Rabu, 06 Juli 2016

Parsel

Parsel

Putu Setia ;   Pengarang; Wartawan Senior TEMPO
                                                       TEMPO.CO, 01 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sebuah pesan WhatsApp saya terima kemarin sore. Isinya singkat: "Terima kasih parselnya sudah diterima." Pengirim pesan adalah kawan saya di kampung, Cak Dul panggilannya. Profesinya tukang cukur, satu-satunya pencukur di kecamatan kami karena banyak orang beralih cukur rambut di salon.

Cak Dul tergolong generasi ketiga warga muslim yang tinggal di desa saya. Ayahnya seangkatan dengan saya, pernah menjadi guru di SMA Muhammadiyah Singaraja, kini sudah tiada. Dan kakek Cak Dul adalah warga legendaris di desa saya. Panggilannya Pak Sukri, penjual sate ayam Madura. Keluarga Pak Sukri berbaur dengan warga kampung, ikut gotong royong memperbaiki selokan, rajin begadang di tempat orang yang ada kematian. Orang-orang desa menyebut mereka nyama selam. Nyama artinya warga, dan selam merujuk pada agamanya, Islam. Yang kemudian menjadi unik dari istilah ini, jika ada warga desa yang tidak makan daging babi, mereka disebut nyelam—seperti selam. Misalnya, dalam suatu hajatan di kampung, selalu ada pemberitahuan, bagi yang nyelam silakan ke tempat khusus yang telah disediakan, agar makanan tidak bercampur. Saya tak pernah bertanya di mana Pak Sukri dikuburkan.

Mendiang ibu saya sangat dekat dengan keluarga Pak Sukri. Menjelang Lebaran—biasa disebut galungan selam—ibu membawa ketupat yang sudah dimasak ke rumah Pak Sukri. Kadang-kadang di­sertai seekor-dua ekor ayam hidup dari hasil ternak rumahan. Kenapa ayam hidup? "Nanti dia yang sembelih, kan doanya beda," ujar ibu saya, setelah saya terjemahkan dari bahasa Bali. Adapun ketupat itu, kata ibu, konon ibu juga mengutip dari Pak Sukri, "sudah umum dipakai semua orang Bali dan Jawa". Kata Jawa di sini bukan saja merujuk pada "luar Bali", tapi juga "yang bukan Hindu". Kata ibu lagi (barangkali juga mengutip dari Pak Sukri), "ketupat itu tak beragama, bahannya sama, cara membuatnya sama, memasaknya sama." 

Belakangan anak Pak Sukri—saya lupa menyebut tadi, namanya Zaenal Airifin—menambahkan, "Kalau ketupat dipotong saat makan-makan Idul Fitri jadilah kupat Lebaran. Kalau dibawa ke pura, jadilah kupat persembahan." Memang, kalau hari raya Galungan, keluarga Pak Sukri pun membawa bingkisan ke rumah kami, lengkap dengan ketupat.

Tradisi saling mengantar bingkisan makanan di antara warga berbeda agama ini menjadi hal yang biasa di kampung yang berpenduduk campuran. Bahkan di kampung Islam Desa Pegayaman (Bali Utara) dan di kampung Islam Desa Kepaon (Bali Selatan), tradisi ini diwariskan turun-temurun. Masyarakat menyebut dengan istilah ngejot—saling berbagi.

Sepeninggal Pak Sukri dan ibu saya, keharmo­nisan hubungan berlanjut, diteruskan adik-adik saya dan anak Pak Sukri. Yang berbeda, sudah mulai masuk "jajanan toko" dan malah itu yang dominan, dibungkus kardus. Nah, pada generasi ketiga Cak Dul—saya tak paham kenapa memilih jadi tukang cukur di desa—bingkisan kue dan minuman kaleng ini oleh anak saya dikemas rapi memakai kertas kado yang sudah umum di desa. Jadilah seperti parsel.

"KPK melarang pejabat menerima parsel. Untung kita bukan pejabat," begitu pesan Cak Dul lagi lewat WhatsApp. Saya maklum, parsel di kalangan pejabat dan para pengusaha sudah disusupi pamrih, ada godaan, mungkin juga keterpaksaan. Beda dengan bingkisan dalam tradisi ngejot, muncul dari hati untuk menjaga silaturahmi, perekat yang membuat guyub berbilang tahun. Saya tak membalas pesan Cak Dul soal parsel, saya hanya menulis: selamat menyongsong Idul Fitri, maaf lahir batin. ●