Sabtu, 02 Juli 2016

Etos Ilmiah Nuzulul Quran

Etos Ilmiah Nuzulul Quran

Asep Salahudin ;  Esais; Dekan Fakultas Syariah IAILM Suryalaya;
Dosen LB FISS Universitas Pasundan Bandung
                                               MEDIA INDONESIA, 21 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SALAH satu kebiasaan Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul adalah melakukan tahannust (menyepi). Semacam kegiatan personal melakukan renungan total tentang kondisi sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya, merefleksikan zamannya yang dalam pandangannya tengah disekap kebudayaan yang menghinakan akal sehat yang kemudian disebut jahiliah.

Nyaris kejahiliahan itu menimpa semua sektor kehidupan. Ekonomi dikelola hanya tertumpu pada semangat mengejar keuntungan belaka dengan cara licik; sosial dijangkarkan pada sentimen perkauman yang sempit dan sering kali berkobar menjadi gelaran konflik berdarah (safak ad-dima') walaupun pemantiknya hanya persoalan sepele. Politik benar-benar dengan sempurna menerapkan prinsip menghalalkan segala cara, sedangkan kebudayaan diacukan pada haluan hanya melulu menjadikan materi sebagai daulat utama.

Tentu saja kedudukan perempuan sama sekali berada di titik nadir bahkan kelahirannya dianggap aib bagi keluarga sehingga harus lekas dikubur hidup-hidup. Dalam sistem keyakinan lebih parah lagi. Malah diriwayatkan ketika mereka bepergian, Tuhan dibawa dan terus dihadirkan dalam wujud roti yang dibikinnya sendiri untuk setiap saat disembahnya. Tatkala lapar menyergap, Tuhan itu pun menjadi santapannya. Tuhan menjadi sekadar makanan untuk mengenyangkan perut.

Gua hira

Tempat favorit sang nabi dalam melakukan tahannuts (menyepi) itu adalah sebuah gua yang berada di tebing Gunung Nur (Jabal Nur). Kurang lebih 5 km arah utara dari Masjidil Haram. Di gua itu Nabi bermeditasi, mengosongkan hati, menyatukan sukma dengan Yang Mahakuasa, sekaligus menyampaikan seluruh keresahan jiwanya, mengadukan persoalan sosial yang menimpa masyarakatnya.

Gua yang menjadi situs rohaniah yang menggambarkan bagaimana Muhammad SAW seorang diri mewafakan tubuhnya demi melakukan transformasi sosial yang diimajikannya. Naik ke gunung batu bukan hal mudah, sekali terpeleset yang menjadi pertaruhannya ialah nyawanya sendiri. Dalam musim terik menyengat (Ramadan artinya adalah cuaca yang membakar), kaki itu menaiki batu demi batu menuju puncak Hira, menyendiri, dan larut dalam hening yang menggetarkan, dalam munajat sepi yang tak ditemani satu orang pun. Hanya dirinya dan Tuhan. Tanpa arahan wahyu kecuali mengikuti rute suara hatinya yang bening.

Tepat pada 17 Ramadan itulah, hijab terbuka. Tuhan mengutus Jibril menyampaikan firman-Nya. Dahsyatnya ternyata ayat yang pertama kali turun ialah gelora agar sang Nabi itu pandai membaca. Iqra, bacalah.

Bismi rabbik, atas nama Tuhanmu. Seruan-Nya yang pertama bukan perintah haji berkali-kali atau umrah berulang kali, bukan pula puasa dan salat dalam hitungan tak terbilang dan apalagi kewajiban menegakkan syariat, tapi keniscayaan agar terampil membaca.

Dalam peradaban mana pun juga 'membaca' adalah sebuah metafora dari pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan. Iqra merupakan simbol keharusan menyiapkan sumber daya insani. Tanpa etos iqra, perubahan sosial yang dibayangkan tidak akan pernah terwujud. Iqra yang menjadi sumbu kebudayaan itu memiliki rohnya yang berwibawa. Seolah Tuhan hendak mengatakan bahwa kejahiliahan itu bermula karena absennya kerja iqra dan atau membaca itu dilakukan tapi sama sekali tidak melibatkan nilai-nilai ketuhanan, tidak bismi rabbik.

Pengalaman spiritual itu tentu saja sangat mengguncang dirinya. Di sebuah gua, di tepi gunung berbatu, tiba-tiba hadir makhluk asing dengan perintahnya yang juga asing. Menjadi beralasan sekembali ke rumahnya, istrinya disuruhnya untuk lekas menyelimutinya. Justru ketika selimut sudah menutupi sekujur tubuhnya, Tuhan kembali datang dengan firman susulannya, "Wahai yang berselimut bangun, dan peringatkan. Agungkan Tuhanmu, sucikan pakaianmu, lepaskan dirimu dari perbuatan keji."

Visi pengetahuan

Konteks turunnya Alquran seperti itu menarik kita renungkan. Keharusan 'membaca' dan 'membuang selimut' inilah yang tidak hadir dalam kesadaran umat Islam hari ini, dari batang tubuh bangsa kita sekarang.
Padahal, yang menjadi energi umat Islam mampu mencapai puncak peradaban pada abad pertengahan sehingga melahirkan tokoh-tokoh besar semacam Ibnu Sina, al-Kindi, Al-farabi, al-Khawarizmi, Ibnu Rusydi, yang kemudian mengilhami kebangkitan dunia Barat yang sedang berada dalam limbo kemunduran ialah semangat membaca itu.

Seandainya membaca melambangkan etos ilmiah, 'menyingkirkan selimut' ialah etik imperatifnya. Wahai yang berselimut kebodohan, singkirkanlah dan bangunlah lembaga pendidikan bermutu. Wahai yang berselimut kefakiran, singkirkan sikap malas dan seriuslah menggumuli persoalan ekonomi. Wahai yang berselimut kerakusan, singkirkan dan tumbuhkan kedermawanan. Wahai yang berselimut politik kecurangan, singkirkan dan tancapkan nilai-nilai politik luhur yang menjunjung tinggi keutamaan dan kemanusiaan.

Kalau kita simak, nyaris sepanjang Muhammad SAW meniti karier kenabian, perhatian dan kebijakan yang diambil selalu diorientasikan untuk sektor pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan. Kita baca dalam sekian hadisnya, bagaimana laki-laki dan perempuan dibebani kewajiban mencari ilmu jauh sebelum Kartini, Lasminingrat, atau Dewi Sartika bikin sekolah yang khusus diperuntukkan kaum perempuan.

Belajar sepanjang hayat dipromiskannya setiap saat, carilah ilmu dari mulai buaian bunda sampai lubang kubur. Malah tatkala dalam sebuah pertempuran mendapatkan tawanan, tawanan itu bisa bebas hanya dengan dua opsi: pertama, menebusnya dengan sejumlah uang dan uang itu wajib masuk kas negara yang dikhususkan bagi dunia pendidikan. Dan kedua, apabila tawanan itu kategorinya miskin, dia wajib menularkan keterampilan baca tulisnya kepada anak-anak muslim yang masih buta aksara.

Tentu saja kalau kita membaca Alquran akan dengan mudah menemukan ayat-ayat lainnya yang senapas dengan iqra. Alquran ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam. Seandainya Rene Descartes sampai pada kesadaran 'aku berpikir maka aku ada' sebagai penanda modernisme-rasionalisme, dalam jalur yang sama Nabi SAW menyerukan agama itu adalah akal, tidak beragama mereka yang tidak pernah menggunakan akalnya. Ad-dinu huwa al-aqlu li dina li man la aqla lahu.

Inilah yang kemudian disimpulkan Soekarno dalam Surat-Surat dari Ende bahwa Islam itu adalah agama berkemajuan, Islam is progress. Bung Karno menyebutkan ciri kemajuan itu ialah penghargaan terhadap rasio, terhadap nilai-nilai modernitas.

Islam yang benar yang disebutnya sebagai 'api Islam' ialah Islam yang belum terbenam dalam lumpur sikap taklid dan tahayul, Islam yang sigap berdialog dengan roh zaman, menjadi pandu bagi langkah-langkah perubahan sosial termasuk bisa membebaskan umatnya dari sekapan kolonialisasi dan kolonialisme.

Merenungkan Nuzul Quran ialah mengingat kembali sesuatu yang hilang dalam diri umat Islam: pentingnya ilmu pengetahuan. Atau dalam istilah Kuntowijoyo, kita harus menghentikan Islam mitologis dan ideologis dan kita harus mulai bergeser masuk ranah Islam epistemologis. ●