Jumat, 23 Desember 2016

Lahirnya ‘Pengantin’ Perempuan

Lahirnya ‘Pengantin’ Perempuan
Noor Huda Ismail  ;   Sutradara Film Jihad Selfie
                                              INDONESIANA, 19 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Pengantin" merupakan sebutan bagi mereka yang siap melakukan bunuh diri dalam aksi-aksi terorisme. Jamaknya, para pengantin adalah laki-laki. Namun kali ini muncul fenomena pengantin perempuan. Dia bernama Dian Yulia Novi.

Dalam wawancara dengan TVOne, calon pengantin perempuan pertama dalam sejarah terorisme di Indonesia ini mengatakan bahwa dirinya sedang menempuh jalan Al Ghuraba bahasa Arab yang berarti jalannya "orang-orang yang asing". Dian mencomot secara serampangan hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: "Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah Al Ghuraba, orang-orang yang asing." (HR Muslim).

Bagaimana bentuk ke-"asing"-an tersebut? Apa dampak dari perilaku "asing" Dian dan kelompoknya ini terhadap kehidupan kita berbangsa?

Menjadi perempuan "asing" seperti Dian itu tidak terjadi tiba-tiba. Simone de Beauvoir pernah berujar: "Perempuan itu dibikin, bukan dilahirkan." Pemikir feminis Prancis ini tidak sedang bercanda. Ia meyakini bahwa menjadi seorang perempuan itu bukanlah kodrat alami, melainkan melalui proses sosialisasi dalam sebuah dunia yang diatur oleh para lelaki.

Bagi Simone, perilaku perempuan, seperti "lemah-lembut", itu bukan bawaan biologis. Mereka mendapatkan sosialisasi sejak kecil oleh orang tua, teman, dan lingkungan sekitarnya bahwa perempuan itu diharapkan bersikap "lemah-lembut". Lalu, apakah hal ini berarti perempuan mempunyai sifat lebih "lemah-lembut" dibanding lelaki?

Dalam kajian keamanan internasional, pertanyaan di atas sering menjadi bahan perdebatan, terutama ketika mereka harus menjelaskan fenomena para politikus perempuan yang tidak bersikap lemah-lembut seperti yang diharapkan dalam imajinasi dunia lelaki. Misalnya, pada 1982, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher memilih berperang daripada berunding dengan Argentina untuk mempertahankan salah satu wilayah Inggris: kepulauan Falklands. Ini sangat kontras dengan sosok Dalai Lama atau Mahatma Gandhi. Dalai Lama selalu mengatakan, "Welas asih itu bukan masalah agama. Ia adalah masalah kemanusiaan." Adapun Gandhi menekankan sikap ahimsa, yaitu gerakan menolak penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan politik.

Karena itu, membaca fenomena radikalisme yang dialami Dian ini seharusnyalah dibaca tidak hanya dengan kacamata radikalisme agama, melainkan sebagai sebuah fenomena tumpulnya rasa kemanusiaan. Ketumpulan ini muncul ketika seseorang merasa berhak menghukum orang lain dengan kekerasan hanya karena, menurut Dian, dhohir (penampilan) mereka berbeda dengan dirinya. Lebih mengerikan lagi jika kemudian mereka beraksi atas nama Tuhan. "Ini bukan aksi putus asa. Tapi untuk mengharapkan rida Allah," Dian menjelaskan.

Pilihan sikap Dian yang "asing" itu bukan hasil cuci otak, yang sering disebut oleh aparat keamanan. Sikap ini lahir dari sebuah proses panjang dan kompleks. Barangkali proses ini berawal ketika ia bekerja di Singapura dan Taiwan sebagai tenaga kerja wanita.

Sebagai anak perempuan pertama, Dian mengambil peran "lelaki" yang seharusnya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Menjadi TKW itu bukan pilihan yang mudah. Namun ia pekerja yang rajin dan rela tidak pernah ambil cuti demi gaji yang lebih besar.

Untuk mengisi waktu senggangnya, Dian mulai bermain Facebook, seperti rekan-rekannya yang lain. Banjir kampanye radikal di media sosial membuat Dian pun larut membaca-baca status para "mujahidin". Status-status ini kemudian bertaut dengan blog Millah Ibrahim karya Aman Abdurrahman, pemimpin ISIS Indonesia yang sekarang mendekam di penjara Nusakambangan.

Karena aktif mengunjungi blog ini, Dian merasa seolah-olah menjadi bagian dari kelompok Aman meskipun tidak pernah bertemu dengannya. Perasaan "diterima" oleh kelompok ini semakin kuat ketika dilanjutkan dengan komunikasi melalui aplikasi Telegram.

Bergabungnya Dian ke dalam kelompok Telegram adalah bukti semakin diterimanya dia ke dalam kelompok itu. Pada fase inilah Dian bersosialisasi secara intensif ihwal cara beragama yang "asing" kelompok itu.

Salah satu contoh "keasingan" mereka adalah cara menikah. Mereka menikah tidak seperti layaknya pernikahan masyarakat umum atau bahkan di kalangan aktivis Islam, yang biasanya diawali dengan tahapan ta’aruf (perkenalan), minimal lewat foto. Bagi mereka, kehidupan pernikahan yang mawaddah wa rohmah (penuh cinta dan keberkahan) itu akan mereka dapatkan di akhirat kelak ketika aksi mereka berhasil.

Merasa bahwa kegiatan mereka itu bersifat amniyah (penuh kerahasiaan) dan takut kalau orang tua Dian tidak setuju dengan pernikahan cara "asing" ini, Dian menyerahkan seluruh prosesi pernikahan ini kepada calon suami, termasuk memilih wali pernikahan, yang dalam hal ini memakai "wali hakim" atau wali yang ditunjuk. Ironisnya, wali pernikahan mereka adalah seorang narapidana terorisme pendukung ISIS yang mendekam di penjara Madiun.

Melihat fenomena ini, tidak ada pilihan lain bagi negara untuk melihat pentingnya peran perempuan dalam penanganan terorisme ini. Tidak hanya mereka ini sebagai korban, tapi juga sebagai potensi pelaku.

Rawannya penggunaan media sosial bagi TKW kita yang berada di luar negeri juga hal yang harus disikapi serius. Minimnya pengetahuan dasar agama, seperti penguasaan bahasa Arab, tafsir, hadis dan sejarah Islam, membuat mereka mudah terpesona oleh pesan-pesan agama yang cenderung melihat dunia ini secara hitam-putih.