Rabu, 21 Desember 2016

Bumi Datar dan Kekakuan yang Merepotkan

Bumi Datar dan Kekakuan yang Merepotkan
AS Laksana  ;   Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                  JAWA POS, 19 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEUSAI acara diskusi bulanan di klub baca buku yang kami selenggarakan, penulis Zen Hae sempat menyinggung sekilas hal yang akan terdengar ganjil bagi telinga abad ke-21. ”Sekarang ini muncul lagi orang-orang yang percaya bumi itu datar, Bung,” katanya. Saya menanggapinya dengan agak putus asa, ’’Kelihatannya topik itu bisa menjadi urusan yang panjang.’’

Segala hal, Anda tahu, selalu bisa menjadi urusan yang panjang di negara kita. Percakapan di media sosial selalu menjanjikan hal yang seru setiap hari, dan seringkali panas, apa pun isunya. Atau, dalam kalimat yang lebih tepat, apa saja bisa dijadikan bahan olok-olok.

Percakapan dengan Zen itu terjadi dua bulan lalu dan saya sudah tidak ingat lagi sampai kemudian Ronny Agustinus, penerjemah, aktivis perbukuan, dan pemilik penerbitan indie Marjin Kiri, memberi tahu bahwa buku terjemahan The Flat-Earth Conspiracy: Bukti-bukti Ilmiah Bumi Itu Datar menjadi buku laris di Toko Buku Gramedia yang baru saja ia kunjungi. Ada lingkaran merah pada sampul depan, bertuliskan: ’’Fakta yang disembunyikan selama 500 tahun.” Penulis buku itu bernama Eric Dubay, orang Amerika Serikat yang menjadi pelatih yoga di Thailand, dan saya tidak pernah mendengar reputasinya sebagai ilmuwan.

Sehari setelah itu, anak saya yang masih kelas dua SMP juga memberi tahu bahwa sekarang ini ada orang-orang yang percaya bumi itu datar. Nah, urusannya mulai menyambar anak remaja. Saya pikir urusan bumi datar ini benar-benar akan menjadi panjang, paling tidak di media sosial.

’’Aneh mereka,” katanya. ’’Jika bumi datar, pasti banyak kapal yang nyemplung entah ke mana ketika berlayar sampai ke ujung dan kebablasan.”

’’Menurutmu kenapa mereka mempercayai itu?” tanya saya.
 ’’Nggak tahu,” katanya.
Saya agak tenteram. Setidaknya, ia hanya tahu sampai di situ dan tidak ikut terlibat dalam pembicaraan yang bisa berlarut-larut tentang bentuk bumi.
Satu hari berikutnya, saya membaca pernyataan seseorang, di media sosial, bahwa ia baru saja ditelepon oleh temannya, seorang penggiat taman bacaan, mengenai kejadian mengejutkan di satu daerah di Jawa Barat bagian selatan. Tokoh masyarakat di daerah itu, yang juga seorang pemuka agama, menolak buku-buku Ilmu Pengetahuan Alam di antara buku-buku sumbangan yang disalurkan ke sana oleh si penggiat taman bacaan, sebab buku-buku pengetahuan tidak sejalan dengan agama. Buku-buku pengetahuan alam mengajarkan bahwa bumi itu bulat, sementara si tokoh masyarakat mengimani bumi itu datar.
Orang-orang yang membela keyakinan bahwa bumi adalah sebuah roti marie raksasa niscaya akan memuji penolakan tersebut dan menganggap si tokoh masyarakat sebagai orang yang teguh imannya. Sebaliknya, orang-orang yang percaya bahwa bumi adalah bola raksasa, sebagaimana yang disampaikan oleh para ilmuwan dengan segala bukti pendukungnya, akan menyatakan bahwa orang itu adalah contoh hidup tentang kemunduran nalar dan penolakan terhadap fakta-fakta ilmiah. Orang semacam itu bisa dengan mudah mengembangkan sikap memusuhi pengetahuan dan menganggapnya sebagai upaya untuk menggoyahkan iman orang-orang saleh.
Kita bisa membayangkan bahwa orang itu, yang menyikapi pengetahuan dengan rasa curiga, pada suatu saat nanti akan menyampaikan, dengan keyakinan baja, bahwa batu yang direbus adalah penyembuh paling manjur untuk kanker limpa, atau akar bahar bisa menyebabkan kesurupan, atau Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman. Pada tahap seperti itu, percakapan akan sulit berlanjut. Anda tidak bisa berbuat apa-apa terhadap seseorang yang berpegang teguh pada keyakinan sekehendak hatinya sendiri. Jika Anda berniat meluruskan keyakinannya, percakapan bisa-bisa berlanjut menjadi aksi membahayakan.
Hal seperti itu terjadi di Kanada. Seorang pria berusia 56 tahun harus berurusan dengan polisi gara-gara berdebat dengan seorang gadis, pacar anaknya, pada malam hari saat mereka berkemah. Si gadis memiliki iman yang kukuh bahwa bumi itu datar, dan pendirian itu membuat si pria tidak tahan. Lelaki itu gagal mengubah keyakinan si gadis. Ia kemudian mengamuk dan melemparkan apa saja, termasuk tabung gas, ke api unggun sebelum meninggalkan lokasi perkemahan dengan rasa marah dan frustrasi.
Kejadian itu setidaknya bisa menjadi pengingat bagi siapa saja. Jika suatu saat Anda berjumpa dengan orang yang mempercayai sampai ke tingkat iman yang tak mungkin dibelokkan bahwa bumi ini berbentuk jajaran genjang, dan ia mengatakan sudah ada bukti-bukti ilmiah tentang hal itu, saya pikir lebih baik Anda mengabaikannya saja dengan cara yang sesantun mungkin. Tidak perlu Anda berupaya membelokkan keyakinannya. Tidak perlu juga Anda melakukan aksi pembakaran, apalagi sampai melemparkan tabung gas ke kobaran api.
Orang-orang yang kaku memang seringkali mempertahankan hal yang bisa membuat kita tercengang. Beberapa tahun sebelum munculnya buku bumi datar itu, saya pernah berjumpa di rak toko buku dengan judul yang juga mengejutkan Matahari Mengelilingi Bumi: Teori Absolutivitas, dengan pernyataan tambahan di sebuah lingkaran merah: ’’Buku yang akan mengubah paradigma Anda.”
Saya tidak tahu apakah buku Matahari Mengelilingi Bumi itu menjadi buku terlaris atau tidak. Saya tidak memedulikannya dan berbuat seolah-olah buku itu tidak pernah ada. Sebetulnya ada juga sedikit dorongan untuk membelinya pada waktu itu, tetapi saya bersyukur masih sanggup menahan diri untuk tidak usah membeli buku yang pasti hanya akan membangkitkan perasaan jengkel di dalam diri. Saya tidak punya minat sama sekali untuk membeli buku demi mengobarkan kejengkelan.

Hal yang sama saya lakukan ketika melihat The Flat-Earth Conspirary di toko buku. Ronny Agustinus benar, buku itu berada di rak buku-buku best-seller. Saya heran kenapa buku-buku seperti ini diterjemahkan dan diterbitkan, seolah-olah tidak ada buku lain yang lebih bermanfaat untuk dibaca oleh orang Indonesia. Tetapi itu buku laris, kita tidak bisa mendebat pilihan penerbit. Sebagian orang membeli mungkin karena buku itu sesuai dengan iman mereka, sebagian membeli sebagai bacaan ringan belaka.

Saya berharap mereka akan baik-baik saja. Mungkin di antara mereka ada yang semakin beriman, mungkin ada yang justru tambah tidak percaya. Namun, apa pun yang kelak terjadi pada para pembaca itu, saya berharap mereka tidak bertindak ekstrem sebagaimana yang dilakukan oleh Paul Kruger. Paul adalah presiden Republik Transvaal (sekarang Afrika Selatan). Ia jemaat Gereja Reformis Belanda dan orang yang imannya kokoh bahwa bumi itu datar.

Pada 1898, Paul terpilih sebagai presiden untuk keempat kalinya, tetapi setahun berikutnya pecah Perang Boer dan ia harus lari dari negaranya. Ia menumpang kapal perang Belanda pada 1900. Di dalam perjalanan, kapten kapal menjelaskan kepadanya bahwa navigasi kapal itu dibuat berdasarkan pengetahuan bahwa bumi adalah planet yang bentuknya bulat. Paul terperangah oleh kenyataan itu dan imannya menjadi goyah dan ia mencampakkan agamanya.

Saya kira orang yang imannya goyah tidak perlu dijadikan teladan. ●