Senin, 04 Juli 2016

Dari "Gelombang Ketiga" hingga Tesis Anti Perang

Dari "Gelombang Ketiga" hingga Tesis Anti Perang

Ninok Leksono ;   Pemimpin Redaksi Kompas
                                                         KOMPAS, 03 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Kita harus mencari cara yang sama sekali baru untuk berpegangan mengingat semua akar tua-agama, bangsa, komunitas, keluarga, dan atau profesi-sekarang ini guncang akibat dorongan akseleratif yang dampaknya serupa badai."

"Yang paling buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi yang tidak dapat belajar, melepaskan (unlearn), dan belajar ulang (relearn)."

(Alvin Toffler, seperti dikutip kantor berita Associated Press/USA Today, 29/6)

Alvin Toffler bukan nama yang asing di Indonesia. Pengamat dan peminat kajian perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi di sini familier dengan sosok yang dikenal sebagai futuris ini dan karya-karyanya.

Jika sebelumnya masyarakat Indonesia hanya mendengar tentang Toffler dari karya-karyanya, khususnya Future Shock (1970) yang terjual 5 jutaan buku, juga Third Wave (1980), pada September 1988 pengagumnya bisa bertatap muka langsung dengan sosok yang berbicara santun ini, bersama dengan istri dan kolaboratornya, Heidi Toffler.

Toffler lahir di New York, 4 Oktober 1928, dan besar di Brooklyn. Ia anak laki-laki satu-satunya dan yang tertua dari dua anak pasangan Sam dan Rose Toffler, yang merupakan imigran dari Polandia. Bakat menulisnya sudah ia asah sejak usia dini: ia mulai menulis puisi dan cerita tidak lama setelah belajar membaca dan bercita-cita ingin jadi penulis sejak usia 7 tahun.

Diawali "Future Shock"

Dengan buku Future Shock yang dengan gamblang menggambarkan bagaimana manusia dan lembaga pada akhir abad ke-20 harus menghadapi ketegangan yang sangat kuat namun juga peluang besar akibat munculnya perubahan cepat, Toffler mendapat kemasyhuran.

Buku ini yang merupakan hasil pengkajiannya selama lima tahun atas kekalutan kultural yang melanda AS dan negara-negara maju diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Ramalannya tentang konsekuensi perubahan cepat terhadap peradaban, keluarga, pemerintahan, dan ekonomi sangat akurat. Di buku itu ia menerawang perkembangan kloning dan berpengaruhnya komputer pribadi, juga penemuan internet, dan TV kabel.

Setelah Future Shock masih muncul Third Wave (1980) yang menjadi wacana hangat di Indonesia. Buku ini menjelaskan tiga Gelombang Peradaban, yakni Gelombang Pertama (8000 SM-1700), yakni dari era manusia nomaden hingga manusia menetap dan membuka lahan pertanian, lalu Gelombang Kedua (1700-1970) dari Revolusi Industri ke era komputer besar, dan Gelombang Ketiga (1750-2000-an) dari era komputer mainframe ke komputer pribadi.

Saat Toffler berkunjung ke Jakarta, September 1988, penulis sempat menanyakan, bagaimana dengan tumpang tindih Gelombang di sebuah negara seperti Indonesia, di mana satu wilayah baru memulai era pertanian setelah nomaden, sementara wilayah lain sudah menanyakan ramalan bintang ke kota maju di AS? Toffler menegaskan bahwa di AS yang sudah menikmati Gelombang Ketiga juga tetap ada pertanian, tetapi pertanian yang berciri Gelombang Ketiga. Di AS petani sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk mengetahui pola cuaca, atau mengikuti perkembangan harga komoditas.

Dalam berbagai seminar pada masa itu Prof Iskandar Alisjahbana meringkaskan Gelombang Ketiga Toffler dengan menyebut ciri utamanya bahwa peradaban di Gelombang ini ditandai dengan dominannya sejumlah teknologi: penerbangan dan eksplorasi angkasa luar, telekomunikasi dan pengolahan data, bioteknologi dan rekayasa genetika, serta nuklir dan energi terbarukan. Keempatnya ditopang oleh teknologi mikroelektronika.

Setelah Third Wave masih muncul Powershift (1990), ada juga Adaptive Corporation, tetapi sekadar menarik ke dimensi keamanan dunia, mendiang Toffler juga menulis War and Antiwar (1993). Dalam buku ini dikupas prospek perang di masa kini, yang antara lain ditandai dengan pergeseran dari geopolitik ke geoekonomi, yang dicirikan oleh makin eratnya temali dalam hubungan antarbangsa. AS dan Tiongkok bisa saja makin tegang menyangkut Laut Tiongkok Selatan, tetapi Tiongkok adalah mitra dagang utama AS. Mengingat ketergantungan ekonomi ini, muncul pertanyaan penting, apa iya kedua bangsa masih akan memikirkan perang?

Sementara itu, untuk informasi, baik juga kita ingat frase masyhur yang ia lontarkan, yakni "information overload". Ini karena selain kebanjiran informasi, macam informasi yang berlimpah itu juga-menurut guru jurnalistik Bill Kovach-bersifat "kabur" (blur, 2013). Bisa dibayangkan betapa berat beban masyarakat modern yang harus memikul beban informasi melimpah-ruah namun membingungkan tadi.

Toffler bukannya tak punya kritikus, tetapi ia diterima luas di berbagai negara. Perdana Menteri Tiongkok Zhao Ziyang menyelenggarakan konferensi untuk membahas Third Wave dan tahun 1985 buku ini best seller di Tiongkok, hanya kalah oleh kumpulan pidato Deng Xiaoping.

Futuris yang menulis 13 buku ini tutup usia dalam usia 87 tahun di rumahnya di kawasan Bel Air, Los Angeles, Senin (27/6).

Selain dikenang sebagai guru futurologi, Toffler telah mengilhami pemusik, seperti Curtis Mayfield dan Herbie Hancock yang menulis lagu berjudul "Future Shock".

Ramalannya tentang adanya kota artifisial di bawah ombak atau koloni antariksa belum jadi kenyataan, tetapi tentang Gelombang Ketiga, banyak yang sudah kita alami. Seperti dikatakan Steve Casse, pendiri AOL, kepergian Toffler adalah satu kehilangan. ●