|
98 Tahun Sumpah Pemuda, Ujian Mewujudkan
Ikrar Kebangsaan Andreas
Yoga Prasetyo, Yohanes Advent Krisdamarjati : Litbang Kompas |
KOMPAS, 26 Oktober 2026
|
Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Kongres Pemuda II tahun 1928.
Kongres yang berlangsung 98 tahun silam itu menumbuhkan kesadaran bersama
para pemuda untuk menjadikan Indonesia sebagai satu bangsa (nationhood).
Kesadaran membangun cita-cita bernegara ini kemudian dituangkan dalam ikrar
kebangsaan dengan mengusung identitas satu tanah air, satu bangsa, dan
menjunjung satu bahasa persatuan. Semangat Sumpah Pemuda menjadi inspirasi tumbuhnya nasionalisme
bagi seluruh warga bangsa untuk bangkit bersatu mewujudkan kemerdekaan
Indonesia. Dalam perkembangannya, ikrar para pemuda ini menjadi landasan
semangat persatuan bangsa yang multikultural dalam mengarungi tantangan
zaman. Namun, komitmen terhadap ikrar tersebut tampaknya belum sepenuhnya
terwujud jika berkaca dari kondisi terkini bangsa ini, terutama dalam aspek
menjaga persatuan bangsa dan kesatuan tanah air. Temuan ini tergambarkan dari hasil pemantauan konten dan komentar
warganet di media sosial periode 1-20 Oktober 2026. Melalui Kompas Monitoring
dengan menyematkan kata kunci ”sumpah pemuda, satu tanah air, satu bangsa,
satu bahasa, serta permasalahan bangsa” terkumpul 91.642 konten yang relevan
di media sosial Tiktok, Youtube, Facebook, Instragram, X, dan Threads. Secara umum, sentimen warganet di enam platform media sosial
terhadap masalah bangsa terkait ikrar satu tanah air dan satu bangsa lebih
banyak negatif (33,3 persen) ketimbang positif (14,8 persen). Kondisi ini
menggambarkan adanya tantangan besar dalam mewujudkan relevansi ikrar
kebangsaan dengan situasi saat ini. Jika dielaborasi, ragam tantangan kesatuan tanah air di antaranya
datang dalam hal hubungan pemerintah pusat dan daerah serta kesenjangan
wilayah. Selain itu, pengelolaan hutan, sawit, dan alih fungsi lahan;
penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla); keutuhan wilayah dan
keamanan daerah; konflik agraria dan ruang hidup; serta praktik korupsi
sumber daya alam dan pertanahan. Tantangan lain, manajemen lingkungan hidup
dan bencana ekologis serta pengelolaan pertambangan dan sumber daya alam. Sementara dalam aspek persatuan bangsa, tantangan mewujudkan
perasaan satu bangsa muncul dari masih adanya praktik diskriminasi, rasisme,
dan kesetaraan warga. Selain itu, belum meratanya jaminan hak sesama warga;
identitas dan kebanggaan nasional; relasi antarsuku dan antardaerah; serta
toleransi dan hubungan antarumat beragama. Hasil analisis konten dan komentar menunjukkan, delapan topik
yang menjadi sorotan warganet terkait konten satu tanah air mendapat lebih banyak
sentimen neto negatif. Sentimen neto merupakan selisih antara proporsi konten
positif dan negatif. Semakin rendah angkanya menunjukkan semakin kuat
pandangan negatif yang muncul dalam percakapan warganet di media sosial. Keutuhan Tanah Air Sentimen neto negatif terbanyak diungkapkan warganet pada isu
keutuhan wilayah (negatif 43 persen); diikuti kualitas lingkungan hidup dan
bencana ekologis (minus 35,6 persen); serta korupsi sumber daya alam (negatif
33,1 persen). Lalu, pengelolaan hutan, alih fungsi lahan, sawit (minus 27,6
persen); konflik agraria (negatif 20,6 persen); serta kebakaran hutan dan
lahan (minus 17,8 persen). Sorotan warganet pada isu keutuhan wilayah dan keamanan berkisar
pada konflik yang terjadi di Tanah Papua, ketegangan di Aceh, serta
ketimpangan kepemilikan dan pemanfaatan energi di Natuna. Terkait konflik di
Papua, misalnya, warganet menyoroti terus terjadinya konflik dengan kelompok
bersenjata di ”Bumi Cenderawasih” yang tak kunjung usai. Sementara sorotan terhadap kesenjangan energi di Natuna menjadi
respons warganet atas konten Bupati Natuna yang memprotes kekayaan gas
daerahnya yang lebih banyak dialirkan ke Singapura. Sementara di sisi lain,
sebagian warga Natuna masih memakai minyak tanah. Kondisi tersebut dilihat
warganet sebagai bentuk ketidakadilan yang dialami masyarakat kecil di
wilayah perbatasan negara. Senada dengan topik konten keutuhan wilayah Tanah Air, sentimen
negatif juga ditunjukkan warganet terhadap isu lingkungan hidup dan bencana
ekologis. Percakapan yang muncul berfokus pada nasib satwa liar akibat
kebakaran hutan (terutama di Taman Nasional Tanjung Puting), polusi udara,
serta relasi hilangnya hutan dengan bencana banjir dan longsor. Bencana ekologis lain yang menjadi perbincangan ialah penanganan
kebakaran hutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua yang
mendorong munculnya pandangan negatif. Percakapan pada topik karhutla
berpusat pada konten kabut asap dari Kalimantan dan Sumatera yang dampaknya
meluas hingga negara tetangga, jatuhnya korban jiwa saat pemadaman karhutla
di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, serta lonjakan penderita gangguan
infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Merujuk data dari Kementerian Kesehatan, sepanjang 18 Agustus-13
Oktober 2026 terdapat 283.270 kasus ISPA di wilayah terdampak kebakaran
hutan. Percakapan warganet juga menyoroti kabut asap yang sampai ke
Malaysia dan Singapura, termasuk saat balapan F1. Warganet menilai hal
tersebut telah mempermalukan Indonesia. Sebagian warganet juga yakin hutan
sengaja dibakar oleh perusahaan untuk membuka lahan. Meski demikian, ada beberapa konten yang mendapat tanggapan
positif. Unggahan terbanyak berisi doa agar hujan segera turun sehingga api
segera padam. Warganet juga berduka atas meninggalnya lima petugas dan
sukarelawan yang gugur saat memadamkan api di kawasan Bromo. Persatuan bangsa Sebagaimana aspek kesatuan tanah air, tantangan serupa juga
terjadi pada aspek persatuan bangsa. Topik yang mendapat sentimen neto
negatif dari warganet tertuju pada konten jaminan hak sesama warga (negatif
36,8 persen); diskriminasi, rasisme, dan kesetaraan warga (minus 24,2
persen); serta relasi antarsuku dan antardaerah (negatif 1,4 persen). Percakapan pada topik diskriminasi dan kesetaraan menyorot pada
masih adanya ketimpangan sosial-ekonomi, rasisme fisik, dan perlakuan
terhadap kelompok rentan. Salah satu bentuk diskriminasi terjadi pada pasien
HIV dalam mendapatkan layanan kesehatan dan pembatasan ibadah bagi warga
minoritas. Kritik warganet juga menyasar adanya jurang antara kesejahteraan
pejabat dan nelangsanya nasib rakyat: fasilitas mewah bagi pejabat negara,
harga kebutuhan pokok yang tak sebanding dengan upah minimum regional (UMR)
buruh, serta sulitnya mendapat kerja tanpa koneksi. Korupsi juga dipersoalkan
warganet karena dinilai merampas hak sesama warga dan merusak kepercayaan
terhadap penyelenggara negara. Melihat kondisi seperti ini, tak mengherankan jika warganet
menilai penerapan sila kelima Pancasila dianggap belum benar-benar terwujud
merata. Masih adanya praktik diskriminasi, ketimpangan pelayanan, dan
ketimpangan kesejahteraan memperlihatkan perlakuan yang belum setara bagi
seluruh warga negara. Di tengah ujian menjaga ikrar kebangsaan tersebut,
warganet masih memberikan atensi pada identitas dan kebanggaan nasional.
Atensi ini dipicu dari konten prestasi timnas dan atlet nasional serta
solidaritas warga atas kebakaran hutan. Kemenangan dan gelar juara timnas di
kancah ASEAN serta medali emas para renang di Asian Para Games 2026 memicu
rasa bangga warganet. Pada akhirnya, atensi warganet ini mengingatkan kembali bangsa
Indonesia akan ikrar kebangsaan sekaligus tujuan kesadaran bernegara
(nationhood), yakni keseimbangan antara kepentingan masyarakat (society) dan
kekuasaan negara (state). Komitmen hidup bersama sebagai satu bangsa ini harus diikuti
dengan kedudukan dan hak yang setara bagi seluruh warga negara. Perbedaan
suku, agama, ras, asal daerah, dan status sosial seharusnya tidak mengurangi
pengakuan seseorang sebagai bagian dari Indonesia. Demikian pula dengan
komitmen menjadi satu tanah air dengan ruang hidup bersama yang harus dijaga
kelestariannya, dihormati hak masyarakatnya, dan dikelola agar manfaatnya
dirasakan secara adil bagi daerah. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa juga harus
dirawat melalui empati kebijakan bagi rakyat yang sedang menghadapi bencana
kabut asap dan sulitnya warga mendapatkan lapangan kerja saat ini. Di tingkat masyarakat, solidaritas dan gotong royong juga
dibutuhkan untuk membantu kesulitan sesama warga dalam menghadapi tekanan
hidup. Di situlah semangat Sumpah Pemuda menemukan relevansinya bagi
Indonesia hari ini, mewujudkan kesejahteraan yang adil bagi seluruh rakyat
Indonesia. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/98-tahun-sumpah-pemuda-ujian-mewujudkan-ikrar-kebangsaan?open_from=Politik_&_Hukum_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar