Rabu, 21 Desember 2016

Hilangnya Ruh Agama Dakwah

Hilangnya Ruh Agama Dakwah
Jabir Alfaruqi  ;   Ketua PW Ansor Jawa Tengah 2010-2014
                                           SUARA MERDEKA, 20 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKHIR-AKHIR ini bila dicermati secara seksama, Islam di Indonesia semakin memudar atau lentur sebagai agama dakwah. Selanjutnya, wajah Islam lebih dominan tampil sebagai agama politik.

Memang, tidak haram bagi Islam menyandingkan agama dan politik karena di dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari dimensi politik. Islam sebagai agama dakwah sangat berbeda dari Islam sebagai kekuatan agama politik.

Islam sebagai agama dakwah mengedepankan nilai-nilai subtansial Islam. Islam kemudian mengejawantah menjadi agama rahmat, santun, akhlakul karimah, bersifat merangkul, merajut persaudaraan, kebersamaan, saling asah, asih dan asuh dalam tata kehidupan sosial dan keagamaan.

Religiusitas menjadi sejuk dan damai, membawa kententraman lahir dan batin. Itulah ruh Islam sebagai agama dakwah. Adapun Islam sebagai agama politik mengedepankan sentimen pribadi, kelompok, etnis dan suku menjadi sangat dominan.

Sifat lemah lembut, suka memaafkan, suka bergandeng tangan dengan nonmuslim, suka kebinekaan adalah bentuk kelemahan dan ketidakberdayaan. Islam harus tampil strong, power full dan tegas serta tidak kenal kompromi terhadap siapa pun termasuk dengan sesama muslim yang tidak sepaham.

Islam sebagai agama dakwah bersifat mengajak semua pihak ke jalan Allah Swt. Islam memelihara mereka yang sudah benar keimanannya, membimbing yang belum benar, mendampingi yang agak melenceng-melenceng aqidahnya dan merangkul yang belum muslim agar menjadi muslim, yang belum beriman menjadi beriman.

Karena itu manusia yang memahami Islam sebagai agama dakwah akan bersifat lemah lembut, santun, mengutamakan akhlakul karimah dan tidak membangun garis demargasi yang keras dan cenderung memvonis.

Sikap dan prinsipnya fleksibel yang penting subtansinya bisa tercapai. Prinsip sebagai agama dakwah adalah bagaimana semua manusia dari kelompok suku, ras dan agama mana pun agar bisa menikmati bahwa Islam itu agama rahmat.

Agama yang membawa kedamaian dan jalan lurus bagi manusia yang ingin sukses dunia dan akhirat. Hal ini berbeda dari prinsip Islam sebagai agama politik. Tampilan mereka keras dan tegas. Wajah yang ditampilkan adalah tidak kenal kompromi dan tidak mau mengalah dengan siapa pun.

Bukan hanya dengan kelompok nonmuslim, dengan sesama muslim pun yang meraka anggap pahamnya tidak sama atau dalam memahami agama ada perbedaan dianggap bukan kelompoknya dan bisa dituding kafir.

Kalau sudah dituduh kafir, maka selanjutnya akan dianggapm halal darahnya dan tidak perlu dikasihani. Kekakuan wajah Islam akhir-akhir ini dirasa bukan hanya oleh nonmuslim tetapi oleh kelompok muslim yang meyakini Islam sebagai agama rahmat juga mengalami kegelisahan.

Gelisah karena wajah islam semakin menyeramkan, menakutkan dan kurang lembut serta membawa kedamaian. Kelompok yang mengaku Islamnya paling benar sering menilai kelompok lain yang tidak sepaham dan seirama sebagai ahli bidíah, musyrik, dan kafir.

Kata-kata kafir semakin sering menghiasi dan membanjiri kosa kata dalam pergaulan Islam kontemporer. Padahal tuduhan kafir itu bukan hak manusia tetapi haknya Allah Swt, pemilik agama dan keimanan.

Welas Asih

Implikasi dari Islam yang berwajah politik adalah menghalalkan satu sama sama lainnya sesama muslim saling menuduh, memfitnah, membuka aib, menjelekkan, memojokkan. Orang yang memiliki pemahaman yang berbeda dari yang mereka yakini akan dianggap menyeleweng dari agama dan dijadikan bahan olok-olok serta kampanye.

Bahasa-bahasa yang muncul kemudian semakin menggelisahkan, bukan menyejukkan. Sekan-akan surga itu miliknya dan yang lain tidak bisa mendapatkannya.

Padahal kalau dihayati dengan seksama sebetulnya manusia di hadapan Allah itu tidak perlu merebut otoritas Allah. Manusia itu bukan penentu ibadahnya yang paling sah, perilakunya paling mulia, dan menganggap yang lain semua salah. Itu semua adalah hak prerogratif Allah.

Allah tidak perlu dan tidak bisa diintervensi oleh siapa pun dalam menegakkan otoritasnya. Siapa tahu manusia-manusia yang selalu diolok-olok, dipojokkan, dihina dan dituduh bidíah justru ibadah dan hidupnya diterima oleh Allah. Allah menerima bukan karena ibadahnya benar tetapi karena sifat welas asihnya kepada orang yang selalu dizalimi.

Sebaliknya menolak ibadahnya orang-orang yang selalu merasa benar dan paling sah karena sikap dan merasa diri seperti itu sudah mengintervensi hak prerogratif Allah. Jika terjadi semacam itu, manusia mau apa? Lewat tulisan ini, penulis mengajak kepada semua saudara-saudara se-iman se-agama, sebangsa dan setanah air, marilah kembali kepada ruh Islam sebagai agama dakwah.