Kamis, 29 Desember 2016

Jembatan Dialogis Kristen Islam

Jembatan Dialogis Kristen Islam
Andreas Kristianto  ;   Aktivis Gereja Kristen Indonesia;
Koordinator jaringan GUSDURian Jombang
                                                  JAWA POS, 25 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SAYA harus mengakui dengan jujur bahwa polemik antara agama Kristen dan Islam berlangsung sengit. Entah dalam ranah politik, sosiologis, maupun etis publik. Salah satu penyebabnya bukan alasan superfisial, berkaitan dengan pelarangan memakai atribut Natal bagi orang Islam, topi santaclaus dan sejenisnya, tetapi lebih ke arah fundamental doktrinal/ajaran.

Memang harus diakui, ada perbedaan konseptual teologis tentang Isa/Yesus itu sendiri. Karena itu, memaksakan perbedaan, baik secara epistemologis maupun ontologis, hanya meruncingkan konflik yang ujungnya adalah pertikaian antar pemeluk agama.

Saya melihat bahwa teologia Islam sepanjang sejarah mempersoalkan jati diri Yesus dalam bingkai ajaran Trinitas dan pokok ketuhanan-Nya. Sebaliknya, teologia Kristen berusaha menjawab persoalan tersebut yang pada dasarnya adalah sikap apologetik. Namun, sampai sekarang hal tersebut tidak menemukan titik temu.

Kontestasi teologis yang diwariskan sampai detik ini oleh konsili Nicea (325 M) adalah persoalan dogma yang lahir dari situasi dan kondisi. Kami harus jujur bahwa warisan historis teologis berkaitan dengan Yesus adalah Tuhan dan sekaligus manusia adalah jantung iman yang tidak bisa dibantah dan dimungkiri. Kami menolak itu, berarti menolak keberadaan-Nya. Oleh sebab itu, pokok iman itu menjadi fundamental bagi kami.

Yang mencerahkan adalah Jacques Duquis dalam bukunya, Toward a Christian Theology of Religious Pluralism, mengungkapkan demikian: Peristiwa Yesus Kristus adalah peristiwa partikular dan sekaligus universal (Duquis, 2000: 15). Dia tidak menyingkirkan tradisi dan agama-agama yang berbeda. Baginya, Kristus juga hadir dalam perjumpaan agama-agama lain. Kata kuncinya adalah ’’konstitutif relasional’’. Bukan ’’absolut’’ dan ’’relatif’’.

Di tengah relasi lintas iman, kebenaran relasional menjadi penting. Dialog dilihat sebagai kebutuhan mendasar. Rujukannya adalah pluralisme dialogal bukan pluralisme indiferen yang menempatkan semua agama itu sama saja. Pluralisme dialogal membawa umat beragama masuk integritas yang terbuka. Integritas Kristen ditentukan oleh Injil Kristus. Namun, kebenaran itu berhubungan dengan tradisi dan kebenaran agama lain.

Pandangan Islam tentang Yesus

Isu tentang jati diri Yesus telah menjadi topik hangat sepanjang masa antara Kristen dan Islam. Dalam Alquran, terdapat 15 surat dan 93 ayat yang di dalamnya berkisah cerita tentang Yesus dapat ditemukan. Dalam Islam, Yesus diakui sebagai nabi utama, dikenal dengan populer, dan masuk kategori istimewa. Disejajarkan dengan Nuh, Ibrahim, Musa, dan Muhammad.

Mengapa istimewa? Sebab, perjuangannya menegakkan doktrin monoteisme/ tauhid. Bahkan, disebut sebagai UluI Azmi, yang artinya memiliki keteguhan dalam membawa pesan profetik dan kerasulan. Citra Yesus dalam Islam semata-mata tidak dibentuk oleh Alquran dan hadis, tetapi melalui proses pelan-pelan yang memakan waktu panjang di tengah perjumpaan langsung dan daerah yang mereka taklukkan, seperti Syiam, Iraq, Mesir, dan daerah Maghribi. (Rambitan, 2003: 40-41).

Yesus yang disebut Isa tidak dikisahkan secara historis sebagaimana dilakukan oleh Alkitab, tetapi ditempatkan dalam bingkai polemik Muhammad dengan orang Yahudi dan Kristen (Rambitan, 2003: 41). Itu yang menjelaskan mengapa sikap-sikap antidialog berkembang di kalangan Islam. Berbeda dengan kalangan mistik Islam, yang cenderung mengapresiasi agama Kristen di tengah konteks pietisme dan tradisi pengamal tasawwuf.

Di dalam surat 5:17 dan 72 bicara tentang kesesatan orang-orang Yahudi dan Kristen yang mengidentifikasi Yesus sebagai Allah. Yesus dimengerti sebagai manusia dengan status yang istimewa. Tetapi, Dia tidak bersifat Ilahi. Yesus dipandang sebagai Nabi Allah, seorang utusan Allah yang membawa firman, perintah, dan hukum ke dalam dunia. Yesus juga dipandang sebagai hamba Allah. Orang yang dipilih Allah untuk mengerjakan karya-Nya ke dalam dunia. Sebagai hamba Allah, Yesus ada dalam posisi sangat dekat dengan Allah.

Isu tentang ketuhanan Yesus memang menjadi polemik dan bersifat apologetik. Kebanyakan intepretasi Alquran merujuk bahwa Yesus bukan Ilahi dan Yesus tidak pernah mati di kayu salib. Itu semua yang mejelaskan mengapa tradisi Natal yang merupakan peristiwa inkarnasi, Allah menjadi manusia, ditolak oleh kalangan Islam. Lalu, bagaimana masa depan dialog teologis antara Islam dan Kristen? Apakah mengalami kebuntuan?

 Paradigma Mediasi Relasional

Kekristenan di Indonesia memang unik jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Amerika. Mengapa unik karena Kristen hidup berdampingan dengan komunitas Islam. Yang menarik adalah bagaimana iman kita dan hidup belajar dalam memperkaya satu dengan yang lain. Istilah oleh Pannikar adalah dialog intrareligius.

Jalan yang harus ditempuh adalah kita harus mulai ’’menyeberang’’ ke agama lain untuk melihat tradisi dengan pandangan baru. Meskipun pemahaman Islam tentang Isa dan polemiknya dengan Trinitas dan ketuhanan begitu pelik, tidak mustahil bisa ada titik temu di dalamnya.

Salah satu kuncinya adalah paradigma mediasi antara Allah dan manusia. Yesus menjadi mediator antara Allah dan manusia. Yang memiliki kualitas manusiawi dan sekaligus Ilahi. Prof Banawiratma mengatakan, ’’Allah yang diimani oleh umat Kristen sebagai Bapa dan Ibu adalah sejajar dengan yang diimani umat Islam sebagai Allah Yang Mahabesar, Mahakuasa, Allah Maharahim, Allah Pengasih dan Penyayang. (Banawiratma, 2000: 82).

Banawiratma menjelaskan bahwa dalam iman Kristen dan iman Islam, mediator diterima sebagai wahyu atau firman Allah. Umat Kristen mengimani Yesus sebagai wahyu dan firman Allah seperti halnya di dalam Injil Yohanes, pada mulanya adalah Firman. Dan Firman itu telah menjadi daging. Firman itu merujuk kepada Yesus. Sedangkan umat Islam mengimani Alquran sebagai wahyu dan firman Allah. Bagi Banawiratma, Yesus disejajarkan dengan Alquran dalam Islam, bukan dengan Nabi Isa.

Di dalam tradisi Islam, ketika berdoa, orang mengucapkan ayat-ayat yang hakikatnya adalah firman Allah. Ketika dinaikkan, ayat-ayat tersebut menjadi bahasa manusia karena diucapkan oleh manusia. Di sini Alquran menjadi mediator antara Allah dan manusia. Begitu juga halnya dengan Yesus yang menjadi mediator antara Allah dan manusia. Titik tekannya adalah kalimatullah yang bersifat mulia.

Tradisi Kristen tidak pernah berbicara bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai pengajaran triteisme, tetapi justru iman akan Allah Yang Esa (tauhid) dengan mengikuti jalan Kristus dan dalam pribadi Roh Kudus yang bekerja dalam manusia dan dunia.

Dengan memakai paradigma mediator yang relasional, Bapa-Yesus/Anak-Roh Kudus dapat disejajarkan dengan Islam: Allah – Alauran – Daya kekuatan Allah yang bekerja dalam manusia dan dunia. (Banawiratma, 2000: 84). Jadi, hubungannya adalah manusiawi sekaligus Ilahi.

Dengan rumusan yang demikian, ada titik temu untuk memahami Yesus dan bingkai trinitas dan ketuhanan-Nya. Karena di zaman sekarang, teologi yang bersifat monokultur, sudah berakhir. Yang ada adalah kesadaran multikultur agar kebudayaan lokal bisa dihargai dan teologia menjadi lebih ’’mendarat’’.

Saya pribadi belajar dari Prof Banawiratma untuk mengajak setiap kaum mukmin/ umat beriman untuk berajak dari tempat duduknya, melihat dan belajar dari agama yang berbeda. Justru di situlah, kita menemukan insigh baru. Ada open ended khristologi yang terbuka untuk semangat inter-religious.

Bagi saya, kristologi tidak hanya berurusan dengan kebagaimanaan (konsep dan deskripsi), tetapi sudah saatnya kristologi juga menekankan penjelasan yang relasional.

Yesus disejajarkan dengan Alquran, apakah tidak mereduksi kepercayaan iman Kristen? Bagi saya, tidak.... Selama itu membangun dan merayakan kehidupan. Mengapa tidak!!

Akhir kata, saya salut dengan kawan-kawan lintas iman yang beranjangsana melintas batas untuk hadir di dalam perayaan Natal tahun ini. Semoga, persaudaraan yang tulus terbangun sepanjang hayat. Selamat Natal, bagi yang merayakan. ●