|
Perang Hujan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 26 Oktober 2026
"Saya
harus jemput teman dari Indonesia. Ia orang penting," ujar wanita
Singapura itu saat meninggalkan ruang rapat untuk pergi ke bandara Changi.
"Untuk apa
ia datang ke Singapura? Mau buktikan betapa asap dari Indonesia menyiksa orang
Singapura?" ledek temannya.
Tentu itu
ledekan setengah gurau. Setidaknya begitulah kesan tentang Indonesia di mata
orang Singapura saat ini. Marah. Kesal. Tidak berdaya.
Saya mengutip
dialog itu berdasarkan cerita wanita tersebut saat meninggalkan bandara. Tentu
saya tegur dia: mengapa menyebut saya orang penting. Saya bukanlah siapa-siapa.
Memang saya ingin melihat langsung betapa asap telah mengganggu kehidupan di
Singapura, tapi bukan untuk mencarikan jalan keluar. Ingin melihat asap itu
benar tapi bukan yang terpenting.
Ada tiga agenda
di Singapura --termasuk kangen-kangenan dengan belahan hati Robert Lai dan
istrinya, Dorothy. Selebihnya untuk rapat dengan orang Singapura dan orang
Tiongkok yang di Singapura.
Begitu keluar
dari bandara pohon-pohon terlihat jelas. Kemarin itu kebetulan asapnya sedang
tipis. Hanya saja langit tetap saja tidak tampak biru.
Saya minta
buyut Pak Iskan memeriksa kualitas udara di Singapura lewat HP-nyi. Dengan asap
tipis segitu seberapa buruk kualitas udara Singapura.
"Psi
170," jawabnyi.
Dia sudah
hampir dua tahun kuliah di Singapura. Angka itu cukup melegakan di sana. Sehari
sebelumnya mencapai psi 200. Bahkan biasanya sampai psi 270.
Sejak ada
kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia kualitas udara Singapura memang
sangat buruk. Itu sudah berlangsung satu bulan. "Pernah mencapai psi
300," ujar sang buyut. Dia kini ikut-ikutan kebiasaan orang Singapura:
setiap pagi melihat layar HP untuk mengecek seberapa buruk kualitas udara hari
itu.
Sejak ada
kiriman asap pemerintah Singapura memang memberikan layanan aplikasi untuk
memonitor kualitas udara. Ups... sejak lama sebenarnya ada aplikasi itu. Tapi
jarang yang memanfaatkannya. Toh biasanya kualitas udara di Singapura selalu di
bawah psi 30. Baru setelah ada asap aplikasi kualitas udara itu dipelototi
setiap hari.
Pukul 15.00
kemarin, ketika kami sedang rapat, tiba-tiba turun hujan. Deras. Lama. Tumben.
Sudah lama tidak ada hujan.
Hujan itu
begitu derasnya membuat orang Singapura begitu senangnya.
Di tengah hujan
itu saya kembali minta buyut Pak Iskan untuk mengecek aplikasi kualitas udara.
"Psi
97," ujarnyi.
Hujan lebat
ternyata bisa menurunkan psi dari 170 ke 97. Masih belum baik tapi sudah sangat
lumayan. Nanti, di tengah rapat kedua, hujan masih turun. Hari sudah senja.
Saya minta aplikasi kembali diperiksa: "psi 195," katanyi.
Ketika hujan
deras seperti itu rupanya asap ikut turun ke tanah: menjadi debu basah yang
halus. Lalu ikut meresap ke dalam tanah. Itu tidak berbahaya bagi kesehatan
tanah. Itu kan asap dari kebakaran tanaman. Bukan termasuk benda polusi.
Maka saya agak
"kecewa": tidak bisa ikut merasakan penderitaan akibat asap yang
tebal di langit Singapura.
"Benar
kan? Berarti Anda orang penting. Bisa mendatangkan hujan," ujar orang asal
Tiongkok itu berseloroh. Saya pun membalas selorohan itu dengan humor:
"Harusnya Singapura tidak perlu diberi hujan. Mengapa hujan deras begini
tidak diturunkan di Kalimantan," kata saya.
Kalau saja di
Kalimantan turun hujan sederas ini selesailah itu barang. Tidak perlu lagi ada
saling caci-maki antarnegara.
"Di level
berapa kadar kemarahan orang Singapura pada Indonesia? Skala 1 sampai 10,"
tanya saya.
"Sembilan,"
jawab salah seorang peserta rapat. "Tenggorokan kami sakit semua,"
tambahnya.
"Marahnya
pada siapa? Kepada rakyat Indonesia atau kepada pemerintah?"
"Kepada
pemerintah. Kenapa tidak bisa mengatasinya?"
"Menurut
Anda bagaimana cara mengatasi kebakaran itu?"
"Kan
gampang. Tiap rumah kan punya hydran. Masing-masing rumah memadamkan lingkungan
masing-masing," jawabnya.
Dalam hati saya
tertawa ngakak. Orang Singapura mengira di Kalimantan sana banyak rumah di
sekitar hutan yang terbakar. Lalu membayangkan rumah-rumah itu seperti rumah di
Singapura.
Setelah saya
jelaskan keadaan yang sebenarnya barulah ia tertegun. "Jadi, sulit
ya," katanya.
"Saya
sendiri tidak punya ide: cara apa yang efektif. Keadaan sudah sangat terlambat.
Satu-satunya jalan keluar tinggallah menunggu datangnya hujan. Sayangnya
hujannya justru turun di sini," kata saya.
Memang, kalau
masih di tingkat awal dulu masih mungkin bisa dikendalikan. Tapi kini sudah
sangat meluas. Kekeringan juga kian parah. Kian kering. Kian panas. Tinggal
menunggu kapan hujan datang ke Kalimantan.
Sampai tadi
malam hujan masih turun renyai-renyai di Singapura. Harapan mereka tiap hari
turun hujan seperti ini. Rupanya hujan harus mendapat hadiah Nobel Perdamaian.
Hujanlah yang bisa menghindarkan perang antara Singapura/Malaysia dengan
Indonesia: perang itu kian memuncak. Perang di media sosial. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/975557/perang-hujan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar