Rabu, 21 Desember 2016

Anwar-Mahathir vs Najib Razak

Anwar-Mahathir vs Najib Razak
Ahmad Sahidah  ;   Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia
                                                  JAWA POS, 20 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PARTAI Pribumi Bersatu yang didirikan oleh Mahathir Mohamad secara resmi bergabung dengan Pakatan Harapan, yang diilhamkan oleh Anwar Ibrahim. Setelah 18 tahun keduanya berseberangan, dimulai dengan pertemuan di pengadilan Jalan Duta era politik rekonsiliasi sebenarnya tak terbayangkan. Tak pelak, Salleh Said Keruak, menteri komunikasi, menyebut bahwa tindakan mantan perdana menteri negeri jiran tersebut sebagai ciuman maut. Anwar bisa menjadi korban dari kelicikan mantan mentornya. Sementara Hishamuddin Rais, aktivis kiri, menyebutnya sebagai gerakan penyatuan perlawanan terhadap penguasa.

Dari beberapa gambar yang beredar di media pada waktu itu, Anwar tampak tersenyum dan menyambut Mahathir dengan hangat. Tangan kirinya menyambut tangan Tun M, panggilan Mahathir, dan tangan kanannya tampak berada di bahu bekas seterunya. Foto ini menjadi berita utama di media PKR, Suara Keadilan. Untuk kali pertama, corong partai besutan Anwar menampilkan Tun M di halaman pertama sebagai sekutu.
Sebelumnya, ikon Reformasi ini meminta rekan-rekannya untuk tidak mengikuti gendang yang ditabuh oleh kawan karib Soeharto tersebut untuk menyerukan pelengseran Najib.

Setelah turun ke jalan pada aksi Bersih 4.0, Tun M diserang oleh lawan-lawan politik karena budaya unjuk rasa dianggap bukan budaya Malaysia. Apa lacur, Little Soekarno ini bersikukuh bahkan rela jika diseret ke penjara oleh rezim yang berkuasa. Tak hanya itu, bapak pembangunan Malaysia ini bikin panggung Deklarasi Rakyat yang berkampanye di banyak negara bagian bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan partai oposisi, minus partai Islam se-Malaysia, meskipun salah satu elitenya, Mahfuz Omar, sering terlibat dalam acara tersebut.

Ketika acara Deklarasi Rakyat (DR) digelar di Shah Alam, kubu kuat Partai Keadilan Rakyat (PKR), sambutan tidak begitu besar, apalagi pada waktu bersamaan putaran liga sepak bola antara Selangor dan Johor sedang berlangsung. Bahkan, meskipun DR melibatkan para petinggi politik oposisi, seperti Lim Kit Siang (DAP), Mat Sabu (Partai Amanah Nasional), dan Azman ali (PKR), tetapi orang ramai tak menyemuti panggung. Berbeda ketika ribuan rakyat turun ke jalan untuk menuntut keadilan terhadap Anwar Ibrahim di awal Reformasi. Ketika gema DR melemah, kasus skandal 1MDB yang diumumkan oleh Departemen Keadilan Amerika Serikat, seruan menuntut Najib mundur mengencang kembali.

Tentu saja, aksi unjuk rasa tangkap MO1 (Malaysia Official 1) pada 27 Agustus yang dimotori mahasiswa menjadi babak baru bagi aktivisme kaum terpelajar perguruan tinggi. Setelah 40 tahun bungkam, mahasiswa kembali turun ke jalan. Anis Syafiqah memimpin demonstrasi tersebut, yang turut didukung oleh aktivis, politikus oposisi, dan elemen pergerakan lain. Hanya, seperti ditegaskan oleh Abdul Rahman Dahlan, ketua Komunikasi dan Strategi Barisan Nasional, bahwa tuduhan itu tidak akan menyeret Najib Razak, sehingga yang bersangkutan tidak disebut sesuai dengan nama dalam dokumen dakwaan, berbeda dengan Reza Aziz dan Jho Low, yang dengan terang disebutkan oleh jaksa agung dalam konferensi pers.

Tak berhenti pada dukungan terhadap Anwar Ibrahim untuk menggugat akta (undang-undang) Majelis Keselamatan Negara, yang memberikan kuasa begitu besar pada perdana menteri, Mahathir meminta pengacaranya untuk menghubungi pengacara Anwar Ibrahim dalam usaha menangguhkan undang-undang MKN 2016 ini. Ini sekaligus menandakan bahwa dua pemimpin ini telah mengatur rentak untuk bersiap sedia menghadapi pemilu yang akan digelar pada 2018. Tanpa kompromi, kekuatan oposisi akan mengulang kekalahan yang dialami pada pemilu sela baru-baru ini di dua negara bagian, Selangor dan Perak.

Tentu, koalisi Pakatan Harapan (PKR, DAP, dan Amanah) akan makin kukuh dengan bergabungnya Partai Bumiputera Bersatu (Bersatu) sebagai mitra untuk mengambil tempat dalam menghadapi dominasi UMNO, sebagai partai Melayu terbesar. Jika Bersatu berhasil mengambil kursi UMNO sebanyak 30 kursi mengingat kemenangan suara partai PEKEMBAR, nama lain UMNO, di bawah 1.000 suara dan Pakatan Harapan berjaya mengekalkan kursi yang diperolehnya pada pemilu 2013 sebanyak 88 kursi, maka oposisi akan mengambil alih pemerintahan dengan kemenangan tipis (simple majority).

Hanya, kursi yang diraih pada pemilu 2013 adalah hasil kerja sama antara PKR, DAP, dan PAS di bawah payung Pakatan Rakyat. Setelah PAS memilih keluar dan membangun blok baru, Gagasan Sejahtera, bersama Partai Ikatan. Tak terelakkan kursi itu akan goyah, dan mungkin dirampas oleh BN, yang mengambil keuntungan dari perpecahan suara pendukung Pakatan Harapan plus Bersatu dan Gagasan Sejahtera. Tentu, ide Bersatu untuk bergabung dengan PAS dalam koalisi tambahan akan membingungkan pendukung oposisi.

Boleh dikatakan kubu Anwar-Mahathir vs Najib adalah fase politik paling dinamik setelah era Reformasi. Jika sebelumnya PR dan BN berhadap-hadapan dengan kemenangan tipis BN, sekarang oposisi terbelah dua. Ketika bergabung dalam PR, PAS turut mendulang suara dari pemilih Tionghoa dan India. Setelah keluar, suara dua kelompok etnik terbesar ini diberikan kepada Amanah, seperti ditunjukkan dalam pemilu di Sungai Besar dan Kuala Kangsar. Demikian pula pendukung fanatik PAS tentu menarik diri dari menyokong bekas komponen Pakatan Harapan, seperti PKR (Melayu) dan DAP (Tionghoa), sehingga situasi ini akan menjadikan calon dari BN lebih besar untuk menang.