Senin, 04 Juli 2016

Manusia-manusia Malam Seribu Bulan

Manusia-manusia Malam Seribu Bulan

Achmad Faqih Mahfudz ;   Penyair; Tinggal di Yogyakarta
                                                         KOMPAS, 02 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“Malam Lailatul Qadar tidak pernah lewat dalam hidupku setiap Ramadhan. Masih mau ikut dengan aku? Menunggu yang spektakuler, Ramadhan tahun ini Monumen Nasional itu akan merunduk, malam lebih indah dari seribu bulan itu terwujud dalam lentur menara bingkai emas itu. Aku akan memperoleh Lailatul Qadar Ramadhan tahun ini. Ini merupakan pengalaman keagamaanku yang luar biasa. Anugerah Lailatul Qadar terwujud di Lapangan Monas."

Ungkapan tersebut terlontar dari bibir Ibnu, salah seorang tokoh dalam cerpen "Malam Seribu Bulan" karya Hamsad Rangkuti. Ibnu, lelaki penjual obat di pasar itu, meyakinkan tokoh aku yang juga narator cerpen tersebut tentang keyakinannya bahwa Lailatul Qadar adalah sebuah malam ketika Monumen Nasional merunduk, dan siapa pun yang dianugerahi malam tersebut dapat mengambil emas sebanyak mungkin di pucuknya.

"Tahun ini Monas akan merunduk di depanku. Aku akan mengikis kepingan emasnya sampai serbuknya sepanci penuh," ucapnya lagi kepada tokoh aku, meyakinkan.

Entah mendapat ilham dari mana, Ibnu pun benar-benar begadang dan menunggui malam Lailatul Qadar itu di Monas di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Syahdan, Ibnu benar-benar mendapatkan apa yang dikatakannya. Sepanci penuh serbuk emas di pucuk Monas berhasil ia dapatkan di malam yang diyakininya itu sebagai malam Lailatul Qadar. Singkat cerita, ketika shalat Idul Fitri, bertemulah Ibnu dengan tokoh aku, ia ceritakan segala apa yang dialaminya berikut apa yang didapatkan di malam itu. Si aku yang sejak awal tak percaya masih saja tak percaya akan apa yang dikatakan tukang obat jalanan itu.

Bibir bolehlah menyangkal, namun hati manusia siapa yang tahu. Dalam perjalanan ke rumah seusai shalat Id, tokoh aku masih saja gelisah dan kepikiran dengan apa yang dikatakan Ibnu. Kegelisahan yang menghunjam itu pun mencapai puncaknya ketika Ibnu benar-benar datang ke rumahnya, membawa segenggam serbuk emas untuknya. Bukannya menerima dengan bahagia bagian emas yang dijanjikan Ibnu kepadanya itu, aku justru panik dan buru-buru bergegas ke Monas.

Aku berangkat ke Monas untuk melihat dan membuktikan apa yang dikatakan Ibnu atau justru ingin mengikis emas seperti apa yang dikatakan Ibnu, entahlah, tak ada kepastian. Hamsad membiarkan hikayat dua manusia ini menggantung begitu saja di akhir cerita, seolah ingin memberikan secelah renung bagi pembaca.

Cerpen "Malam Seribu Bulan" karya Hamsad Rangkuti yang terkumpul dalam buku kumpulan cerpen Panggilan Rasul (Kepustakaan Populer Gramedia, 2010) ini menyuguhkan sebuah potret manusia dan keberagamaannya. Bahwa bagi sebagian manusia, agama masih saja diukur dengan kemilau benda-benda. Emas, misalnya. Hingga malam Lailatul Qadar yang diabadikan Al Quran sebagai malam yang lebih agung dari malam-malam seribu bulan pun menjadi sekadar malam pesugihan atau malam untuk mendapatkan harta kekayaan yang diidam-idamkan.

Dalam pemahaman umum yang sering kali diceramahkan para mubalig atau khatib Jumat di masjid-masjid, Lailatul Qadar adalah sebuah malam yang berada di bulan Ramadhan. Ia berada di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Dalam beberapa riwayat disebutkan, dunia akan terasa tenang, tenteram, dan damai apabila malam ini datang. Di malam itu, konon Allah benar-benar menumpahkan ampunan, rida, dan akan mengabulkan doa-doa apa pun yang dimunajatkan hamba-hamba-Nya.

Tak heran kemudian apabila banyak orang menunggu malam ini; merindukan dan mengharap-harap agar "mendapatkan" malam ini. Mereka menitip harapan pada malam ini, harapan yang ukhrawi berupa keselamatan kelak di alam setelah kematian, lebih-lebih harapan duniawi sebagaimana digambarkan Hamsad Rangkuti pada tokoh Ibnu dan aku dalam cerpen tersebut.

Cahaya spiritual

Dalam cakrawala tasawuf, Lailatul Qadar adalah melubernya cahaya spiritual seseorang, yaitu ketika tabung cahaya rohani telah kebak (penuh) dengan nilai-nilai dan tajalli (manifestasi) keilahian sehingga dapat dipastikan bahwa dari ujung rambut hingga ujung kaki orang beruntung itu berhiaskan dengan napas hadirat-Nya.

Dari pemahaman ini, dapat diketahui bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar malam terkabulnya doa-doa, melainkan malam menyatunya Tuhan dan hamba dalam sebuah getaran rasa rohani yang tak berhingga. Ketika yang-Ilahi telah mewujud dan menubuh dalam diri seseorang, saat itulah ia mendapatkan Lailatul Qadar. Ketika nilai-nilai keilahian telah mengejawantah dalam perangai seseorang, pada momen itulah ia berada di dalam sebuah ruang dan waktu yang lebih berharga nilainya daripada malam-malam lain dalam seribu bulan.

Ibn 'Arabi, sufi sekaligus filsuf agung itu, dalam kitabnya, Tafsir Ibn 'Arabi, memaknai seribu dalam frasa "seribu bulan" bukan sekadar hitungan jumlah, melainkan sebagai puncak capaian tertinggi dari sebuah karunia. Artinya, momen ketika seorang manusia mengalami penyatuan diri dengan yang-Ilahi itu sebagai momen tak berhingga sekaligus karunia yang tak tepermanai.

Bagaimana tidak, martabat kemanusiaan sekaligus kehambaan seseorang yang semula imanen tiba-tiba menjadi transenden di momen ini. Luberan cahaya dari tabung rohani mengguyur diri seseorang tersebut sehingga laku dan perangainya semata-mata laku dan perangai keilahian. Manusia yang semula seolah entitas profan beralih menjadi entitas sakral karena gerak dan diamnya telah tersinari pancaran keilahan.

Ketika luberan cahaya rohani itu sudah menjelma perangai dari seseorang, ia tak akan melakukan apa pun tanpa nilai-nilai keilahian. Ia akan melakukan segalanya dengan cinta dan kasih sayang. Ketika cinta dan kasih sayang yang merupakan pancaran ilahi ini sudah menjadi laku kesehariannya, saat itulah keberagamaan seseorang menemukan hakikatnya, menemukan kesejatiannya, menemukan Lailatul Qadar-nya.

Saat-saat begitu, tak akan ada lagi seseorang yang mencari kekayaan dalam agama ataupun dengan agama sebagaimana Ibnu dan tokoh aku dalam cerita "Malam Seribu Bulan" karya Hamsad Rangkuti di atas, tak akan ada lagi orang yang meremehkan dan merendahkan orang lain atas nama agama, bahkan tak akan ada lagi orang yang merasa bahwa keberagamaan dan spiritualitasnya lebih unggul dari yang lain.

Maka, dengan cerita "Malam Seribu Bulan", Hamsad menelanjangi keberagamaan kita habis-habisan. Sikap kita yang masih memosisikan agama sebagai jalan untuk mendapatkan harta atau apa pun yang bersifat duniawi dikritiknya dalam wujud Ibnu dan tokoh aku. Hamsad menyindir cara kita dalam beragama yang masih di wilayah wadah, tidak-sampai-pada isi.

Lailatul Qadar bukan malam tempat seseorang mendulang peruntungan harta atau apa pun yang bersifat bendawi, bukan pula sekadar malam yang bertabur pahala hingga mampu mengantar siapa saja ke surga. Lebih dari sekadar itu, Lailatul Qadar adalah sebuah suasana rohani ketika antara manusia dan Tuhan-nya menyatu dalam getaran yang sama, yakni getaran dari melubernya cahaya rohani dari tabung cahaya yang kebak akan cinta dan kasih sayang sebagai hakikat utama dari dimensi keilahian.

Ketika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar, ia akan melihat segala-galanya dengan tatapan cinta dan kasih sayang, karena dirinya telah menjadi manifestasi yang-Ilahi di muka bumi. Jangankan kepada sesama manusia; pada tumbuhan, hewan, dan pada tiap-tiap ciptaan di semesta raya ini ia akan senantiasa bersikap indah penuh cinta dan kasih sayang. Tak akan ada lagi kekerasan, tak akan ada lagi eksploitasi dan perusakan alam, karena ia telah memperoleh karunia Lailatul Qadar.

Semoga kita, lebih-lebih kau dan aku, menjadi manusia-manusia malam seribu bulan. Manusia-manusia yang meraih agama sebagai hulu keindahan dari segenap tindakan; manusia-manusia beragama yang mendapat luberan cahaya keilahian berupa cinta dan kasih sayang: seberkas cahaya yang kemudian termanifestasi dalam perangai keseharian, demi terwujudnya harmoni kemanusiaan di tengah-tengah perhelatan akbar bernama kehidupan. ●