuasan terhadap
pemerintah dan inspirasi dari aksi yang berlangsung lebih dulu di negara
lain. Menurut
Farhan, demonstrasi besar di negara-negara Eropa dipicu oleh berbagai faktor.
“Mereka juga merasakan kenaikan harga BBM yang makin mencekik sehingga
harga-harga kebutuhan lain pun makin meroket. Selain itu, karena terinspirasi
dari gerakan di Prancis, akhirnya juga ikut melebar ke mana-mana,” kata pakar
politik Eropa itu saat dihubungi Tempo pada Jumat, 23 Oktober 2026. Kenaikan
harga bahan bakar, Farhan meneruskan, menjadi salah satu faktor yang
mempertemukan ketidakpuasan masyarakat di berbagai negara. Kenaikan biaya
energi dapat merembet ke harga barang dan jasa karena bahan bakar digunakan
dalam kegiatan produksi serta distribusi. Kelompok
masyarakat yang berbeda juga merasakan dampak yang beragam. Nelayan dan
petani, misalnya, menghadapi kenaikan biaya operasional. Buruh dan pekerja
perkotaan lebih langsung merasakan tekanan biaya transportasi, kebutuhan
pokok, serta perumahan. Sementara itu, pelajar mempersoalkan keterbatasan
sumber daya sekolah dan biaya pendidikan. Menurut
Farhan, kesamaan pengalaman tersebut membuat ketidakpuasan di suatu negara
dapat menemukan gaung di negara lain. Demonstrasi yang berlangsung di Prancis
menjadi contoh bahwa aksi warga dapat berkembang dari tuntutan sektoral
menuju kritik yang lebih luas terhadap pemerintah. Farhan
mengatakan tradisi demonstrasi di Eropa juga membantu menjelaskan mengapa
gerakan protes dapat muncul dan berlanjut di berbagai negara. Masyarakat,
menurut dia, memandang demonstrasi sebagai salah satu cara untuk menekan
pemerintah agar memperhatikan tuntutan mereka. “Karena
memprotes itu adalah bagian dari hak mereka. Dan mereka sadar bahwa mereka
punya hak tersebut sebagai warga negara,” ujar peraih gelar magister dari
Florence School of Transnational Governance, European University Institute,
Italia, tersebut. ● Sumber : https://www.tempo.co/internasional/demonstrasi-prancis-meluas-ke-eropa-2302059 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar