Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Cap PKI sampai Mati untuk Subandrio

Bagja Hidayat :  Wakil Pemimpin Redaksi Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Subandrio menempati posisi penting dalam pemerintahan Orde Lama karena menjadi loyalis Presiden Sukarno.

 

·      Dia diplomat dan intelijen yang mengetahui peristiwa-peristiwa penting dan genting di Republik yang baru merdeka.

 

·      Peristiwa 1965 menyeret Subandrio ke jeruji besi dan ia tak mendapat rehabilitasi sampai akhir hayatnya.

 

PARA mahasiswa ilmu sejarah akan mendapat pertanyaan berulang tiap 30 September: apa yang terjadi pada sebuah malam pada 1965 itu? Jawabannya akan seragam: pembunuhan para jenderal oleh sejumlah anggota Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Jawaban akan beragam ketika pertanyaan berlanjut menjadi: siapa dalang pembunuhan itu dan untuk apa?

 

Rezim Orde Baru membuat narasi bahwa pelakunya adalah elite-elite Partai Komunis Indonesia yang bertujuan melakukan makar. Studi-studi ilmiah mempertanyakan narasi tunggal ini. Pada saat itu PKI sedang memiliki hubungan politik yang dekat dengan Sukarno, yang mencetuskan gagasan nasionalisme-agama-komunisme. Untuk apa mereka mendongkelnya?

 

Yang lebih absurd adalah tuduhan terhadap para loyalis Sukarno. Seperti diungkap dalam edisi khusus 30 September tahun ini. Kami menulis Subandrio, Menteri Luar Negeri 1957-1966, pejabat kepercayaan Presiden, yang dituduh bersekongkol atau melempengkan jalan kepada PKI untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Kader Partai Sosialis Indonesia ini bahkan dituduh sebagai antek PKI. Ia divonis dengan hukuman mati sebelum diturunkan menjadi penjara seumur hidup.

 

Bagaimana bisa seorang loyalis presiden yang sedang menikmati kekuasaan hendak menggulingkan pemerintahan? Pertanyaan tersebut belum terjawab sepenuhnya hingga hari ini. Peristiwa 1965 bisa jadi merupakan sejarah Indonesia paling gelap yang tak tuntas diungkap. Padahal jumlah korbannya banyak karena setelah peristiwa itu militer Orde Baru memburu siapa saja yang dianggap terafiliasi dengan PKI.

 

Ada satu teori bahwa peristiwa itu berlatar keretakan internal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Ada juga yang menyebutkan peran intelijen Amerika Serikat yang tak ingin Indonesia mendekat ke poros Uni Soviet-Tiongkok yang berhaluan komunis. Tahun 1960-an adalah tahun persaingan negara-negara Blok Barat yang dimotori Amerika Serikat dan Blok Timur yang berkiblat pada Uni Soviet. Keduanya mungkin berhubungan. Keduanya mungkin punya irisan dengan pelbagai peristiwa yang membuat PKI menjadi tertuduh utama.

 

Sejarah yang berkabut membuat generasi Indonesia tak punya pijakan yang mantap untuk mengimajinasikan republik ini di masa depan. Kita terus dibayang-bayangi peristiwa kelam yang membelah perspektif kita dalam hubungan sosial. Peristiwa 1965 tak menjadi pelajaran resmi di sekolah. Ideologi komunisme tak bisa dibedah secara terbuka karena masih dinyatakan terlarang. PKI menjadi cap insinuatif hingga sekarang.

 

Di Afrika Selatan, sejarah apartheid dibuka secara gamblang. Di Museum Apartheid di Johannesburg, pameran arsip tak melulu menyajikan mereka yang dianggap pahlawan, tapi juga mereka yang masuk kategori “pengkhianat” dalam ukuran perjuangan kemerdekaan. Para aktivis seangkatan Nelson Mandela bukan hanya mereka yang berjuang di sisinya, melainkan juga mereka yang menentangnya.

 

Afrika Selatan menunjukkan bahwa membuka dokumen, mengakui kekerasan, mendengarkan kesaksian korban dan pelaku, serta memberi ruang kepada pelbagai pengalaman memungkinkan jalan rekonsiliasi. Dengan rekonsiliasi, Afrika Selatan mengungkap sejarah gelap secara institusional untuk menjadi pijakan menatap masa depan.

 

Usaha Tempo menyajikan edisi-edisi khusus peristiwa masa lalu adalah memberikan alternatif penulisan sejarah dengan pendekatan jurnalistik. Setiap tahun, kami menerbitkan edisi-edisi khusus sejarah. Edisi kemerdekaan dan edisi 30 September adalah dua edisi rutin setiap tahun. Lainnya menyesuaikan hari-hari penting untuk menyibak sisi lain sebuah peristiwa penting Indonesia di masa lalu.

 

Kali ini kami menulis tentang Subandrio karena ia tokoh penting dalam peristiwa 1965 yang masih berkabut. Meski tak menambah terang sejarah 30 September, edisi ini setidaknya mengingatkan tak ada guna menutupi kejadian masa lalu. Sebab, seperti kata filsuf George Santayana, mereka yang buta terhadap sejarah akan terkutuk mengulanginya. ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/prelude/sampul-cap-pki-sampai-mati-subandrio-2298623

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar