Senin, 12 Desember 2016

Solidaritas Bangsa

Solidaritas Bangsa
M Subhan SD  ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                    KOMPAS, 10 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saat berjuang menggapai kemerdekaan Tanzania yang multietnik pada 1950-an, Julius K Nyerere ditanya, ”Bagaimana bangsamu akan mencapai persatuan karena ada perbedaan prinsip?” Nyerere memberikan dua jawaban sederhana: selalu berbicara terbuka tanpa kebencian dan selalu bersahabat pada orang-orang yang berbeda (fisik ataupun ideologi). Lalu, bagaimana dengan orang India yang menguasai sektor ekonomi? ”Kami akan buktikan bahwa Anda akan hidup di alam demokrasi dalam masyarakat yang beraneka ragam coraknya di Afrika ini dan dapat menikmati kebahagiaan,” jawab Nyerere pada 1958.

Nyerere, pejuang yang kemudian mengantar Tanzania merdeka (1961) itu, tidak hanya memberi pelajaran, tetapi juga panutan. Memang tidak ada negara yang terlahir homogen. Seperti Indonesia, dibangun dari serpihan-serpihan perbedaan yang kemudian dirangkai seperti puzzle yang menyatu. Bhinneka Tunggal Ika! Perbedaan justru menjadi modal politik dan modal sosial yang membentuk menjadi kekuatan. Namun, perbedaan bisa destruktif juga ketika bergeser ke titik negatif.

Riak-riak ancaman terhadap kemajemukan bisa merusak manakala penghormatan terhadap kemajemukan diabaikan. Sekitar tiga bulan negeri ini pun riuh-rendah. Masyarakat terkotak-kotak, antara mereka yang beda pikiran, beda pandangan, beda sikap, beda ideologi. Perbedaan seakan-akan menjadi kutukan, bukan anugerah. Dunia maya (media sosial) tak ubahnya menjadi kubangan lumpur, tempat caci-maki, tudingan, fitnah, hoax. Media sosial bisa menjadi kawah pertarungan pro dan kontra serta juga ladang pembunuhan karakter.

Di kehidupan riil, muncul gelombang massa yang sangat masif, sebagai reaksi terhadap kasus penistaan agama yang diduga dilakukan Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama. Walaupun kasus itu kasus penegakan hukum, tetapi sulit mengesampingkan pertautannya dengan arena politik. Bagaimanapun juga tak lepas dari panggung Pilkada DKI Jakarta, yang kini ada tiga pasangan calon (Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, Anies Baswedan-Sandiaga Uno). Rivalitas sengit di Pilkada DKI Jakarta terasa sangat kuat, melampaui jauh dari 101 pilkada daerah lainnya yang akan digelar serentak.

Bisa jadi, inilah kekuatan massa luar biasa, bahkan bisa melampaui massa pada Reformasi tahun 1998, yang menumbangkan rezim Orde Baru. Aksi massa paling mencengangkan adalah ”Aksi Bela Islam” pada 4 November dan 2 Desember lalu di kawasan Monas. Kemudian ada massa melakukan ”istigasah demi keselamatan bangsa” di kawasan Monas pada 18 November dan aksi ”Kita Indonesia” di Thamrin-Sudirman pada 4 Desember lalu.

Mengacu Maurice Duverger (1972), ahli sosiologi politik asal Perancis, dalam pergolakan politik ada dua aspek, yaitu pertama, rebutan kuasa secara individual antara pihak-pihak yang bertarung, dan kedua, menggunakan kelompok-kelompok massa. Aspek pertama ditekankah oleh kelompok liberal, sedangkan aspek kedua diandalkan kelompok sosialis dan konservatif. Ketika saluran-saluran politik resmi dianggap mampat, kekuatan massa juga menjadi pilihan untuk mendesak pemegang kebijakan. Bahkan, hampir banyak terjadi gerakan massa menjadi pemukul hebat untuk menurunkan rezim-rezim otoriter.

Contoh gerakan massa paling masif dan luas adalah revolusi di Timur Tengah. Arab Spring telah mengubah perpolitikan di Tunisia, Libya, Mesir, Yaman, Suriah, Bahrain. Menggunakan medium media sosial, gerakan massa menjadi cepat menyebar dan meluas sejak tahun 2010. Penguasa-penguasa otoriter negara-negara tersebut jatuh atau kejatuhannya makin cepat. Moammar Khadafy, penguasa Libya, saja akhirnya terbunuh pada 2011. Padahal, AS bertahun-tahun kewalahan menghadapinya. Begitu juga lawan-lawan politiknya. Namun, gerakan massa, berkombinasi dengan kekuatan media sosial, plus kekuatan asing, simbol perlawanan terhadap AS itu pun tumbang juga.

Massa memang kekuatan luar biasa. Indo- nesia menyimpan kekuatan itu seperti magma di perut bumi. Pekan-pekan lalu sudah terlihat soliditas massa itu. Seiring dengan makin bekerjanya institusi penegak hukum, energi bangsa ini semestinya difokuskan untuk hal-hal yang dapat diproyeksikan pada kebersatuan bangsa. Kini, Aceh dilanda gempa. 

Saatnya seluruh kekuatan massa itu digunakan untuk bahu-membahu membantu Aceh. Tumbuhkan soliditas massa menjadi solidaritas bangsa.
Sudah cukup lama kita tersekat-sekat, termasuk soal suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Selama itu pula ego-kedaerahan begitu kuat. Otonomi justru membuat setiap daerah (kota/kabupaten) egois memikirkan daerah sendiri. Karena itu, penting dirancang agar daerah-daerah di dalam satu kawasan membangun ”koordinasi bersama”, yang akan lebih responsif, misalnya menghadapi bencana. Sebab, Indonesia itu satu kesatuan. Buanglah rasa berbeda, apalagi kebencian. ”Semaikanlah persaudaraan,” kata Nyerere.