|
Terjangan Houthi dan Goyahnya Arab Saudi Smith Alhadar : Penasihat The Indonesian Society for Middle East
Studies (ISMES) |
MEDIA INDONESIA, 26 Oktober 2026
|
PERANG skala penuh antara koalisi Arab pimpinan
Arab Saudi melawan Ansharullah--dikenal sebagai Houthi dukungan
Iran--memasuki tahap genting. Di luar dugaan, kelompok yang dikucilkan dunia
itu mampu menggoyahkan Arab Saudi, powerhouse Timur Tengah, memiliki
alutsista modern, serta ditopang hampir seluruh dunia. Menghadapi serangan
gencar yang dilancarkan Dewan Kepemimpinan Presiden atau Presidential
Leadership Council (PLC) yang diakui PBB sekaligus proksi Saudi yang
membantunya dengan serangan ratusan jet tempurnya, Houthi masih mampu
mengirim rudal dan drone ke ibu kota Riyadh, sejumlah kota penting di
selatan, dan infrastruktrur energi strategis Saudi. Hasil ekspor minyak merupakan pendapatan utama
Monarki al-Saud ini. Saudi anggota produsen minyak terbesar OPEC dengan
mengekspor 11 juta bpd sebelum agresi AS-Israel terhadap Iran, 28 Februari,
yang mendorong Teheran menutup Selat Hormuz, sumber 20% kebutuhan energi
dunia. Saudi satu-satunya monarki Teluk yang bisa menghindari tankernya dari
Hormuz dengan mengalihkan minyak dari Abqaiq di Teluk ke Pelabuhan Yanbu di
Laut Merah melalui pipa timur-barat. Akan tetapi, pipa minyak ini pun rusak
diserang proksi Iran lainnya di Irak, yakni Kataib Hezbullah. Kesulitan Saudi
meningkat karena Houthi memblokade Bab el-Mandeb, yang dilintasi
tanker-tanker Saudi untuk membawa 7 juta barel minyak ke Asia. KEPANIKAN REGIONAL DAN GLOBAL Blokade Houthi atas Bab el-Mandeb dan serangannya
terhadap bandara dan infrastruktur energi Saudi tak bisa dilepaskan dari
penutupan Selat Hormuz dan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Kendati Houthi
memiliki agenda domestik sendiri, tindakannya terhadap Saudi meningkatkan
leverage Iran vis a vis AS. Toh,
hal ini melemahkan posisi Presiden AS Donald Trump di dalam negeri menjelang
pemilu sela AS, 3 November, mengingat harga BBM dan pangan melejit tinggi
yang harus dipikul rakyat AS. Agresi terhadap Iran sendiri tidak populer di
AS. Ini dapat dilihat pada polling terakhir di AS di mana tingkat kepuasan (approval
rating) terhadap pemerintahan Trump hanya 33%. Penolakan terhadap
kebijakan perang Trump tidak hanya terjadi di kalangan konstituen Demokrat,
tapi juga sebagian Republik yang terancam kalah dalam pemilu DPR dan Senat
itu. Kendati Saudi adalah sekutu penting AS, Trump tak
bersedia berperang dengan Houthi. Sikap menolak serangan terhadap Houthi tak
bisa dipisahkan dari menipisnya amunisisi AS akibat perang dengan Iran dan
kekhawatiran tewasnya tentara AS di Yaman yang akan kian meredupkan posisi
Trump dalam negeri. Sebagai kompensasi, Trump menekan Riyadh agar menerima
bantuan Israel. Turki dan Pakistan, yang beberapa waktu lalu membentuk Pakta
Pertahanan Mekah bersama Saudi, tidak dapat membantu banyak. Turki lebih
fokus pada genosida Israel di Gaza dan ekspansi militernya ke Suriah, serta
aliansi yang dibangun bersama Yunani dan Siprus untuk menghadapi Turki.
Pakistan sedang menghadapi Taliban dan keresahan sosial akibat krisis energi. Pada 18 Oktober, dalam pertemuan tingkat menteri
di Manama, Bahrain, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)--terdiri dari Saudi, UEA,
Oman, Qatar, Bahrain, dan Kuwait--mengeluarkan pernyataan keras terhadap
Houthi dan mengaktifkan kerja sama militer mereka. Saudi dan UEA, yang
beberapa bulan lalu berselisih tentang masa depan Yaman--keduanya memiliki
proksi yang berbeda di Yaman--kini berkomitmen bekerja sama melawan Houthi.
Untuk memobilisasi dukungan dunia Islam, Riyadh mengeklaim Houthi menyasar
Mekah dan Madinah, klaim yang tentu saja ditolak Houthi. Beberapa waktu lalu,
PBB juga mendesak Houthi menghentikan serangan ke Saudi. Sementara itu, Presiden Mesir Abdul Fattah
el-Sisi meminta parlemen menyetujui Mesir mengirim tentara untuk membantu
mempertahankan eksistensi monarki al-Saud. Memang kejatuhan atau chaos di
Saudi akan memengaruhi ekonomi dan geopolitik serta geostrategis kawasan. Berikut, bokade Houthi terhadap Bab el-Mandeb,
kendati hanya ditujukan kepada tanker dan kapal kargo Saudi, akan memengaruhi
jumlah tanker dan kapal internasional yang melintasi Terusan Suez sehingga
mengurangi pendapatan Mesir dari kutipan toll. Di tengah kebingungan regional
dan global ini, Marib dan Taiz terancam jatuh ke tangan Houthi. Marib adalah
terminal minyak utama Yaman, dan Taiz merupakan wilayah pegunungan yang
strategis. Menguasai Taiz akan memudahkan Houthi mengendalikan wilayah
selatan, termasuk Aden, setelah bulan lalu menduduki al-Makha (Mocha) dan Laut
Merah. MENGENAL HOUTHI Ansharullah pimpinan Abdul Malik al-Houthi mulai
jadi berita internasional ketika mereka mengambil alih pemerintahan Presiden
Abdu Rabbuh Mansour Hadi pada 2014 di tengah instabilitas Yaman akibat Arab
Spring 2011. Saudi kemudian membentuk koalisi Arab pada 2015 untuk
menumbangkan Houthi. Sejak tahun itu, Saudi dan UEA menghajar Houthi
habis-habisan, menewaskan ratusan ribu orang dan puluhan ribu lain mengungsi.
Selain situs-situs militer, koalisi Arab juga menyasar rumah sakit, sekolah,
dan infrastruktur sipil lainnya. Akibat tragedi kemanusiaan dan kegigihan
Houthi melawan, gencatan senjata dicapai pada 2022. Tapi Saudi tetap
memblokade udara, darat, dan laut Yaman utara yang dikuasai Houthi. Ketika pecah perang Hamas-Israel pada 7 Oktober
2023, Houthi menyerang kapal-kapal terkait Israel yang melintasi Laut Merah.
Bahkan, beberapa kali menembakkan rudal ke Israel. Tak menunggu lama, Israel
melancarkan serangan balasan. Belakangan AS dan Inggris ikut menyerang Houthi
untuk membebaskan Laut Merah, yang menghandel 12% perdagangan maritim dunia,
dari gangguan Houthi. Konflik ini baru berhenti setelah Trump menandatangani
gencatan senjata dengan Houthi. Semua ini menggambarkan resiliensi Houthi
yang luar biasa. Bagaimana mungkin negeri miskin dan berperang selama satu
dekade melawan kekuatan-kekuatan besar bertahan? Yang lebih mengherankan,
kali ini Houthi muncul lebih kuat, lebih cerdik, dan lebih bersemangat dengan
rudal-rudal canggih. Ansharullah adalah kelompok Islam Syiah Zaidiyah,
yang muncul pascawafatnya Imam Keempat, Ali Zainal Abidin, pada 713 M, akibat
perseteruan Zaid dengan kakaknya, Mohammad Baqir. Syiah Itsna Asyariah
(Imamiyah) yang dipeluk mayoritas rakyat Iran, Irak, Libanon, Bahrain, dan
40% rakyat Pakistan, menganggap Mohammad Baqir sebagai pengganti ayahnya.
Imam Baqir menghabiskan waktunya dengan mengajar dan bersikap pasif terhadap
politik. Di pihak lain, Zaid menghendaki kakaknya memimpin pemberontakan
melawan Dinasti Umayyah sebagaimana Imam Husain melakukannya di Karbala.
Karena Imam Baqir menahan diri, Zaid mengambil alih kepemimpinan politik dan
militer untuk melawan Dinasti Umayyah. Zaid dibunuh pada 740. Tapi ia telah
memiliki pengikut yang militan. Kekuatan politik Zaidiyah yang independen untuk
pertama kalinya didirikan oleh Hasan bin Zaid (w 844) di Iran utara. Negara
ini bertahan selama lebih dari 200 tahun (864-1126). Negara Zaidiyah yang
bertahan lebih lama didirikan oleh al-Hadi ila al-Haqq al-Mubin Yahya in
al-Husain (w.911), cucu dari aktivis Zaidiyah Hejaz (Arab Saudi), al-Qasim
al-Rassi. Al-Hadi berhasil menyatukan suku-suku Yaman utara yang saling
berperang, dan mengonversi mereka ke dalam Zaidiyah serta mendirikan Imamah
Zaidiyah sekitar tahun 893. Setelah itu, berbagai imam dari Dinasti Zaidiyah
(893-1962) tetap menjadi kekuatan utama di Yaman, dengan kekuatan militer
mereka berbasis pada bai’ah kabilah-kabilah di pegunungan utara. Ansharullah
berasal dari kabilah al-Houthi di Provinsi Saada di utara Yaman, dekat
perbatasan Saudi (Hejaz). Kekuasaan para imam Zaidiyah tidak absolut.
Mereka menghadapi pemberontakan internal dan invasi eksternal dari Dinasti
Fatimiyah, Ayubiyah, Rasuliyah, dan Usmani Turki. Namun, mereka bertahan
sampai kudeta kaum Republik pada 1962. Meskipun mengikuti fikih tersendiri
berdasarkan interpretasi hukum Zaid dan penerusnya, Zaidiyah Yaman sangat
dekat dengan Sunni. Zaidiyah menerima legitimasi dari Khalifah Abubakar,
Umar, dan Usman, meskipun mengutamakan Ali. Berbeda dengan Syiah Imamiyah,
Zaidiyah tak memandang imamnya sebagai maksum atau memiliki kekuatan
supranatural. Zaidiyah percaya, kualifikasi untuk kepemimpinan, di antaranya,
keturunan Ali dan Fatimah, bebas dari cacat fisik, dan kesalehan pribadi.
Secara teoretis, kepemimpinan (imamah) di kalangan Zaidiyah bisa beberapa
orang sekaligus. Mereka tak percaya pada Imam Mahdi. Sang Imam harus mampu mengangkat senjata, apakah
secara ofensif ataupun defensif. Sifat-sifat inilah yang menjadikan Syiah
Zaidiyah sebagai pemberontak terhadap apa pun yang dianggap kezaliman. Ini
yang mungkin menjelaskan Houthi sulit tunduk pada kekuatan mana pun. Turki
Usmani dan Mesir di bawah Presiden Gamal Abdul Nasir harus mengakui kekalahan
menghadapi pemerintahan Imamah Zaidiyah. Kezaliman adalah alasan Houthi
mengangkat senjata melawan karena blokade total Saudi dan serangannya
terhadap bandara internasional Sana’a pada awal Juli untuk mencegah Iran
memasok senjata ke sana. Apakah Saudi akan melanjutkan perang sampai Houthi
ditaklukkan ketika tujuh tahun dikeroyok koalisi Arab gagal membuat kelompok
itu menyerah? Karena Houthi dalam posisi kuat, perang habis-habisan
melawannya berpotensi melumpuhkan Saudi. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/kolom-pakar/948603/terjangan-houthi-dan-goyahnya-arab-saudi
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar