Sabtu, 02 Juli 2016

Pendidikan Iradah Puasa

Pendidikan Iradah Puasa

Masduri ;  Akademisi Teologi dan Filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya; Alumnus pesantren Nasy'atul Muta'allimin Gapura Sumenep
                                               MEDIA INDONESIA, 21 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PENDIDIKAN merupakan kunci ketercerahan hidup. Itu bukan sekadar sebagai konstruksi dalam membangun kehidupan materi, melainkan juga jiwa. Dunia pendidikan selama ini sibuk mengurusi persoalan materi. Peserta didik seperti proyek yang secara besar-besaran digarap menjadi pekerja dan pengabdi kepada materi. Lihat saja, betapa kehadiran dunia pendidikan terus mengultuskan angka-angka nilai dan kesuksesan materi. Keterdidikan semata hanya diukur dari pencapaian nilai angka. 

Kesuksesan hanya diukur dari pekerjaan dan uang yang dihasilkan. Pendidikan seperti hilang dari khitahnya sebagai dasar dari kehidupan sejati sehingga tidak mengherankan bila banyak orang yang pandai dan cerdas, tetapi tidak mampu membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.

Pendidikan kini telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan sekolah ataupun kampus. Lembaga pendidikan bukan lagi tempat pencerahan hidup, melainkan berubah menjadi tempat produksi robot-robot yang siap bekerja dengan paket pembelajaran yang ada di dalamnya. Mestinya, seperti dasarnya, pendidikan menjadi upaya pengembangan potensi-potensi manusiawi peserta didik, baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsa, sehingga potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam tindakan riil. Pemaknaan berfungsi riil tidak saja seperti yang selama ini salah dipahami banyak orang bahwa belajar di sekolah menjadi tempat menyiapkan diri mencari pekerjaan sehingga mendapatkan pekerjaan diselaraskan dengan fungsi riil dari keterdidikan.

Keterdidikan ialah bahasa universal dari kehadiran pendidikan. Menjadi orang terdidik yang mendapatkan pekerjaan hanya sebagian kecil makna dari kehadiran pendidikan. Lebih jauh dari itu, pendidikan seperti lumrah dibahasakan banyak orang merupakan upaya memanusiakan manusia. 

Dasar pendidikan ialah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan dan kesatuan organis, harmonis, dan dinamis guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Karena itu, pengingkaran terhadap nilai moralitas yang dilakukan orang yang pintar--untuk tidak mengatakannya terdidik--merupakan penistaan terhadap khitah pendidikan. Mestinya tidak ada lagi perbuatan koruptif, diskriminatif, dan berbagai tindakan destruktif bila penghayatan tentang keterdidikan tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian pekerjaan dan materi.

Tarbiyah al-Iradah

Dalam hidup, sejatinya ada satu hal yang harus dikendalikan, yaitu keinginan (al-iradah) karena yang mendasari semua tindakan manu sia adalah keinginan. Pendidikan sebagai dasar dari cita-cita universal kemanusiaan sebenarnya jika dimaknai secara konkret merupakan jalan yang hendak melahirkan ketercerahan manusia dalam menjalankan keinginan atau kehendak. Pendidikan formal selama ini dinilai kurang sukses dalam menjalankan pendidikan keinginan (tarbiyah al-iradah), yang ditandai dengan banyak orang bergelar sarjana, master, doktor, hingga profesor, tetapi tindakan mereka tidak bisa menghadirkan keadaban hidup. 
Mereka malah terlibat korupsi, diskriminasi, pemerkosaan, dan lain sebagainya, yang itu menggambarkan kekerdilan diri sebagai manusia yang tidak bisa mengendalikan keinginannya.

Puasa yang kini dijalankan umat Islam seluruh dunia dapat menjadi refleksi bersama dalam menyikapi persoalan ini. Dalam pandangan Rasyid Ridha, puasa memiliki korelasi yang sangat nyata dengan pendidikan keinginan. 

Sebagai fitrah manusia, keinginan ternyata tidak selalu konstruktif, tetapi juga destruktif. Karena itu, keinginan harus bisa dikendalikan. Puasa menjadi sarana pendidikan agar manusia selalu mengarahkan keinginannya pada jalan kebenaran dan menahan diri dari keinginan yang destruktif. Puasa menjadi jalan spiritual yang mendidik sifat rubbubiyyah (ketuhanan) kepada manusia agar dapat meniru sifat-sifat baik Tuhan seperti digambarkan dalam namanamanya yang agung, misalnya berbuat kasih, sayang, adil, sabar, pemaaf, dan perbuatan konstruktif lainnya. 

Manusia melalui puasa diajak melampaui banalitas kehidupan yang cenderung destruktif menjadi konstruktif. Puasa menjadi laku spiritual pengendalian diri (selfcontrol) terhadap setiap keinginan dan pilihan hidup manusia.

Ahli tafsir Indonesia, Quraish Shihab, secara gamblang memberikan penjelasan tentang hakikat hidup manusia. Potensi kehendak (keinginan) positif dan negatif yang diberikan Tuhan kepada manusia sebenarnya merupakan seruan keseimbangan hidup. Potensi tersebut dengan sendirinya menjadi pendidikan bagi manusia agar bisa mengendalikan keinginannya sehingga dalam konteks ini, puasa sangat relevan sebagai penyeimbang agar manusia tidak berbuat destruktif. Puasa mengarahkan manusia menjadi pribadi yang seimbang, seperti cita-cita pendidikan guna menyiapkan pribadi manusia dalam keseimbangan dan kesatuan organis, harmonis, dan dinamis guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Kerangka pedagogis

Pendidikan formal secara nyata belum bisa secara maksimal melakukan
hal ini. Selama ini pembelajaran di kelas lebih banyak fokus pada legal-formal pengetahuan dan mengambaikan makna universal dan substantif dari materi yang disampaikan. Puasa hanya bagian dari realitas hidup yang memiliki makna universal dari keterdidikan. Realitas lain masih sangat banyak yang bisa kita maknai sebagai proses belajar guna menjadi orang terdidik yang sesungguhnya. Orang terdidik ialah mereka yang kehadirannya bisa menenteramkan, menyejahterakan, dan meningkatkan kualitas hidup lingkungannya karena orang terdidik hidupnya sudah lepas dari nafsu destruktif, seperti keinginan menumpuk materi yang banyak
dengan mengabaikan moralitas. Mereka hidup dalam keseimbangan
harmonis guna mencapai kehidupan bersama yang terus baik, lebih baik,
dan sangat baik.

Pendidikan iradah model ini sebenarnya dapat menjadi acuan pembelajaran di kelas sekaligus meneguhkan pemahaman kepada peserta didik tentang potensi setiap pribadi untuk bertindak konstruktif atau sebaliknya destruktif. Para pendidik bisa memberikan pemaknaan subtantif tentang puasa sebagai model pendidikan universal tentang kehendak dalam diri manusia. Puasa sebagai ibadah menahan diri dari segala bentuk keinginan manusiawi, seperti makan dan seks, lebih jauh harus diteguhkan menjadi pendidikan universal pengendali diri agar setiap orang yang berpuasa dapat mengendalikan keinginan-keinginan manusiawi, yang sebagian kadang tak membuat orang lain merasa nyaman.

Peserta didik akan dapat memahami dan menangkap secara utuh makna kehadiran puasa jika yang dijelaskan para pendidik tak hanya sekadar landasan fikih yang kering makna. Kurangnya penghayatan makna terhadap puasa sebagai proses internalisasi nilai-nilai konstruktif untuk menjadi pribadi ideal sebenarnya tak lepas dari model pembelajaran yang selama ini banyak fokus pada legal-formal pengetahuan, sedangkan substansi dari penghayatan puasa, misalnya, tak banyak diuraikan. 

Sesuatu yang justru menjadi muara pengharapan Tuhan supaya manusia menjadi orang-orang yang bertakwa. ●