Selasa, 27 Oktober 2026

 

Terjangan Houthi dan Goyahnya Arab Saudi

Smith Alhadar :   Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

MEDIA INDONESIA, 26 Oktober 2026

 

                                                

 

PERANG skala penuh antara koalisi Arab pimpinan Arab Saudi melawan Ansharullah--dikenal sebagai Houthi dukungan Iran--memasuki tahap genting. Di luar dugaan, kelompok yang dikucilkan dunia itu mampu menggoyahkan Arab Saudi, powerhouse Timur Tengah, memiliki alutsista modern, serta ditopang hampir seluruh dunia. Menghadapi serangan gencar yang dilancarkan Dewan Kepemimpinan Presiden atau Presidential Leadership Council (PLC) yang diakui PBB sekaligus proksi Saudi yang membantunya dengan serangan ratusan jet tempurnya, Houthi masih mampu mengirim rudal dan drone ke ibu kota Riyadh, sejumlah kota penting di selatan, dan infrastruktrur energi strategis Saudi.

 

Hasil ekspor minyak merupakan pendapatan utama Monarki al-Saud ini. Saudi anggota produsen minyak terbesar OPEC dengan mengekspor 11 juta bpd sebelum agresi AS-Israel terhadap Iran, 28 Februari, yang mendorong Teheran menutup Selat Hormuz, sumber 20% kebutuhan energi dunia. Saudi satu-satunya monarki Teluk yang bisa menghindari tankernya dari Hormuz dengan mengalihkan minyak dari Abqaiq di Teluk ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui pipa timur-barat. Akan tetapi, pipa minyak ini pun rusak diserang proksi Iran lainnya di Irak, yakni Kataib Hezbullah. Kesulitan Saudi meningkat karena Houthi memblokade Bab el-Mandeb, yang dilintasi tanker-tanker Saudi untuk membawa 7 juta barel minyak ke Asia.

 

KEPANIKAN REGIONAL DAN GLOBAL

 

Blokade Houthi atas Bab el-Mandeb dan serangannya terhadap bandara dan infrastruktur energi Saudi tak bisa dilepaskan dari penutupan Selat Hormuz dan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Kendati Houthi memiliki agenda domestik sendiri, tindakannya terhadap Saudi meningkatkan leverage Iran vis a vis

 

 AS. Toh, hal ini melemahkan posisi Presiden AS Donald Trump di dalam negeri menjelang pemilu sela AS, 3 November, mengingat harga BBM dan pangan melejit tinggi yang harus dipikul rakyat AS. Agresi terhadap Iran sendiri tidak populer di AS. Ini dapat dilihat pada polling terakhir di AS di mana tingkat kepuasan (approval rating) terhadap pemerintahan Trump hanya 33%. Penolakan terhadap kebijakan perang Trump tidak hanya terjadi di kalangan konstituen Demokrat, tapi juga sebagian Republik yang terancam kalah dalam pemilu DPR dan Senat itu.

 

Kendati Saudi adalah sekutu penting AS, Trump tak bersedia berperang dengan Houthi. Sikap menolak serangan terhadap Houthi tak bisa dipisahkan dari menipisnya amunisisi AS akibat perang dengan Iran dan kekhawatiran tewasnya tentara AS di Yaman yang akan kian meredupkan posisi Trump dalam negeri. Sebagai kompensasi, Trump menekan Riyadh agar menerima bantuan Israel. Turki dan Pakistan, yang beberapa waktu lalu membentuk Pakta Pertahanan Mekah bersama Saudi, tidak dapat membantu banyak. Turki lebih fokus pada genosida Israel di Gaza dan ekspansi militernya ke Suriah, serta aliansi yang dibangun bersama Yunani dan Siprus untuk menghadapi Turki. Pakistan sedang menghadapi Taliban dan keresahan sosial akibat krisis energi.

 

Pada 18 Oktober, dalam pertemuan tingkat menteri di Manama, Bahrain, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)--terdiri dari Saudi, UEA, Oman, Qatar, Bahrain, dan Kuwait--mengeluarkan pernyataan keras terhadap Houthi dan mengaktifkan kerja sama militer mereka. Saudi dan UEA, yang beberapa bulan lalu berselisih tentang masa depan Yaman--keduanya memiliki proksi yang berbeda di Yaman--kini berkomitmen bekerja sama melawan Houthi. Untuk memobilisasi dukungan dunia Islam, Riyadh mengeklaim Houthi menyasar Mekah dan Madinah, klaim yang tentu saja ditolak Houthi. Beberapa waktu lalu, PBB juga mendesak Houthi menghentikan serangan ke Saudi.

 

Sementara itu, Presiden Mesir Abdul Fattah el-Sisi meminta parlemen menyetujui Mesir mengirim tentara untuk membantu mempertahankan eksistensi monarki al-Saud. Memang kejatuhan atau chaos di Saudi akan memengaruhi ekonomi dan geopolitik serta geostrategis kawasan.

 

Berikut, bokade Houthi terhadap Bab el-Mandeb, kendati hanya ditujukan kepada tanker dan kapal kargo Saudi, akan memengaruhi jumlah tanker dan kapal internasional yang melintasi Terusan Suez sehingga mengurangi pendapatan Mesir dari kutipan toll. Di tengah kebingungan regional dan global ini, Marib dan Taiz terancam jatuh ke tangan Houthi. Marib adalah terminal minyak utama Yaman, dan Taiz merupakan wilayah pegunungan yang strategis. Menguasai Taiz akan memudahkan Houthi mengendalikan wilayah selatan, termasuk Aden, setelah bulan lalu menduduki al-Makha (Mocha) dan Laut Merah.

 

MENGENAL HOUTHI

 

Ansharullah pimpinan Abdul Malik al-Houthi mulai jadi berita internasional ketika mereka mengambil alih pemerintahan Presiden Abdu Rabbuh Mansour Hadi pada 2014 di tengah instabilitas Yaman akibat Arab Spring 2011. Saudi kemudian membentuk koalisi Arab pada 2015 untuk menumbangkan Houthi. Sejak tahun itu, Saudi dan UEA menghajar Houthi habis-habisan, menewaskan ratusan ribu orang dan puluhan ribu lain mengungsi. Selain situs-situs militer, koalisi Arab juga menyasar rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur sipil lainnya. Akibat tragedi kemanusiaan dan kegigihan Houthi melawan, gencatan senjata dicapai pada 2022. Tapi Saudi tetap memblokade udara, darat, dan laut Yaman utara yang dikuasai Houthi.

 

Ketika pecah perang Hamas-Israel pada 7 Oktober 2023, Houthi menyerang kapal-kapal terkait Israel yang melintasi Laut Merah. Bahkan, beberapa kali menembakkan rudal ke Israel. Tak menunggu lama, Israel melancarkan serangan balasan. Belakangan AS dan Inggris ikut menyerang Houthi untuk membebaskan Laut Merah, yang menghandel 12% perdagangan maritim dunia, dari gangguan Houthi. Konflik ini baru berhenti setelah Trump menandatangani gencatan senjata dengan Houthi. Semua ini menggambarkan resiliensi Houthi yang luar biasa. Bagaimana mungkin negeri miskin dan berperang selama satu dekade melawan kekuatan-kekuatan besar bertahan? Yang lebih mengherankan, kali ini Houthi muncul lebih kuat, lebih cerdik, dan lebih bersemangat dengan rudal-rudal canggih.

 

Ansharullah adalah kelompok Islam Syiah Zaidiyah, yang muncul pascawafatnya Imam Keempat, Ali Zainal Abidin, pada 713 M, akibat perseteruan Zaid dengan kakaknya, Mohammad Baqir. Syiah Itsna Asyariah (Imamiyah) yang dipeluk mayoritas rakyat Iran, Irak, Libanon, Bahrain, dan 40% rakyat Pakistan, menganggap Mohammad Baqir sebagai pengganti ayahnya. Imam Baqir menghabiskan waktunya dengan mengajar dan bersikap pasif terhadap politik. Di pihak lain, Zaid menghendaki kakaknya memimpin pemberontakan melawan Dinasti Umayyah sebagaimana Imam Husain melakukannya di Karbala. Karena Imam Baqir menahan diri, Zaid mengambil alih kepemimpinan politik dan militer untuk melawan Dinasti Umayyah. Zaid dibunuh pada 740. Tapi ia telah memiliki pengikut yang militan.

 

Kekuatan politik Zaidiyah yang independen untuk pertama kalinya didirikan oleh Hasan bin Zaid (w 844) di Iran utara. Negara ini bertahan selama lebih dari 200 tahun (864-1126). Negara Zaidiyah yang bertahan lebih lama didirikan oleh al-Hadi ila al-Haqq al-Mubin Yahya in al-Husain (w.911), cucu dari aktivis Zaidiyah Hejaz (Arab Saudi), al-Qasim al-Rassi. Al-Hadi berhasil menyatukan suku-suku Yaman utara yang saling berperang, dan mengonversi mereka ke dalam Zaidiyah serta mendirikan Imamah Zaidiyah sekitar tahun 893. Setelah itu, berbagai imam dari Dinasti Zaidiyah (893-1962) tetap menjadi kekuatan utama di Yaman, dengan kekuatan militer mereka berbasis pada bai’ah kabilah-kabilah di pegunungan utara. Ansharullah berasal dari kabilah al-Houthi di Provinsi Saada di utara Yaman, dekat perbatasan Saudi (Hejaz).

 

Kekuasaan para imam Zaidiyah tidak absolut. Mereka menghadapi pemberontakan internal dan invasi eksternal dari Dinasti Fatimiyah, Ayubiyah, Rasuliyah, dan Usmani Turki. Namun, mereka bertahan sampai kudeta kaum Republik pada 1962. Meskipun mengikuti fikih tersendiri berdasarkan interpretasi hukum Zaid dan penerusnya, Zaidiyah Yaman sangat dekat dengan Sunni. Zaidiyah menerima legitimasi dari Khalifah Abubakar, Umar, dan Usman, meskipun mengutamakan Ali. Berbeda dengan Syiah Imamiyah, Zaidiyah tak memandang imamnya sebagai maksum atau memiliki kekuatan supranatural. Zaidiyah percaya, kualifikasi untuk kepemimpinan, di antaranya, keturunan Ali dan Fatimah, bebas dari cacat fisik, dan kesalehan pribadi. Secara teoretis, kepemimpinan (imamah) di kalangan Zaidiyah bisa beberapa orang sekaligus. Mereka tak percaya pada Imam Mahdi.

 

Sang Imam harus mampu mengangkat senjata, apakah secara ofensif ataupun defensif. Sifat-sifat inilah yang menjadikan Syiah Zaidiyah sebagai pemberontak terhadap apa pun yang dianggap kezaliman. Ini yang mungkin menjelaskan Houthi sulit tunduk pada kekuatan mana pun. Turki Usmani dan Mesir di bawah Presiden Gamal Abdul Nasir harus mengakui kekalahan menghadapi pemerintahan Imamah Zaidiyah. Kezaliman adalah alasan Houthi mengangkat senjata melawan karena blokade total Saudi dan serangannya terhadap bandara internasional Sana’a pada awal Juli untuk mencegah Iran memasok senjata ke sana. Apakah Saudi akan melanjutkan perang sampai Houthi ditaklukkan ketika tujuh tahun dikeroyok koalisi Arab gagal membuat kelompok itu menyerah? Karena Houthi dalam posisi kuat, perang habis-habisan melawannya berpotensi melumpuhkan Saudi. ●

Sumber :   https://mediaindonesia.com/kolom-pakar/948603/terjangan-houthi-dan-goyahnya-arab-saudi  

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar