Jumat, 30 Desember 2016

Memprihatinkan Politik Global

Memprihatinkan Politik Global
Chusnan Maghribi  ;   Alumnus Hubungan Internasional FISIP
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
                                           SUARA MERDEKA, 27 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MASYARAKAT internasional akhir-akhir ini diliputi waswas dan prihatin melihat dan membaca realitas politik global yang sedang dan akan terjadi. Apa gerangan yang membuat publik dunia berperasaan demikian? Tentu, pertama, yang membuat masyarakat dunia cemas dan prihatin adalah masih banyak dan kompleks konflik bersenjata di berbagai belahan bumi mulai dari konflik Palestina-Israel yang sudah berlangsung 68 tahun. Kemudian perang di Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, hingga Libya. Ancaman (serangan) terorisme di banyak negara termasuk Indonesia.

Adanya potensi konflik bersenjata di sejumlah kawasan, seperti Laut China Selatan dan Semenanjung Korea. Potensi konflik bersenjata di dua kawasan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena sangat potensial menyeret kekuatan- kekuatan besar, yaitu Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, untuk terlibat langsung dan saling berhadapan. Potensi konflik di dua kawasan itu termasuk bersumbu pendek.

Sangat mudah tersulut menjadi perang terbuka yang mendistabilisasi keamanan dan politik di kawasan Asia Tenggara atau Asia Timur pada umumnya. Ancaman (serangan) terorisme di banyak negara juga tak bisa dianggap remeh. Keberadaannya jelas nyata, bukan sekadar isapan jempol.

Bahkan negara-negara Eropa, seperti Prancis, Jerman, dan Turki belakangan termasuk kerap disasar serangan teroris hingga menimbulkan korban jiwa. Salah satu kelompok teroris (ekstremis) yang sangat berbahaya dan selalu diwaspadai adalah Islamic State (IS) yang bermarkas di Irak (Mosoul) dan Suriah (Aleppo) pimpinan Abu Bakar Al-Bagdadi. Meski basis mereka di Mosoul dan Aleppo belakangan diporak-porandakan oleh gempuran masif militer loyalis pemerintah Irak dan militer rezim Bashar Assad di Suriah yang di-back up penuh pasukan Rusia, tidak serta-merta pengikut IS yang masih hidup mau bertekuk lutut.

Diberitakan, sebagian dari mereka melarikan diri ke Asia Tenggara dan bakal menjadikan wilayah Filipina Selatan, Indonesia (Sulawesi dan Kalimantan), Brunei Darussalam, serta Malaysia (Sabah dan Sarawak) sebagai basis baru Kekhalifahan IS.

Keberhasilan Kepolisian RI membongkar “persembunyian” simpatisan (pengikut) IS di Bekasi dan Solo yang akan melancarkan serangan bom bunuh diri ke Istana Negara baru-baru ini tentu menjadi indikasi kuat akan ketercakupan Indonesia sebagai area target yang bakal dijadikan salah satu markas IS di Asia Tenggara.

Tentang konflik bersenjata yang masih berkecamuk di Timur Tengah atau kawasan lain, tentu hal itu sudah lama menjadi keprihatinan global. Publik dunia (PBB) pun sejatinya sudah kelewat banyak berikhtiar guna mengupayakan penyelesaiannya.

Tapi semua belum membuahkan hasil positif. Israel masih saja belum mau merelakan Palestina merdeka dan memiliki negara sendiri. Para pihak bertikai di Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, dan Libya belum mau berdamai. Malah perkembangan mutakh i r terutama di Irak dan Suriah (terkait perang melawan IS) makin memprihatinkan.

IS Keras Kepala

Sudah disinggung di atas, meski markas IS di Mosoul dan Aleppo sudah hancur, ratusan penduduknya terdiaspora dan mengungsi di negara lain, serta sebagian besar wilayah sudah dikuasai militer pemerintah Irak atau pemerintah Suriah, loyalis IS yang tersisa tak kunjung mau menyerahkan diri.

IS benar-benar keras kepala, tak mau takluk. Pesan singkat dari fakta tersebut, IS bertekad menjadi ancaman serius keamanan yang terusmenerus bagi keamanan publik dunia. Kedua, suksesi nasional di AS. Inagurasi alih tongkat estafet kepemimpinan Negeri Paman Sam akan dilakukan pada 20 Januari 2017 dari Barack Hussein Obama (Partai Demokrat) ke Donald John Trump (Partai Republik).

Trump berhak menggantikan Obama dan dinobatkan sebagai Presiden Ke-45 AS setelah menang dalam Pemilihan Presiden 8 November lalu atas kandidat Demokrat Hillary Roddam Clinton. Tetapi tidak semua masyarakat AS menyambut gembira kemenangan Trump. Malah sebagian warga AS berunjuk rasa di jalan-jalan memprotes kemenangan konglomerat real estat asal New York itu. Mereka menolak keterpilihan Trump.

Tidak cuma itu, masyarakat di Negara Bagian California berniat memisahkan diri dari AS (Suara Merdeka, 12 November 2016). Mereka menolak kemenangan Trump karena suami Melania itu bersikap rasis. Di luar itu, Trump berkepribadian temperamental. Bagaimana jadinya seorang temperamental memimpin negeri adidaya yang notabene pemegang kendali pengaruh dunia dewasa ini?

Akankah Trump tampil sebagai inspirator sekaligus pelopor bagi upaya-upaya penyelesaian konflik bersenjata yang kini masih berkecamuk di berbagai kawasan? Atau sebaliknya, Trump bakal tampil sebagai provokator yang makin mempersulit upaya penyelesaian konflik-konflik bersenjata yang tengah berlangsung? Bahkan lebih dari itu, menjadi pemicu bagi kobaran api peperangan baru? Tentu, pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab saat Trump menduduki singgasana Gedung Putih. ●