Jumat, 01 Juli 2016

“Izinkan saya memohon maaf kepada kau, Siti."

“Izinkan saya memohon maaf kepada kau, Siti."

Jean Couteau ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                         KOMPAS, 17 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Entah kenapa, setiap akhir bulan Ramadhan, sejak Lebaran delapan tahun yang lalu, saya sangat sulit mengucapkan "mohon maaf lahir batin." Masalahnya bukan segi lahir dari maaf itu. Tinggal kirim SMS dan-lunaslah sudah kewajiban sosial saya. Masalah muncul ketika saya "memikirkan" segi batin itu. Setiap kali saya mencoba merenungkan artinya, saya selalu diliputi rasa pilu, pedih, gundah. Saya mencoba mulat sarira, mawas diri, tetapi selalu terganggu pada bayangan sosok perempuan yang pernah jadi bagian dari keseharian saya. Terlebih apabila peruntungkan saya dibandingkan dengan nasib buruk yang dialami perempuan yang sederhana itu.

"Kini, izinkan saya memohon maaf, secara batin, kepada kau, Siti."

Baru sekarang ini, delapan tahun kemudian, saya dapat memanggilmu dengan kata "kau". Dari "rumahmu", nun jauh di sana, kau pasti mengerti, kan? . Ketika kau pergi, pada waktu itu, kau hanya pamit mudik. Kau pulang untuk mengunjungi tanah leluhurmu, membersihkan batu nisan suamimu, dan berdoa sejenak dengan keyakinan ayat sucimu. Kau mencari jalinan-jalinan yang bisa mendekatkan kau dengan anak, kerabat, tetangga, pendeknya segenap memori yang masih kau anggap memberikan arti kepada kehidupanmu.

Namun, kau ini memang "bodoh", Siti! Kau selalu abai mengikuti "perintah" saya untuk memakai helm? Selain itu, bukankah kau belum terlalu pandai menaiki sepeda motor? Apabila mengegas mesinnya, bukankah kau selalu lakukan terlampau tiba-tiba sehingga Honda itu kerap melesat tanpa kendali. Maka, tak mengherankan apabila mudikmu itu menjadi bencana.... Ketika melewati jembatan kecil dari bambu, kau terjatuh.. Yang menampung tubuhmu hanyalah seonggok batu.. Seketika darah yang menderas dari kepalamu mengalir larut dengan air bening gunung tempat kelahiranmu.

Kala itu nasib kau memang naas, Siti. Kau juga menjadi korban ritual kesopanan ber-Lebaran: dokter puskesmas tempat kau digotong tidak ada. Sibuk dengan "mohon maaf lahir batin", entah menghadap pejabat atau bersilaturahim entah ke mana. Dua jam kemudian, dirimu adalah jasad tanpa nyawa.

Satu hari kemudian, di sela secuil berita duka di telepon dan tangisan sana-sini, kau telah bersanding dekat ayah-ibumu di bawah selapis tanah kering. Bagi kami sekeluarga, kau telah tiba-tiba lenyap, tanpa kami sempat mengucapkan "mohon maaf lahir batin".

Kini, di mana pun arwah kau berada, ingin saya haturkan "mohon maaf" kepada kau, Siti, meski secara batin saja. Saya baru sadar betapa awamnya saya tentang dirimu? Sebelum peristiwa itu, nama desa kelahiran kau tak pernah saya risaukan di mana berada! Nama putrimu saya tidak tahu, seperti pula kisah kegagalan cintamu! Yang pernah saya tahu dari kau, Siti, hanya kopi yang kau sajikan, celana yang kau setrika, dan kasur lusuh di mana kau rebahkan tubuh penatmu. Rutinitas-rutinitas yang membuat kemiskinan kau tampil sebagai tanda kekayaan saya. Ya! Memang, meskipun dulu kau hadir secara fisik, sejatinya kau tidak "eksis" di luar tingkahku. Kau adalah pembantu, Siti. Hanya "berhak" menampung kemarahan dan melayani kebutuhan. Tak boleh benar-benar "memiliki", "menghendaki", atau menertawakan apa pun. Dan, kini kamu telah hilang, nyaris tak berbekas di kenanganku, selain pada hari Lebaran!!! Maka, inzinkanlah saya memohon maaf kepada kau.

Apakah aku tiba-tiba insaf? Renungan tentang nasib kau yang mati ini memunculkan di benakku gambaran dari ratusan ribu saudarimu yang tengah berjejalan menempuh jalan-jalan menuju kota. Pulang dari mudik. Beberapa akan mati, sebagian besar akan hidup, tetapi hidup untuk "melayani". Melayani orang yang, seperti aku, terus berceloteh soal keadilan sosial dan kemanusiaan, tanpa terlalu peduli bagaimana mengamalkannya.

Maka, sekali lagi saya mohon maaf kepada kau, Siti, dan sebagai majikan, atas nama semua majikan, kepada semua pembantu dan wong cilik yang seolah tak eksis itu.