Jumat, 30 Desember 2016

Orang Tua adalah Guru bagi Anaknya

Orang Tua adalah Guru bagi Anaknya
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan; Penulis; 
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                DETIKNEWS, 26 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pemandangan paling menarik bagi saya pada Piala Dunia 2014 dulu adalah ketika Lukas Podolski, pemain senior tim Jerman, turun ke lapangan untuk merayakan kemenangan timnya sambil menggendong putranya Louis. Podolski sendiri tidak turun bermain pada pertandingan final itu. Piala Dunia 2014 adalah kejuaraan di mana Podolksi sudah memasuki masa senja pada karirnya. Ia hanya berperan sedikit. Tapi bagi keluarganya, khususnya bagi anaknya, ini mungkin momen terpenting.

Kelak mungkin kita akan menyaksikan Louis Podolski bertanding dalam tim nasional Jerman. Lalu, apa kata kita? Oh, dia menuruni bakat ayahnya. Sama halnya seperti ketika kita Tomy Sugiarto bertanding. Kita akan bilang, dia hebat karena bakat yang diturunkan oleh ayahnya.

Kita sering membayangkan bakat itu sebagai pemberian Tuhan, dan karena itu ada orang-orang yang menjadi hebat. Kita sering memahaminya secara sesederhana itu. Tapi coba kita bayangkan lebih jauh. Bisakah Tomy Sugiarto menjadi pemain nasional hanya bermodal bakat turunan dari Icuk Sugiarto ayahnya? Tidak.

Perhatikanlah proses yang dilalui oleh Tomy Sugiarto. Ia belajar dan berlatih bulu tangkis sejak dini. Ia juga sudah mengikuti berbagai kejuaraan sejak usia belia. Tanpa itu, seberapa besar pun bakat yang ia warisi, tidak akan cukup untuk membawanya menjadi pemain nasional dan internasional. Hal yang sama akan berlaku pada putra Lukas Podolski tadi.

Banyak orang yang gagal memahami proses logis dalam kasus "like father like son" itu. Orang hanya bisa melihatnya secara sederhana, yaitu bakat yang diturunkan. Padahal ada proses lain yang lebih penting di situ, yaitu peran orang tua yang mendidik serta mengarahkan anaknya sejak dini. Bagi saya, Tomy Sugiarto itu menjadi pemain hebat karena ia punya guru yang sangat hebat, yaitu ayahnya sendiri. Demikian pula akan berlaku kelak pada Louis Podolski.

Setiap orang tua adalah guru bagi anak-anaknya. Ini sering dilupakan banyak orang. Ketika berpikir tentang pendidikan, orang langsung berpikir tentang sekolah. Mendidik anak adalah soal bagaimana mengirim anak-anak ke sekolah yang bagus, agar mereka mendapat pendidikan yang baik. Anak-anak belajar dari guru mereka di sekolah. Padahal peran terpenting dalam pendidikan anak harus diambil oleh orang tua. Artinya, orang tua harus mengambil bagian terpenting dalam proses pendidikan itu, dengan menjadi guru bagi anak-anaknya.

Apakah itu berarti kita tidak usah mengirim anak ke sekolah? Tidak demikian. Home schooling memang menjadi satu cara mendidik anak. Tapi kalau kita memilih untuk menyekolahkan anak, bukan berarti kita lantas tidak berperan. Kita harus mendampingi anak-anak pada setiap pelajaran yang mereka lalui, khususnya pada usia dini.

Mengapa ini perlu? Pertama, sistem pelajaran di sekolah bersifat massal. Guru tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk membimbing siswa satu per satu. Kalau ada anak yang tertinggal, ia akan dipaksa untuk mengejar ketertinggalannya. Guru tidak akan memberi bimbingan yang sifatnya pribadi. Bagian ini menjadi tanggung jawab orang tua. Orang tua harus membimbing anak berbasis pada pemahaman ia tentang watak dan potensi pribadi anaknya. Hanya ia yang bisa menyelami kesulitan anaknya.

Kedua, belajar bersama adalah waktu penting untuk berkomunikasi dengan anak. Dari situ orang tua akan bisa mendeteksi potensi dan kelemahan anak. Dengan begitu ia bisa bersikap tepat dalam membimbingnya. Ketiga, anak-anak cenderung mencontoh dan mengidolakan orang tuanya. Ini adalah modal penting untuk memberi motivasi kepada anak-anak.

Saya membimbing sendiri anak-anak dalam pelajaran sekolahnya. Tidak hanya berlajar menekuni buku, kami melakukan berbagai percobaan sains. Saya lakukan ini agar kegiatan belajar menjadi menarik, sehingga bisa merangsang minat anak untuk ingin tahu lebih banyak. Anjuran saya ini kerap mendapat kritikan dari teman-teman. Alasan mereka, saya pakar di bidang itu, sehingga bisa membimbing. Bagaimana dengan yang tidak pakar?

Itu lagi-lagi salah kaprah. Saya tidak pakar dalam segala hal. Sering saya harus belajar ulang, atau belajar sesuatu yang baru sama sekali, demi membimbing anak. Kadang saya bawa anak saya kepada yang lebih ahli, tapi saya tetap mendampingi sebagai pengarah.

Selama liburan ini saya menyiapkan sebuah program belajar akuntansi untuk anak saya, siswa kelas 2 SMP. Untuk apa? Saya ingin dia mengenal profesi ini, siapa tahu ia berminat menekuninya. Selama ini ia lebih banyak terpapar pada profesi terkait keahlian saya, yaitu sains. Saya harus memperluas cakrawalanya, sehingga ia punya lebih banyak pilihan.

Tidakkah akuntansi itu sulit? Di situlah pentingnya peran kita. Kita harus mampu membuatnya jadi mudah dicerna. Dalam hal ini saya membuat bahan pelajaran yang mudah dicerna anak-anak, dalam bentuk permainan simulasi. Tapi sanggupkah siswa kelas 3 SMP mengikutinya? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh setiap orang tua. Orang tua yang biasa mendampingi anaknya belajar akan mengenal level berpikir dan pengetahuan anaknya, sehingga ia bisa menilai apakah anak ini sudah siap untuk menerima suatu pelajaran atau belum.

Apakah saya pakar dalam bidang akuntansi? Sama sekali bukan. Saya hanya tahu hal-hal mendasar. Selebihnya saya harus bertanya ke beberapa teman, khususnya ketika menyusun bahan ajar dalam bentuk simulasi tadi.

Intinya, kita bisa mulai menjadi guru bagi anak-anak kita dalam hal yang kita bisa. Dalam hal yang kita tidak bisa, kita harus belajar. Masalahnya adalah, banyak orang sudah memvonis diri mereka tidak bisa, sebelum ia memulai sama sekali. Dalam hal ini, sebenarnya lebih tepat mereka disebut tidak mau, ketimbang tidak bisa. ●