|
Misteri
Peran Subandrio dalam G-30-S Redaktur Editorial 1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Tak mudah mengumpulkan fakta
jurnalistik dalam menulis Subandrio, diplomat dan intelijen, yang dituduh
terlibat G30S. · Subandrio masuk penjara pada 1965 dan
baru bebas pada 1995 setelah berpindah empat penjara. · Bahkan keluarganya tak mendapatkan
cerita utuh bagaimana Subandrio semasa menjabat di pemerintahan Orde Lama. PEMBUNUHAN
para jenderal pada 30 September 1965, yang diikuti peralihan kekuasaan dari
Sukarno ke Soeharto, masih menjadi misteri dalam sejarah Indonesia.
Kajian-kajian ilmiah yang meragukan versi resmi menguak selapis demi selapis
kabut kelam 1965 meski masih menyisakan banyak pertanyaan. Salah
satunya peran Subandrio. Menteri Luar Negeri 1957-1965 ini ditangkap lima
bulan setelah huru-hara itu. Ia bukan anggota Partai Komunis Indonesia,
partai yang acap dilekatkan pada peristiwa 30 September. Ia loyalis Sukarno
dan pejabat kepercayaan Presiden kala itu. Secara politik, Subandrio adalah
kader Partai Sosialis Indonesia, partai yang didirikan Sutan Sjahrir lalu
dibekukan Bung Karno pada 1960. Meski
bukan tentara, hanya mendapat gelar kehormatan laksamana udara, Subandrio
dihadapkan ke muka Mahkamah Militer Luar Biasa. Selama 25 hari sidang, oditur
gagal membuktikan tuduhan ia terlibat makar bersama PKI untuk menggulingkan
pemerintahan Sukarno. Toh, ia divonis hukuman mati, yang kemudian diturunkan
menjadi penjara seumur hidup atas permintaan Ratu Inggris. Subandrio bebas
pada 1995 dan meninggal sembilan tahun kemudian di usia 90. Cerita
Subandrio adalah tipikal kisah operasi rezim Orde Baru untuk menutup
peristiwa penting dalam sejarah republik ini. Di bawah Soeharto, militer
membuat narasi bahwa para loyalis Presiden Sukarno hendak menggulingkan
pemerintahan yang sah. Kekuasaan Orde Baru memakai G-30-S sebagai dalih
membungkam siapa saja yang dianggap berseberangan secara politik dan akan
merongrong kekuasaan. Tuduhan
PKI sebagai dalang G-30-S pun tak ditopang pembuktian yang valid. Namun
mereka yang dianggap terafiliasi dengan partai ini dibunuh, dibui, dibuang,
dicabut kewarganegaraannya, hingga dibatasi hak-hak politik dan ekonominya
hingga kini. Negara masih menetapkan Marxisme dan Leninisme, ideologi ekonomi-politik
yang merupakan kiblat PKI, sebagai ajaran terlarang. Pemerintah juga membuat
kampanye hitam untuk menegaskan kejahatan para pelaku peristiwa 1965. Pada
1987, misalnya, rezim Orde Baru membuat disinformasi tentang keberadaan
ratusan juta dolar Amerika Serikat dana revolusi. Dengan jabatannya,
Subandrio dianggap sebagai orang yang paling mengetahui uang negara yang
disebut disimpan di sebuah bank di Swiss itu. Dalam wawancara dengan media,
Subandrio menyatakan dana revolusi merupakan cerita fiktif yang direkayasa
Orde Baru untuk mendiskreditkan kekuasaan Orde Lama dengan tudingan
menyembunyikan kekayaan negara. Sampai hari ini, di zaman modern sekarang,
dana revolusi tak terungkap sebagai fakta. Begitu juga peran Subandrio dalam
peristiwa 1965. Tak
mudah menguak sosoknya. Seperti edisi-edisi khusus 30 September setiap tahun,
para penulis edisi khusus G-30-S tahun ini pun harus mengais-ngais informasi
dari pelbagai dokumen, serpihan pernyataannya dalam wawancara semasa hidup,
dan buku-buku sejarah yang menuliskan riwayatnya. Keluarga dan anak-cucu
Subandrio enggan berbagi kisah ayah dan kakek mereka. Ketakutan dan
pengetahuan yang serba sedikit membuat cerita tentang Subandrio makin
berkabut. Kekuasaan
Orde Baru membuat sejarah 1965 tertutup halimun. Studi-studi ilmiah
mengungkap selapis demi selapis misteri kelam peristiwa 1965.
Penelitian-penelitian setelah Reformasi membantah narasi Orde Baru bahwa PKI
merupakan dalang tunggal peristiwa itu. Resistansi
negara mengungkap peristiwa 1965 membuat rekonsiliasi dengan para korban
sulit terjadi. Padahal rekonsiliasi mensyaratkan pengungkapan fakta lebih
dulu. Indonesia gagal meniru Jerman dan Afrika Selatan yang berhasil keluar
dari jebakan sejarah gelap mereka, lalu berfokus membangun masa depan. Usaha
Kementerian Kebudayaan di era pemerintahan Prabowo Subianto yang
mempertahankan peristiwa 1965 versi Orde Baru dalam proyek penulisan ulang
sejarah Indonesia membuat peristiwa itu kian gelap. Padahal, kata Pramoedya
Ananta Toer, bangsa yang tak memahami sejarah membuat bangsa itu jadi asing
di negaranya sendiri. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/editorial-edisi-khusus-subandrio-2298612 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar