|
Surat
Enam Halaman dari Cucu Subandrio Mustafa Silalahi
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Arnold Budoyo Subandrio mengatakan
keluarga masih berharap nama baik kakeknya, Subandrio, direhabilitasi. · Surat Arnold kepada Tempo mengungkap
banyak kisah yang selama ini tak terpublikasi. · Dokumen intelijen CIA ikut mengungkap
sisi lain Subandrio. SEPINTAS,
Subandrio terlihat seperti pejabat era Orde Lama yang biasa saja. Tapi, makin
dalam kami menggali sisi lain kehidupannya ketika aktif di pergerakan, karier
politik, hingga pengalamannya selama di penjara, ketokohan Subandrio menjadi
makin berwarna. Ia
menjadi korban prahara 1965 di tengah transisi politik Orde Lama ke Orde
Baru. Ia dituduh terlibat Gerakan 30 September 1965—sesuatu yang tidak pernah
terbukti hingga saat ini. Saat peristiwa itu berlangsung, Subandrio berada di
Medan, Sumatera Utara. Ia juga tak pernah menjadi anggota Partai Komunis
Indonesia, yang dituduh sebagai dalang di balik peristiwa G-30-S.
Kesalahannya cuma satu: menjadi loyalis Presiden Sukarno. Kurang-lebih
satu bulan kami menyelami jejak Subandrio untuk membuat edisi khusus pria
yang pernah menjadi orang nomor dua di republik ini setelah Bung Karno itu.
Sejak kematiannya pada 2004, anggota keluarganya satu per satu menghilang
nyaris tanpa jejak. Budoyo, satu-satunya anak kandung dari pernikahan
Subandrio dengan Hurustiati, istri pertamanya, sudah meninggal pada Februari
1974. Kedua
anak Budoyo juga nyaris tak terlacak. Situasi ini membuat tim edisi khusus sempat
bingung karena tak ada petunjuk mengenai keluarga Subandrio. Keterangan
keluarga inti penting karena bakal mengkonfirmasi beberapa hal pada jejak
Subandrio, terutama sebelum 30 September 1965. Sayogo, anak adik tiri
Subandrio, Koestiwulan, bahkan tak tahu nama lengkap cucu Subandrio. Tim
Edisi Khusus Subandrio mulai bersemangat saat mendapat petunjuk dari Ayu
Wulandari, ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kami
mendapatkan nama lengkap salah seorang cucu Subandrio: Arnold Budoyo
Subandrio. Ayu memberikan alamat surat elektronik Arnold. Kami pun
menggunakan mesin pencari untuk menelusuri Arnold. Wartawan
Tempo, Ahmad Faiz, mengirim e-mail pertama kepada Arnold pada 5 September
2026. Kabar baik itu datang. Ia membalas e-mail Faiz. Dalam surat berbahasa
Inggris, Arnold mengatakan sedang sibuk. Akhirnya ia meminta pertanyaan
tertulis dalam balasan suratnya pada 23 September 2026. Ia ternyata sudah
menjadi warga negara Amerika Serikat dan berdomisili di sana sejak awal
2000-an. Pria
yang kini berusia 52 tahun itu akhirnya menjawab 22 pertanyaan Tempo dalam
surat elektroniknya pada 25 September 2026. Dalam pengantar surat, Arnold
menuliskan bahwa ia memilih membuat surat ketimbang menjawab satu demi satu
pertanyaan Tempo. “Saya yakin dengan menceritakan kisahnya secara utuh dapat
mencerminkan ingatan tentang Papa Ban, keluarga kami, dan berbagai peristiwa
dalam hidup beliau,” tulis Arnold dalam pengantar surat itu. Saya
termasuk yang membaca dengan saksama surat tentang Subandrio dari awal sampai
akhir. Isinya sungguh memberi perspektif baru mengenai sosok Subandrio. Untuk
menyiapkan edisi khusus ini, tim mengumpulkan puluhan buku dan artikel
tentang Subandrio. Termasuk kawat rahasia Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika
Serikat yang sudah dipublikasikan. Tapi informasi tersebut sudah menjadi
konsumsi publik. Kami
juga menemui sejumlah orang yang pernah berinteraksi dengan Subandrio sejak
ia masih menjabat sampai hidup di penjara. Informasi dari sumber-sumber
tersebut memang penting dan memberi gambaran eksklusif mengenai kehidupan
Subandrio saat itu. Tapi point of view dari keluarga inti, orang yang paling
dipercaya Subandrio di muka bumi ini, pasti akan sangat berharga. Surat
Arnold berisi enam halaman ukuran kuarto yang disimpan dengan format PDF. Ia
membuka surat dengan kalimat: “Bila berbicara tentang Papa Ban (panggilan
saya dan abang untuk kakek kami) kisahnya cukup rumit, membingungkan, tapi
memikat, sekaligus traumatis.” Ia
melanjutkan dengan menceritakan awal kehidupan Subandrio merantau untuk
kuliah kedokteran di Batavia dan bertemu dengan Hurustiati. Ada beberapa
informasi yang baru terungkap dalam surat itu, di antaranya soal dana
revolusi yang bikin heboh pada 1980-an. Subandrio pada masa itu diklaim sebagai
pemegang kunci duit simpanan bernilai puluhan triliun rupiah tersebut. Yang
paling miris adalah soal perjuangan Subandrio memulihkan nama baik. Ia
divonis terlibat Gerakan 30 September 1965 tanpa bukti konkret. Keyakinannya
bahkan diragukan, seperti stereotipe kepada kader-kader PKI kala itu yang
dituduh tak beragama. Tuduhan
ini tetap melekat meski Subandrio bebas pada 16 Agustus 1995. Hingga
meninggal pada usia 90 tahun, perjuangan Subandrio mencari rehabilitasi tak
pernah berhasil. “Beliau sangat kecewa terhadap pemerintah saat itu,” ujar
Arnold. Rencananya
kami menampilkan surat Arnold secara utuh agar pembaca bisa membaca
keseluruhan kisahnya. Dengan kalimat yang sopan, Arnold meminta surat itu tak
ditulis secara utuh. Ia tak mau menjadi pusat perhatian. “Saya senang Tempo
mengangkat kisah kakek kami. Tapi lebih baik berfokus saja menulis tentang
beliau,” tulisnya. Jadilah
jawaban di surat Arnold kami sebar di belasan artikel Edisi Khusus Subandrio.
Kami juga mendapati foto-foto eksklusif Subandrio saat masih di penjara dan
dokumen CIA mengenai Subandrio. Edisi khusus ini mengungkap sisi lain
Subandrio dari berbagai perspektif, keterangan saksi, dan dokumentasi. Peristiwa
yang dialami Subandrio bisa menjadi pengingat bagi semua orang yang saat ini
memegang jabatan tinggi di panggung nasional. Meski berbeda pandangan dan
kepentingan, tak perlu sampai menghancurkan kehidupan orang lain. Seperti
Subandrio, riwayatnya dibunuh hanya karena ia menjadi orang terdekat Bung
Karno. ● Sumber :
https://www.tempo.co/hukum/surat-cucu-subandrio-loyalis-sukarno-2298651 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar