Rabu, 28 Desember 2016

Abah dan Sosok Guru yang Baik

Abah dan Sosok Guru yang Baik
Ahmad Baedowi  ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                         MEDIA INDONESIA, 26 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DALAM kehidupan seseorang, ada banyak cerita yang menyertai kesuksesan dalam hidupnya. Namun, hampir bisa dipastikan jejak yang baik dalam kehidupan seseorang pasti lebih banyak mengingat jumlah guru yang baik dalam kehidupannya.

Misalnya, selama hampir 32 tahun tak tahu kabar berita, tiba-tiba beberapa teman semasa di pesantren dalam sebuah acara reuni menegur saya.

"Bae, ente ingat ustaz Sofyan Hadi gak? Dia sering banget nanyain elu," kata Nurdin, salah seorang teman.

Saya tentu terhenyak karena ustaz Sofyan Hadi merupakan guru sekaligus mentor abadi dalam tonggak sejarah perjalanan hidup saya.

Beliau sangat arif, bertutur lembut, dan murah senyum jika menghadapi para santrinya.

Termasuk ketika memilih saya secara khusus untuk dilatih sebuah keterampilan berkomunikasi ala pesantren, yaitu berpidato di forum muhadarah bak orator ulung.

Bagi saya, mengenang seorang guru merupakan cara paling murah dan mudah untuk membangun kembali ghirah ke pendidikan pada diri sendiri.

Jika ada jajak pendapat yang bertanya tentang rahasia sukses seseorang, pasti guru akan menjadi faktor sangat dominan dan banyak dipilih sebagai penentu kesuksesan seseorang.

Selain ustaz Sofyan Hadi, ada sosok ustaz Hasan Amirin yang teguh, galak, selalu tak mudah menerima kelemahan santrinya.

Sikap beliau itu pada akhirnya mengirim banyak pesan dalam kehidupan saya, disiplin dan kepatuhan terhadap guru merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Keteguhan ustaz Hasan Amirin membawa saya selalu berpikir tentang makna disiplin dalam dunia pendidikan.

Selain itu, ada sosok ustaz Abdurrahman, sosok ustaz asal Betawi yang jauh dari kesan sombong dan tinggi hati.

Ustaz Abdurrahman, baik ketika sedang mengajarkan nahwu dan sharaf, ialah seorang pendendang ketika anak-anak sedang dalam tekanan hafalan Alquran dan muthala Hadis.

Suaranya yang merdu menjadikannya sebagai ustaz yang tidak hanya pandai mengaji dengan lantunan yang tartil, tetapi juga di kelas SMP beliau pengajar seni suara dan kaligrafi yang tak ada duanya.

Jiwa seni yang mendalam dari anak Pasar Minggu ini menyisakan begitu banyak langgam dan dendang suara selawat dan cara membaca qiraah sabah dengan gaya berbeda pada diri saya, bahkan sedikit menulis kaligrafinya juga tertitis dalam bakat saya majemuk ini.
Gaya mengajar

Jika gaya mengajar dan mendidik ustaz Sofyan Hadi, ustaz Hasan Amirin, dan ustaz Abdurrahman diskemakan ke dalam prinsip pedagogis Bobby De Potter (Quantum Teaching: 2004), sikap dan perilakunya (habits) yang santun dan murah senyum, disiplin, murah rasa atau perasa seperti mudah untuk mendengar siswa, ialah gambaran autentik dari kombinasi antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan niat/gairah (passion) jika ingin dijelaskan secara aplikatif.

Selain itu, ada sosok lain yang memiliki kombinasi ketiganya, dan ketika saya sadari sosok tersebut ialah abah saya sendiri, Abdul Rauf Bahrum Hamidy.

Ketegasannya yang menginginkan saya sukses bisa membaca Alquran dengan baik ditunjukkannya dalam kegiatan mengaji antara magrib dan isya, jauh sebelum saya ke pesantren dan mengenal 3 sosok ustaz saya.

Abah menegakkan disiplin tanpa ampun buat saya sebagai anak pertama.

Itu karena anak pertama, menurutnya, enggak boleh gagal dan harus menjadi contoh yang baik bagi adik-adik saya. Apakah abah murah senyum?

Saya kira hampir semua teman saya yang mengenal saya sejak di pesantren hingga perguruan tinggi bahkan hingga saat ini, akan mengakui kalau abah orang yang ramah.

Abah juga memiliki suara yang bagus dalam seni membaca Alquran, dan hampir semua orang yang mengenalnya sering membandingkan bahwa yang mendekati enaknya suara abah jika menjadi imam salat mungkin saya.

Meskipun saya sendiri merasa risih karena tentu tak bisa dibandingkan dengan kemampuan abah.

Penguasaan bahasa Arabnya juga lumayan kuat, untuk seorang mahasiswa IAIN yang hanya sampai semester 2 di Jakarta.

Beliau tak melanjutkan pendidikannya karena kakek saya tak memiliki uang yang cukup untuk abah.

Pendek kata, abah sosok lengkap bagi saya hari ini, yang mengajari menjadi seorang guru ialah penting buat membantu orang lain maju.

Sejak kecil mungkin saya yang paling beruntung karena sering diajak ke masjid jika Abah bertugas sebagai khatib Jumat.

Bahkan ketika mengajar di PGA Bekasi yang tengah sawah, beliau rela menggendong dan mendudukkan saya di atas meja dan di depan para siswanya sambil tak henti memegang kapur.

Jadi kalau ditanya siapa guru terbaik saya saat ini, ya abah saya.

Ternyata dalam ingatan saya beliau memiliki banyak bakat dan kelebihan yang melekat di mata hati saya, dan bahkan melampaui apa yang saya ingat dan pelajari dari ustaz Sofyan Hadi, ustaz Hasan Amirin, dan ustaz Abdurrahman.

Belajar dari Abah saat ini bagi pengalaman belajar saya ialah sebuah blessing dan penuh makna.

Dengan kesadaran bahwa proses belajar-mengajar sesungguhnya merupakan upaya pembangunan makna (meaning making), berinteraksi secara langsung dengan abah baik sebagai orangtua maupun guru ialah pengalaman batin yang luar biasa.

Sosoknya bukan hanya paham untuk merumuskan pola pembelajaran yang berorientasi pada perumusan makna, melainkan juga kaya akan pemaknaan yang harus dihayati.

Prinsip niat baik dalam belajar baginya merupakan kata kunci yang harus dipegang teguh oleh setiap santri atau siswa.

Prinsip niat baik yang dimaksud dalam keseharian abah yang saya tangkap ialah keyakinannya tentang perlunya ketaatan kepada orangtua dan guru.

Ketika belajar, baik langsung maupun tidak langsung, posisi kita sebagai siswa dan anak harus selalu dalam kondisi berbaik sangka terhadap orangtua dan guru.

Hal ini terekam dengan sangat fasih dari pengalaman saya ketika dengan sedikit 'memaksa' menempatkan saya di pesantren ketika teman-teman lainnya justru bersekolah ke SMP negeri.

Sedikit cerita ini hanya ingin menggambarkan bahwa ketaatan kepada orangtua dan guru pasti akan berbuah manis.

Karena sesudah peristiwa itu banyak hal baik yang saya terima, termasuk tanggung jawab untuk mengelola Sekolah Sukma Bangsa di Aceh.

Namun, sangat disayangkan bentuk ketaatan ala pesantren saat ini seperti hilang ditelan bumi karena tak lagi banyak dianut dan ditiru para siswa kita.

Kalaupun ada yang meniru model ketaatan, dalam gaya belajar saat ini tak lebih dari proyeksi guru dan siswa soal makna disiplin yang terkesan dipaksakan dan tak genuine lahir dari sebuah proses kesadaran siswa itu sendiri sebagai hasil dari interaksi dengan guru-guru mereka.

Padahal dari kacamata teologis (agama), ketaatan semestinya merupakan sumbu penerang bagi seorang pelajar yang ingin memiliki kedalaman ilmu dan kebaikan akhlak untuk bekal di dunia dan akhirat.

Terima kasih abah, yang telah mengajari saya tentang kesantunan bersikap, berperilaku, dan bertutur berdasarkan niat ikhlas dan juga sebagai bentuk ketaatan terhadap guru.

Ada satu nikmat lagi yang saat ini sedang kami nikmati dan kami terima sebagai ujian dari proses belajar-mengajar yang sangat panjang, yaitu kami diuji sakit yang membuat saya dan abah tak mulus berkomunikasi, karena masing-masing sedang menjalani pengobatan, demi ikhtiar dan keyakinan bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tidak akan memberikan beban kepada siapa pun melainkan ia mampu untuk menjalaninya. ●