Jumat, 08 Juli 2016

Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri

Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri

Sukidi ;   Kandidat PhD Studi Islam di Universitas Harvard, Cambridge
                                                         KOMPAS, 05 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Menurut pemahaman umum umat Islam Indonesia, Idul Fitri dipahami sebagai "kembali kepada kesucian." Umat Islam yang berpuasa selama Ramadhan dan merasa diampuni dosa-dosanya, dinilai sebagai manusia yang memperoleh kembali status kesucian, sesuai kondisi natural dirinya yang terlahirkan dalam keadaan suci.

Jika pemahaman ini dibenarkan, umat Islam yang terlibat korupsi dan berbagai kejahatan lainnya, memperoleh justifikasi teologis sebagai manusia yang terlahirkan kembali kepada kesuciaan di hari raya Idul Fitri. Pemahaman ini salah, dan melalui momentum hari raya ini, perlu direnungkan kembali makna Idul Fitri yang benar.

Dalam The Foreign Vocabulary of the Qur'an (1938), Arthur Jeffery, memasukkan 'id ke dalam kosakata asing, yang berasal dari bahasa Suriah, 'ida, bermakna "hari raya" dan, lebih spesifik dalam tradisi Kristen, sebagai "hari raya liturgi" (a liturgical festival).

Dalam tradisi Kristen, istilah 'id al-rusul dipakai untuk merujuk pada hari raya Santo Peter dan Paul; 'id jami' al-qiddisin untuk merujuk pada hari raya orang-orang suci (santo); 'id al-fish untuk merujuk pada hari raya Paskah; dan, yang lebih penting lagi, 'id al-milad untuk merayakan hari raya Natal, kelahiran Yesus.

Dalam konteks inilah, istilah 'id sudah biasa digunakan dalam tradisi hari raya agama monoteistik, seperti Kristen.

Konteks tradisi monoteistik

Dari sudut pandang sejarah, Islam hadir tidak dalam ruang hampa. Studi Islam di Barat akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Islam tidak dapat dipisahkan dari tradisi agama-agama monoteistik sebelumnya, yakni Yahudi dan Kristen.

Bahkan, sarjana-sarjana besar, seperti John Wansbrough dan GR Hawting membuktikan bahwa Islam hadir dalam konteks tradisi yang bukan politeistik, seperti pemahaman tradisional Islam selama ini, tetapi justru monoteistik dan aktif berpolemik secara teologis dengan agama- agama monoteistik pra-Islam.

Puasa yang dijalankan selama Ramadhan menjadi salah satu bukti bahwa Islam hadir dalam iklim keagamaan yang monoteistik. Puasa bukan semata-mata tradisi baru dalam Islam, tetapi sudah menjadi tradisi keagamaan monoteistik yang sudah dilaksanakan kaum Yahudi dan Kristen.

Kewajiban puasa di bulan Ramadhan pun sudah pernah diperintahkan kepada mereka yang termasuk dalam kategori ahl al-kitab, terutama orang-orang Yahudi dan Kristen.

Setibanya hijrah di Madinah, Nabi juga berinteraksi dengan orang-orang Yahudi. Saat itu, Nabi menyaksikan orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa pada peristiwa Yom Kippur yang jatuh pada hari ke-10 Tishri dalam kalender Yahudi, atau biasanya dikenal sebagai "Ashura" dalam tradisi Islam.

Ketika Nabi bertanya tentang alasan berpuasa, orang-orang Yahudi menjawab bahwa "Ashura" adalah hari di mana Tuhan menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa dan anak- anak Israel. Nabi pun berkata: "Kami memiliki hak yang lebih besar kepada Musa daripada yang kamu miliki."

Riwayat ini terekam dalam khazanah intelektual Islam, mulai dari kitab-kitab Hadis yang kanonikal, seperti Sahih Bukhari dan Muslim, sampai kitab-kitab sejarah yang otoritatif, seperti Tarikh al-Tabari.

Selain puasa yang menjadi bukti dari sejarah Islam yang hadir dalam iklim yang monoteistik, 'id juga merupakan nomenklatur keagamaan lain yang tak dapat dipisahkan dengan tradisi agama monoteistik Kristen. Apalagi, Islam mengklaim dirinya sebagai kontinuitas dari agama-agama monoteistik sebelumnya. Karena itu, tak heran Nabi Muhammad dan pengikutnya, umat Islam, juga merayakan hari raya keagamaan.

Konteks festival keislaman

Dalam konteks festival keislaman, umat Islam merayakan setidaknya dua hari raya kanonikal: Idul Adha pada 10 Zulhijah dan Idul Fitri pada 1 Syawal. Makna 'id dalam dua festival keislaman ini tidak merujuk pada makna "kembali", seperti Idul Fitri dimaknai sebagai "kembali kepada kesuciaan" dan Idul Adha sebagai "kembali kepada kurban."

Tentu saja, pemahaman ini salah, karena makna 'id dalam konteks festival keislaman ini sama- sama merujuk pada hari raya, sebagaimana makna 'id dalam tradisi hari raya agama Kristen. Karena itu, Idul Fitri lebih tepat dimaknai sebagai "hari raya buka puasa" (festival of fast-breaking) dan Idul Adha ('idal-adha) sebagai "hari raya kurban."

Dalam kitab hadis Sahih al-Bukhari, Nabi Muhammad melarang puasa pada dua hari raya itu dan justru merekomendasikan kepada umat Islam untuk merayakan hari raya Idul Adha dengan penyembelihan hewan kurban (festival of sacrifice) dan hari raya Idul Fitri dengan berbuka puasa dan makan (festival of fast-breaking).

Disebut sebagai hari raya buka puasa, karena hari raya Idul Fitri adalah penanda dari akhir puasa selama Ramadhan, sehingga kita diharamkan untuk puasa pada 1 Syawal. Dan, benar pula ketika Ali Mustafa Ya'qub (almarhum) menyebut Idul Fitri dengan tepat sebagai "hari raya makan," karena makna al-fitr itu sendiri adalah makanan.

Bahkan, sebelum shalat Idul Fitri ditunaikan, Nabi merekomendasikan umatnya untuk makan terlebih dahulu. Sesudah shalat Idul Fitri pun, umat Islam saling berkunjung untuk memaafkan satu sama lain, sambil menikmati momentum Idul Fitri sebagai "festival makanan" di setiap rumah. ●