Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Surat Enam Halaman dari Cucu Subandrio

Mustafa Silalahi :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Arnold Budoyo Subandrio mengatakan keluarga masih berharap nama baik kakeknya, Subandrio, direhabilitasi.

 

·      Surat Arnold kepada Tempo mengungkap banyak kisah yang selama ini tak terpublikasi.

 

·      Dokumen intelijen CIA ikut mengungkap sisi lain Subandrio.

 

SEPINTAS, Subandrio terlihat seperti pejabat era Orde Lama yang biasa saja. Tapi, makin dalam kami menggali sisi lain kehidupannya ketika aktif di pergerakan, karier politik, hingga pengalamannya selama di penjara, ketokohan Subandrio menjadi makin berwarna.

 

Ia menjadi korban prahara 1965 di tengah transisi politik Orde Lama ke Orde Baru. Ia dituduh terlibat Gerakan 30 September 1965—sesuatu yang tidak pernah terbukti hingga saat ini. Saat peristiwa itu berlangsung, Subandrio berada di Medan, Sumatera Utara. Ia juga tak pernah menjadi anggota Partai Komunis Indonesia, yang dituduh sebagai dalang di balik peristiwa G-30-S. Kesalahannya cuma satu: menjadi loyalis Presiden Sukarno.

 

Kurang-lebih satu bulan kami menyelami jejak Subandrio untuk membuat edisi khusus pria yang pernah menjadi orang nomor dua di republik ini setelah Bung Karno itu. Sejak kematiannya pada 2004, anggota keluarganya satu per satu menghilang nyaris tanpa jejak. Budoyo, satu-satunya anak kandung dari pernikahan Subandrio dengan Hurustiati, istri pertamanya, sudah meninggal pada Februari 1974.

 

Kedua anak Budoyo juga nyaris tak terlacak. Situasi ini membuat tim edisi khusus sempat bingung karena tak ada petunjuk mengenai keluarga Subandrio. Keterangan keluarga inti penting karena bakal mengkonfirmasi beberapa hal pada jejak Subandrio, terutama sebelum 30 September 1965. Sayogo, anak adik tiri Subandrio, Koestiwulan, bahkan tak tahu nama lengkap cucu Subandrio.

 

Tim Edisi Khusus Subandrio mulai bersemangat saat mendapat petunjuk dari Ayu Wulandari, ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kami mendapatkan nama lengkap salah seorang cucu Subandrio: Arnold Budoyo Subandrio. Ayu memberikan alamat surat elektronik Arnold. Kami pun menggunakan mesin pencari untuk menelusuri Arnold.

 

Wartawan Tempo, Ahmad Faiz, mengirim e-mail pertama kepada Arnold pada 5 September 2026. Kabar baik itu datang. Ia membalas e-mail Faiz. Dalam surat berbahasa Inggris, Arnold mengatakan sedang sibuk. Akhirnya ia meminta pertanyaan tertulis dalam balasan suratnya pada 23 September 2026. Ia ternyata sudah menjadi warga negara Amerika Serikat dan berdomisili di sana sejak awal 2000-an.

 

Pria yang kini berusia 52 tahun itu akhirnya menjawab 22 pertanyaan Tempo dalam surat elektroniknya pada 25 September 2026. Dalam pengantar surat, Arnold menuliskan bahwa ia memilih membuat surat ketimbang menjawab satu demi satu pertanyaan Tempo. “Saya yakin dengan menceritakan kisahnya secara utuh dapat mencerminkan ingatan tentang Papa Ban, keluarga kami, dan berbagai peristiwa dalam hidup beliau,” tulis Arnold dalam pengantar surat itu.

 

Saya termasuk yang membaca dengan saksama surat tentang Subandrio dari awal sampai akhir. Isinya sungguh memberi perspektif baru mengenai sosok Subandrio. Untuk menyiapkan edisi khusus ini, tim mengumpulkan puluhan buku dan artikel tentang Subandrio. Termasuk kawat rahasia Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat yang sudah dipublikasikan. Tapi informasi tersebut sudah menjadi konsumsi publik.

 

Kami juga menemui sejumlah orang yang pernah berinteraksi dengan Subandrio sejak ia masih menjabat sampai hidup di penjara. Informasi dari sumber-sumber tersebut memang penting dan memberi gambaran eksklusif mengenai kehidupan Subandrio saat itu. Tapi point of view dari keluarga inti, orang yang paling dipercaya Subandrio di muka bumi ini, pasti akan sangat berharga.

 

Surat Arnold berisi enam halaman ukuran kuarto yang disimpan dengan format PDF. Ia membuka surat dengan kalimat: “Bila berbicara tentang Papa Ban (panggilan saya dan abang untuk kakek kami) kisahnya cukup rumit, membingungkan, tapi memikat, sekaligus traumatis.”

 

Ia melanjutkan dengan menceritakan awal kehidupan Subandrio merantau untuk kuliah kedokteran di Batavia dan bertemu dengan Hurustiati. Ada beberapa informasi yang baru terungkap dalam surat itu, di antaranya soal dana revolusi yang bikin heboh pada 1980-an. Subandrio pada masa itu diklaim sebagai pemegang kunci duit simpanan bernilai puluhan triliun rupiah tersebut.

 

Yang paling miris adalah soal perjuangan Subandrio memulihkan nama baik. Ia divonis terlibat Gerakan 30 September 1965 tanpa bukti konkret. Keyakinannya bahkan diragukan, seperti stereotipe kepada kader-kader PKI kala itu yang dituduh tak beragama.

 

Tuduhan ini tetap melekat meski Subandrio bebas pada 16 Agustus 1995. Hingga meninggal pada usia 90 tahun, perjuangan Subandrio mencari rehabilitasi tak pernah berhasil. “Beliau sangat kecewa terhadap pemerintah saat itu,” ujar Arnold.

 

Rencananya kami menampilkan surat Arnold secara utuh agar pembaca bisa membaca keseluruhan kisahnya. Dengan kalimat yang sopan, Arnold meminta surat itu tak ditulis secara utuh. Ia tak mau menjadi pusat perhatian. “Saya senang Tempo mengangkat kisah kakek kami. Tapi lebih baik berfokus saja menulis tentang beliau,” tulisnya.

 

Jadilah jawaban di surat Arnold kami sebar di belasan artikel Edisi Khusus Subandrio. Kami juga mendapati foto-foto eksklusif Subandrio saat masih di penjara dan dokumen CIA mengenai Subandrio. Edisi khusus ini mengungkap sisi lain Subandrio dari berbagai perspektif, keterangan saksi, dan dokumentasi.

 

Peristiwa yang dialami Subandrio bisa menjadi pengingat bagi semua orang yang saat ini memegang jabatan tinggi di panggung nasional. Meski berbeda pandangan dan kepentingan, tak perlu sampai menghancurkan kehidupan orang lain. Seperti Subandrio, riwayatnya dibunuh hanya karena ia menjadi orang terdekat Bung Karno. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/hukum/surat-cucu-subandrio-loyalis-sukarno-2298651

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar