Jumat, 08 Juli 2016

Refleksi Ekonomi Mudik Lebaran

Refleksi Ekonomi Mudik Lebaran

Enny Sri Hartati ;   Direktur Institute for Development of Economics and Finance
                                                         KOMPAS, 04 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Semarak perayaan hari raya Idul Fitri kembali terulang. Hampir seluruh masyarakat menyambut dengan antusias dan sukacita. Ritual tahunan yang tak lepas dari Lebaran tentu tradisi mudik.

Fenomena mudik di Indonesia dapat dipahami karena pembangunan ekonomi terpusat di kota besar, terutama di Pulau Jawa. Akibatnya terjadi arus migrasi besar-besaran penduduk dari daerah yang potensi ekonominya masih belum tergarap dan berkembang. Daya tarik kota besar yang menjanjikan berbagai fasilitas dan insentif ekonomi besar menjadi magnet bagi tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan, keterampilan, dan keahlian. Apalagi tenaga kerja berusia muda hampir tidak ada lagi yang mau berada di daerah atau di desa.

Menarik menilik antusiasme tradisi mudik yang masih berlangsung dan seolah tak lekang oleh dinamika zaman. Percepatan perkembangan telekomunikasi tidak mampu menggerus minat pemudik. Padahal, seiring perkembangan teknologi, silaturahim tidak lagi hanya melalui telepon, surat elektronik, bahkan melalui hubungan video. Namun, keinginan bertemu melalui tatap muka langsung dengan sanak keluarga mampu menghalau tantangan mudik. Biaya yang tidak sedikit dan kemacetan yang luar biasa mengalahkan harapan untuk mendapatkan romantisisme kampung halaman.

Dari fenomena itu, minimal bisa disimpulkan, dalam pilihan migrasi ada trade off antara pertimbangan ekonomi dan kuatnya aspek sosial budaya. Hampir dapat disimpulkan, jika ada alternatif pilihan dari aspek ekonomi, bisa jadi pilihan migrasi juga menjadi pilihan terakhir bagi banyak orang. Di sisi lain, besarnya arus migrasi tenaga kerja berpendidikan dan terampil juga membuat ketimpangan pembangunan justru semakin melebar.

Harapan proses transformasi struktural perekonomian daerah atau desa juga semakin menjauh. Daerah yang notabene memiliki sumber daya berlimpah justru ditinggalkan tenaga kerja produktif. Akibatnya, banyak potensi sumber daya yang semestinya dapat dikembangkan dibiarkan menganggur dan terbengkalai. Tingginya konversi lahan pertanian disebabkan tidak ada insentif ekonomi dalam usaha pertanian. Di samping itu, juga karena produktivitas yang rendah, belum tersentuh teknologi baru dan benih berkualitas. Teknologi pascapanen juga terbatas. Padahal, desa memiliki potensi sumber daya yang luar biasa, tidak hanya sektor pertanian pangan, tetapi juga holtikultura, peternakan, perikanan/kelautan.

Jika industri pedesaan berkembang di sentra produksi pangan dan hortikultura, maka banyak variasi industri makanan dan minuman yang menjadi andalan daerah. Jaminan permintaan ini menjadi insentif ekonomi bagi petani, sekaligus jaminan stabilitas harga, terutama ketika panen raya. Apalagi, jika ada investasi untuk membuat sistem logistik yang memadai, berbagai produk sayur mayur dan buah-buahan tidak mudah rusak. Dengan ketersediaan sayur mayur dan buah-buahan segar, semestinya kebutuhan restoran dan hotel berbintang pun dapat dipenuhi oleh buah lokal dan dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.

Demikian juga jika peternakan berkembang, tidak hanya karut-marut impor daging sapi yang dapat diatasi. Ketergantungan pada impor susu dan impor kulit untuk industri alas kaki pun dapat dipenuhi. Apalagi jika komitmen hilirisasi industri berbasis perkebunan sawit, karet, kakao, dan lainnya juga konkret. Pemerintah cukup menyediakan berbagai infrastruktur dasar dan memberikan kemudahan investasi di daerah. Tiap-tiap daerah tidak hanya mendapatkan nilai tambah, tetapi juga mampu mengekspor berbagai produk industri manufaktur yang memiliki daya saing tinggi. Perluasan penciptaan lapangan kerja terjadi, impor berkurang, dan terjadi perluasan pangsa pasar negara tujuan ekspor.

Momentum mudik Lebaran mestinya dapat menjadi jembatan mengurai kesenjangan pembangunan desa-kota. Dengan catatan, jika migran atau kelompok urban yang telah berhasil di kota besar memiliki kesadaran dan dapat menangkap berbagai prospek bisnis tersebut. Hal ini dapat dimulai melalui cara berinvestasi di kampung halaman melalui usaha produktif dengan menggerakkan industri pedesaan.

Jika upaya ini secara intensif dimulai, tidak tertutup kemungkinan akan menarik pemodal besar untuk berinvestasi lebih masif di sektor pertanian dan pedesaan. Selain itu, juga memberikan kesadaran, investasi di sektor ini akan jauh berkelanjutan dibandingkan dengan hanya fokus berinvestasi di sektor properti.

Hal tersebut dapat terjadi jika mudik tidak hanya dimaknai sebagai romantisisme belaka, tetapi sekaligus dijadikan upaya mewujudkan kecintaan terhadap kampung halaman yang lebih konkret. Salah satunya melalui upaya mengembangkan potensi ekonomi di daerah masing-masing. Minimal dimulai dari langkah kecil dengan membeli produksi lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi daerah. Harapannya, pemerataan pembangunan mampu menyejahterakan masyarakat di seluruh negeri. Selamat mudik. ●