Sabtu, 02 Juli 2016

Memaafkan Itu Sehat

Memaafkan Itu Sehat

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                    KORAN SINDO, 01 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Agama selalu memberi pujian kepada orang yang saling memaafkan. Jika berbuat salah jangan segansegan mengakui kesalahannya serta meminta maaf dan pihak yang dimintai jangan pelit untuk memaafkan.

Semuanya hendaknya dilakukan dengan tulus. Bahkan sekalipun terhadap musuh, memaafkan itu tindakan yang terpuji. Namun ihwal maaf-memaafkan ini pada praktiknya tidak semudah membicarakannya. Baik meminta maupun memberi maaf itu berat. Jika itu terjadi antarnegara, praktiknya semakin berat karena ada unsur gengsi dan harga diri sebuah negara.

Kebenaran ajaran agama tentang maaf-memaafkan ini tidak sulit dibuktikan secara empiris dengan bantuan ilmu jiwa. Orang yang hatinya dipenuhi rasa marah, dendam, dan kecewa kepada orang lain pasti terasa berat membawanya. Bayangkan, orang membawa beban fisik saja meskipun ringan jika terus-menerus dibawa pasti akan letih, capai. Lama-lama akan terasa semakin berat.

Begitu juga halnya orang yang menyimpan kejengkelan dan kebencian di hati, lamalama akan semakin terasa berat jika tidak dilepaskan. Ada orang yang melepaskan kebencian dengan cara menumpahkannya kepada orang yang dibenci. Apa yang terjadi? Bisa jadi akan lepas sementara, tapi setelahnya justru akan membesar jika terjadi perlawanan balik.

Perhatikan saja, sering terjadi perkelahian fisik yang bermula dari adu mulut. Akibatnya luka di hati kian menganga. Makanya cara terbaik mengurangi beban yang menjadi penyakit hati adalah saling memaafkan. Ketika orang memaafkan dengan tulus, yang pertama diuntungkan adalah pihak yang memaafkan karena dengan begitu dia telah menaruh dan membuang beban di hatinya.

Ada sebuah eksperimentasi yang dilakukan seorang guru kepada murid-muridnya. Mereka disuruh membawa kentang masingmasing lima biji. Lalu anak-anak diminta menuliskan nama lima orangyangmerekabenci. Setelah itu dimasukkan di kantong plastik dan dibiarkan terbuka, tidak bolehdiikat rapat.

Kantongberisi kentang itu mesti dibawa ke mana pun mereka berada, bahkan juga ketika mau tidur agar diletakkan di sampingnya atau ke kamar kecil, selama seminggu. Sebelum hari kelima, anakanak mulai mencium bau kentang busuk. Muncul rasa risi. Mereka menanti tibanya hari pembebasan, hari ketujuh.

Tiba harinya anak-anak pergi ke sekolah dengan semangat karena sudah tak tahan lagi dengan bau busuk itu. Lalu bu guru menyuruh membuang kentang busuk itu. Namun sebelumnya bu guru bertanya kepada muridmuridnya, ”Bagaimana pengalamanmu dengan kentang-kentang yang kamu bawa itu?” Murid menjawab, ”Bau Bu, kami tidak tahan. Seminggu serasa lama sekali ke mana-mana diikuti bau busuk.”

Bu guru pun meneruskan nasihatnya. Begitulah contoh nyata yang sudah mereka rasakan dan alami sendiri bahwa jika anak-anak itu menyimpan hati busuk berupa kebencian, iri, dan dengki, mereka sendiri yang akan tersiksa dan merugi. Tapi begitu kentang busuk itu dibuang, legalah hati anak-anak semua.

Merasa terbebaskan dari penderitaan bau busuk. Begitu juga halnya jika anak-anak menjaga hatinya selalu bersih, saling memaafkan, pasti hati serasa lapang dan hidup nyaman dijalani. Demikianlah, di balik perintah agama agar kita saling menolong dan maaf-memaafkan, secara empiris ternyata kebaikannya kembali kepada manusia.

Allah tidak mengambil keuntungan dari kebaikan hamba- Nya, tidak juga dirugikan atas kejahatan hamba-Nya. Allah tetap Maha Agung, terlepas manusia akan menyembah- Nya ataukah tidak. Allah tetap Maha Kaya dan mandiri, apakah hamba-Nya mau bersyukur atau mengingkari anugerah rezeki- Nya. Maaf-memaafkan ini tidak saja ketika datang hari Lebaran, tetapi jika ingin hidup sehat, setiap saat sebaiknya hal itu kita lakukan jika kita merasa terjadi gesekan dengan keluarga atau teman. ●