Jumat, 30 Desember 2016

Dunia Hitam dan Distopia Pendidikan

Dunia Hitam dan Distopia Pendidikan
Ardhie Raditya  ;   Dosen Pendidikan Kritis di Sosiologi Unesa;
Sedang menempuh Doktoral di KBM UGM Jogjakarta
                                                  JAWA POS, 29 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKSI kejahatan yang terjadi di sekitar pusat ibu kota Indonesia, Jakarta, kemarin lusa adalah aksi terkutuk dan biadab. Betapa tidak, belasan orang disiksa dan dinistakan harga dirinya. Mereka kemudian disekap di kamar mandi berukuran kecil sehingga akhirnya enam di antaranya tewas. Seorang saksi yang mendobrak pintu kamar mandi mengatakan bahwa korban ditumpuk seperti ikan sampai klosetnya retak (Jawa Pos, 28/12).

Dalam catatan dunia hitam atau dunia kejahatan, selama kurun waktu satu tahun ini, praktik kejahatan tersebut boleh dibilang yang paling sadis. Apalagi jika kasus itu diperbandingkan dengan kasus kopi beracun yang menjadikan Jessica sebagai terpidana. Meskipun sama-sama terjadi di pusat ibu kota, tersorot intensif media massa, keduanya menyulut kemarahan publik berskala nasional.

Tak bisa dibayangkan jika kasus pembunuhan itu terjadi di aras lokal. Terutama daerah yang memiliki tradisi pertarungan. Barangkali spiral kekerasan dan kejahatan bakal terus berputar seakan tak pernah usai. Di Madura, misalnya, dikenal tradisi carok. Yakni upaya mempertahankan dan memulihkan harga diri yang telanjur tercoreng pihak lain dengan cara adu keberanian dan balas dendam.

Masalahnya tidak sesederhana itu. Sebab, di dunia hitam para pelakunya terkadang sangat sulit dikenali secara langsung. Norma kolektif yang berlaku di antara anggota kelompok dunia hitam tersebut adalah memperkecil jejak aksi bejatnya. Bahkan, di kalangan mafioso sendiri dikenal budaya tutup mulut (omerta). Sekalipun demikian, dunia hitam bukan dunia yang benar-benar tertutup dari dunia luar. Sebab, di kalangan mereka terdapat figur-figur sentral yang cukup disegani, baik sosial, kultural, maupun secara moral keagamaan. Karena itu, untuk membongkar dan meminimalkan aksi kejahatan, bukan hanya kekuatan hukum yang dibutuhkan. Tapi juga pemahaman mendalam sosiokultural yang menjadi kehidupan sehari-hari di kelompok mereka.

Selama ini aksi kejahatan sering kali dikait-kaitkan dengan basis ekonomi. Mayoritas orang menganggap mereka yang terimpit modal ekonomi mudah tercebur ke dalam dunia hitam. Padahal, orang yang mapan secara ekonomi pun bisa gelap mata. Karena kerakusannya mengakumulasi surplus ekonomi, mereka bisa nekat melanggar prinsip hukum dan moralitas yang diajarkan sejak di ruang lingkup keluarganya (Siegel, 2000).

Korupsi yang belakangan berlangsung masif di kalangan elite politik dari tingkat pusat hingga daerah adalah buktinya. Kasus penggandaan uang dan eksploitasi kekayaan alam yang melibatkan kelas sosial berharta juga dapat menjadi bukti lainnya. Bahkan, rezim Orde Baru juga disebut-sebut sejarah ekonomi politiknya ditopang persekutuan jahat dengan kelompok dunia hitam (Ananta Toer, 1999; Nordholt, 2002).

Selain supremasi hukum dan kesejahteraan sosial, pendidikan memiliki andil penting untuk menangkal praktik dunia hitam terus berulang. Transformasi besar pendidikan (great transformation of education) sangat mendesak diperlukan. Terutama di tengah maraknya kejahatan (tak terkecuali kejahatan terorisme) yang belakangan mengancam dunia kehidupan bangsa ini.

Transformasi besar pendidikan tersebut setidaknya dibangun atas empat fondasi. Pertama, harapan tentang kemajuan peradaban. Kemajuan itu bisa tampil dalam wajah pemerataan ekonomi, primanya pelayanan publik, dan kualitas kesehatan yang menjangkau kelompok marginal serta kelas sosial bawah. Dari aspek kesehatan, misalnya, bagaimana mungkin siswa dan guru mampu belajar dengan khusyuk apabila setiap hari mereka kekurangan gizi.

Kedua, keteladanan strategis. Meskipun sejumlah pakar dan elite politik meyakinkan kepada media bahwa negeri ini berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru, nyatanya di warung kopi kabar luhur itu dipandang sinis. Sebagian besar rakyat kecil merasa pendapat tersebut hanyalah pencitraan. Bagi mereka, bila di masa Orde Baru yang gila takhta dan harta tampaknya Soeharto saja, saat ini semua orang terkesan menjadi “Soeharto-Soeharto” kecil. Itu berarti mayoritas rakyat Indonesia berharap keteladanan yang nyata dari para pemimpinnya.

Ketiga, mengembalikan agama kepada fitrahnya. Sebab, ajaran agama yang memberikan kedamaian bagi semua insan lambat laun terkontaminasi mentalitas parasit politik praktis. Ironisnya, hal itu dilakukan justru oleh tokoh agamanya sendiri yang rakus akan kenikmatan duniawi. Keempat, memasyarakatkan pendidikan ekoliterasi sosial. Ekoliterasi di sini tak sebatas berpusat pada bencana dalam arti alamiah seperti banjir, longsor, atau gempa. Termasuk pula bencana yang berpotensi merusak relasi kemanusiaan, keadilan, emansipasi, komunikasi massa, dan keintiman persaudaraan.

Jika semua hal itu terwujud, bukan hanya pendidikan akan terhindar dari masa depan yang gagal (distopia). Namun juga memungkinkan terkikisnya dunia hitam yang mengancam harga diri dan martabat keindonesiaan. Mungkinkah terwujud? Tanyakan kepada hatimu, Kawan. ●