Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Cerita di Balik Liputan Edisi Khusus 30 September Subandrio

Febriyan :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Tak ada bukti konkret Subandrio terlibat peristiwa Gerakan 30 September 1965.

 

·      Perjuangan Subandrio merehabilitasi namanya tak kunjung berhasil hingga ia wafat pada 2004.

 

·      Cucunya, Arnold Budoyo Subandrio, mengungkap sisi lain Subandrio yang tak pernah terungkap ke publik.

 

KETIMBANG menjawab satu per satu 22 pertanyaan Tempo, Arnold Budoyo Subandrio memilih menulis kisah Subandrio dalam surat elektronik. “Saya merasa ini cara terbaik untuk menceritakan kenangan dan pengalaman saat bersama Papa Ban,” tulis Arnold dalam suratnya pada Jumat, 25 September 2026.

 

Ia menumpahkan semua pengalaman dan unek-uneknya tentang Subandrio dalam enam halaman berbahasa Inggris. Ia, misalnya, menjawab soal dana revolusi yang bikin heboh satu negara pada 1980-an hingga kedongkolan Subandrio terhadap keturunan Sukarno—orang yang dibela mati-matian oleh sang kakek selama Orde Lama berkuasa.

 

Arnold merupakan cucu kedua Subandrio yang kini berusia 52 tahun. Ia sudah menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia tak mau menceritakan alasannya meninggalkan Indonesia. “Ini terjadi karena efek domino setelah berbagai peristiwa yang terjadi di era pemerintahan Abdurrahman Wahid,” tulisnya.

 

Cucu pertama Subandrio, kakak Arnold, bernama John Alexander Gurowo alias Jonjon. Ia tinggal di Jakarta. Namun Arnold enggan memberi alamat dan meminta Tempo tak mengusik privasi Jonjon dan keluarga. Keduanya juga punya beberapa saudara tiri karena ibu mereka menikah lagi pada 1978. Identitas saudara tiri mereka tak pernah terungkap.

 

Ayah Arnold dan Jonjon bernama Budoyo, anak semata wayang pasangan Subandrio dan Hurustiati. Budoyo meninggal karena sakit jantung pada Februari 1974. Sementara itu, Hurustiati meninggal karena kanker dua bulan kemudian. Arnold tak pernah bersua dengan ayah dan neneknya karena ia lahir pada Mei 1974. Tragisnya, pada saat dua peristiwa duka itu terjadi, Subandrio sedang meringkuk di terungku.

 

Upaya mencari keluarga Subandrio bukan perkara mudah. Pada mulanya tim Edisi Khusus Subandrio berpencar ke beberapa alamat yang pernah ditinggali loyalis Bung Karno nomor satu itu. Misalnya di Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, kemudian Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Namun hasilnya nihil karena kedua rumah itu sudah berganti tuan.

 

Kami juga mengutus wartawan ke kampung halaman Subandrio di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Subandrio lahir dan menghabiskan masa kecilnya di sana. Rumah kelahirannya memang masih ada, tapi sudah menjadi gudang stok minimarket.

 

Subandrio punya lima saudara kandung dan tujuh saudara tiri karena ayahnya menikah lagi. Tapi tak satu pun saudara dekatnya yang tinggal di sekitar rumah itu. Saat ini mereka berpencar dan sulit dilacak lagi.

 

Petunjuk mulai datang dari sejarawan Asvi Warman Adam. Rupanya, ia sudah meneliti Subandrio sejak bertahun-tahun lalu. “Tapi belum selesai sampai sekarang,” katanya. Dalam penelitiannya, ia pernah mewawancarai Koestiwulan, adik tiri Subandrio yang pernah berkunjung ke penjara.

 

Anak Koestiwulan, Sayogo, pernah diajak ke penjara. Tempo menemui Sayogo yang kini tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Sayogo turut memberi kami banyak informasi. Termasuk soal kesaksiannya yang pernah dikunjungi Subandrio ke rumahnya sambil menyetir mobil sendirian. Padahal Subandrio saat itu sedang berstatus tahanan.

 

Sayogo menegaskan bahwa Subandrio sebenarnya memiliki 12 kakak dan adik, bukan lima seperti yang selama ini tertulis di banyak literatur. Masalahnya, Sayogo tak pernah berkomunikasi dengan cucu Subandrio. Ia bahkan tak hafal nama Arnold dan Jonjon.

 

Petunjuk penting datang dari ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Ayu Wulandari, yang pernah meneliti peran istri Subandrio, Hurustiati. Dari nama itulah kami kemudian mendapat alamat surat elektronik Arnold. Lewat mesin pencarian di Internet, kami memastikan Arnold tinggal di Negeri Abang Sam.

 

Kami juga mencari sosok yang berada satu zaman dengan Subandrio sudah menjadi pejabat. Dialah pendiri Centre for Strategic and International Studies, Jusuf Wanandi. Jusuf duduk sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan Agung pada 1964-1965. Pada periode itu, Subandrio menjabat tiga posisi mentereng sekaligus: Wakil Perdana Menteri I, Menteri Luar Negeri, dan Kepala Badan Pusat Intelijen.

 

Meski mengaku tak banyak berinteraksi dengan Subandrio, Jusuf masih ingat konstelasi politik saat itu. Salah satunya ketika mahasiswa mendemo Istana Merdeka pada 11 Maret 1966. Ia mengatakan sosok yang membisikkan adanya “pasukan liar” kepada Sukarno adalah Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya Mayor Jenderal Amir Machmud. “Jadi bukan Subandrio yang membisiki Sukarno saat itu,” ujarnya.

 

Subandrio menjadi dokter setelah tamat dari Geneeskundige Hoogeschool te Batavia pada 1935. Ia kemudian mengambil pendidikan spesialis bedah, profesi yang langka saat itu. Namun Hurustiati menarik Subandrio ke dunia pergerakan. Ia akhirnya bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia besutan Sutan Sjahrir.

 

Karier politiknya meroket sampai akhirnya masuk ke lingkaran Presiden Sukarno. Karena kemampuan diplomasinya, Subandrio dipercaya menjadi perwakilan Indonesia di dunia internasional. Ia bahkan menjadi orang nomor dua di pemerintahan setelah Sukarno. Hubungan mereka digambarkan cukup dekat.

 

Kami memilih Subandrio dalam edisi khusus Tempo kali ini karena dia membuat nama Indonesia harum di kancah internasional pada awal masa kemerdekaan. Ia berhasil merintis jalur diplomasi dengan Blok Barat dengan menjadi Kepala Kantor Informasi Indonesia di London pada 1947 dan berlanjut menjadi duta besar Indonesia pertama untuk Kerajaan Inggris hingga 1954.

 

Meski dekat dengan Barat, Subandrio juga membuka hubungan diplomasi Indonesia dengan Uni Soviet, yang kala itu menjadi representasi Blok Timur. Di sana, ia menjadi duta besar selama dua tahun. Ia juga menjembatani Presiden Sukarno dengan Cina.

 

Sejumlah peneliti sejarah, seperti Asvi Warman Adam, Baskara T. Wardaya, dan Sigit Aris Prasetyo, pun sepakat Subandrio berjasa besar dalam pembebasan Irian Barat. Subandrio menulis buku berjudul Meluruskan Sejarah Pembebasan Irian Barat, yang terbit pada 2001. Buku itu menceritakan sisi diplomasi perjuangan Irian Barat.

 

Menteri Koordinator Politik dan Keamanan saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menulis kata pengantar dalam buku Subandrio. Yudhoyono memuji buku tersebut. “Nilai dan manfaat buku ini semakin bertambah ketika ditulis dan dituturkan sendiri oleh Bapak Dr Subandrio, sebagai salah satu pelaku sejarah yang memiliki peran amat penting…,” tulis Yudhoyono.

 

Untuk menebalkan soal sepak terjang Subandrio di kancah global, kami menemui beberapa mantan diplomat senior. Di antaranya Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris periode 2008-2011 dan 2016-2020, Yuri Octavian Thamrin dan Rizal Sukma. Keduanya memberi testimoni bahwa Subandrio menjadi peletak dasar diplomasi Indonesia di Inggris dan dunia Barat.

 

Rizal menceritakan contoh kepiawaian Subandrio dalam bernegosiasi. Subandrio berhasil membujuk pemilik gedung yang akan dipakai Kedutaan Besar Indonesia dengan harga supermurah, yakni 1.000 pound sterling, selama puluhan tahun dengan harga flat. “Setelah kontrak habis pada 2017, baru Indonesia membeli lahan sendiri,” tuturnya.

 

Hidup Subandrio terpuruk karena ia menjadi korban persaingan politik pada masa itu. Dia ditangkap lalu menjalani sidang Mahkamah Militer Luar Biasa tanpa tuduhan jelas. Misalnya tuduhan menjadi dalang Gerakan 30 September 1965 atau G-30-S dengan bergabung ke Dewan Revolusi.

 

Padahal, saat terjadi peristiwa G-30-S, dia sedang berada di Medan, Sumatera Utara, yang berjarak 1.877 kilometer dari Jakarta. Belakangan, ia malah dituduh menjadi penyebab krisis ekonomi yang terjadi saat itu.

 

Subandrio juga dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia. Pada masa itu kader PKI dilekatkan dengan stigma tak memiliki agama. Di pengadilan, jaksa mencecar Subandrio soal keyakinannya. Ia ditanya berapa kali menunaikan salat dalam sehari. Padahal Subandrio lahir dari keluarga religius.

 

Pengadilan tetap menghukum mati Subandrio meski tanpa ada bukti kuat. Belakangan, vonisnya berubah menjadi penjara seumur hidup. Tapi hidup Subandrio telah “dirampok” selama 29 tahun dipenjara.

 

Selama dipenjara, Subandrio pernah diwawancarai dua wartawan, yaitu Djono W. Oesman dan Linda Djalil. Djono belakangan membantu Subandrio menyusun memoar berjudul Kesaksianku tentang G-30-S. Kami menemui dua jurnalis senior itu.

 

Kepada tim edisi khusus, keduanya mereportasekan ulang kehidupan Subandrio selama di bui. Mereka juga menceritakan suasana dalam sel Subandrio yang selalu berisi sajadah dan Al-Quran. Keduanya juga menanyakan dana revolusi. Isu ini pernah bikin heboh pada 1980-an.

 

Djono mengatakan pada mulanya ia kesulitan mewawancarai Subandrio. Tapi, lewat pendekatan kepada istri kedua Subandrio, Sri Kusdiantinah, ia berhasil mendekati Subandrio hingga menjadi akrab di dalam sel. “Saya belajar minum kopi pahit dari Pak Ban,” kata Djono.

 

Nasib Subandrio yang terjun bebas juga dibumbui stigma PKI sampai akhir hayatnya. Anggota keluarganya pun ikut merasakan cap tersebut meski sama sekali tak terlibat. Saat melamar lowongan pekerjaan, misalnya, kakak-adik dan anak-anak mereka terpaksa mengaku tak mengenal Subandrio agar diterima bekerja.

 

Ketika bebas pada 16 Agustus 1995, Subandrio bertahun-tahun berjuang merehabilitasi nama baiknya. Arnold Budoyo Subandrio mengatakan upaya kakeknya itu nyaris berhasil pada masa Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tapi ia harus memulai lagi dari nol saat Megawati Soekarnoputri menjadi presiden.

 

Menurut logika Subandrio kala itu, Megawati bakal membantu proses rehabilitasi karena kedekatan dia dengan bapaknya. Tapi, hingga wafat, perjuangan Subandrio tak kunjung berhasil. “Hingga kini saya masih berharap dan berbuat sebisa mungkin untuk memenuhi impian terakhir Papa Ban yang tak terpenuhi di masa hidupnya: melihat nama baiknya direhabilitasi,” tulis Arnold. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/edisi-khusus-30-september-subandrio-2298611

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar