Selasa, 20 Desember 2016

Lupa Tujuan Pendidikan Dasar

Lupa Tujuan Pendidikan Dasar
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan, Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                DETIKNEWS, 19 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya sering merasa gemas melihat buku pelajaran anak-anak saya. Suatu hari pada PR bahasa Indonesia yang sedang ia kerjakan anak saya diminta menuliskan suatu istilah drama. Itu untuk pelajaran bagi anak kelas 3 SD. Tentu kita bertanya, apa perlunya siswa kelas 3 SD mengetahui istilah dalam drama? Kalaupun hari ini mereka kita jejali dengan informasi itu sampai hafal, besok-besok mereka sudah lupa lagi.

Begitulah. Secara umum pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah sekarang terjebak untuk mengajarkan ilmu bahasa kepada siswa. Anak-anak diajari tentang berbagai istilah tata bahasa. Soal-soal ulangan pun berkisar pada masalah itu. Padahal anak-anak lebih perlu mendapat latihan untuk terampil berbahasa.

Apa yang dimaksud keterampilan berbahasa? Pertama, tentu saja anak-anak terampil berbahasa secara lisan. Mereka bisa mengungkapkan pikiran, menjelaskan keadaan, secara lisan. Mereka juga bisa menangkap kandungan pesan lisan yang mereka dengar dari orang lain. Dalam bahasa tulisan, anak-anak belajar menulis dan membaca. Kemudian mereka juga terampil mengungkapkan gagasan, pikiran, atau menjelaskan informasi dengan bahasa tulisan. Mereka juga sanggup mencerna pesan yang disampaikan secara tertulis.

Pendidikan kita sayangnya tidak fokus membangun fondasi ini pada anak-anak. Akibatnya, kemampuan berbahasa banyak orang Indonesia sangat parah. Cobalah perhatikan para penyiar atau wartawan TV. Mereka sering sekali melakukan kesalahan, baik secara tata bahasa maupun dari sisi logika bahasa.

Secara umum sepertinya para pembuat kebijakan soal pendidikan, para penyusun kurikulum, lupa pada tujuan pendidikan dasar. Ada kesan bahwa anak-anak kita hendak dijejali dengan begitu banyak pengetahuan sejak usia dini. Padahal bukan itu tujuan pendidikan dasar.

Sesuai istilahnya pendidikan dasar adalah pendidikan untuk meletakkan dasar-dasar bagi kegiatan belajar. Hal pertama dan utama yang harus diajarkan adalah cara belajar. Tidak hanya soal cara. Anak-anak harus dirangsang untuk punya rasa ingin tahu, terus berpikir, dan terampil menggali sumber informasi yang mereka perlukan. Anak-anak harus dibiasakan untuk merasakan kenikmatan belajar, yaitu kenikmatan saat mereka mendapat pengetahuan, berubah dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Dengan begitu mereka akan tumbuh jadi seorang pembelajar seumur hidup.

Apa yang terjadi bila anak-anak dijejali dengan pelajaran yang terlalu banyak? Mereka tak sanggup menyerapnya. Mereka kemudian menganggap belajar itu hal yang menyiksa. Lalu mereka tumbuh menjadi anak-anak yang anti pada kegiatan belajar. Alih-alih meletakkan fondasi pendidikan, kita justru sedang menghancurkannya sejak dini.

Materi pelajaran seharusnya menyangkut hal-hal dasar saja. Porsi terbesar seharusnya ada pada kegiatan eksplorasi. Sayangnya porsi ini minim. Ada begitu banyak kegiatan yang ada di buku pelajaran, yang seharusnya dilakukan oleh guru. Tapi kebanyakan guru kita lebih suka mendongengkan kegiatan itu, bukan melakukannya.

Hal lain yang juga penting dalam pendidikan dasar adalah soal interaksi sosial. Anak-anak harus diberi dasar soal keterampilan sosial, seperti bagaimana saling menghormati dengan teman, tata krama di tempat umum, serta kebersihan lingkungan. Dalam hal ini saya punya pengalaman aneh dengan sekolah anak saya dulu.

Di TK, anak-anak sudah diajari membaca. Ya, di TK di mana anak-anak seharusnya belum perlu diajari membaca, sudah diajarkan hal itu. Tapi pada acara sekolah yang melibatkan orang tua murid, guru-guru justru tidak menyediakan tempat sampah. Begitulah. Kita, para orangtua dan guru banyak yang begitu bernafsu untuk menjejali anak dengan pengetahuan. Kita lupa pada tujuan yang lebih penting pada pendidikan dasar.