Senin, 04 Juli 2016

Kemenangan

Kemenangan

Samuel Mulia ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 03 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Suatu pagi, dua hari sebelum jatuhnya tenggat tulisan ini, saya menyantap sarapan rohani seperti biasa. Sarapan yang satu ini telah dilakukan belasan tahun lamanya. Meski sekarang saya telah hidup puluhan tahun, sarapan macam itu baru belasan tahun dilakoni. Kalau Anda tanya mengapa, saya cuma bisa menjawab, ”Yaaa…gitu, deh.”

Duka lara

Pagi itu sarapan yang disodorkan adalah sebuah ajakan untuk melihat penderitaan sebagai sebuah sukacita. Sejujurnya bukan sebuah ajakan, melainkan pernyataan yang menggunakan kata harus. Jadi, saya harus melihat derita sebagai sebuah sukacita. Saya yakin, Anda tahu reaksi yang terjadi di kepala saya.

Saya protes. Tentu saya protes di kamar kecil bak sangkar burung itu dan sedihnya protes itu hanya didengar tembok dan rak buku. Yang protes makhluk hidup, yang mendengar benda mati. Jadi, bisa Anda bayangkan betapa frustrasinya. Biasanya kalau di kantor, atau kalau lagi curhat sama teman, selalu ada reaksi dari mereka yang mendengar.

Reaksi itu lumayan menolong saya untuk melihat sebuah keadaan dari sudut pandang yang berbeda. Kadang membantu, kadang meringankan, kadang malah naik pitam. Namun, daripada sama tembok atau benda mati, memang paling oke dengan sesama manusia. Apa yang saya protes?

Saya juga yakin sekali, dalam hal ini, Anda tahu apa yang saya protes. Terutama mereka yang telah menjalani penderitaan bertubi-tubi dalam bentuk yang beraneka rupa. Kehilangan orang yang dicintai, mengalami kebangkrutan dari sebuah kehidupan yang mapan sehingga utang menumpuk, penyakit yang datang silih berganti seperti pagi dan petang. Sembuh enggak, hidup sehat juga enggak.

Mengalami pelecehan, penghinaan sedari kecil sampai sekarang, mengalami diskriminasi di dalam keluarga atau dalam kehidupan sosial, mengalami pencurian, penipuan materi dan atau penipuan hati oleh pemberi harapan palsu, hidup yang dikuasai oleh manusia lain, tidak dapat bebas berpendapat.

Dimusuhi karena beda pendapat dan dianggap orang edan, kesepian yang sangat. Ingin berpasangan, kok, sampai hari ini tak dapat jodoh. Padahal, ada teman yang pernah mengatakan kepada saya, sebaiknya manusia itu tidak hidup seorang diri.

Tabur-tuai

Suatu hari, beberapa tahun lalu, teman saya yang tinggal di luar negeri mengirim pesan tak lama setelah ia baru saja kehilangan barang-barangnya di dalam taksi. Ia mengirim pesan sambil bertanya. ”Apa, ya, salahku ini? Kok, kayaknya belakangan ini ada saja yang hilang.”

Tentu saya mencoba memberikan balasan yang menyemangati. Tentu saya tak membalas dengan sebuah kalimat yang memojokkannya. Meski di dalam hati, sejujurnya saya ingin sekali mengatakan banyaknya kesalahan yang telah ia lakukan.

Maka, pagi hari setelah sarapan rohani itu, saya memulai hari tidak dengan kekesalan, tetapi dengan merasa, kok, otak saya enggak bisa mengerti pada penjelasan harus bersukacita dalam penderitaan. Karena, sebagai manusia, kalau bisa, saya sama sekali tidak mau menderita. Meski pengalaman hidup sendiri telah membuktikan kalau itu tak bisa dihindari.

Akan tetapi, disuruh sukacita dalam hidup yang sengsara itu saya sungguh tidak mudeng alias tidak mengerti dengan akal saya yang, meski munafik dan enggak pinter-pinter amat, masih lumayan sehat.

Saya sampai berpikir, apa yang menyarankan itu adalah manusia yang kehidupan spiritualnya sudah di langit ketujuh? Sudah dapat berkomunikasi dengan yang Ilahi sehingga mereka mampu melihat kesengsaraan sebagai bukan hal yang menyengsarakan?

Atau saya ini terlalu banyak membuat kesalahan seperti teman saya yang kehilangan barang-barangnya itu? Dosa-dosa saya yang tak terhitung jumlahnya membuat kepekaan kehidupan spiritual saya begitu amburadul sehingga tak mampu melihat yang duniawi dari kacamata spiritual? Sehingga saya bisanya cuma protes, cuma bisa ngomong.

Terus, kalau sampai bisa begitu, apakah itu yang disebut dengan hidup berkemenangan? Tetapi bagaimana caranya saya bisa seperti penulis buku santapan rohani itu? Apakah ia sendiri sudah tak punya rasa duka? Dia akan mampu senantiasa bersukacita atas kehilangan?

Apakah artinya ia mengharuskan saya menaklukkan keduniawian atau kemanusiaan saya? Apakah, kalau sampai mencapai tahapan itu, saya masih bisa disebut sebagai manusia? Apakah maksudnya bahwa penderitaan yang saya alami sekarang adalah hasil dari kejahatan yang saya lakukan pada masa lalu? Jadi, bisa dikatakan adillah. Sana menabur yang enggak baik, yaaa…sekarang tuailah yang tidak baik itu.

Jadi, dengan demikian, saya bisa melihat dan menjalankan penderitaan sebagai sukacita karena itu memang harga yang harus saya bayar. Bukan begitu? Bukan, ya? ●