Minggu, 25 Desember 2016

Berharap pada Tol Trans-Sumatera

Berharap pada Tol Trans-Sumatera
DRI/SAH/RAM/ITA/WSI/MUL  ;   Wartawan Kompas
                                                    KOMPAS, 23 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Jalan lintas timur Sumatera Selatan sepanjang 32 kilometer, antara Indralaya dan Palembang, telah lama menjadi jalan yang sangat menjengkelkan bagi pemakai jalan. Kemacetan kerap terjadi di ruas jalan padat kendaraan itu.

Kemacetan disebabkan jalan sempit dengan dua lajur berlawanan, yang masing-masing hanya dapat dilewati satu mobil. Begitu ada kecelakaan, langsung macet parah.

Kondisi serupa juga kerap terjadi di ruas Medan ke Stabat, ibu kota Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kemacetan akibat jalan sempit dan banyaknya kendaraan melintas membuat perjalanan ke arah Aceh, dan sebaliknya ke arah Medan, menjadi lambat.

Lokasi kemacetan di sejumlah lokasi lain di jalan lintas timur Sumatera, dengan penyebab yang sama, juga kerap terjadi di Lampung, Jambi, Riau, dan Aceh.

Pemerintah mencoba memecahkan keterbatasan infrastruktur jalan di Sumatera itu dengan membangun tol. Jalan bebas hambatan sepanjang lebih dari 2.000 kilometer akan membentang mulai Pelabuhan Bakauheni di Lampung hingga Banda Aceh.

Saat Tol Trans-Sumatera terwujud kelak, kemacetan lalu lintas di banyak lokasi di jalan lintas timur serta lintas tengah Sumatera tentu akan berkurang. Demikian pula di lintas barat. Mobilitas lebih dari 50 juta penduduk Pulau Sumatera pun dipastikan lebih mudah, baik di daerah sendiri, ke provinsi lain, maupun ke Pulau Jawa.

Keuntungan lain terbukanya transportasi darat adalah pertumbuhan ekonomi. Distribusi hasil produk hortikultura, tanaman pangan, dan pertambangan akan lebih mudah dan murah. Truk-truk besar pun tidak lagi terjebak di jalan lintas yang hingga kini sering rusak parah.

Rencana pembangunan Tol Trans-Sumatera di Provinsi Aceh disambut positif pemerintah daerah setempat. Tol akan mampu mengembangkan potensi sektor pertanian dan perkebunan Aceh yang selama ini belum optimal.

Kepala Dinas Bina Marga Aceh Rizal Aswandi mengatakan, jalan bebas hambatan sangat penting untuk mendukung pengembangan perekonomian Aceh. Apalagi jalan lintas timur yang menghubungkan Banda Aceh dan Medan sudah padat.

Sektor pertanian dan perkebunan Aceh memiliki potensi besar. Di sektor pertanian, misalnya, produksi padi Aceh 2,3 juta ton pada 2015. Di sektor perkebunan, Aceh memiliki kopi arabika Gayo yang populer hingga ke di tingkat internasional. Menurut Rizal, kedua sektor itu butuh daya dukung infrastruktur jalan untuk menunjang pemasaran, terutama saat akan diekspor melalui Medan. Tol Trans-Sumatera menjadi solusi masalah itu.

Jika ada tol, mobilitas Banda Aceh-Medan yang biasanya 12-15 jam bisa menjadi 5-6 jam.

Menurut Rizal, rencana pembangunan Tol Trans-Sumatera di Aceh sudah masuk tahap perampungan berkas detail engineering design (DED) untuk ruas Banda Aceh-Sigli, Kabupaten Pidie, sepanjang 73 kilometer di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. DED tuntas, pembebasan lahan dimulai. Rencana pembangunan fisik ruas Banda Aceh-Sigli dimulai 2017 dan diharapkan selesai 2018.

Pembangunan Tol Trans-Sumatera di Aceh, kata Rizal, terdiri dari ruas Banda Aceh-Sigli, Sigli-Lhokseumawe, Lhokseumawe-Langsa, dan Langsa-Kuala Simpang, dengan total panjang 400 kilometer. Semua ruas itu ditargetkan selesai 2019.

Dosen Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Muhammad Isya, mengatakan, selain membangun Tol Trans- Sumatera di lintas timur Aceh, pemerintah pun patut membangun jalan akses penghubung kawasan timur, tengah, dan barat Aceh. Jika akses penghubung tidak dibangun, kawasan tengah dan barat akan kian tertinggal.

Di Sumatera Utara, pengerjaan di ruas Medan-Binjai dan Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi yang merupakan bagian dari Tol Trans-Sumatera terus dikebut agar bisa selesai tahun 2017. Direktur Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia, Wahyudi, mengatakan, pembangunan jalan tol itu memberi kesempatan kepada warga perdesaan yang dilewati jalan tol memasarkan produk desanya, terutama di tempat peristirahatan. Warga desa perlu disiapkan agar memanfaatkan kesempatan itu sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton.

Babak baru

Di Provinsi Riau, pekan kedua Desember 2016 menandai babak baru pembangunan Tol Sumatera ruas Pekanbaru-Dumai. Proses pembangunan fisik jalan tol sepanjang 131 kilometer itu sudah dimulai dan dijadwalkan bakal selesai pada 2019.

Transportasi dari dan menuju kota pelabuhan Dumai, atau kendaraan dari dan menuju Medan, akan semakin lancar yang pada gilirannya mampu mengurangi biaya transportasi sekaligus mengurangi beban jalan lintas Sumatera yang semakin berat. Waktu tempuh jalur Pekanbaru-Dumai, yang selama ini lima jam hingga tujuh jam, dipotong menjadi dua jam sampai tiga jam.

Peran Kota Dumai dalam pembangunan Riau sungguh tak dapat diabaikan. Sumbangsih pelabuhan terbesar kedua di Sumatera itu terhadap negara ini pun besar. Setiap tahun Pelabuhan Dumai memberi sumbangan sedikitnya Rp 12 triliun, hanya dari pajak ekspor minyak kelapa sawit (CPO). Dumai juga memiliki kilang minyak Pertamina dan PT Chevron serta beberapa perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala besar.

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengatakan, percepatan pembangunan Riau sangat mengandalkan Tol Pekanbaru-Dumai. Dalam kondisi migas dan perkebunan yang belum membaik saat ini, ekonomi Riau tetap tumbuh, apalagi kalau tol ini selesai bisa dibayangkan kami bisa lebih baik.

Koordinator Pembebasan Lahan Tol Pekanbaru-Dumai, Syamsul Bahri Lubis, mengungkapkan, pekerjaan fisik Ttol Pekanbaru-Dumai sudah dilakukan. Adapun pembebasan lahan dilakukan secara simultan.

Di Sumatera Selatan, menurut Manajer Proyek Jalan Tol Palembang-Indralaya (Palindra), Hasan Turcahyo, perkembangan pengerjaan tol sepanjang 22 kilometer itu baru 40 persen atau mundur dari rencana awal 58 persen sampai akhir tahun ini.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel Permana berharap Tol Palindra selesai tepat waktu. Apabila akses dari dan menuju Kota Palembang semakin lancar, perekonomian di Sumsel akan bertumbuh.

Jika kelak Tol Trans-Sumatera dioperasikan, perekonomian Aceh hingga Lampung niscaya akan tumbuh, dengan semakin mudahnya distribusi barang. Bahkan, dua provinsi kepulauan di kawasan Sumatera, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung, akan ikut terangkat. Dukungan lancarnya penyeberangan ke Pulau Jawa akan semakin mendorong kebangkitan ekonomi itu.