Kamis, 29 Desember 2016

Relasi Simbiotis Terorisme dan Media Massa

Relasi Simbiotis Terorisme dan Media Massa
Ahmad Safril  ;   Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya
                                                  JAWA POS, 26 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEPANJANG Rabu dan Kamis (21–22/12), hampir semua media massa di Indonesia menyajikan berita utama tentang penangkapan terduga teroris yang terjadi secara serentak di Tangerang Selatan, Payakumbuh, Deli Serdang, dan Batam. Dalam operasi antiteror di empat kota itu, Densus 88 Polri berhasil melumpuhkan tujuh terduga teroris, tiga di antaranya tewas. Menurut keterangan polisi, jaringan teroris itu berencana melancarkan serangan ke pos kepolisian dengan terlebih dulu menusuk anggota Polri. Hal tersebut dilakukan untuk menarik perhatian massa agar datang mendekat. Ketika massa telah terkumpul, mereka akan meledakkan bom bunuh diri.

Bagaikan sebuah koreografi drama, skenario teatrikal semacam itu sangat ampuh untuk menarik perhatian media massa guna memublikasikannya secara gegap gempita. Meskipun akhirnya aksi gagal terealisasi, salah satu tujuan teroris menebar ancaman ketakutan meluas melalui media massa telah terwujud karena publikasi intensif berbagai media. Baik cetak, elektronik, maupun situs berita daring (online).

Sebagian besar media cetak di negeri ini menempatkan kejadian itu sebagai headline news di halaman utama. Sedangkan sejumlah media elektronik menjadikannya breaking news. Di sisi lain, detik demi detik peristiwa tersebut dilaporkan secara terperinci dan cepat di media daring sehingga langsung dikonsumsi publik dalam waktu sekejap.
Segala hal terkait dengan terorisme selalu menjadi perhatian utama media massa. Pasalnya, seperti yang diungkapkan Walter Laqueur (2004), the media are the terrorist’s best friends. The terrorist’s act by itself is nothing, publicity is all. Sebagai sahabat baik, teroris dan media massa sesungguhnya memiliki relasi simbiotis. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain untuk kepentingan masing-masing dengan tujuan berbeda.

Kepentingan Teroris

Bagi jaringan teroris, media massa perlu dimanfaatkan demi mencapai tiga kepentingan. Pertama, jaringan teroris membutuhkan media massa untuk mengomunikasikan pesan perlawanan secara efektif. Jaringan teroris merasa selama ini banyak orang tidak dapat memahami aksi mereka lantaran publik tidak memiliki informasi cukup tentang perlawanan mereka terhadap ketidakadilan yang diciptakan penguasa. Melalui pemberitaan media massa, jaringan teroris ingin pesan tersebut tersebar meluas melintasi batas-batas geografis. Sehingga orang kian paham bahwa mereka sesungguhnya sedang berjuang melawan ketidakadilan.

Kedua, karena sifat aksi terorisme adalah menebar ketakutan, media massa membuat tugas teroris untuk meneror menjadi lebih mudah dilakukan. Bayangkan saja, untuk menebar ancaman ketakutan secara meluas kepada masyarakat, teroris tidak perlu melancarkan aksi di berbagai tempat. Seperti yang dilakukan Elmi, Irwan, dan Omen yang tewas setelah baku tembak dengan polisi di Tangerang Selatan. Agar aksinya diliput besar-besaran oleh media massa, mereka cukup melawan polisi yang menyerbu hingga titik darah penghabisan. Alhasil, publik yang merasa terancam bukan hanya orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi kejadian, tapi juga mereka yang hidup jauh dari pusat serangan.

Ketiga, publikasi media massa dimaksudkan sebagai pesan terselubung kepada jaringan lain agar ikut bergerak melawan musuh. Karena itu, setiap peristiwa terorisme hampir pasti diikuti aksi-aksi teror lainnya. Realitas itulah yang terjadi ketika bom meledak di Samarinda (17/11) dan lantas diiringi terungkapnya rencana serangan ke Istana Negara serta pos kepolisian sebulan terakhir. Dengan begitu, kian tampak eksistensi kelompok teroris sejatinya masih terjaga meskipun telah banyak anggotanya yang tewas atau tertangkap.

Kepentingan Media

Media massa memublikasikan aksi terorisme secara besar-besaran karena tiga kepentingan. Pertama, terorisme merupakan isu seksi yang menjadi perhatian serius masyarakat sehingga liputan tentangnya bakal mampu meningkatkan rating media massa yang memberitakan. Media massa memahami bahwa publik pasti sangat ingin mengetahui perkembangan terkini seputar isu terorisme. Sebab, hal itu sangat terkait dengan keamanan individu, masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Demi memenuhi rasa ingin tahu publik, media massa pasti mengemas pemberitaan soal terorisme secara mendalam.

Kedua, untuk memenuhi unsur cover both sides dalam pemberitaannya, media massa kadang kala merasa perlu memberitakan aksi sekelompok orang yang merasa bersimpati pada aksi dan misi jaringan teroris. Meskipun kelompok semacam itu tidak banyak, bagaimanapun mereka tetaplah konsumen media massa. Bagi media massa, mereka adalah kalangan yang unik lantaran memiliki pandangan berbeda dibanding pendapat mayoritas.

Ketiga, media memublikasikan aksi terorisme karena merasa publik memintanya agar menjadi tahu persis aspek-aspek kehidupan yang mengancam mereka. Berita dengan kandungan kekerasan semacam itu memang terasa menakutkan. Tetapi, dengan begitu, publik menjadi menyadari adanya ancaman keamanan dalam kehidupan mereka. Hal itu bakal disikapi dengan semakin mengintensifkan program-program kontraterorisme. Di sinilah media berperan meningkatkan kewaspadaan publik atas ancaman potensial yang mungkin bisa menjadi aktual sewaktu-waktu. ●