Selasa, 27 Desember 2016

Habis "Hoax" Terbit Kewarasan

Habis "Hoax" Terbit Kewarasan
Aloysius B Kurniawan  ;   Wartawan Kompas
                                                    KOMPAS, 26 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Teknologi adalah sebuah keanehan; dengan satu tangan dia memberimu hadiah besar dan dengan tangan lainnya dia menusukmu di belakang."
Charles Percy Snow

Kutipan Snow di atas mengawali bab pertama Future Crimes (2015), buku fiksi berbasis fakta sains karya Marc Goodman yang mengungkap bagaimana aktor-aktor jahat membajak teknologi masa depan, seperti robot, biologi sintetik, nanoteknologi, realitas virtual, bahkan kecerdasan buatan. Teknologi membawa kelimpahan sekaligus ketidakpastian.

Kebanalan pembajakan teknologi banyak terjadi sepanjang tahun 2016. Contoh kasus yang cukup menonjol terjadi menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat.

Tiga bulan sebelum pemilihan presiden digelar, berita-berita palsu alias hoax bertengger di papan atas lini masa media sosial. Yang mengherankan, berita-berita palsu tersebut cenderung lebih populer dan memiliki daya pengaruh lebih besar daripada berita-berita terbitan media arus utama.

Siapa pun kini tak luput dari paparan informasi anonim di dunia maya. "Tsunami" informasi digital kadang tak memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berhenti sejenak dan bertanya.

Inilah realitas yang tak bisa dihindari mengingat lebih dari setengah penduduk Indonesia    adalah pengguna internet. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2016 mencapai 132,7 juta orang atau sekitar 51,8 persen dari seluruh penduduk Indonesia.

Menyaru dan sensasional

Peredaran berita-berita palsu banyak menggunakan situs-situs yang berpenampilan menyaru seolah-olah merupakan portal berita. Konten-konten yang disuguhkan biasanya sensasional dan provokatif.

Situs gudanghoax.com yang diinisiasi sejumlah bloger anti hoax menyebut tiga hal mengapa orang membuat situs abal-abal berisi aneka informasi bohong. Pertama, untuk mencari sensasi dan ketenaran. Kedua, sengaja dibayar untuk menyebar fitnah, kebencian, dan informasi yang menyesatkan. Ketiga, mencari uang dari pemasang iklan.

Dalam konteks sosial media, mereka yang melakukan tiga hal di atas biasa disebut buzzer atau agen yang memiliki pengaruh dan banyak pengikut. Mereka biasa "disewa" pihak-pihak tertentu untuk menguasai dan memenangkan kompetisi.

Dosen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Tommy F Awuy, menyebut buzzer sebagai sebuah pekerjaan profesional. Sebab, dia memiliki keterampilan atau kemampuan khusus. Dengan strategi, buzzer bisa memengaruhi bahkan mengonstruksi realitas.

Awalnya, buzzer menjadi bagian dalam strategi pemasaran sebuah produk. Mereka yang bertindak sebagai buzzer biasanya orang-orang terkenal, mulai dari artis, olahragawan, ilmuwan, penulis, dan tokoh masyarakat. Belakangan, berkembang pula buzzer dalam dunia politik yang tak terbatas pada mereka yang memiliki banyak pengikut dan dikenal luas, tetapi juga mereka yang sama sekali tak dikenal.

Dunia media sosial dan buzzer adalah dunia dalam bahasa performatif. Twitter, Instagram, Facebook dan sebagainya bukanlah dunia dengan semangat menunjuk pada kebenaran atau oposisi biner benar vs salah, melainkan berpengaruh atau tidak.

Tommy menganjurkan agar siapa pun tak terlampau serius menggunakan logika untuk mengkritik kinerja buzzer. "Jika terhibur, ikuti saja pewartaannya tanpa harus terpengaruh. Jika merasa dihina, sebaiknya kita hapus dari linimasa. Sebab, kalau diserang balik, sia-sia saja karena jelas dia tidak akan terpengaruh. Bagi dia, cuma satu hal yang penting, yaitu mendapat imbalan, sementara kita cuma menerima sakit hati kalau tidak jantungan," kata Tommy sembari tertawa dalam diskusi publik: "How the Media has Controls Us" di Universitas Negeri Jakarta pekan lalu.

Dalam kesempatan sama, sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robet, melihat buzzer dalam konteks sosiologi dan filsafat bukanlah hal baru. Akhir 1800-an, Karl Marx pernah berkata, mereka yang menguasai basis material akan menguasai gagasan dalam suatu zaman.

Sayang sekali, dalam upayanya menguasai gagasan, buzzer tidak mempertimbangkan akibat di masyarakat dari aneka informasi yang ia sebarkan. Bagi mereka, seleksi tidak penting sehingga rasionalitas pun tidak jalan.

Melawan "hoax"

Menyikapi semakin masifnya peredaran berita-berita palsu oleh buzzer-buzzer bayaran, belakangan bermunculan gerakan masyarakat anti hoax. Secara khusus, mereka menyiapkan platform untuk mengklarifikasi dan menyaring aneka macam informasi ataupun berita palsu yang berseliweran di media sosial.

Gudanghoax.com, misalnya, blog ini dirintis oleh anggota Whatsapp Piknik 100 Orang pada 31 Oktober 2016. Ide membuat blog ini bermula dari suatu pagi ada anggota grup yang menanyakan mengenai keabsahan salah satu edaran pesan diterima.

"Setelah melakukan verifikasi, kami meyakini bahwa pesan tersebut tergolong hoax dan bisa dikirim oleh siapa pun tanpa memandang latar belakang pengirim," kata Dolly Surya Wisaka, kontributor sekaligus editor gudanghoax.com dalam situs tersebut.

Beberapa pembuat aplikasi yang tergabung dalam Masyarakat Anti Fitnah Indonesia juga mengembangkan aplikasi Turn Back Hoax. Aplikasi berbasis crowdsource ini dirancang untuk mengumpulkan berbagai informasi fitnah dan palsu, baik itu halaman situs, pesan berantai, maupun gambar.

Aplikasi ini didesain agar bisa menjadi basis data berita fitnah dan hoax yang dapat digunakan masyarakat sebagai tempat rujukan untuk memverifikasi aneka macam informasi.

Salah satu pembuat aplikasi ini, Khairul Anshar, mengatakan, basis data ini juga bisa digunakan untuk menganalisis pola-pola berita fitnah dan palsu, mengelompokkan topik-topik palsu, orang atau kelompok yang diserang, dan media yang digunakan. Sebagai sebuah aplikasi crowdsource, Turn Back Hoax mengandalkan partisipasi masyarakat guna melaporkan setiap berita fitnah dan palsu yang tersebar luas di internet.

Kini, aplikasi Turn Back Hoax baru tersedia di Google Chrome extension. Dalam waktu dekat, tim pengembang akan menyiapkan aplikasi Turn Back Hoax untuk Android dan IOS. Untuk mengakses basis data berita fitnah dan palsu, masyarakat bisa membuka data.turnbackhoax.id menggunakan mesin perambah Safari, Chrome, dan Firefox.

Di jejaring sosial Facebook, gerakan pemberantasan informasi dan berita-berita palsu juga muncul, salah satunya di fanpage Indonesian Hoaxes Community. Di grup yang beranggotakan 31.795 anggota ini, anggota bisa saling bertanya dan mengklarifikasi aneka macam informasi ataupun berita tak jelas.

Di tengah kegilaan yang sedang menjangkiti dunia media sosial, pegiat sosial media, Shafiq Pontoh, mengingatkan perlunya masyarakat dan media arus utama mengambil alih kembali otoritas terhadap informasi. Dengan membuka lebar-lebar rasionalitas dan saraf kekritisan, diharapkan tumbuh kewarasan di tengah masyarakat. Habis hoax terbitlah kewarasan!