Minggu, 25 Desember 2016

Daya Kreatif dari Daerah

Daya Kreatif dari Daerah
GRE/NIT/DIA/HRS/TAM/ika  ;   Wartawan Kompas
                                                    KOMPAS, 23 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Industri pariwisata Indonesia kian berkembang akhir-akhir ini. Pengembangan pariwisata ini tidak hanya dilakukan pemerintah pusat yang antara lain menetapkan 10 destinasi wisata prioritas, tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat yang menangkap peluang pengembangan destinasi wisata baru berbasis komunitas dan budaya. Masyarakat kian hirau dengan potensi alam serta sumber daya di sekitarnya yang kaya dan beragam, dan melihat hal tersebut sebagai peluang untuk berkembang. Daya kreatif dan inovatif pun menyebar hingga ke sudut-sudut desa, menumbuhkan desa-desa wisata sebagai roda penggerak ekonomi baru.

Beberapa wilayah yang sebelumnya lebih dikenal sebagai daerah tertinggal dan miskin kini bersolek. Di Jawa Tengah, Purbalingga menjadi daerah yang paling bersemangat membangun desa wisata. Saat ini tercatat 15 desa wisata di daerah ini. Sebagian besar mengandalkan daya tarik alam dipadu dengan kreativitas pengemasan wisata.

Desa Panusupan di Kecamatan Rembang, misalnya, menawarkan keindahan alam dari puncak Igir Wringin dengan rumah pohonnya dan puncak Bukit Batur dengan kursi raksasanya. Belum lama ini, masyarakat setempat menambah wahana jembatan bambu berbentuk hati di tengah sawah yang kemudian menjadi viral di media sosial. Dampaknya, pengunjung meningkat dari 11.000 orang per tahun, menjadi 98.000 orang per tahun. Desa Panusupan pun tahun ini dinobatkan sebagai desa wisata terbaik se-Jateng.

Banjarnegara, salah satu daerah termiskin di Jateng yang lebih dikenal sebagai wilayah rawan bencana, kini juga mulai mengembangkan desa wisata. Berada di perbukitan di lereng Dataran Tinggi Dieng, sebagian besar desa di Banjarnegara dianugerahi keindahan alam. Salah satu yang sedang naik daun adalah Bukit Asmara Situk (BAS) di Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu.

Pihak desa memanfaatkan hobi remaja berswafoto. Warga mengalokasikan dana swadaya sekitar Rp 25 juta untuk membuat titik-titik pengambilan foto dari ketinggian, di antaranya berupa rumah panggung, jembatan pohon, dan gardu pandang. Kini, dari tiket masuk dan parkir, pendapatan BAS rata-rata Rp 30 juta per bulan. Selain menjadi tambahan pendapatan bagi pengurus kelompok wisata, sebagian pemasukan juga digunakan untuk menambah kas desa.

Gereget yang sama muncul di Banyumas. Banyak desa mengembangkan wisata berbasis alam dan budaya secara mandiri. Saat ini paling tidak ada enam desa wisata di Banyumas, kebanyakan penggeraknya adalah kaum muda. Mereka mengemas tradisi, atraksi budaya, dan potensi alam menjadi paket wisata yang unik.

Di Klaten, warga Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, juga berhasil mengembangkan potensi desa berupa mata air yang semula hanya untuk keperluan pertanian, perikanan, dan kebutuhan air bersih warga setempat. Sejak beberapa tahun terakhir, warga mengelola mata air Umbul Ponggok tersebut untuk wisata air tawar.

Beberapa tahun terakhir, di sejumlah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta juga muncul sejumlah obyek wisata baru yang digerakkan masyarakat. Masyarakat menawarkan destinasi wisata baru di tengah-tengah pariwisata berbasis budaya di DIY. Di Kabupaten Gunung Kidul, misalnya, ada obyek wisata Gunung Api Purba Nglanggeran yang mengandalkan panorama alam dari puncak bukit. Di Kabupaten Sleman, ada Desa Wisata Pulesari yang mengandalkan suasana perdesaan yang asri.

Di sudut Kota Malang di Jawa Timur, warga kampung pinggir Sungai Brantas di Kecamatan Blimbing berkreasi mengubah wajah kampung yang semula kumuh menjadi indah dan menarik wisatawan datang. Warga di Kelurahan Jodipan mengecat rumah mereka dengan cat warna-warni, yang melahirkan Kampung Warna-Warni. Adapun warga di Kelurahan Kesatrian mengecat rumah mereka dengan lukisan tiga dimensi, yang melahirkan Kampung 3D. Hasilnya, pengunjung terus berdatangan, rata-rata 100 orang per hari dan pada hari libur bisa 1.000 orang per hari.

Menumbuhkan usaha

Kreativitas memang menjadi kunci dalam pengembangan desa ataupun kampung wisata. Kehidupan keseharian warganya di bidang sosial, ekonomi, dan budaya merupakan pesona yang unik, yang jika dikelola dengan baik akan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang biasa berhadapan dengan kehidupan modern perkotaan. Lebih dari itu, kedatangan wisatawan dapat menumbuhkan berbagai usaha yang juga dikelola masyarakat, mulai dari jasa parkir kendaraan, penjualan makanan, souvenir, hingga rumah inap (homestay).

Geliat pariwisata di Gunung Api Purba Nglanggeran beberapa tahun terakhir telah menumbuhkan sekitar 80 homestay dengan kapasitas sekitar 280 orang. Sementara di Desa Wisata Pulesari terdapat 40 homestay dengan total kapasitas sekitar 400 orang. Sasarannya adalah wisatawan yang datang bersama keluarga dan sudah jenuh dengan kehidupan kota. Karena itu, warga menawarkan suasana desa yang asri.

Keberadaan homestay tersebut juga bisa menjadi alternatif penginapan bagi wisatawan yang datang ke Yogyakarta saat liburan. Saat masa liburan panjang, sebagian besar hotel di Yogyakarta pasti terisi. Jarak kedua tempat wisata tersebut dari pusat Kota Yogyakarta hanya sekitar 25 kilometer dan 15 kilometer.

Di Jawa Barat, homestay tumbuh pesat. Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jabar, seiring dengan perkembangan desa wisata, saat ini terdapat sekitar 100.000 homestay di daerah wisata di Jabar. Meskipun kini mengelola homestay, warga di perdesaan tetap menekuni pekerja mereka sebagai petani. Di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, misalnya, warga tetap mengelola lahan perkebunan sayur. Selain untuk menjaga keindahan desa, hal ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Di Banyuwangi, Jawa Timur, berawal dari memberi tumpangan kepada wisatawan untuk menginap, sejumlah warga sukses mengembangkan homestay secara mandiri. Sekitar 3.500 kamar hotel dan losmen di Banyuwangi tak mampu menampung ribuan wisatawan yang datang, terutama saat libur panjang dan pergelaran festival seni budaya.

Kunjungan wisatawan di Banyuwangi terus meningkat. Jika pada 2010 jumlah wisatawan hanya 600.000, tahun ini hingga pertengahan Desember sebanyak sekitar 1,2 juta. Karena itu, pemerintah daerah setempat menargetkan pembangunan 1.000 homestay, bukan hotel, karena manfaatnya langsung dirasakan warga. Pemkab pun memberikan sejumlah pelatihan kepada warga di desa-desa seperti pelatihan membuat sarapan ataupun bahasa asing.

Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan keberlanjutan pariwisata berbasis komunitas. Hal serupa juga dilakukan Pemerintah Provinsi Jabar yang terus memberikan pelatihan dan bimbingan kepada warga di sekitar lokasi wisata. Tantangan terbesar memang mengubah perilaku masyarakat yang agraris menjadi pelaku ekonomi wisata.

Selain mengelola industri pariwisata, seperti obyek wisata dan usaha yang tumbuh seiring perkembangan obyek wisata tersebut, masyarakat juga diberi kesadaran bahwa perilaku mereka harus mendukung pengembangan pariwisata. Sikap ramah kepada wisatawan dan menjaga kebersihan lingkungan sering kali masih harus terus ditumbuhkan di masyarakat. Dalam pariwisata, keramahan tuan rumah dan kenyamanan obyek wisata menjadi hal utama.

Perekonomian masyarakat

Usaha-usaha yang tumbuh seiring perkembangan pariwisata berbasis komunitas tersebut membuktikan bahwa sektor ini secara langsung menggerakkan perekonomian masyarakat. Seiring berkembangnya pariwisata di Desa Panusupan, perlahan perekonomian warganya pun mulai tumbuh. Lima tahun lalu tidak ada mobil di Panusupan, kini lebih dari 20 warga memiliki mobil. Rumah-rumah warga yang dahulu kebanyakan dari papan, kini banyak yang sudah ditembok. Kas desa yang pada 2010 baru sekitar Rp 50 juta, saat ini mencapai Rp 150 juta, sebagian besar disumbang pariwisata.

Di obyek wisata Umbul Ponggok, masyarakat berinvestasi untuk mengembangkan obyek wisata tersebut, rata-rata Rp 5 juta per orang. Ditambah pendapatan badan usaha milik desa Tirta Mandiri yang mengelola Umbul Ponggok dan Pemerintah Desa Ponggok, nilai investasi tersebut selama lima tahun terakhir mencapai Rp 4,5 miliar. Hasil investasi ini pun menjadi sumber pemasukan warga yang menanamkan uangnya di wisata air ini, rata-rata Rp 5.000 per bulan.

Perkembangan pariwisata di Banyuwangi lima tahun terakhir, baik yang digerakkan oleh pemerintah daerahnya maupun masyarakatnya, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu indikator, pendapatan per kapita warga melonjak 80 persen, dari Rp 20,8 juta per tahun pada 2010 menjadi Rp 37,7 per tahun pada 2015. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi naik signifikan 85 persen, dari Rp 32,4 triliun pada 2010 menjadi Rp 60,2 triliun di 2015. Lima tahun terakhir, pariwisata menjadi nadi ekonomi baru di Banyuwangi.

Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis komunitas, targetnya pada 2015-2019 mencapai 4.000 desa wisata. Sejak dikumandangkan pada 2015, hingga November lalu paling tidak 150 desa wisata telah terbangun.

Untuk mencapai target tersebut, bukan hanya pelibatan masyarakat dan pelaku industri pariwisata yang dibutuhkan, komitmen pemimpin yang kuat menjadi sebuah keharusan. Bekal alam dan budaya yang indah tak akan bisa dikembangkan jika tak ada keberpihakan untuk mengembangkannya. Pengembangan desa wisata melalui pariwisata kreatif (creative tourism) ini harus terus dilakukan.

Manisnya dunia pariwisata telah disambut oleh warga di pelosok desa. Mereka menolak menjadi penonton saja. Dengan kreativitas dan sumber daya alam yang mereka miliki, mereka ikut mengejar mimpi mengubah nasib. Nadi ekonomi pariwisata mulai mereka alirkan ke desa-desa dengan cara-cara sederhana.